Old school Swatch Watches
H
A
R
R
Y
POTTER
BAB 15 PEMBALASAN PARA GOBLIN (The Goblin’s Revenge) Pagi keesokan harinya, sebelum yang lain bangun, Harry pergi untuk mencari pohon tertua, terbesar, dan terkokoh yang ada di sekitar tenda. Di sanalah Harry menguburkan mata Mad-Eye dan menandainya dengan menorehkan tanda salib di kulit kayu pohon itu dengan tongkatnya. Tidak terlalu bagus, tapi Harry merasa bahwa Mad-Eye akan lebih memilih ini daripada harus dipajang di pintu kantor Umbridge. Lalu Harry kembali ke tenda dan menunggu yang lain bangun untuk membicarakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Harrry dan Hermione merasa bahwa jalan terbaik adalah tidak tinggal di satu tempat dalam waktu yang lama, dan Ron setuju, dengan syarat bahwa tujuan selanjutnya berhubungan dengan roti isi daging asap. Hermione melepaskan sihir perlindungan yang telah ia pasang, sementara Harry dan Ron menghilangkan semua tanda yang menunjukkan bahwa mereka pernah berkemah di sini. Lalu mereka ber-Disapparate ke daerah pinggirankota . Begitu mereka mendirikan tenda di bawah naungan pohon-pohon dan memasang sihir perlindungan baru, Harry berkeliling mencari makanan di bawah Jubah Gaib. Namun semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Harry baru saja memasuki kota saat ia merasakan rasa dingin yang tidak normal, kabut tipis, dan kegelapan yang tiba-tiba menutup langit, membuat Harry berdiri terdiam. “Tapi kau hebat dalam menciptakan Patronus!” protes Ron, saat Harry kembali ke tenda tanpa membawa apa-apa, kehabisan nafas, dan mengucapkan satu kata “Dementor.” ”Aku… tidak bisa,” engah Harry sambil memegangi sisi tubuhnya. “Tidak… berhasil.” Melihat ekspresi khawatir dan kecewa di wajah sahabatnya, Harry merasa malu. Itu adalah mimpi buruk, melihat Dementor melucur dalam kabut dan menyadari, saat udara dingin mencekik paru-parunya dan teriakan memenuhi telinganya, bahwa Harry tidak dapat melindungi dirinya sendiri. Bahkan butuh semua kekuatan agar Harry bisa lari dan meninggalkan Dementor tanpa mata bergerak di antara Muggle yang tidak bisa melihat mereka, tapi bisa merasakan keputusasaan yang Dementor tebarkan. ”Jadi kita tidak punya makanan.” ”Diam, Ron,” hardik Hermione. ”Harry, apa yang terjadi? Mengapa kau tidak bisa membuat Patronus? Kau melakukannya dengan baik kemarin!” ”Aku tidak tahu.” Harry duduk di salah satu kursi tangan tua, dan makin merasa malu. Ia takut terjadi sesuatu yang salah dengan dirinya. Kemarin rasanya masa lalu, hari ini ia merasa seperti saat ia berusia tiga belas tahun, saat ia satu-satunya anak yang pingsan di Hogwarts Express. Ron menendang kursi. ”Apa?” Ron menggeram pada Hermione. ”Aku kelaparan! Yang aku makan sejak aku hampir mati kehabisan darah hanya kotoran kodok!” ”Pergi dan lawan Dementor-Dementor itu, kalau begitu,” sengat Harry. ”Tentu, tapi tanganku terbebat, bila kau tak melihatnya!” ”Kebetulan sekali.” ”Apa maksudmu berkata…” ”Tentu saja,” teriak Hermione sambil memukulkan tangan ke dahinya dan mengejutkan Harry dan Ron sehingga mereka terdiam. ”Harry, berikan liontin itu! Ayo!” kata Hermione tidak sabar, menjentikkan jarinya di depan Harry yang tidak bereaksi, ”Horcruxnya, Harry, kau masih mengenakannya!” Hermione menjulurkan tangannya dan Harry melepaskan kalung emas melalui kepalanya. Saat liontin dan kalung itu tidak lagi menyentuh kulit Harry, ia merasa bebas dan ringan. Harry tidak menyadari bahwa dirinya tertekan atau ada beban berat yang yang membebani perutnya, hingga sensasi itu terangkat. ”Lebih baik?” tanya Hermione. ”Sangat jauh lebih baik!” ”Harry,” kata Hermione, berjongkok di depan Harry dan menggunakan nada suara yang Harry artikan sebagai nada yang digunakan saat berbicara pada orang yang sedang sakit, ”kau tidak mengira kau telah dirasuki,kan ?” ”Apa? Tidak!” kata Harry mempertahankan diri. ”Aku ingat semua yang aku lakukan saat memakainya. Aku tidak tahu yang aku lakukan bila aku sedang dirasuki,kan ? Ginny memberitahuku bahwa ada banyak waktu di mana ia tidak bisa mengingat apa pun.” ”Hm,” kata Hermione yang menatap ke arah liontin itu. ”Kalau begitu, tidak seharusnya kita memakainya. Kita akan menyimpannya di tenda saja.” ”Kita tidak akan membiarkan Horcrux itu tergeletak begitu saja,” kata Harry berkeras. ”Kalau kita kehilangannya, kalau ada yang mencurinya…” ”Oh, baik, baik,” kata Hermione dan mengalungkan liontin itu di lehernya dan memasukkannya ke dalam kaus. ”Tapi kita harus bergiliran memakainya, jadi tidak ada yang memakainya terlalu lama.” ”Bagus,” kata Ron marah, ”karena kita sudah menemukan masalahnya, bisakah kita pergi mencari makanan?” ”Baiklah, tapi kita harus mencarinya ke tempat lain,” kata Hermione. ”Tidak ada gunanya tinggal kalau kita tahu banyak Dementor berkeliaran.” Akhirnya mereka bermalam di tanah lapang di sebuah peternakan terpencil, di mana mereka berhasil mendapatkan telur dan roti. ”Ini tidak bisa dibilang mencuri,kan ?” tanya Hermione ragu, saat mereka menghabiskan telus dadar dan roti panggang. ”Bukan mencuri kalau aku meninggalkan uang di kandang ayam,kan ?” Ron memutar matanya dan berkata, dengan pipi menggembung, ”Er-my-knee, jangan