Old school Swatch Watches
HARRY
POTTER
BAB 18 DUNIA DAN DUSTA ALBUS DUMBLEDORE (The Life and Lies of Albus Dumbledore) Matahari mulai terbit: jernih, langit tanpa warna terbentang luas diatasnya, tidak peduli padanya maupun pada penderitaannya. Harry duduk di pintu masuk tenda dan menghirup udara bersih dalam-dalam. Masih bisa hidup untuk menyaksikan matahari terbit diatas sisi bukit bersalju yang berkilau sebenarnya merupakan harta paling berharga di dunia; ia belum bisa menghargainya: perasaannya telah terpaku oleh malapetaka kehilangan tongkatnya. Ia memandang lembah yang diselimuti salju, lonceng gereja di kejauhan berdentang melalui kesunyian yang gemerlap. Tanpa sadar, ia meraba lengan dengan jari-jarinya seperti sedang mencoba melawan rasa sakit. Dia telah menumpahkan darahnya sendiri lebih sering daripada yang bisa dihitungnya; dia kehilangan semua tulang di lengan kanannya sekali; perjalanan ini telah memberinya luka di dada dan lengan bawah untuk menambah luka sebelumnya di dahi dan tangannya, tapi tak pernah, sampai saat ini, dia merasakan perasaan lemah, mudah diserang, dan tanpa perlindungan yang parah, karena bagian terbaik dari kemampuan sihirnya telah tercabik darinya. Ia tahu pasti apa yang akan dikatakan Hermione jika dia mengatakan hal ini: bahwa tongkat sama baiknya dengan pemiliknya. Tapi Hermione salah, kasusnya berbeda. Dia tidak merasakan tongkat berputar seperti jarum kompas dan menembakkan api keemasan pada musuhnya. Ia kehilangan perlindungan dari inti kembar dan sekarang saat sudah hilang barulah ia menyadari betapa ia tergantung pada tongkatnya. Ia menarik potongan tongkat yang patah dari sakunya dan, tanpa memandangnya, memasukkannya ke dalam kantong Hagrid yang tergantung di lehernya. Kantong itu sekarang penuh dengan barang-barang rusak dan tidak berguna. Tangan Harry menyikat snitch tua pada mokeskin dan untuk sekejap dia harus menahan diri untuk tidak menarik dan membuangnya jauh-jauh. Berat untuk dijalani, tanpa bantuan, tanpa guna seperti segala yang Dumbledore tinggalkan –-- Dan kemarahannya kepada Dumbledore menghancurkannya seperti lahar, membakarnya didalam, menyapu bersih perasaannya yang lain. Diluar, rasa putus asa atas keyakinan mereka bahwa jawabannya ada di Godric’s Hollow, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa mereka harus kembali kesana, bahwa itu adalah bagian dari beberapa jalan rahasia yang disiapkan Dumbledore untuk mereka: tapi ternyata sama sekali tak ada petunjuk, tak ada rencana. Dumbledore telah meninggalkan mereka untuk meraba-raba dalam kegelapan, untuk bergulat dengan teror-teror tak dikenal dan tak terbayangkan, sendiri dan tanpa bantuan: tak ada yang dijelaskan, tak ada yang diberikan dengan gratis, mereka tidak punya pedang, dan sekarang, Harry tidak punya tongkat. Dan dia telah menjatuhkan foto si Pencuri, dan pasti sangat mudah bagi Voldemort sekarang untuk menemukannya…. Voldemort mempunyai semua informasi sekarang….. “Harry?” Hermione tampak ketakutan seolah Harry mungkin akan mengutuknya dengan tongkatnya sendiri. Wajahnya penuh dengan air mata, dia meringkuk disamping Harry, dua cangkir teh bergetar di tangannya dan ada sesuatu yang besar di bawah lengannya. “Terima kasih,“ Kata Harry, mengambil satu cangkir. “Tidak keberatan aku bicara denganmu?“ “Tidak, “ dia mengatakannya agar tidak menyakiti perasaan Hermione. “Harry, kau ingin tahu kan siapa orang di foto itu. Well...aku punya bukunya.“ Dengan takut-takut ia mendorong buku itu ke pangkuan Harry, cetakan asliDunia dan Dusta Albus Dumbledore. ”Dimana – bagaimana --?