Lamborghini Huracán LP 610-4 t
HARRY
POTTER
BAB 2 DALAM KENANGAN (In Memoriam) Harry berdarah. Tangan kanannya berpegangan pada tangan kirinya, kemudian sambil mengumpat pelan, dia membuka kamar tidurnya memakai pundaknya. Terdengar suara gelas pecah : rupanya pintu kamarnya menabrak cangkir yang berisi teh yang sudah dingin yang diletakkan di lantai persis di depan pintu kamarnya. “Apa-apan ini-..?” Dia melihat sekeliling, semua tampak sepi. Besar kemungkinan cangkir itu diletakan oleh Dudley sebagai jebakan. Sambil tetap mengangkat tangannya yang berdarah, Harry memunguti pecahan cangkir itu dengan tangannya yang lain dan memasukkannya ke tempat sampah di dalam kamarnya yang sudah penuh sesak. Kemudian dia bergegas menuju kamar mandi untuk membalut jarinya yang terluka. Beberapa hari ini sangat menyebalkan, bahwa dia masih harus menunggu empat hari lagi untuk dapat melakukan sihir….. tapi kemudian dia menyadari bahwa luka di jarinya ini belum tentu dapat dia tangani dengan sihir. Dia belum pernah belajar cara menyembuhkan luka sehingga dia merasa – apalagi mengingat rencana yang akan dilakukannya - bahwa ini merupakan kesalahan yang fatal dalam dunia pendidikan sihir. Dia berusaha mengingatkan dirinya bahwa dia nanti harus bertanya pada Hermione mengenai hal ini. Harry menggunakan kertas toilet untuk mengelap bekas tumpahan teh, sebelum masuk kembali ke kamarnya sambil menutup pintu kamarnya dengan jengkel. Harry telah menghabiskan waktu sepanjang pagi untuk mengosongkan koper sekolahnya, ini untuk pertama kalinya dalam enam tahun ini. Biasanya pada awal musim sekolah dia hanya mengganti tiga per empat bagian atas kopernya, sedangkan bagian bawah selalu dia biarkan, biasanya berisi – pena bulu yang sudah uzur, mata kumbang yang sudah kering, dan kaus kaki yang tinggal sebelah yang tentu saja sudah tidak muat lagi. Beberapa menit sebelumnya, Harry memasukkan tangan kanannya ke dalam tumpukan bagian bawah itu, tiba-tiba tangannya terasa sakit seperti ada yang menusuk di jari keempatnya, dan dia menarik kembali tangannya yang sudah berdarah. Dia kemudian dengan hati-hati memasukkan kembali tangannya ke tumpukan itu, dan meraba-raba di bagian dasar koper, mendapatkan lencana lusuh yang berganti-ganti tulisan antara ‘Dukung Cedric Diggory’ dan ‘PottterStinks ’, ada jugaSneakoscope(teropong yang akan berbunyi jika ada sesuatu yang mencurigakan) yang sudah retak, kemudian ada sebuah liontin penyimpan foto yang terbuat dari emas yang di dalamnya terdapat sebuah tulisan R.A.B., dan akhirnya dia menemukan benda tajam yang melukai jarinya. Dia mengenali benda itu. Benda yang panjangnya dua inchi itu adalah pecahan dari cermin ajaib yang diberikan oleh ayah baptisnya yang telah mati, Sirius, kepadanya. Dia menaruh pecahan itu dengan hati-hati ke samping koper kemudian meraba-raba lagi bagian dasar koper itu, namun dia tidak menemukan pecahan lainnya, hanya bubuk-bubuk kaca yang menempel pada dasar koper, seperti kerikil yang berkilauan. Harry kemudian duduk sambil mengamati pecahan cermin itu dan hanya melihat pantulan mata hijauanya. Lalu dia letakkan benda itu di atas KoranDaily Prophet edisi pagi itu yang terletak di atas kasurnya. Kemudian dia mengambil secara acak tumpukan yang ada dalam kopernya untuk menghilangkan kenangan pahit yang tiba-tiba merasuk dan memuncak, dia merasa menyesal menemukan pecahan cermin itu namun disaat bersamaan dia merasakan kerinduan yang mendalam.. Butuh satu jam untuk mengosongkan sisa kopernya, dan membuang benda-benda yang sudah tak berguna kemudian memilah-milah mana saja yang masih akan digunakan. Jubah sekolah dan quidditch, kuali, gulungan