80s toys - Atari. I still have
H
A
R
R
Y
POTTER
BAB 2.PERINGATAN DOBBY
HARRY berhasil tidak menjerit, tetapi nyaris saja. Makhluk kecil di tempat tidur itu bertelinga lebar seperti kelelawar dan bermata hijau menonjol sebesar bola tenis. Harry langsung tahu bahwa dialah yang pagi tadi mengawasinya dari pagar tanaman.
Ketika mereka saling pandang, Harry mendengar suara Dudley dari ruang depan.
"Boleh kusimpan mantel Anda, Mr dan Mrs Mason?"
Makhluk itu meluncur turun dari tempat tidur dan membungkuk rendah sekali sehingga ujung hidungnya yang panjang dan kurus menyentuh karpet. Harry memperhatikan makhluk itu memakai sesuatu yang kelihatannya seperti sarung bantal usang, dengan robekan untuk lubang lengan dan kaki.
"Eh—halo," kata Harry gugup.
"Harry Potter!" kata makhluk itu, dengan suara melengking yang Harry yakin pasti terdengar sampai ke bawah tangga. "Sudah lama Dobby ingin bertemu Anda, Sir... Sungguh kehormatan besar..."
"Te-terima kasih," kata Harry merayap sepanjang dinding dan terenyak di kursinya, di sebelah Hedwig, yang sedang tidur di dalam sangkarnya yang besar. Dia ingin bertanya, "Kau ini apa?" tetapi rasanya tidak sopan, maka sebagai gantinya dia bertanya, "Kau siapa?"
"Dobby, Sir. Cukup Dobby saja. Dobby si peri- rumah," jawab makhluk itu.
"Oh—begitu?" kata Harry. "Eh—bukannya aku mengusir atau apa, tapi—ini bukan saat yang baik bagiku untuk menerima peri-rumah di kamarku."
Tawa Bibi Petunia yang melengking dibuat-buat ter- dengar dari ruang tamu. Peri itu menunduk lesu.
"Bukannya aku tidak senang bertemu kau," kata Harry cepat-cepat, "tetapi, eh, apakah ada alasan khu- sus kenapa kau di sini?"
"Oh ya, Sir," kata Dobby bersemangat. "Dobby da- tang untuk memberitahu Anda, Sir... susah, Sir... enaknya Dobby mulai dari mana, ya..."
"Silakan duduk," kata Harry sopan, menunjuk tem- pat tidurnya.
Betapa kagetnya dia, air mata si peri langsung bercucuran—dia tersedu-sedu.
"S-silakan duduk!" dia meraung.
"Belum pernah... sekali pun belum pernah..."
Harry mendengar suara-suara di bawah terhenti.
"Maaf," dia berbisik. "Aku tak bermaksud menghina- mu."
"Menghina Dobby!" si peri tersedak. "Belum pernah Dobby dipersilakan duduk oleh seorang penyihir— seakan kita sederajat..."
Harry, berusaha berkata "Shh!" dan sekaligus ke- lihatan lega, mengantar Dobby kembali ke tempat tidurnya. Dobby duduk di situ, cegukan, tampak se- perti boneka besar yang jelek sekali. Akhirnya dia berhasil menguasai diri. Mata besarnya yang masih berair menatap Harry penuh pemujaan.
"Pasti kau belum banyak bertemu penyihir yang sopan," kata Harry, berusaha menghiburnya.
Dobby menggeleng. Kemudian, mendadak saja, dia melompat dan mulai membentur-benturkan kepalanya keras-keras ke jendela, seraya berteriak-teriak, "Dobby jelek! Dobby jelek!"
"Jangan—kau kenapa?" desis Harry, melompat ba- ngun dan menarik Dobby kembali ke tempat tidur. Hedwig terbangun sambil memekik luar biasa keras dan mengepak-ngepakkan sayapnya dengan liar ke jeruji sangkarnya.