“ ”Ada di ruang tamu Bathilda, tergeletak begitu saja...Catatan ini ada diatasnya.“ Hermione membaca dengan keras beberapa baris tulisan kehijauan, yang bentuknya tajam-tajam seperti paku. “Kepada Bally, terima kasih atas bantuanmu. Ini bukunya, semoga kau menyukainya. Kau mengatakan segalanya, bahkan walaupun kau tidak mengingatnya. Rita. Kurasa ini datang ketika Bathilda masih hidup, tapi apa mungkin ia tidak dalam keadaan sehat untuk membacanya?” “Mungkin begitu keadaannya.” Harry memandang wajah Dumbledore dan merasakan gelombang kesenangan yang mengganas: sekarang ia akan tahu semua yang Dumbledore pikir tak cukup berarti untuk disampaikan padanya, terlepas Dumbledore menginginkannya atau tidak. “Kau masih marah kepadaku, kan?“ ujar Hermione; Harry memandangnya, melihat airmata segar keluar dari matanya, dan menyadari bahwa kemarahan pastilah terlihat di wajahnya. “Tidak,” katanya kalem. “Tidak, Hermione, aku tahu itu kecelakaan. Kau berusaha membawa kita keluar hidup-hidup, dan kau luar biasa. Aku pasti sudah mati jika kau tidak disana untuk menolongku.” Dia mencoba membalas senyum Hermione yang basah, kemudian kembali memperhatikan buku. Puggungnya kaku; jelas belum pernah dibuka sebelumnya. Dia menjelajahi halaman, mencari foto-foto. Ia segera sampai pada salah satu foto, Dumbledore muda dan rekannya yang tampan, tertawa terbahak-bahak oleh lelucon lama. Mata Harry tertuju pada tulisan dibawahnya. Albus Dumbledore, segera setelah kematian ibunya, Bersama temannya Gellert Grindelwald. Harry terpaku pada kalimat terakhir untuk beberapa waktu. Grindelwald. Temannya Grindelwald. Dia melihat kesamping pada Hermione, yang masih merenungkan nama itu seolah-olah tidak mempercayai penglihatannya. Perlahan dia menatap Harry. “Grindelwald!“ Mengabaikan sisa foto yang lain, Harry mencari halaman sekitar untuk menemukan lagi nama yang membawa bencana itu. Dia segera menemukannya dan membacanya dengan rakus, tenggelam didalamnya: Sangat penting untuk kembali ke masa lalu demi memahami ini semua dan akhirnya dia sampai pada permulaan bab berjudul “Manfaat yang Lebih Besar.” Bersama-sama, dia dan Hermione mulai membaca: Mendekati ulang tahun ke-18, Dumbledore meninggalkan Hogwarts dengan kejayaan yang berkibar-kibar, Ketua Murid, Prefek, Pemenang Penghargaan Barnabus Finkley untuk Pembuatan Mantra Luar Biasa, Perwakilan Pemuda Inggris untuk Wizengamot, Pemenang Medali Emas untuk Kontribusi yang Luar Biasa pada Konferensi Alkemis Internasional di Kairo. Dumbledore bermaksud, selanjutnya, untuk menjalani tour besar bersama Elphias “Dogbreath” Doge, yang tidak terlalu pintar tetapi merupakan sahabat karib yang setia yang ditemuinya di sekolah. Kedua anak muda tinggal di Leaky Cauldron di London, mempersiapkan keberangkatan ke Yunani keesokan paginya, ketika seekor burung hantu datang membawa berita kematian ibu Dumbledore. “Dogbreath” Doge, yang menolak untuk diwawancarai untuk buku ini, telah memberikan versi sentimentalnya sendiri kepada masyarakat tentang apa yang terjadi selanjutnya. Dia menggambarkan kematian Kendra sebagai peristiwa tragis, dan keputusan Dumbledore untuk tidak melanjutkan ekspedisinya merupakan sebuah pengorbanan diri yang mulia. Tentu saja Dumbledore segera kembali ke Godric’s Hollow, untuk ’merawat’ adik-adiknya menurut dugaan. Tapi apakah ia benar-benar merawat mereka? “Dia menjadi kepala keluarga karena Aberforth,” kata Enid Smeek, yang keluarganya tinggal di pinggiran Godric’s Hollow pada saat itu, “menjadi liar. Tentu saja kau akan merasa menyesal karena ayah dan ibunya telah meninggal dunia, hanya saja ia selalu membuatku kesal. Kurasa Albus tidak mau