terlalu risau. Tenanglah!” Dan, ternyata, memang lebih mudah untuk bersikap tenang dengan perut kenyang. Perdebatan tentang Dementor terlupakan dengan tawa di malam hari, bahkan Harry merasa ceria dan penuh pengharapan saat ia mendapat giliran pertama berjaga. Untuk pertama kalinya mereka menyadari bahwa perut penuh berarti semangat baru, dan perut kosong berarti kemurungan dan pertengkaran. Harrylah yang peling terkejut dengan kenyataan ini, karena ia pernah merasakan masa-masa hampir kelaparan saat tinggal bersama keluarga Dursley. Sementara Hermione mampu melewati malam-malam dengan buah beri atau biskuit basi, walau sedikit mudah tersinggung dan sering terdiam. Sedangkan Ron, yang terbiasa tiga kali makan enak sehari, oleh masakan ibunya ata peri rumah Hogwarts, rasa lapar membuatnya tidak bisa berpikir dan cepat naik darah. Saat masa makanan menipis bertemu dengan saat Ron memakai liontin, ia berubah menjadi begitu menyebalkan. ”Jadi ke mana selanjutnya?” adalah kalimat favorit Ron. Ia sepertinya tidak memiliki pemikiran sendiri, dan berharap Harry dan Hermione telah siap dengan rencana sementara ia duduk dan berkomentar tentang sedikitnya jumlah makanan. Sementara, Harry dan Hermione menghabiskan waktu menduga di mana kemungkinan Horcrux lain berada dan bagaimana cara menghancurkan Horcrux yang sudah ada di tangan mereka. Dan mereka terus mengulang percakapan yang sama karena mereka tidak mendapatkan berita baru. Saat Dumbledore memberitahu Harry bahwa ia percaya bahwa Voldemort menyembunyikan Horcrux di tempat yang penting baginya. Dan mereka terus mengulang pembicaraan itu, tempat-tempat di mana Voldemort pernah tinggal atau kunjungi. Panti asuhan, di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Hogwarts, di mana ia belajar. Borgin and Burke, tempat ia bekerja untuk pertama kali. Lalu, Albania, di mana ia mengasingkan diri selama bertahun-tahun, dan di sinilah mereka terus berspekulasi. ”Ya, ayo ke Albania. Tidak akan sampai sore untuk mencari ke seluruh negeri,” kata Ron kasar. ”Tidak mungkin ada sesuatu di sana. Dia sudah membuat lima Horcrux sebelum ia pergi mengasingkan diri, dan Dumbledore yakin bahwa ular itu adalah yang keenam,” kata Hermione. ”Kita tahu bahwa ular itu tidak di Albania dan tidak pernah jauh dari Vol…” ”Bukankah sudah kuminta untuk tidak menyebut namanya?” ”Baik! Ular itu berada dekat dengan Kau-Tahu-Siapa¬ – senang?” ”Tidak juga.” ”Aku rasa dia juga tidak menyembunyikan sesuatu di Borgin and Burke,” kata Harry, yang pernah mencapai titik ini sebelumnya, dan tetap mengulang kata-katanya, ”Borgin dan Burke adalah ahli barang Hitam, mereka pasti langsung mengenali sebuah Horcrux.” Ron menguap bosan. Menahan diri untuk tidak melempar sesuatu ke arahnya, Harry melanjutkan, ”Aku masih merasa ia menyembunyikan sesuatu di Hogwarts.” Hermione mengehela nafas. ”Tapi Dumbledore pasti sudah menemukannya, Harry!” Harry mengulang alasan yang sama tentang teorinya. ”Dumbledore berkata padaku bahwa ia tidak mengetahui semua rahasia Hogwarts. Dan aku beritahu, bila ada tempat yang menurut Vol…” ”Oi!” ”KAU-TAU-SIAPA!” teriak Harry, di ujung kesabarannya. ”Bila ada tempat menurut Kau-Tahu-Siapa penting, tempat itu adalah Hogwarts!” ”Oh, ayolah,” kata Ron meremehkan, ”sekolahnya?” ”Ya, sekolahnya! Tempat pertama yang ia anggap sebagai rumah, tempat yang ia anggap spesial, tempat yang berarti segalanya baginya, bahkan setelah ia meninggalkannya.” ”Kau sedang membicarakan Kau-Tahu-Siapa, kan? Bukan dirimu sendiri?” tanya Ron, yang sedang menarik-narik kalung liontin di lehernya. Harry merasa ingin menarik kalung itu dan mencekikkannya pada Ron. ”Kau bilang Kau-Tahu-Siapa meminta pekerjaan pada Dumbledore setelah dia lulus dari sekolah,” kata Hermione. ”Benar,” kata Harry. ”Dan Dumbledore pikir itu hanya alasan untuk kembali dan mencari pusaka dari pendiri Hogwarts dan menjadikannya sebagai Horcrux?” ”Ya,” kata Harry. ”Tapi dia tidak mendapat pekerjaannya, kan?” kata Hermione. ”Jadi dia tidak punya kesempatan untuk mencari pusaka itu dan menyembunyikannya di Hogwarts!” ”Baiklah,” kata Harry menyerah. ”Lupakan Hogwarts.” Tanpa petunjuk lain, mereka pergi ke London, dan di bawah Jubah Gaib, mereka mencari panti asuhan di mana Voldemort dibesarkan. Hermione menyelinap ke perpustakaan dan mengetahui dari berkas-berkas di sana bahwa tempat itu telah dihancurkan bertahun-tahun yang lalu. Dan saat mereka mendatangi daerah itu, yang mereka temukan hanyalah deretan gedung perkantoran. ”Bisa saja kita menggali pondasinya,” kata Hermione setengah hati. ”Dia tidak akan menyembunyikan Horcrux di sini,” kata Harry. Ia sudah tahu bahwa tempat itu adalah tempat yang ingin Voldemort tinggalkan, dan ia tidak akan menyembunyikan potongan jiwanya di sana. Dumbledore telah menunjukkan pada Harry kemegahan dan keajaiban tempat persembunyian Horcrux Voldemort. Dan bangunan suram di ujung London tidak sebanding dengan Hogwarts, atau Kementrian, atau bangunan lain seperti Gringotts, bank para penyihir dengan pintu emas dan lantai marmer. Bahkan tanpa ada gagasan baru, mereka melanjutkan bergerak di pinggiran kota, berkemah