"Dobby harus menghukum diri sendiri, Sir," kata si -peri yang matanya jadi agak juling. "Dobby hampir saja menjelek-jelekkan keluarga Dobby, Sir...."
"Keluargamu?"
"Keluarga penyihir tempat Dobby mengabdi, Sir... Dobby kan peri-rumah—terikat untuk mengabdi dan melayani satu rumah dan satu keluarga selamanya...." "Apa mereka tahu kau di sini?" tanya Harry ingin tahu.
Dobby bergidik.
"Oh, tidak, Sir, tidak... Dobby nantinya harus menghukum diri dengan sangat menyedihkan karena da- tang menemui Anda, Sir. Dobby harus menjepit telinganya di pintu oven. Kalau sampai mereka tahu, Sir..."
"Tapi apa mereka tidak akan melihat kalau kau menjepit telingamu di pintu oven?"
"Dobby meragukannya, Sir. Dobby selalu harus menghukum diri karena sesuatu, Sir. Mereka membiar- kan saja Dobby begitu, Sir. Kadang-kadang mereka malah mengingatkan Dobby untuk melakukan hu- kuman tambahan..."
"Tetapi kenapa kau tidak pergi saja? Maksudku, kabur?"
"Peri-rumah harus dibebaskan, Sir. Dan keluarga itu tidak akan pernah membebaskan Dobby... Dobby akan melayani keluarga itu sampai mati, Sir..."
Harry terbelalak.
"Dan kukira keadaanku sudah parah sekali karena harus tinggal di sini sebulan lagi," katanya. "Ceritamu membuat keluarga Dursley nyaris manusiawi. Apakah ada yang bisa membantumu? Bisakah aku membantu- mu?"
Langsung saja Harry menyesal bicara begitu. Dobby tersedu-sedu lagi saking berterima kasihnya.
"Diamlah," bisik Harry panik, "diamlah. Kalau ke- luarga Dursley sampai dengar, kalau mereka tahu kau di sini..."
"Harry Potter bertanya apakah dia bisa membantu Dobby... Dobby sudah mendengar kehebatan Anda, Sir, tapi tentang kebaikan Anda, Dobby tak pernah tahu..."
Harry, yang wajahnya terasa panas, berkata, "Apa pun yang kaudengar tentang kehebatanku adalah omong kosong besar. Aku bahkan bukan juara di antara teman-teman seangkatanku. Juaranya Hermione, dia..."
Tetapi Harry mendadak berhenti, karena memikirkan Hermione terasa menyakitkan.
"Harry Potter rendah hati dan sederhana," kata Dobby penuh kekaguman, matanya yang seperti bola berbinar-binar. "Harry Potter tidak menyebut-nyebut kemenangannya atas
Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut."
"Voldemort?" kata Harry.
Dobby menutup telinga kelelawarnya dan menge- rang. "Ah, jangan sebut namanya, Sir! Jangan sebut namanya!"
"Maaf," kata Harry cepat-cepat. "Aku tahu banyak orang tidak menyukainya. Temanku Ron..."
Dia berhenti lagi. Memikirkan Ron juga menyakit- kan.
Dobby membungkuk ke arah Harry, matanya se- besar lampu sorot.
"Dobby mendengar cerita," katanya serak, "bahwa Harry Potter bertemu si Pangeran Kegelapan itu untuk kedua kalinya, baru beberapa minggu lalu... bahwa Harry Potter sekali lagi berhasil lolos."
Harry mengangguk dan mata Dobby mendadak berkilau oleh air mata.
"Ah, Sir," isaknya, mengusap wajahnya dengan salah satu ujung sarung bantal butut yang dipakainya.
"Harry Potter sungguh gagah berani! Dia sudah menghadapi banyak bahaya! Tetapi Dobby datang untuk melindungi Harry Potter, untuk memperingatkannya, meskipun karena itu Dobby harus menjepit telinganya di pintu oven nanti...