repot-repot dengannya. Lagipula aku tidak pernah melihat mereka bersama-sama.” Lalu apa yang dilakukan Albus, jika tidak menenangkan adik laki-lakinya yang liar? Jawabannya, tampaknya, adalah memastikan kelanjutan hukuman penjara bagi adik perempuannya. Walaupun orang yang memenjarakannya pertama telah meninggal, tak ada perubahan terhadap kondisi mengenaskan Ariana Dumbledore. Keberadaannya hanya diketahui oleh sedikit sekali orang luar yang, seperti “Dogbreath” Doge, bisa diandalkan untuk mempercayai cerita “gangguan kesehatan”nya. Ada lagi teman keluarga yang cukup meyakinkan yaitu Bathilda Bagshot, sejarawan sihir ternama yang tinggal di Godric’s Hollow selama bertahun-tahun. Kendra, tentu saja, telah menampik Bathilda ketika pertama kali mencoba untuk menyambut keluarga itu di desanya. Beberapa tahun kemudian, ternyata sang penulis mengirimkan burung hantu kepada Albus di Hogwarts, karena terkesan oleh tulisannya tentang transformasi antar-spesies di Transfiguration Today. Ikatan awal ini mengarahkannya untuk berkenalan dengan seluruh anggota keluarga Dumbledore. Pada saat kematian Kendra, Bathilda-lah satu-satunya orang di Godric’s Hollow yang dapat bercakap-cakap dengan ibu Dumbledore tersebut. Sayang sekali, kecemerlangan yang Bathilda tunjukkan di awal hidupnya kini telah redup. “Apinya menyala, tapi kualinya kosong,” sebagaimana Ivor Dillonsby katakan kepadaku, atau, dalam ungkapan yang lebih sederhana menurut Enid Smeek, “Dia sinting seperti tupai.” Namun, kombinasi dari teknik laporan coba-dan-uji memungkinkanku untuk menyaring bongkahan fakta yang cukup berat dan merangkai semuanya menjadi kisah skandal yang utuh. Seperti umumnya di dunia sihir, Bathilda menghubungkan kematian dini Kendra dengan kesalahan mantra, suatu cerita yang diulang-ulang oleh Albus dan Aberforth di tahun-tahun selanjutnya. Bathilda juga mengikuti saja apa kata keluarga mereka tentang Ariana, menyebutnya “lemah” dan “sulit”. Di satu sisi, bagaimanapun, Batildha cukup berharga dalam usahaku memperoleh veritaserum, karena dia, dan hanya dia, yang mengetahui kisah lengkap rahasia kehidupan Albus Dumbledore yang disimpan rapat-rapat. Kini terbuka untuk yang pertama kalinya, menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang dipercayai para pemuja Dumbledore: dugaan atas kebenciannya terhadap sihir hitam, perlawanannya terhadap penindasan Muggle, bahkan pengabdiannya lepada keluarganya. Musim panas yang sama saat Dumbledore pulang ke Godric’s Hollow, sekarang sebagai seorang yatim piatu dan kepala keluarga, Bathilda Bagshot menerima kedatangan keponakan-jauhnya di rumahnya, yaitu Gellert Grindelwald. Nama Gellert Grindelwald sangat tenar: Ada dalam daftar Penyihir Hitam Paling Berbahaya, ia keluar dari daftar teratas hanya karena keberadaan Kau-Tahu-Siapa, satu generasi sesudahya untuk mengambil alih mahkotanya. Karena Grindelwald tidak pernah memperluas kampanye terornya sampai ke Inggris, sehingga, kebangkitan kekuatannya tidak terlalu dikenal disini. Dididik di Durmstrang, sebuah sekolah terkenal dengan toleransinya yang sangat longgar terhadap sihir hitam, Grindelwald menunjukkan kecerdasan yang sama seperti Dumbledore. Alih-alih menyalurkan kemampuannya untuk meraih penghargaan dan hadiah, malahan, Gellert Grindelwald mengabdikan dirinya untuk pencarian lain. Dalam usia 17 tahun, bahkan Durmstrang merasa bahwa mereka tidak lagi dapat merubah mata gelap Gellert Grindelwald menuju percobaan sebaliknya, dan ia pun dikeluarkan. Sampai sekarang ini, pergerakan Grindelwald yang dikenal adalah “berkelana beberapa bulan“. Kini terbuka kenyataan bahwa Grindelwald memilih untuk mengunjungi bibi-jauhnya di Godric’s Hollow, dan bahwa disana, amat mengejutkan walaupun akan banyak yang mendengarnya, dia memulai persahabatan tiada lain dengan Albus Dumbledore. “Bagiku ia anak yang menarik,“ celoteh Bathilda, “apapun yang terjadi padanya kemudian. Tentu saja aku memperkenalkannya pada si malang Albus, yang kehilangan teman-teman sebayanya. Dengan segera anak-anak itu saling memperhatikan satu sama lain.