perkamen, pena bulu, dan hampir semua buku-buku sekolahnya ditumpuk di ujung kamar untuk ditinggal. Harry mengira-ngira apa yang akan dilakukan paman dan bibirnya terhadap benda-benda itu, mungkin membakarnya pada malam hari seolah-olah benda-benda itu merupakan bukti suatu kejahatan yang besar. Bajumuggle , jubah gaib, peralatan membuat ramuan, beberapa buku penting, album foto yang diberi oleh Hagrid, setumpuksurat dan tongkat sihirnya telah ia masukkan ke dalam sebuah tas karung lusuh. Di bagian depannya ada kantong yang diisiMarauder’s Map (Peta Perampok) dan liontin penyimpan foto yang berisi tulisan R.A.B. di dalamnya. Liontin itu ia bawa bukan karena ia sangat berharga tetapi karena segala pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk mendapatkannya. Sekarang tinggal setumpuk koran di mejanya di samping burung hantu berwarna putih salju, Hedwig, yang ia baca tiap hari selama musim panas inidi Privet Drive . Harry kemudian bangkit dari lantai dan menuju mejanya. Hedwig tetap terdiam saat Harry mengambil koran-koran tersebut dan melemparnya satu per satu ke bagian tumpukan yang sudah tak berguna, burung hantu itu tetap tidur , atau pura-pura tidur mungkin, karena ia merasa marah terhadap Harry yang lebih sering mengurungnya di sangkar sekarang ini. Saat mendekati dasar tumpukan koran, Harry melambat, lalu mencari sebuah edisi yang dia peroleh beberapa waktu setelah ia sampai di Privet Drive musim panas ini; dia sekilas ingat ada sebuah artikel mengenai pengunduran diri Charity Burbage, seorang guru ‘Telaah Muggle’ di Hogwart. Akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Ia membuka halaman sepuluh, lalu duduk di kursinya dan mulai membaca kembali artikel yang ia cari itu. ALBUS DUMBLEDORE DALAM KENANGAN oleh Elphias Doge Aku pertama kali bertemu Albus Dumbledore pada umur sebelas tahun, pada saat hari pertama kami di Hogwart. Perkenalan kami tak diragukan lagi karena kami berdua merasa orang-orang yang terkucil. Aku sendiri menderita cacar naga sejak sebelum masuk sekolah, meskipun sudah tidak menular lagi, namun bekas cacar di wajahku yang berwarna hijau menyebabkan orang lain menjauhiku. Sedangkan Albus sendiri datang ke Hogwart dengan membawa beban berupa reputasi yang buruk. Belum genap setahun yang lalu, ayahnya - Percival, telah divonis bersalah atas penyerangan yang “terkenal sadis” terhadap tiga pemuda muggle. Albus tidak pernah mencoba untuk menyangkal kenyataan bahwa ayahnya ( yang meninggal di Azkaban ) memang melakukan kejahatan itu, bahkan ketika aku memberanikan diri untuk menanyakan hal itu, dia meyakinkanku bahwa ayahnya memang bersalah. Tetapi lebih dari itu dia enggan membahas masalah itu lebih jauh, walaupun dibujuk dengan cara apapun. Beberapa orang memuja aksi ayahnya itu dan mengira Albus juga seorang pembenci-muggle. Mereka tentu saja salah besar, bagi yang mengenal Albus pasti akan berkata bahwa Albus tidak pernah menunjukan tanda-tanda anti-muggle. Bahkan dukungannya terhadap hak-hak muggle menyebabkan dia mendapat banyak musuh di kemudian hari. Dalam beberapa bulan saja Albus sudah sedemikian terkenalnya bahkan orang-orang sudah tidak lagi mempermasalahkan ayahnya. Pada akhir tahun pertamanya, dia sudah tidak lagi dikenal sebagai anak dari seorang pembenci-muggle, tetapi lebih sebagai murid paling cerdas yang pernah dimiliki Hogwart. Bagi kami yang mendapat keistimewaan menjadi temannya sangat merasa beruntung dapat melihat langsung teladannya, belum lagi segala bantuan dan dorongan, yang senantiasa ia berikan. Kelak dia mengaku padaku bahwa dia sebenarnya merasa sangat menikmati mengajar orang lain. Dia tidak saja memenangkan