Harry Potter tidak boleh kembali ke Hogwarts."
Kesunyian yang menyusul hanya dipecahkan oleh dentang-denting garpu dan pisau dari bawah dan sayup-sayup suara Paman Vernon di keja'uhan.
"A-apa?" Harry tergagap. "Tapi aku harus kembali— sekolah mulai tanggal satu September. Itu saja yang membuatku masih di sini. Kau tak tahu bagaimana rasanya di sini. Aku tidak, termasuk salah satu dari mereka. Aku lebih cocok di duniamu—di Hogwarts."
"Tidak, tidak, tidak," lengking Dobby, menggeleng- gelengkan kepalanya keras-keras sampai telinganya menampar-nampar. "Harry Potter harus tinggal di tem- pat di mana dia aman. Dia terlalu hebat, terlalu baik, sayang kalau kami sampai kehilangan dia. Kalau Harry Potter kembali ke Hogwarts, nyawanya dalam bahaya."
"Kenapa?" tanya Harry kaget.
"Ada rencana rahasia, Harry Potter. Rencana untuk membuat hal-hal yang paling mengerikan terjadi di Sekolah Sihir Hogwarts tahun ini," bisik Dobby, menda- dak seluruh tubuhnya gemetaran. "Dobby sudah tahu selama berbulan-bulan, Sir. Harry Potter tidak boleh membahayakan dirinya. Dia terlalu penting, Sir!"
"Hal mengerikan apa?" tanya Harry segera. "Siapa yang merencanakannya?"
Dobby membuat suara tersedak aneh dan kemudian membentur-benturkan kepalanya dengan liar ke din- ding.
"Baiklah!" seru Harry, menyambar lengan si peri untuk menghentikan perbuatannya. "Kau tak bisa me- ngatakannya, aku mengerti. Tetapi kenapa kau mem- peringatkan aku?" Pikiran tak enak mendadak melintas di benaknya. "Tunggu—ini tidak ada hubungannya dengan Vol—sori—dengan Kau-Tahu-Siapa, kan? Kau tinggal menggeleng atau mengangguk," cepat-cepat Harry menambahkan ketika, dengan mengkha- watirkan, kepala Dobby sudah mengarah lagi ke dinding.
Perlahan-lahan, Dobby menggelengkan kepala.
"Bukan—bukan
Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut, Sir."
Tetapi mata Dobby melebar dan dia kelihatannya mencoba memberi Harry petunjuk. Meskipun demi- kian, Harry sama sekali tidak paham.
"Dia tidak punya adik laki-laki, kan?"
Dobby menggeleng, matanya menjadi lebih lebar dari sebelumnya.
"Yah, kalau begitu, aku tak bisa memikirkan siapa lagi yang punya kesempatan untuk melakukan hal- hal mengerikan di Hogwarts," kata Harry. "Maksudku, paling tidak di sana ada Dumbledore—kau tahu siapa Dumbledore, kan?"
Dobby menundukkan kepala."Albus Dumbledore adalah kepala sekolah terhebat yang pernah dimiliki Hogwarts. Dobby tahu itu, Sir. Dobby sudah mendengar kehebatan Dumbledore me- nyaingi kehebatan Dia yang Namanya Tak Boleh Di- sebut pada puncak kekuasaannya. Tetapi, Sir," suara Dobby merendah menjadi bisikan mendesak, "ada kekuasaan-kekuasaan yang Dumbledore tidak... ke- kuasaan yang penyihir baik tidak..."
Dan sebelum Harry bisa mencegahnya, Dobby me- lompat turun dari tempat tidur, menyambar lampu meja Harry dan mulai memukuli kepalanya dengan jeritan-jeritan memekakkan telinga.
Di bawah mendadak sunyi. Dua menit kemudian, dengan jantung berdegup liar, Harry mendengar Paman Vernon masuk, seraya berkata, "Dudley pasti lupa mematikan televisinya. Dasar ceroboh anak itu!"