di tempat berbeda tiap malam demi keamanan. Tiap pagi mereka memastikan bahwa mereka telah menghapus semua petunjuk keberadaan mereka. Lalu pergi ke tempat sepi dan terpencil yang lain. Bepergian dengan Apparition ke hutan lain, ke celah tebing lain, ke pegunungan lain, dan sekali ke pantai berkoral. Setiap dua belas jam, mereka bergantian memakai liontin itu seperti bermain permainanpass the parcel dalam gerak lambat yang mengerikan, karena begitu musik berhenti mereka akan menerima hadiah dua belas jam tambahan rasa takut dan cemas. Bekas luka Harry terasa sakit. Dan hal itu terjadi lebih sering saat ia sedang mengenakan Horcrux itu. Terkadang ia tidak dapat menahan rasa sakitnya. ”Apa? Apa yang kau lihat?” paksa Ron, setiap ia melihat Harry merasa kesakitan. ”Wajah,” gumam Harry, setiap waktu. ”Wajah yang sama. Pencuri yang mencuri dari Gregorovitch.” Dan Ron beralih ke hal lain, tidak bersusah payah menyembunyikan kekecewaannya. Harry tahu bahwa Ron ingin mendengar berita tentang keluarganya, atau anggota Orde Phoenix, tapi tetap saja, Harry, tidak seperti televisi. Yang bisa ia lihat hanyalah apa yang sedang Voldemort pikirkan, dan tidak bisa dengan mudah mengubah saluran yang ia inginkan. Saat ini Voldemort berkutat dengan seorang pemuda dengan wajah senang, yang Harry yakin, telah Voldemort ketahui nama dan tempat tinggalnya. Saat bekas luka Harry terus terasa membakar dan wajah pemuda berambut keemasan berenang di dalam pikirannya, ia belajar untuk menyembunyikan rasa sakit atau tidak nyamannya, karena dua sahabatnya menunjukkan rasa tidak sabar dengan berita baru tentang pencuri itu. Harry tidak dapat menyalahkan mereka, karena saat ini mereka sedang menanti petunjuk baru tentang Horcrux lain. Hari berubah menjadi minggu, Harry mulai curiga bahwa Ron dan Hermione sedang membicarakan tanpa, dan tentang, dirinya. Beberapa kali Harry memergoki mereka yang tiba-tiba terdiam saat Harry memasuki tenda. Dan dua kali Harry memergoki mereka tiba-tiba mengambil jarak setelah saling mendekatkan kepala dan berbicara berbisik-bisik, sebelum mereka sadar bahwa Harry datang mendekat, dan mereka berpura-pura sibuk mencari kayu atau mengambil air. Harry tidak dapat berhenti memikirkan apakah mereka benar-benar tahu bahwa mereka akan bepergian dalam perjalanan tanpa tujuan, karena mereka pikir akan ada rencana rahasia yang akan mereka ketahui. Ron tidak berusaha menyembunyikan rasa perasaannya buruknya, dan Harry mulai takut kalau Hermione mulai merasa kecewa dengan kemampuan memimpin Harry. Dalam keputsasaannya, Harry mencoba menduga tempat persembunyian Horcrux lain, tapi lagi-lagi yang muncul di kepalanya adalah Hogwarts. Dan karena yang lain tidak berpikir hal yang sama, Harry berhenti untuk mengatakannya. Musim gugur tiba, kini mereka mendirikan tenda di atas daun-daun yang berguguran. Kabut alami menambah tebal kabut yang diciptakan oleh Dementor. Angin dan hujan menambah masalah mereka. Kenyataan bahwa Hermione semakin ahli membedakan jamur yang dapat dimakan tidak sebanding dengan keadaan terisolasi, kurangnya bersosialisasi, dan ketidakpedulian mereka terhadap perang melawan Voldemort. “Ibuku,” kata Ron suatu malam, saat mereka berkemah di pinggiran sungai di Wales, “bisa memunculkan makanan enak dari udara.” Ia menyodok, potongan ikan hangus di piringnya. Harry langsung menatap leher Ron dan seperti yang ia duga, rantai kalung emas sedang melingkar di sana. Harry berhasil melawan dorongan untuk menyumpahi Ron, yang kelakuannya akan berubah, Harry tahu, saat liontin itu dilepas. ”Ibumu tidak bisa membuat makan dari udara,” kata Hermione. ”Tidak seorang pun bisa. Makanan adalah hal pertama yang ada dalam lima Elemen Dasar dalam Hukum Transfigurasi Gamp…” ”Oh, tidak bisakah kau berbicara dengan bahasa manusia?” kata Ron sambil menarik tulang ikan dari giginya. ”Tidak mungkin kau bisa membuat makanan dari ketidakadaan! Kau bisa Memanggilnya kalau kau tahu di mana tempatnya berada, kau bisa mengubahnya, kau bisa menambah jumlahnya kalau kau punya…” ”… aku tidak ingin menambah ini, ini menjijikkan,” kata Ron. ”Harry yang menangkap ikan dan aku melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan! Aku merasa aku yang selalu mengurusi makanan. Karena aku seorangwanita , kurasa!” ”Bukan, karena kau seharusnya yang lebih baik dalam melakukan sihir!” bentak Ron. Hermione meloncat berdiri dan makanan dalam piringnya jatuh ke lantai. ”Kauboleh memasak besok, Ron.Kau boleh mencari bahan makanan dan mencoba menyihirnya menjadi sesuatu yang lebih layak untuk dimakan. Dan aku akan duduk diam di sini, memasang muka sebal dan mengeluh, agar kau tahu bagaimana rasanya…” ”Diam!” kata Harry yang kini berdiri dan mengangkat kedua tangannya. ”Diam! Diam dulu!” Hermione terihat marah. ”Harry, bisa-bisanya kau membelanya, dia bahkan tidak pernah…” ”Hermione, tenanglah, aku mendengar sesuatu!” Harry berusaha mendengarkan, tangannya masih terangkat, memperingatkan yang lain agar tetap diam. Lalu terdengar suara ribut dari arah sungai, dan Harry mendengar suara lagi. ia melihat Sneakoscope. Benda itu tidak bergerak. ”Kau memasangMuffliato , kan?” bisik Harry pada Hermione. ”Aku pasang semua,” jawab Hermione dalam bisikan, ”Muffliato, Mantra Penolak Muggle , Mantra Dissilusionment, semuanya. Tidak ada yang bisa mendengar atau melihat kita, siapa pun mereka.” Terdengar suara terseret, dan suara batu dan patahan ranting. Dan membuat mereka tahu ada beberapa orang sedang menuruni turunan curam dari hutan di lereng bukit ke daerah pinggiran sungai, di mana mereka mendirikan tenda. Mereka mengeluarkan tongkat, dan menunggu. Perlindungan di sekitar mereka rasanya cukup untuk melindungi mereka dari Muggle dan penyihir. Bila yang datang adalahDeath Eater , sepertinya perlindungan mereka akan diuji oleh Sihir Hitam untuk pertama kalinya. Suara itu semakin keras tapi tetap terdengar tidak jelas saat sekelompok orang itu mencapai pinggiran sungai. Harry memperkirakan bahwa mereka berjarak kurang dari enam meter dari mereka, tapi suara riak sungai membuat mereka tidak dapat memastikannya. Hermione mengambil tas maniknya dan mulai mengaduk-aduk bagian dalamnya. Setelah beberapa saat, mereka mengeluarkan tiga Telinga Terjulur dan memberikannya pada Harry dan Ron, yang langsung memasukkan ujung benang berwarna kulit itu ke telinga mereka dan melemparkan ujung yang lain ke luar tenda. Dalam hitungan detik, Harry dapat mendengar suara pria yang kelelahan. ‘Seharusnya ada salmon sekarang, atau masih terlalu dini untuk musimnya?Accio salmon !” Terdengar bunyi cipratan air dan hentakan ikan yang meloncat keluar dari air. Lalu terdengar suara orang menggumam senang. Harry menekankan Telinga Terjulur lebih dalam. Berusaha menangkap suara di atas suara riak sungai, tapi mereka tidak berbicara dalam bahasa manusia, bahkan yang belum Harry dengar. Suara mereka kasar dan tidak berirama, seperti suara gumaman bergeretak dan parau, dan sepertinya ada dua orang yang sedang berbicara, salah satu di antaranya bersuara lebih pelan daripada yang lain. Api berderak di luar tenda mereka. Tercium bau sedap dari salmon bakar yang tertiup ke arah mereka. Lalu terdengar suara denting pisau dan garpu, lalu seseorang berkata lagi. “Ini, Griphook, Gornuk.” “Goblins!” Hermione membisikkannya dan Harry mengangguk. “Terima kasih,” kata dua Goblin lain. “Jadi, kalian juga sedang melarikan diri? Sudah berapa lama?” kata suara baru yang lembut dan menyenangkan, dan terdengar tidak asing bagi Harry, seorang pria bertubuh tambun dengan wajah ceria. ”Enam minggu… tujuh… aku lupa,” kata sura yang terdengar kelelahan. ”Bertemu dengan Griphook setelah beberapa hari, lalu bergabung dengan Gornuk tak berapa lama kemudian. Cukup menyenangkan kalau ada teman seperjalanan.” Lalu mereka berhenti, sementara terdengar suara pisau ditaruh di atas piring dan gelas diangkat dan diletakkan kembali di atas tanah. ”Apa yang membuatmu kabur, Ted?” lanjut pria tadi. ”Aku tahu mereka sedang mencariku,” jawab suara lembut itu, dan Harry tahu siapa orang itu. Ayah Tonks. ”Ku dengarDeath Eater ada di sekitar rumahku dan aku memutuskan untuk melarikan diri. Aku menolak untuk mendaftarkan diri sebagai kelahiran Muggle, tahulah, jadi ini hanya masalah waktu untuk melarikan diri. Istriku akan baik-baik saja, dia darah murni. Lalu aku bertemu Dean, kapan ya, beberapa hari yang lalu, kan, nak?” ”Ya,” kata suara lain, dan Harry, Ron, dan Hermione saling bertukar pandang, senang dalam kebungkaman mereka, karena mengenali suara teman Gryffindor mereka, Dean Thomas. ”Kelahiran Muggle, eh?” tanya pria pertama. ”Aku tidak yakin,” kata Dean. ”Ayahku meninggalkan ibu waktu aku masih kecil. Dan aku tidak punya bukti kalau dia seorang penyihir.” Tidak terdengar suara apa pun selain suara mengunyah, lalu Ted berbicara lagi. ”Harus kukatakan, Dirk, aku terkejut bisa bertemu denganmu. Senang, tapi terkejut. Banyak yang bilang mereka menangkapmu.” ”Memang,” kata Dirk. ”Aku sedang dalam perjalanan menuju Azkaban saat aku berhasil melarikan diri, memingsankan Dawlish dan mengambil sapunya. Ternyata lebih mudah daripada yang kau bayangkan. Aku rasa dia memang sedang tidak dalam keadaan baik. Di bawah sihir Confundus mungkin. Kalau memang benar, aku ingin menjabat tangan penyihir yang telah melakukannya, karena telah membuatku dapat meloloskan diri.” Lalu yang terdengar hanya suara derak api dan riak sungai. Lalu Ted berkata, ”Lalu apa yang kalian berdua lakukan di sini? Aku pikir – er – kalian semua memihak Kau-Tahu-Siapa.” ”Kau salah,” kata goblin yang bersuara lebih tinggi. ”Kami tidak memihak. Ini adalah perang para penyihir.” ”Kalau begitu mengapa kalian bersembunyi?” ”Aku rasa ini adalah tindakan yang bijaksana,” kata goblin yang bersuara rendah. ”Aku menolak apa yang aku anggap sebagai permintaan kurang ajar, dan aku tahu bahwa hidupku dalam masalah.” ”Apa yang mereka minta padamu?” tanya Ted. ”Pekerjaan yang tidak sesuai dengan martabat ras kami,” jawab si goblin, suaranya terdengar kasar. ”Kami bukan peri rumah.” ”Bagaimana denganmu, Griphook?” ”Alasan serupa,” kata goblin bersuara tinggi. ”Gringotts tidak lagi dipimpin oleh ras kami. Dan aku tidak mengenal kepemimpinan lain.” Lalu ia menambahkan dengan bahasa Gobbledegook dan Gornuk tertawa. ”Apa