semua penghargaan yang ada di sekolah, namun juga berhasil menjalin korespondensi dengan berbagai penyihir ternama di masanya, termasuk Nicolas Flamel, seorang Alchemist ternama, Bathilda Bagshot, seorang Ahli Sejarah, dan Adalbert Waffling, Ahli Teori Sihir. Beberapa tulisannya sudah dikenal luas, seperti, Transfiguration Today, Challenges in Charming, dan Practical Potioneer. Karir Dumbledore terus meroket, sepertinya tinggal tunggu waktu saja dia akan menjadi Menteri Sihir. Meskipun banyak orang yang memprediksi hal ini, namun dia sendiri tidak punya ambisi untuk menjadi Menteri. Tiga tahun setelah kami sekolah di Hogwart, Adik lakinya, Aberforth, masuk ke Hogwart. Mereka sangat berbeda, tidak seperti Albus, Aberforth bukanlah model penyenang buku dan lebih senang menyelesaikan masalah dengan duel daripada berdiskusi. Tapi orang-orang salah menilai bahwa mereka berdua tidak akan cocok satu sama lainnya. Pada kenyataannya mereka berdua baik-baik saja sebagai dua bersaudara. Meskipun sejujurnya, sangatlah tidak menyenangkan bagi Aberforth karena dia harus berada di bawah bayang-bayang Albus. Sebagai kawan yang selalu kalah bersinar dari Albus saja sudah kurang menyenangkan, apalagi jika sebagai adiknya. Ketika Albus dan aku meninggalkan Hogwart, kami bermaksud berkeliling dunia bersama-sama, mengunjungi dan berkenalan dengan penyihir dari negeri lain, sebelum nantinya akan mengejar karir masing-masing. Namun sebuah tragedi terjadi. Malam sebelum kami berangkat, ibunda Albus, Kendra, meninggal dunia, menjadikan Albus sebagai kepala keluarga, penanggung hidup keluarganya. Aku menunda keberangkatanku cukup lama untuk memberi penghormatan pada pemakaman Kendra, kemudian aku berangkat sendiri keliling dunia. Dengan adanya adik laki-laki dan adik perempuan yang harus dia urus, sepertinya Albus tak mungkin menemaniku, apalagi emas yang diwarisinya sangat sedikit. Masa itu adalah masa di mana kami sangat sedikit melakukan kontak. Aku menulis kepada Albus mengenai perjalananku, lolosnya aku dari Chimaera di Yunani sampai menyaksikan keajaiban dari percobaan-percobaan Alchemist Mesir. Suratnya sendiri berisi kegiatan dari hari ke hari, yang menurutku tentu sangat membosankan dan membuat frustasi bagi seorang penyihir brilian seperti dia. Kemudian sebuah berita mengejutkan aku dapatkan di tahun terakhirku berkelana, sebuah tragedi kembali menimpa keluarga Dumbledore, yaitu kematian adik perempuan Albus, Ariana. Meskipun Ariana memang sudah sakit sejak lama, kematiannya yang berdekatan dengan kematian ibunya, memberikan efek yang besar pada dua kakak beradik itu. Semua orang yang dekat dengan Albus – termasuk aku – sangat yakin bahwa kematian Ariana dan rasa bersalah yang dirasakan oleh Albus (walaupun, tentu saja, ia tidak bersalah) telah meninggalkan bekas mendalam pada Albus. Ketika aku pulang, aku melihat ia sebagai sesosok anak muda yang telah mengalami pengalaman pahit yang seharusnya hanya dirasakan oleh orang yang lebih tua darinya. Albus menjadi lebih tertutup dari biasanya, dan menjadi kurang ceria. Bahkan untuk menambah kesedihannya, kematian Ariana bukannya membuat hubungan Albus dan Aberforth menjadi dekat, tetapi malahan membuat hubungan keduanya menjadi rengggang (namun kelak keadaan ini akan membaik, bahkan mereka menjalin hubungan yang sangat dekat di antara keduanya). Namun sejak itu dia sangat jarang membicarakan orang tuanya maupun Ariana, dan teman-temannya pun tidak menyinggung hal itu lagi. Tulisan lainnya mengenai dia pasti akan menyebutkan kejayaan-kejayaannya di tahun-tahun berikutnya. Kontribusi Dumbledore sangatlah banyak bagi pengetahuan dunia sihir, di