"Cepat! Masuk lemari pakaian!" desis Harry, men- dorong Dobby masuk, menutup pintu lemari, dan melempar dirinya ke atas tempat tidur tepat ketika pegangan pintu bergerak.
"Setan!
Kau-ini-ngapain-sih?" kata Paman Vernon dengan gigi mengertak, wajahnya sangat dekat ke wajah Harry. "Kau baru saja membuat berantakan leluconku tentang pemain golf Jepang... kalau bikin suara sekali lagi, kau akan menyesal telah dilahir- kan!"
Paman Vernon meninggalkan kamar dengan mengentakkan kakinya.
Gemetaran, Harry mengeluarkan Dobby dari lemari pakaian.
"Tahu, kan, bagaimana di sini?" katanya. "Paham, kan, kenapa aku harus kembali ke Hogwarts? Hogwarts satu-satunya tempat di mana aku punya— yah, kupikir-aku punya teman."
"Teman yang bahkan menulis surat pun tidak kepada Harry Potter?" kata Dobby licik.
"Kurasa mereka—tunggu," kata Harry, keningnya berkerut. "Bagaimana kau tahu teman-temanku tidak menulis surat kepadaku?"
Dobby menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah.
"Harry Potter tidak boleh marah kepada Dobby— Dobby melakukannya demi kebaikan..."
"Apakah kau yang mengambil surat-suratku?"
"Dobby membawanya, Sir," kata si peri. Dengan gesit ia menjauh dari jangkauan Harry, lalu menarik keluar setumpuk tebal amplop dari dalam sarung bantal yang dipakainya. Harry bisa mengenali tulisan Hermione yang rapi, tulisan cakar ayam Ron yang berantakan, dan bahkan coretan yang kelihatannya dikirim oleh si pengawas binatang liar Hogwarts, Hagrid.
Dobby menatap Harry dengan cemas.
"Harry Potter tidak boleh marah... Dobby ber- harap... kalau Harry Potter mengira teman-temannya melupakannya... Harry Potter mungkin tidak ingin kembali ke sekolah, Sir..."
Harry tidak mendengarkan. Dia berusaha merebut surat-surat itu, tetapi Dobby melompat menjauh.
"Ini akan diberikan kepada Harry Potter, Sir, kalau dia berjanji kepada Dobby bahwa dia tidak akan kembali ke Hogwarts. Ah, Sir, ini bahaya yang tak boleh Anda hadapi! Katakan Anda tidak akan kembali, Sir!"
"Tidak," kata Harry marah. "Kembalikan surat teman-temanku!"
"Kalau begitu Harry Potter tidak memberikan pilihan lain kepada Dobby," kata si peri sedih.
Sebelum Harry bisa bergerak, Dobby sudah melesat ke pintu kamar, membukanya—dan melompat turun.
Dengan mulut kering, jantung berdegup kencang, Harry melompat mengejarnya, berusaha tidak mem- buat suara. Dia melompati enam anak tangga terakhir, mendarat seperti kucing di atas karpet, celinguk.in mencari Dobby. Dari ruang makan didengarnya Paman Vernon berkata, "...ceritakan kepada Petunia cerita lucu tentang tukang ledeng Amerika itu, Mr Mason, dia sudah ingin sekali dengar..."
Harry berlari ke dapur dan hatinya mencelos.
Puding mahakarya Bibi Petunia, gundukan krim dan gula itu, sekarang melayang dekat langit-langit. Di atas lemari di sudut, Dobby meringkuk.
"Jangan," kata Harry serak. "Tolong, jangan... me- reka akan membunuhku..."
"Harry Potter harus bilang dia tidak akan kembali ke sekolah..." "Dobby... tolong..."
"Katakan, Sir..."
"Tidak bisa!"
Dobby memandangnya sedih.
"Kalau begitu Dobby terpaksa melakukannya, Sir, untuk kebaikan Harry Potter sendiri."