leluconnya?” tanya Dean. ”Dia bilang,” jawab Dirk, ”penyihir juga tidak banyak mengenali hal lain.” Tidak ada yang bersuara. ”Aku tidak mengerti,” kata Dean. ”Aku punya sedikit dendam saat aku pergi,” kata Griphook. ”Goblin baik,” kata Ted. ”Tidak berhasil mengunci salah satuDeath Eater dalam ruangan penyimpanan tua berkeamanan tinggi, rupanya?” ”Kalau pun aku bisa, bahkan pedang itu tidak bisa membantunya keluar dari sana,” jawab Griphook. Gornuk tertawa dan bahkan Dirk tertawa kecil. ”Dean dan aku sepertinya masih ketinggalan berita,” kata Ted. ”Severus Snape, sepertinya dia tidak mengenalinya juga,” kata Griphook, dan kedua goblin itu tertawa menggila. Di dalam tenda, Harry bernafas penuh ketertarikan. Ia dan Hermione bertukar pandang, lalu mencoba mendengarkan lagi. ”Apa kau tidak tahu, Ted?” tanya Dirk. ”Tentang anak-anak yang mencoba mencuri pedang Gryffindor dari kantor Snape di Hogwarts?” Rasanya Harry tersengat listrik, setiap syaraf dan otot Harry terbangun. ”Tidak sama sekali,” kata Ted. ”Tidak dimuat dalamProphet , ya?” "Tentu saja,“ kekeh Dirk. "Griphook yang memberitahu aku, dia tahu dari Bill Weasley yang bekerja untuk bank. Salah satu dari anak-anak itu adalah adik perempuannya.“ Harry menatap ke arah Ron dan Hermione yang memegang erat-erat Telinga Terjulur mereka. ”Dia dan beberapa temannya masuk ke kantor Snape dan memecahkan kaca tempat penyimpanan pedang itu. Snape menangkap mereka saat mereka mencoba menyelundupkan pedang itu.“ "Ah, Tuhan memberkati mereka,” kata Ted. "Apa yang mereka pikirkan? bahwa mereka bisa menggunakannya melawan Kau-Tahu-Siapa? Atau untuk melawan Snape?“ "Apa pun pemikiran mereka, Snape menganggap bahwa pedang itu tidak lagi aman,“ kata Dirk. "Beberapa hari kemudian, setelah diperintahkan Kau-Tahu-Siapa, sepertinya, dia mengirimkannya ke London untuk disimpan di Gringotts.“ Lalu kedua goblin itu tertawa lagi. ”Aku masih belum mengerti lelucon kalian,” kata Ted. ”Pedang itu palsu!” kata Griphook. ”Pedang Gryffindor!” ”Oh, iya. Sebuah tiruan – tiruan yang sangat bagus, memang – tapi itu buatan penyihir. Yang asli telah dibuat berabad-abad lalu oleh goblin dan menjadi properti alat tempur buatan goblin. Di mana pun pedang Gryffindor yang asli itu berada, yang pasti bukan di Gringotts.” ”Aku mengerti,” kata Ted. ”Dan kalian tidak perlu mengatakan hal itu padaDeath Eater , kan?” ”Aku tidak punya alasan untuk menambah masalah mereka dengan memberitahu mereka,’ kata Griphook berpuas diri, dan sekarang Ted dan Dean ikut tertawa bersama Gornuk dan Dirk. Di dalam tenda, Harry menutup matanya, berharap ada orang yang menanyakan yang ingin Harry tahu jawabannya. Dan kurang lebih sepuluh menit kemudian, Dean mengingatkan Harry bahwa ia (Harry mengingatnya dengan rasa tersentak) juga mantan pacar Ginny. “Apa yang terjadi pada Ginny dan yang lain? Yang mencoba mencuri pedang itu?” “Oh, mereka dihukum dengan kejam,” kata Griphook. ”Tapi mereka baik-baik saja, kan?” tanya Ted cepat. ”Maksudku, keluarga Weasley tidak berharap anak mereka terluka lagi, kan?” ”Mereka tidak terluka serius, setahuku,” kata Griphook. ”Untunglah,” kata Ted. ”Dengan catatan Snape di masa lalu, aku rasa kita harus bersyukur kalau mereka masih hidup.” “Kau percaya cerita itu, Ted?” tanya Dirk. “Kau percaya Snape membunuh Dumbledore?” ”Tentu saja,” kata Ted. ”Kau tidak akan berpikiran bahwa Harry Potter ada sangkut pautnya, kan?” “Sulit untuk bisa mempercayai sesuatu akhir-akhir ini,” gumam Dirk. “Aku kenal Harry Potter,” kata Dean. “Dan aku rasa dia memang – Yang Terpilih, atau apa saja sebutan lainnya itu.” ”Ya, banyak yang mempercayainya, nak,” kata Dirk, ”termasuk aku. Tapi di mana dia? Pergi mencari sesuatu. Menurutmu, bila dia tahu sesuatu yang tidak kita tahu, atau memang punya sesuatu yang spesial, bukankah lebih baik dia memberikan perlawanan daripada bersembunyi. Dan tahukah kau bahwa Prophet membuatnya terlihat…” ”Prophet?” potong Ted. ”Kau dibohongi kalau tetap membaca sampah itu, Dirk. Bila inginkan hal nyata, bacaQuibbler .” Tiba-tiba terdengar suara tersedak dan terbatuk, juga terdengar suara tepukan yang cukup keras. Sepertinya Dirk telah menelan tulang ikan. Akhirnya ia berkata, ‘Quibbler? Majalah gila milik Xeno Lovegood itu? ”Tidak begitu gila akhir-akhir ini,” kata Ted. ”Kau harus membacanya. Xeno menulis segala hal yang tidak ditulis diProphet , dan tidak menyinggung sama sekali tentang Snorkack Tanduk Kisut. Sampai kapan ia akan dibiarkan seperti itu, aku tak tahu. Tapi di setiap edisi dia menyatakan bahwa setiap penyihir yang ingin melawan Kau-Tahu-Siapa harus membantu Harry Potter.” ”Tapi susah untuk membantu seorang bocah yang sedang menghilang dari permukaan bumi ini,” kata Dirk. ”Dengar, kenyataan bahwa mereka belum bisa menangkapnya saja, adalah suatu hal luar biasa,” kata Ted. ”Dan aku sependapat dengan Potter. Apa yang kita lakukan selama ini, untuk tetap bebas, kan?” ”Ya, ada benarnya juga,” kata Dirk berberat hati. ”Dengan seluruh Kementrian dan informan mereka mencari-carinya, aku akan mengira kalau ia sudah ditangkap sekarang. Dan tidak mungkin bila mereka telah menangkap dan membunuhnya