“ Tentu saja demikian. Bathilda menunjukkan sebuah surat kepadaku, yang disimpannya ketika Albus Dumbledore mengirimkannya kepada Gellert Grindelwald di akhir malam. “Ya, meskipun setelah mereka berdiskusi seharian — keduanya anak muda yang brilian, mereka seperti kuali diatas api — kadang-kadang aku mendengar burung hantu mengetuk jendela kamar tidur Gellert, mengantarkan surat dari Albus! Satu ide muncul di kepalanya dan ia segera memberitahu Gellert!” Dan ide mereka luar biasa. Hal yang sangat mengejutkan akan ditemui para fans Albus Dumbledore, ini dia pemikiran pahlawan tujuh-belas-tahun mereka, seperti yang disampaikan kepada sahabat barunya. (salinan surat asli bisa dilihat di halaman 463) Gellert — Pendapatmu tentang dominasi penyihir UNTUK KEBAIKAN PARA MUGGLE SENDIRI — ini, menurutku, adalah titik kritis. Ya, kita telah diberi kekuatan dan ya, kekuatan itu memberikan kita hak untuk mengatur, tapi ini juga memberi kita tanggung jawab terhadap peraturan. Kita harus menekankan hal ini, karena ini akan menjadi batu pondasi bangunan kita. Dimana kita bertentangan, dan pasti kita akan begitu, ini akan menjadi dasar dari pertentangan pendapat kita. Kita mengendalikan UNTUK MANFAAT YANG LEBIH BESAR. Dan dari hal tersebut, jika kita menghadapi perlawanan, kita menggunakan kekuatan hanya jika diperlukan, tidak lebih. (Ini kesalahanmu di Durmstrang! Tapi aku tidak mengeluh, karena jika kau tidak dikeluarkan, kita tak akan pernah bertemu) Albus Mungkin pemujanya akan heran dan terkejut, surat ini digunakan untuk menyusun Undang-undang Kerahasiaan dan menghasilkan Penguasaan Penyihir terhadap Muggle. Pukulan bagi mereka yang selalu menggambarkan Dumbledore sebagai pembela kelahiran-Muggle sejati! Betapa tak berdayanya pidato mengenai pembelaan hak-hak Muggle tersebut ketika bukti baru yang memberatkan ini mulai terbuka! Betapa tercela tampaknya Albus Dumbledore, sibuk merencanakan kebangkitan kekuatannya ketika ia seharusnya berduka cita atas kematian ibunya dan merawat adiknya! Tak diragukan lagi mereka yang memutuskan untuk tetap membela Dumbledore diatas tumpuannya yang hancur akan mengakui bahwa dia tidak, bagaimanapun juga, merealisasikan rencananya, bahwa dia pasti mengalami perubahan perasaan, dan kembali ke akal sehatnya. Bagaimanapun, kebenaran bisa lebih mengejutkan. Baru saja dua bulan jalinan persahabatan mereka yang luar biasa, Dumbledore dan Grindelwald terpisah, tak pernah bertemu lagi hingga pertarungan mereka yang legendaris (selanjutnya, baca bab 22). Apa yang menyebabkan pertarungan ini pecah? Apakah Dumbledore menjadi sadar? Apakah ia mengatakan pada Grindelwald bahwa ia tidak lagi mengambil bagian dalam rencananya? Sayang sekali tidak. “Kematian Ariana kecil yang malang, kurasa, yang menyebabkannya,” kata Bathilda. “Hal itu merupakan goncangan berat. Gellert ada disana ketika itu terjadi, dan dia kembali kerumahku dengan menggigil, mengatakan padaku kalau dia ingin pulang keesokan harinya. Benar-benar keadaan yang sulit, kau tahu, jadi aku mengatur portkey dan itulah terakhir kali aku melihatnya.” “Albus ada disampingnya saat kematian Ariana. Benar-benar menyedihkan untuk kedua bersaudara