antaranya penemuan dua belas kegunaan darah naga akan sangat berguna bagi generasi berikutnya, demikian juga dengan kearifannya saat ia menjabat sebagai Ketua Dewan Warlock of Wizengamot. Sampai saat ini pun orang-orang masih mengatakan bahwa tidak ada duel antara penyihir, sehebat duel antara Dumbledore dan Grindelwald pada tahun 1945. Bagi mereka yang menyaksikannya secara langsung pasti akan melukiskan rasa kagum sekaligus kengerian yang mereka rasakan saat melihat duel dua penyihir itu. Kemenangan Dumbledore, dan dampaknya bagi dunia sihir, diakui sebagai salah satu titik balik dalam dunia sihir yang ketenarannya menyamai Perjanjian Internasional mengenai Kerahasiaan Sihir atau bahkan kejatuhan Dia Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Albus Dumbledore tidak pernah sombong maupun menonjolkan diri; dia selalu melihat keistimewaan di tiap-tiap orang, namun aku percaya bahwa segala kesedihan yang pernah ia alami telah menjadikan ia sebagai seorang yang penuh rasa kemanusiaan dan simpati. Aku pasti akan sangat kehilangan dirinya, namun rasa kehilanganku ini tidak ada artinya dibandingkan dengan kehilangan yang dirasakan oleh dunia sihir. Tidak dapat disangkal lagi bahwa dia merupakan kepala sekolah Hogwart yang paling menginspirasi dan paling disayangi. Bahkan di ujung hidupnya pun, ia selalu memberikan yang terbaik sampai saat-saat terakhirnya, seperti pada saat ia mengulurkan tangannya pada seorang anak yang sakit cacar naga, si hari pertama kukenal dia. Harry selesai membacanya namun tetap memandangi foto yang menyertai obituari tersebut. Foto Dumbledore dalam koran itu sedang tersenyum ramah seperti biasanya, matanya yang mengenakan kacamata berbentuk setengah lingkaran seperti sedang memandang tajam ke arah Harry, yang kemudian merasa sedikit malu bercampur sedih.. Selama ini dia mengira dia tahu mengenai Dumbledore tapi setelah membaca obituari ini dia baru menyadari bahwa dia tidak tahu tentang Dumbledore. Rasanya sulit membayangkan Dumbledore muda; Harry selalu membayangkan bahwa Dumbledore wujud ke dunia ini langsung menjadi tua seperti yang ia ingat selama ini.. Membayangkan Dumbledore berupa seorang remaja sangatlah aneh bagi Harry, seperti mencoba untuk membayangkan Hermione menjadi seorang yang bodoh, atauBlast-Ended Skrewt ( Skrewtyang bisa meledak) adalah binatang yang bersahabat. Harry tak pernah bertanya kepada Dumbledore mengenai masa lalunya. Sehingga terasa aneh, bahkan kurang ajar rasanya untuk membayangkan mengenai Dumbledore muda, tapi seperti yang sudah diketahui secara luas bahwa Dumbledore melakukan duel yang melegenda melawan Grindelwald, dan Harry tak pernah berpikir menanyakan hal itu sebelumnya kepada Dumbledore, bagaimana Rasanya melakukan pertarungan itu, ataupun bertanya mengenai pencapaian-pencapaiannya yang terkenal. Yang selalu mereka diskusikan selama ini hanyalah mengenai Harry, masa lalu Harry, masa depan Harry, rencana Harry…. dan sepertinya Harry baru menyadari, bahwa walaupun masa depannya sendiri sangatlah berbahaya dan sangat tidak menentu tapi dia merasa menyesal telah kehilangan kesempatan untuk bertanya kepada Dumbledore mengenai kehidupan pribadi orang tua itu, bahkan satu-satunya pertanyaan pribadi yang pernah dia tanyakan kepada kepala sekolahnya itu, menurutnya tidak dijawab dengan jujur oleh Dumbledore : “Apa yang anda lihat saat melihat ke cermin itu?” “Aku? Aku melihat diriku memegang sepasang kaus kaki wool yang tebal.” Setelah beberapa menit, Harry menyobek obituari tersebut dari koran itu, melipatnya dengan hati-hati, dan menyelipkannya ke dalam bukuPractical Defensive Magic and its Use against the