tanpa harus memberitakannya, kan?” ”Jangan berbicara seperti itu, Dirk,” gumam Ted. Lalu kebungkaman diiringi oleh dentingan pisau dan garpu. Dan saat mereka berbicara lagi, mereka sedang menentukan apakah mereka akan tidur di pinggiran sungai atau kembali ke hutan di lereng bukit. Setelah memutuskan bahwa pepohonan akan memberikan perlindungan yang lebih baik, mereka memadamkan api lalu kembali ke lereng, dan suara mereka mulai menghilang. Harry, Ron, dan Hermione menggulung kembali Telinga Terjulur mereka. Harry yang sudah tahu tidak perlu lagi berdiam diri, kini tidak bisa berkata apa pun selain, ”Ginny – pedang.” ”Aku tahu!” kata Hermione. Hermione memasukkan tangannya ke dalam tas manik, dan kali ini ia bahkan menenggelamkan seluruh lengannya hingga batas ketiak. ”Ini… dia…” kata Hermione dengan gigi terkatup, saat ia mencoba menarik sesuatu dari kedalaman tas. Perlahan, ujung dari pigura berornamen mulai terlihat. Harry bergegas membantunya. Setelah mereka berhasil mengeluarkan potret kosong milik Phineas Nigellus, Hermione menacungkan tongkatnya ke arah potret itu, bersiap-siap untuk melepaskan mantera. ”Kalau ada yang menukar pedang saat yang asli masih berada di kantor Dumbledore,” kata Hermione sambil menyandarkan potret itu ke tenda, ”Phineas Niggellus pasti melihatnya, dia digantung tepat di samping pedang itu!” ”Kecuali dia sedang tidur,” kata Harry yang menahan nafas saat Hermione berlutut di depan potret kosong itu. Tongkat Hermione mengarah ke tengah potret, ia berdeham, lalu berkata, ”Er – Phineas? Phineas Nigellus?” Tidak ada yang terjadi. ”Phineas Nigellus?“ kata Hermione lagi. ”Profesor Black? Bisakah kami berbicara pada Anda? Tolong?” ”’Tolong’ selalu membantu,” kata suara dingin dengan nada menghina, dan Phineas Nigellus masuk ke dalam potretnya. Seketika Hermione berteriak,”Obscuro!" Sebuah penutup mata hitam muncul menutupi mata pintar dan gelap milik Phineas Nigellus, dan membuatnya terjatuh menghantam pinggiran pigura dan mengerang kesakitan. ”Apa – beraninya kau – apa yang kau lakukan?” ”Maaf, sungguh, Profesor Black,” kata Hermione, ”tapi ini tindak pencegahan yang penting!” ”Buang benda konyol ini! Hilangkan! Kau merusak sebuah mahakarya seni! Di mana aku? Apa yang terjadi?” ”Tidak penting di mana kau sekarang,” kata Harry, dan Phineas Nigellus membeku, melupakan keinginannya untuk melepaskan penutup matanya. ”Mungkinkah ini adalah suara dari Harry Potter lihai itu?” ”Mungkin saja,” kata Harry yang tahu bagaimana menjaga ketertarikan Phineas Nigellus. ”Kami punya beberapa pertanyaan untukmu – tentang pedang Gryffindor.” ”Ah,” kata Phineas Nigellus, yang mencoba menelengkan kepalanya untuk dapat melihat Harry, ”ya, gadis bodoh itu bersikap tidak bijaksana…” ”Jangan komentari adikku!” kata Ron kasar. Phineas Nigellus mengangkat alisnya dengan congkak. ”Siapa lagi itu?” tanya Phineas Nigellus, terus menelengkan kepalanya. ”Nada bicaramu membuatku tidak senang! Gadis itu dan teman-temannya benar-benar gila-gilaan. Mencuri dari kepala sekolah!” ”Mereka tidak mencuri,” kata Harry. ”Pedang itu bukan milik Snape.” ”Pedang itu milik sekolah Profesor Snape,” kata Phineas Nigellus. ”Memang apa yang gadis itu inginkan dari pedang itu? Dia telah menerima hukumannya, begitu pula si idiot Longbottom dan si aneh Lovegood!” ”Neville bukan idiot dan Luna tidak aneh!” kata Hermione. ”Di mana aku?” ulang Phineas Nigellus, mulai bergulat dengan penutup mata itu lagi. ”Ke mana kalian membawaku? Mengapa kau melepaskanku dari rumah nenek moyangku?” ”Lupakan itu! Bagaimana Snape menghukum Ginny, Neville, dan Luna?” tanya Harry cemas. ”ProfesorSnape mengirim mereka ke Hutan Terlarang, melakukan sesuatu bersama si udik, Hagrid.” ”Hagrid bukan udik!” lengking Hermione. ”Dan Snape menganggapnya sebagai hukuman,” kata Harry, ”tapi Ginny, Neville, dan Luna mungkin menghabiskan waktu dengan tertawa bersama Hagrid. Hutan Terlarang… mereka bisa saja menghadapi yang jauh lebih buruk!” Harry merasa lega, karena ia telah membayangkan hal-hal yang mengerikan seperti Kutukan Cruciatus, paling tidak. ”Yang kami ingin tahu, profesor Black, apakah ada orang lain yang, um, pernah mengambil pedang itu? Untuk dibersihkan, mungkin?” Phineas Nigellus berhenti sejenak dari usaha melepas pentup matanya dan terkikik. ”Dasar kelahiran Muggle,” katanya. ”Alat tempur buatan goblin tidak perlu dibersihkan, gadis murahan. Perak goblin menolak semua kotoran, dan menyerap semua yang memperkuatnya.” ”Jangan sebut Hermione murahan!” kata Harry. ”Aku mulai bosan dengan bantahan kalian,” kata Phineas Nigellus. ”Apa ini mungkin waktuku untuk kembali ke kantor kepala sekolah?” Dengan mata tertutup, Phineas Nigellus meraba-raba sisi pigura, mencoba merasakan jalan keluar dan kembali ke Hogwarts. Harry tiba-tiba mendapatkan inspirasi. ”Dumbledore! Bisakah kau membawa Dumbledore kemari?” “Maaf?” tanya Phineas Nigellus. “Potret Profesor Dumbledore – tak bisakah kau membawanya kemari, ke dalam potretmu?” Phineas Nigellus menolehkan wajahnya ke arah suara Harry. ”Sepertinya bukan hanya kelahiran Muggle yang bodoh, Potter. Potret di Hogwarts mungkin saja dapat