itu. Mereka telah kehilangan semuanya, tinggal diri mereka sendiri. Tak heran suhu menjadi naik. Aberforth menyalahkan Albus, kau tahu, sebagaimana orang yang berada dalam kondisi memprihatinkan seperti ini. Tapi Aberforth memang selalu berbicara sedikit kacau, anak yang malang. Sama saja, mematahkan hidung Albus saat pemakaman bukanlah tindakan memperbaiki tabiatnya. Akan menghancurkan hati Kendra jika melihat putra-putranya berkelahi seperti itu, disisi mayat anak permpuannya. Sayang sekali Gellert tidak dapat menghadiri pemakaman. Ia akan membuat Albus merasa nyaman, paling tidak.... Percekcokan disamping-mayat yang memprihatinkan ini, hanya diketahui sedikit orang yan g menghadiri pemakaman Ariana Dumbledore, menyisakan beberapa pertanyaan. Mengapa Aberforth Dumbledore menyalahkan Albus Dumbledore atas kematian Ariana? Apakah ini sebagaimana yang dianggap “Bally”, adalah ungkapan duka cita yang emosional belaka? Ataukah ada alasan yang sebenarnya atas kemarahannya? Grindelwald, dikeluarkan dari Durmstrang karena serangan yang hampir-fatal kepada teman-teman sekolahnya, meninggalkan negara ini hanya beberapa jam setelah kematian gadis itu, dan Albus (karena malu atau takut?) tidak pernah melihatnya lagi, tidak hingga dipaksa untuk melakukannya karena kepentingan dunia sihir. Tak satupun dari Dumledore atau Grindelwald yang tampaknya pernah mengungkit-ungkit hubungan persahabatan masa muda itu.selanjutnya. Bagaimanapun, tak diragukan lagi Dumbledore telah menunda, lima tahun akan kekacauan, kematian dan kehilangan ataukah kekuatiran akan terbongkar fakta bahwa ia pernah menjadi sahabatnya-lah yang membuat Dumbledore ragu-ragu? Ataukah hanya rasa enggan Dumbledore untuk berangkat menangkap orang yang dulu dengan senang hati ia temui? Dan bagaiman Ariana yang misterius meninggal? Apakah ia korban kecerobohan ritual sihir hitam? Apakah dia secara kebetulan menemukan sesuatu yang tidak seharusnya, saat kedua anak muda tersebut mempraktekkan sesuatu dalam usahanya mencapai kejayaan dan dominasi? Apakah mungkin Ariana Dumbledore adalah orang pertama yang mati “untuk manfaat yang lebih besar”? Bab tersebut berakhir disini dan Harry mendongak. Hermione telah mencapai akhir halaman sebelum dia. Hermione menyentakkan buku itu dari tangan Harry, terlihat sedikit gelisah karena ekspresi Harry, menutupnya tanpa memandang buku itu, seperti menyembunyikan sesuatu yang memalukan. “Harry—“ Tapi Harry menggelengkan kepalanya. Suatu rasa yang dalam seperti menghancurkan hatinya, sama pesis seperti yang ia rasakan setelah kepergian Ron. Dia telah mempercayai Dumbledore, percaya bahwa ia merupakan perwujudan kebaikan dan kebijaksanaan. Semuanya seperti debu; Berapa banyak lagi yang akan hilang? Ron , Dumbledore, tongkat phoenix.... “Harry.” Hermione tampaknya bisa mendengar pikiran Harry. “Dengarkan aku. Ini – ini bukan bacaan yang baik—“ “Yah, kau bisa bilang –“ “—tapi jangan lupa, Harry, ini tulisan Rita Skeeter.” “Kau membaca surat untuk Grindelwald, kan?” “Ya, a—aku membacanya.” Ia ragu-ragu, tampak kecewa, menggerak-gerakkan teh di tangannya yang dingin. “Kurasa itu yang membuatnya parah. Aku tahu Bathilda berpikir itu hanya obrolan, tapi ‘Untuk manfaat yang lebih besar’ kemudian menjadi slogan Grindelwald, pembenarannya atas kekejian yang ia lakukan selanjutnya. Dan...dari hal itu...tampaknya Dumbledore memberinya ide itu. Mereka bilang ‘Untuk Manfaat yang Lebih Besar’ bahkan diukir di pintu masuk Nurmengard.” “Apa itu Nurmengard?” “Penjara yang dibangun Grindelwald untuk menahan lawan-lawannya. Dia sendiri berakhir disana, ketika Dumbledore