Dark Art (Sihir Pertahanan dan Kegunaannya Melawan Ilmu Hitam). Kemudian dia melempar sisa koran ke tumpukan yang berisi barang-barang yang tidak berguna lagi, lalu melihat ke sekeliling kamarnya. Sekarang kamarnya terlihat lebih rapi. Satu-satunya barang yang masih belum dirapikan hanyalah koran Daily Prophet edisi hari ini yang masih berada di atas kasurnya, dan di atasnya tergolek pecahan cermin ajaibnya. Harry mendekati kasurnya, menggeser pecahan cermin dariDaily Prophet , dan membuka harian tersebut. Harry hanya melihat sekilasheadline koran itu saat dia menerimanya tadi pagi dari seekor burung hantu pengantar dan hanya melemparkannya ke kasur karenaheadline koran itu tidak menyebutkan apapun mengenai Voldemort. Harry sangat yakin bahwa Kementrian menekan harian tersebut untuk tidak menyebutkan mengenai Voldemort. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu yang dia lewatkan sebelumnya. Di bagian bawah halaman depan terdapatHeadline dengan tulisan lebih kecil yang terdapat gambar Dumbledore di dalamnya : DUMBLEDORE – INIKAH KEBENARAN MENGENAINYA ? Akan terbit minggu depan, kisah yang mengejutkan mengenai seorang jenius yang disebut-sebut sebagai penyihir paling hebat di jamannya. Kisah ini menghapus citra Dumbledore sebagai seorang yang tenang dan bijaksana, Rita Skeeter mengungkapkan masa kecil Dumbledore yang menyedihkan, masa mudanya yang bergejolak, permusuhan abadinya, dan rahasia-rahasia suram yang dibawanya sampai mati, MENGAPA seseorang yang seharusnya menjadi Menteri Sihir tetapi hanya menjadi seorang Kepala Sekolah? APAKAH tujuan sebenarnya dari pekumpulan yang dikenal sebagai ‘Orde of thePhoenix ’? BAGAIMANAKAH sebenarnya Dumbledore meninggal? Semua pertanyaan di atas dan pertanyaan-pertanyaan lainnya akan dijawab dalam sebuah biografi baru yang menghebohkan, ‘The Life and Lies of Albus Dumbledore’, oleh Rita Skeeter, yang diwawancara secara ekslusif olehBerry Braithwaite di halaman 13. Harry membuka halaman koran itu dan menemukan halaman tiga belas. Di atas artikel yang dia cari terdapat sebuah foto yang sudah dikenal oleh Harry: seorang wanita memakai kaca mata, rambutnya keriting dan berwarna pirang, giginya terlihat dari senyumnya yang penuh kemenangan, dan tangannya melambai-lambai pada Harry. Harry sendiri berusaha tidak memperhatikan foto yang ‘mengganggu’ itu, dia kemudian membaca artikel itu. Sebenarnya Rita Skeeter adalah orang yang hangat dan lembut jika anda bertemu secara pribadi dengannya, jauh dari kesan ‘ganas’ seperti yang terlihat dalam tulisan-tulisannya. Rita Skeeter menyapa aku di halaman rumahnya yang hangat, kemudian kami menuju ke dapur untuk minum teh, memakan sepotong kue, lalu gosip terhangat pun meluncur dari mulutnya. “Ya, tentu saja menulis biografi Dumbledore adalah impian para penulis biografi,” kata Skeeter. “Sebuah perjalan hidup yang panjang. Dan aku yakin, akulah yang pertama menulisnya.” Skeeter memang bergerak sangat cepat. Bukunya setebal sembilan ratus halaman dapat diselesaikannya hanya empat minggu setelah kematian Dumbledore yang misterius di bulan Juni. Aku bertanya kepadanya bagaimana dia dapat menulis secepat itu. “Oh, jika anda sudah lama menjadi jurnalis seperti aku, bekerja dikejar deadline adalah sebuah kebiasaan. Aku paham bahwa dunia sihir telah berteriak meminta cerita yang seutuhnya dan aku ingin menjadi yang pertama menjawab permintaan itu.” Aku juga menyinggung tulisan yang baru saja dipublikasikan secara luas, yang ditulis oleh Elphias Doge , seorang Penasehat Khusus Dewan Wizengamot dan tentu saja sahabat Dumbledore, yang mengatakan bahwa “Buku yang ditulis Skeeter hanyalah berisi fakta