saling berkunjung tapi mereka tidak dapat berkunjung keluar kastil kecuali mereka berkunjung ke potret mereka sendiri. Dumbledore tidak dapat kemari denganku, dan setelah perlakuan kalian, aku dapat memastikan bahwa aku tidak akan kembali!” Harry perlahan menundukkan kepalanya, melihat Phineas berusaha untuk keluar dari piguranya. ”Profesor Black,” kata Hermione, ”tidak bisakah kau mengatakan pada kami, tolong, kapan terakhir kali pedang itu keluar dari tempatnya? Sebelum Ginny mengambilnya, maksudku.” Phineas mendengus tidak sabar. ”Aku percaya bahwa terakhir kali aku melihat pedang Gryffindor keluar dari tempatnya adalah saat Profesor Dumbledore menggunakannya untuk membuka sebuah cincin.” Hermione menoleh untuk menatap Harry. Tidak ada di antara mereka yang berani berbicara apa pun di depan Phineas Nigellus, yang akhirnya menemukan jalan keluar. ”Baiklah, selamat malam,” kata Phineas Nigellus dan mulai pergi menghilang. Hanya ujung dari tepi topinya yang terlihat saat tiba-tiba Harry berteriak. ”Tunggu! Apakah kau pernah mengatakan hal ini pada Snape?” Kepala Phineas Nigellus kembali ke potret berpenutup mata. “Profesor Snape punya urusan yang lebih penting daripada memikirkan keeksentrikan Albus Dumbledore.Sampai jumpa , Potter!“ Dan akhirnya Phineas Nigellus benar-benar pergi, menghilang, meninggalkan latar belakang yang suram. “Harry!“ kata Hermione. “Aku tahu!“ teriak Harry. Tidak mampu menguasai dirinya sendiri, Harry memukul udara. Ia telah mendapatkan sesuatu lebih dari yang ia harapkan. Ia berjalan berputar-putar dalam tenda, merasa dapat berlari berkilo-kilometer jauhnya, ia bahkan tidak merasa lapar lagi. Hermione sedang memasukkan pigura Phineas Nigellus ke dalam tas maniknya, saat ia telah menutupnya, ia meleparkan tas itu, dan menoleh ke arah Harry. ”Pedang itu bisa menghancurkan Horcrux! Pedang buatan goblin menyerap semua yang dapat menambah kekuatannya – Harry, pedang itu telah menyerap racun Basilisk!” ”Dan Dumbledore tidak memberikannya padaku karena dia masih membutuhkannya, ia ingin menggunakannya untuk menghancurkan liontin…” ”… dan dia pasti telah tahu bahwa mereka tidak akan memberikannya padamu melalui wasiatnya…” “… jadi dia membuat tiruannya…” “… dan menyimpan yang palsu di tempatnya…” “… dan meninggalkan yang asli… di mana?” Mereka bertukar pandang, Harry merasa bahwa jawabannya mengapung di atas mereka, begitu dekat. Mengapa Dumbledore tidak memberitahu? Atau, ia telah memberitahu Harry, tapi Harry tidak menyadarinya saat itu? “Pikir!“ bisik Hermione. “Pikir! Di mana dia akan menyimpannya?“ “Tidak di Hogwarts,” kata Harry melanjutkan berjalan berputar-putar. “Di suatu tempat di Hogsmeade?” usul Hermione. “Gubuk Menjerit?’ kata Harry. ”Tidak ada yang pernah ke sana.” ”Tapi Snape tahu bagaimana cara masuk ke sana, apa tidak terlalu beresiko?” “Dumbledore mempercayai Snape,” Harry mengingatkan. “Tidak terlalu percaya hingga dia tidak mengatakan bahwa dia telah menukar pedang itu,” kata Hermione. “Ya, kau benar!” kata Harry, yang merasa lebih gembira karena berpikir bahwa Dumbledore juga sedikit ragu pada kesetiaan Snape. “Jadi, apa dia akan menyimpan pedang itu di Hogsmeade? Apa pendapatmu, Ron? Ron?” Harry melihat sekeliling. Sesaat ia berpikir bahwa Ron telah meninggalkan tenda, lalu tersadar bahwa Ron sedang berbaring dalam bayangan di ranjang bawah, terdiam membatu. ”Oh, kau masih ingat aku?” kata Ron. ”Apa?” Ron mendengus dan terus menatap ke bagian bawah ranjang atas. ”Kalian berdua lanjutkan saja. Jangan biarkan aku mengganggu kalian.” Kebingungan, Harry melihat Hermione meminta pertolongan, tapi Hermione menggelengkan kepalanya, sama bingungnya dengan Harry. ”Ada masalah apa?” tanya Harry. ”Masalah? Tidak ada masalah,” kata Ron yang masih menolak untuk melihat Harry. ”Tidak menurut kalian.” Terdengar beberapa suarates di kanvas di atas mereka. Hujan turun. ”Jelas kau sedang ada masalah,” kata Harry. ”Katakan saja.” Ron mengayunkan kaki panjangnya turun dari ranjang dan duduk. Ia terlihat kejam, tidak seperti dirinya sendiri. ”Baik, akan kukatakan. Jangan harap aku akan melompat kesenangan karena ada barang lain lagi yang harus kita temukan. Tambahkan saja pada daftar hal-hal yang tidak kau tahu.” ”Yang tidak aku tahu?” ulang Harry. "Yang tidakaku tahu?" Tes, tes, tes. Hujan turun lebih deras dan berat. Memaksa daun-daun yang berguguran di sekitar tenda mengalir ke sungai dalam kegelapan. Rasa takut mengaliri Harry, karena Ron telah mengatakan hal yang ia takutkan. ”Aku tidak merasa aku bisa hidup di sini,” kata Ron, ”kau tahu, dengan tangan terbebat, tidak ada yang bisa dimakan, dan kedinginan tiap malam. Aku berharap, setelah berminggu-minggu kita melarikan diri, kita akan mendapatkan sesuatu.” ”Ron,” kata Hermione dengan suara begitu pelan, sehingga bisa saja Ron berpura-pura tidak mendengar karena kerasnya suara hujan yang menjatuhi tenda. ”Aku kira kau tahu apa yang akan kau lakukan,” kata Harry. ”Ya, aku pikir begitu.” ”Jadi, hidup seperti ini tidak seperti harapanmu?” tanya Harry. Amarah memenuhi dirinya sekarang. ”Kau pikir kita akan tinggal di hotel bintang lima? Kau pikir kita