Puding itu terjatuh ke lantai dengan bunyi me- mekakkan. Krim memercik ke jendela dan dinding, sementara piringnya pecah. Diiringi bunyi seperti lecutan cemeti, Dobby menghilang.
Terdengar jeritan dari ruang makan dan Paman Vernon berlari ke dapur, menemukan Harry, berdiri kaku saking kagetnya—dari kepala sampai kaki belumur puding Bibi Petunia.
Awalnya, kelihatannya Paman Vernon akan bisa menutupi kejadian itn ("cuma keponakan kami—sangat bingung—bertemu orang asing membuatnya cemas, maka kami minta dia tinggal saja di atas..."). Paman Vernon meminta suami-istri Mason yang shock kembali ke ruang makan. Lalu ia mengancam akan menghajar Harry sampai nyawanya tinggal seujung rambut se- telah tamunya pulang nanti. Diberinya Harry alat pel. Bibi Petunia mengambil es krim dari lemari es dan Harry, masih gemetaran, mulai membersihkan dapur.
Paman Vernon mungkin masih akan bisa me- nyelesaikan transaksinya—kalau bukan gara-gara si burung hantu.
Bibi Petunia sedang mengedarkan kotak permen pedas untuk sehabis makan .ketika seekor burung hantu serak melesat masuk lewat jendela ruang ma- kan, menjatuhkan sepucuk surat ke atas kepala Mrs Mason, dan melesat keluar lagi. Mrs Mason menjerit seakan melihat hantu dan berlari keluar rumah, ber- teriak-teriak menuduh mereka gila. Sebelum bergegas menyusul istrinya, Mr Mason masih sempat memberi- tahu keluarga Dursley bahwa istrinya takut setengah mati pada segala macam burung dan bertanya apakah begini cara mereka bergurau.
Harry berdiri di dapur, mencengkeram gagang pel untuk menopangnya ketika Paman Vernon men- dekatinya, matanya yang kecil berkilat licik.
"Baca ini!" desisnya galak, seraya mengacung-acung- kan surat yang dibawa burung hantu* tadi. "Ayo— baca!"
Harry mengambilnya. Surat itu tidak berisi ucapan selamat ulang tahun.
Mr Potter yang terhormat,
Kami baru saja menerima laporan mata-mata bahwa Mantra Melayang baru saja digunakan di tempat tinggal Anda malam ini pada pukul sembilan lewat dua belas menit.
Seperti Anda ketahui, penyihir di bawah-umur tidak diperkenankan menggunakan sihir di luar sekolah, dan jika Anda menggunakan sihir lagi, Anda bisa dikeluar- kan dari sekolah (Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penyihir di Bawah-Umur, 1875, Paragraf C).
Kami juga meminta Anda mengingat bahwa kegiatan sihir apa pun yang berisiko menarik perhatian anggota komunitas non-sihir (Muggle) adalah pelanggaran serius, sesuai peraturan ke-13 Konfederasi Internasional Undang-undang Kerahasiaan Sihir.
Selamat menikmati liburan!
Hormat kami,
Mafalda Hofkins
Departemen Penggunaan Sihir yang Tidak Pada Tempatnya
Kementerian Sihir
Harry mendongak dari suratnya dan menelan ludah. "Kau tidak memberitahu kami kau tidak diizinkan menggunakan sihir di luar sekolah," kata Paman Vernon, kilatan liar menari-nari di matanya. "Lupa... tidak ingat sama sekali, pasti begitu alasanmu..."
Dia menghadapi Harry seperti anjing buldog besar, dengan mulut menyeringai. "Yah, aku punya kabar untukmu... aku akan mengurungmu... kau tak akan pernah kembali ke sekolah itu... tak pernah... dan kalau kau mencoba menyihir dirimu lepas dari ku- rungan—mereka akan mengeluarkanmu!"
Dan sambil tertawa seperti orang gila, dia menyeret Harry kembali ke atas.