menangkapnya. Bagaimanapun, meng -- mengerikan rasanya ternyata ide Dumbledore membantu Grindelwald berkuasa. Tapi disisi lain, bahkan Rita tidak mengelak bahwa mereka saling mengenal selama beberapa bulan di suatu musim panas ketika mereka masih sangat muda, dan –“ “Kurasa kau mengatakannya,” ucap Harry. Ia tidak ingin kemarahannya tumpah kepada Hermione, tapi sulit menjaga suaranya tetap stabil. “Kurasa kau berkata ‘mereka masih muda’. Usia mereka sama dengan kita sekarang. Dan inilah kita, mempertuhkan nyawa melawan sihir hitam, dan ia disana, berkumpul dengan karib barunya, merencanakan kekuasaan mereka atas Muggle.” Kemarahannya tak perlu diragukan lagi: ia berdiri dan berjalan, berusaha menghilangkan ketegangan jiwanya. “Aku tidak sedang mencoba membela apa yang ditulis Dumbledore,” kata Hermione. “Semua sampah ‘hak untuk mengatur’, ‘sihir adalah kekuatan’ lagi-lagi. Tapi Harry, ibunya baru saja meninggal dan ia terjebak sendiri dirumah itu—“ “Sendiri? Ia tidak sendiri! Ia punya adik-adik untuk menemaninya, adik perempuannya yang Squib terkunci—“ “Aku tidak percaya,” ucap Hermione. Dia juga berdiri. “Apapun yang terjadi pada gadis itu, kurasa ia bukan Squib. Dumbledore yang kita kenal tak akan pernah, tak akan membiarkan –“ “Dumbledore yang kita rasa kita kenal tidak ingin menguasai Muggle dengan kekerasan!” Harry berteriak, suaranya bergema di puncak bukit yang sepi, dan beberapa burung hitam terbang mengangkasa, berkoak dan berputar di langit yang berkilau. “Dia berubah, Harry, dia berubah! Semudah itu! Mungkin ia percaya hal-hal tersebut ketika ia berusia 17, tapi sisa hidupnya diabdikan untuk melawan sihir hitam! Dumbledore-lah orang yang menghentikan Grindelwald, orang yang membela perlindungan Muggle dan hak-hak kelahiran Muggle, yang melawan Kau-Tahu-Siapa dari awal, dan yang meninggal dalam usaha menjatuhkannya!” Buku Rita tergeletak terbuka di lantai antara mereka, sehingga wajah Albus Dumbledore tersenyum pada keduanya. “Harry, maafkan aku, tapi kurasa alasan sebenarnya mengapa kau begitu marah adalah karena Dumbledore tidak pernah menceritakan sendiri hal ini kepadamu.” “Mungkin iya!” Harry berteriak, dan ia merentangkan lengannya diatas kepalanya, sulit untuk mengetahui apakah ia mencoba menahan kemarahannya ataukah ia melindungi dirinya sendiri dari beratnya kekecewaan. “Lihat apa yang ia minta dariku, Hermione! Pertaruhkan nyawamu, Harry! Dan lagi! Dan lagi! Dan jangan harapkan aku menjelaskan semuanya, percaya saja, percaya bahwa aku tahu yang kulakukan, percayalah walaupun aku tidak mempercayaimu! Tidak pernah kebenaran yang utuh! Tidak pernah!” Suaranya pecah karena tegang, dan mereka berdiri saling memandang dalam keputihan alam dan kehampaan, dan Harry merasa mereka sama tidak berartinya dengan serangga di angkasa luas. “Dia menyayangimu,” Hermione berbisik. “Aku tahu dia menyayangimu.” Harry menurunkan lengannya. “Aku tak tahu siapa yang ia sayangi, Hermione, tapi itu bukan aku. Itu bukan sayang, kekacauan yang ia tinggalkan padaku. Ia lebih memilih berbagi pemikirannya dengan Gellert Grindelwald daripada denganku.” Harry mengambil tongkat Hermione, yang ia jatuhkan di salju, dan kembali duduk di pintu masuk tenda. “Terima kasih atas tehnya. Akan kuselesaikan pengawasan. Masuklah agar hangat.” Hermione tampak ragu, tapi menyadari itu penolakan. Dia mengambil buku itu dan berjalan kembali ke tenda melewati Harry, sambil mengelus kepala Harry dengan tangannya. Harry menutup matanya saat Hermione menyentuhnya, dan membenci dirinya sendiri karena berharap perkataan Hermione benar: bahwa Dumbledore benar-benar menyayanginya.