akan menemukan satu Horcrux setiap harinya? Kau pikir kau akan kembali pada Mommy saat Natal?” ”Kami pikir kau tahu apa yang akan kau lakukan!” teriak Ron yang sekarang berdiri. Kata-katanya menusuk Harry seperti pisau panas. ”Kami pikir Dumbledore telah memberitahumu semua yang harus kau lakukan, kami pikir kau punya rencana yang sebenarnya!” ”Ron!” kata Hermione kali ini suara jelas terdengar walau di bawah deras hujan dan suara kilat, tapi sekali lagi, Ron mengacuhkannya. ”Maaf sudah mengecewakan kalian,” kata Harry, suaranya tenang walau ia merasa hampa. ”Aku sudah berusaha jujur pada kalian sejak awal, aku sudah katakan semua yang Dumbledore katakan padaku. Dan kalau kau tidak memerhatikan, kita telah menemukan satu Horcrux…” ”Ya, kita akan menghancurkannya sementara kita sedang mencari Horcrux yang lain – menghancurkannya di dunia lain, mungkin!” ”Lepaskan liontin itu, Ron!” kata Hermione dalam nada tinggi yang tidak biasa. ”Tolong lepaska liontin itu. Kau tak akan berbicara seperti ini bila kau tidak memakainya seharian.” ”Tetap saja,” kata Harry, yang sedang tidak ingin menerima alasan apa pun tentang Ron. ”Kalian pikir aku tidak tahu kalau kalian berdua berbisk-bisik di belakangku? Kalian pikir aku tidak akan menduga kalian akan membicarakan hal ini?” ”Harry, kami tidak…” ”Jangan bohong!” potong Ron. ”Kau juga bilang begitu, Hermione. Kau bilang kau kecewa, kau bilang kau pikir Harry memiliki…” ”Aku tidak berkata seperti itu, Harry!“ teriak Hermione. Hujan terus mengguyur tenda, air mata mengaliri wajah Hermione, dan kegembiraan yang muncul beberapa menit yang lalu, hilang begitu saja. Seperti pertunjukan kembang api yang meriah, lalu selesai, dan hanya menyisakan rasa gelap, basah, dan dingin. Pedang Gryffindor yang entah disembunyikan di mana, dan tiga remaja tanggung yang berada di dalam tenda merasa tidak akan menerima hadiah apa pun selain kematian. “Jadi mengapa kau masih di sini?“ tanya Harry pada Ron. ”Berani kau menantangku,” kata Ron. ”Pulang sana!” kata Harry. ”Baik, aku akan pulang!” teriak Ron lalu maju beberapa langkah menuju Harry, yang tidak mengambil langkah mundur. ”Apa kau tidak dengar yang mereka katakan tentang adikku? Sedikit pun kau tidak cemas. Hanya Hutan Terlarang. Harryaku-pernah-mengalami-yang-lebih-buruk Potter tidak peduli dengan apa yang terjadi pada adikku. Aku peduli! Di dalam sana ada laba-laba raksasa dan hal-hal gila lain…” ”Maksudku – dia bersama yang lain, mereka bersama Hagrid…” ”… ya, aku mengerti, kau tidak peduli! Dan bagaimana dengan keluargaku yang lain, ’keluarga Weasley tidak berharap anak mereka terluka lagi’, kau dengar itu?” ”Ya, aku…” ”Kau tidak cemas dengan maksud kata-kata itu, kan?” ”Ron!” kata Hermione yang mencoba menengahi, ”aku rasa maksud kata-kata itu bukan berarti ada sesuatu hal baru yang terjadi. Coba pikir, Ron, Bill yang penuh dengan luka, dan orang-orang pasti sudah melihat telinga George sekarang, ditambah lagi kau yang seharusnya sekarat karena spattergoit di ranjangmu, aku yakin itulah maksud kalimat…” ”Oh, yakin sekali. Baik, aku tidak perlu memikirkannya. Karena kalian berdua pun tidak khawatir, dengan orang tua kalian aman di luar…” ”Orang tuakumeninggal !” teriak Harry. ”Dan kita juga akan mengalami hal yang sama!” teriak Ron. ”Kalau begitu PERGI!” teriak Harry, marah. ”Pulang dan berpura-puralah kalau kau sudah sembuh dari spattergoitmu itu, dan Mommy akan menyuapimu, dan…” Tiba-tiba Ron bergerak, dan Harry bereaksi, tapi sebelum tongkat kedua pemuda itu keluar dari kantung mereka, Hermione sudah mengangkat tongkatnya. ”Protego!’ teriak Hermione, dan sebuah selubung tak terlihat memisahkan mereka. Harry dan Hermione di satu sisi, dan Ron di sisi lain. Ketiganya seakan dipaksa mundur beberapa langkah karena kekuatan mantera itu. Harry dan Ron saling tatap melalui penghalang transparan itu, seakan mereka bisa melihat lebih jelas daripada sebelumnya. Harry merasa begitu benci pada Ron, dan tiba-tiba ikatan persahabatan mereka terputus begitu saja. ”Tinggalkan Horcruxnya!” kata Harry. Ron menarik rantai kalung dari kepalanya dan melemparkan liontin itu ke kursi terdekat. Lalu ia menoleh pada Hermione. ”Apa yang kau lakukan?” ”Apa maksudmu?” ”Apa kau akan tinggal atau apa?” ”Aku…” Hermione terlihat menderita. ”Ya – ya, aku akan tinggal, Ron, kita sudah bilang kalau kita akan pergi bersama Harry, kita bilang kalau kita akan membantunya.” ”Aku mengerti. Kau memilih dia.” ”Ron, jangan – kumohon – kembali, kembali!” Hermione dihalangi oleh Mantra Pelindungnya sendiri. Saat Hermione telah melepaskannya, Ron telah pergi bersama malam. Harry tetap berdiri dalam diam, mendengarkan Hermione terisak dan memanggil nama Ron di antara pepohonan. Setelah beberapa menit, Hermione kembali. Rambutnya yang basah menutupi wajahnya. ”Dia p-p-pergi! Ber-Disapparate!” Hermione duduk di atas kursi, meringkuk, dan mulai menangis. Harry merasa linglung. Ia mengambil Horcrux itu dan memakainya di leher. Ia mengambil selimut Ron dan memakaikannya pada Hermione. Lalu ia naik ke ranjangnya sendiri, berbaring, dan menatap ke kanvas di atasnya, mendengarkan derasnya hujan.
Log in