Paman Vernon membuktikan kekejaman icata-kata- nya. Esok paginya, dia membayar orang untuk me- masang jeruji pada jendela Harry. Dia sendiri me- masang pintu-kucing di pintu kamar, supaya sedikit makanan bisa didorong masuk tiga kali sehari. Mereka mengeluarkan Harry untuk ke kamar mandi sehari dua kali, pagi dan sore. Selain waktu itu, dia dikurung di kamarnya sepanjang waktu.
* * *
Tiga hari kemudian, keluarga Dursley belum me- nampakkan tanda-tanda berbelas kasihan dan Harry tidak melihat jalan keluar dari keadaannya itu. Dia berbaring di tempat tidurnya, memandang matahari terbenam di balik jeruji jendelanya, dan sedih sekali memikirkan apa yang akan terjadi padanya.
Apa gunanya menyihir dirinya keluar dari kamarnya kalau, gara-gara itu, Hogwarts akan mengeluarkannya? Tapi hidup di Privet Drive tak tertahankan lagi. Seka- rang setelah keluarga Dursley tahu mereka tidak akan terbangun sebagai kelelawar pemakan buah, dia telah kehilangan satu-satunya senjata. Dobby mungkin telah menyelamatkan Harry dari bencana mengerikan di Hogwarts, tetapi melihat keadaannya ini, dia toh mungkin akan mati kelaparan juga.
Pintu-kucing berderik dan tangan Bibi Petunia mun- cul, mendorong semangkuk sup kaleng ke dalam ka- mar. Harry, yang perutnya melilit kelaparan, melompat dari tempat tidurnya dan menyambarnya. Sup itu dingin, tetapi dia meminum separonya sekali teguk. Kemudian dia menyeberang kamar menuju sangkar Hedwig, dan menuang sayur yang sudah lembek di dasar mangkuk itu ke piring kosong Hedwig. Hedwig menyisiri bulunya dan melempar pandangan jijik ke arah Harry.
"Tak ada gunanya menolak makan, cuma ini yang kita punya," kata Harry muram.
Ditaruhnya mangkuk kosong itu di lantai di sebelah pintu-kucing, lalu dia kembali berbaring di tempat tidurnya, malah merasa lebih lapar daripada sebelum makan sup tadi.
Seandainya dia masih hidup sebulan lagi, apa yang akan terjadi jika dia tidak muncul di Hogwarts? Akan- kah seseorang dikirim untuk mencari tahu kenapa dia tidak kembali? Apakah mereka akan berhasil mem- buat keluarga Dursley mengizinkannya pergi?
Ruangan mulai gelap. Kelelahan, perutnya keron- congan, otaknya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan sama yang tak bisa dijawab, Harry tertidur. Tidurnya gelisah.
Dia bermimpi dijadikan tontonan di kebun binatang, dengan kartu bertulisan "Penyihir di Bawah Umur" menempel di kandangnya. Orang-orang memandang ingin tahu kepadanya lewat jeruji, sementara dia terbaring, kelaparan dan lemah, di atas tempal tidur jerami. Dilihatnya wajah Dobby di tengah kerumunan dan dia berteriak, minta bantuan, tetapi Dobby ber- seru, "Harry Potter aman di situ, Sir!" lalu lenyap. Kemudian keluarga Dursley muncul dan Dudley men- derak-derakkan jeruji kandang, menertawakannya.
"Hentikan!" gumam Harry, ketika derak jeruji itu membuat kepalanya berdenyut sakit. "Jangan gauggu aku... hentikan... aku sedang mencoba tidur...."
Harry membuka matanya. Cahaya bulan menerobos masuk lewat jeruji jendela. Dan memang ada orang yang memandang ingin tahu lewat jeruji jendela: anak yang wajahnya berbintik-bintik, berambut merah, dan berhidung panjang.
Ron Weasley ada di luar jendela Harry.
Log in