yang tidak lebih dari sebuah kartu Cokelat Kodok (Chocolate Frog).” Mendengar hal tersebut, Skeeter hanya tertawa terbahak-bahak. “Ah, si Dodgy Sayang! Aku masih ingat wawancaraku dengannya beberapa tahun lalu mengenai hak-hak manusia duyung. Dia benar-benar ‘miring’, mungkin mengira bahwa kami sedang duduk di dasar Danau Windermere, dia selalu mengingatkan diriku agar berhati-hati untuk tidak menginjak ikan ‘trout’.” Namun tetap saja tuduhan yang dilemparkan oleh Elphias Doge telah bergema ke segala penjuru arah. Apakah Skeeter merasa bahwa empat minggu adalah waktu yang cukup untuk menggambarkan secara keseluruhan kehidupan Dumbledore yang luar biasa? “Ah, anda ini,” sahut Skeeter sambil menggenggam tanganku, “ anda khan tahu, kita akan mendapatkan informasi yang kita mau dengan sekantong besar Galleon, kemudian jangan pernah mau menerima jawaban ‘tidak tahu’, dan tentu saja sebuah Qiuck-Quotes Quill (Pena Tulis Cepat)! Tapi sebenarnya orang-orang juga sudah mengantri untuk memberikan informasi mengenai sisi buruk Dumbledore. Anda khan tahu, tidak semua orang mengira Dumbledore itu sempurna – dia sebenarnya banyak melakukan kesalahan kepada orang lain yang biasanya orang penting. Tapi di luar itu semua, si tua Dodgy Doge silahkan melihat sendiri kenyataan yang ada, karena aku mempunyai sumber yang bahkan para jurnalis pun akan rela memberikan tongkat sihirnya, seseorang yang hampir tidak pernah berbicara di depan publik sebelumnya dan dia adalah salah seorang yang dekat dengan Dumbledore di saat masa muda Dumbledore.” Dalam promosinya, biografi ini menjanjikan kejutan bagi orang-orang yang yakin bahwa Dumbledore adalah orang yang mulia. Aku bertanya pada Rita Skeeter kejutan apa yang paling besar mengenai hal tersebut? “Ayolah Betty, aku tidak akan membocorkan apapun sebelum orang-orang membeli bukuku!” kata Skeeter sambil tertawa. “Tapi aku yakin bahwa orang-orang yang masih berpikir bahwa Dumbledore adalah orang suci akan sangat terkejut! Contohnya orang-orang tak akan menyangka bahwa sosok yang mengalahkan Kau-Tahu-Siapa ternyata juga mempraktekan Ilmu Hitam di masa mudanya! Dan untuk seorang penyihir yang selalu mengembor-gemborkan toleransi, sebenarnya dia bukanlah orang yang berpikiran luas di masa mudanya! Ya, Dumbledore mempunyai masa lalu yang sangat kelam, belum lagi keluarganya yang aneh, yang selalu dia tutup-tutupi.” Aku bertanya pada Skeeter apakah ia mengacu pada adik laki-laki Dumbledore, Aberforth, yang dijatuhi hukuman oleh Dewan Wizengamot karena skandal kecillima belas tahun lalu. “Oh, Aberforth hanya secuil dari cerita itu,” sahut Skeeter sambil tertawa. “Rahasia yang akan kuceritakan lebih parah dari pada cerita mengenai adiknya yang senang bermain-main dengan kambing-kambingnya itu, bahkan lebih parah dari cerita mengenai ayahnya yang mencelakai muggle – yang tentu saja Dumbledore tak bisa menutup-tutupi keduanya karena kedua keluarganya itu pernah dijatuhi hukuman oleh Dewan Wizengamot. Yang lebih menarik bagiku justru ibu dan adik perempuannya, dan setelah menggali informasi dari sana-sini aku mendapatkan rahasia yang kelam – tapi anda harus menunggu di bab sembilan sampai bab dua belas dalam bukuku untuk mendapatkan cerita yang utuh. Yang bisa kukatakan sekarang adalah, bahwa aku mengerti sekarang mengapa Dumbledore tidak pernah mengatakan mengapa hidungnya bisa bengkok seperti itu.” Meskipun keluarganya memiliki rahasia yang kelam, apakah penemuan-penemuan Dumbledore disanggah oleh Skeeter? “Oh, aku yakin dia pintar,” kata Skeeter, “walaupun sekarang banyak yang mempertanyakan keabsahan pencapaian-pencapaiannya itu. Seperti yang akan aku beberkan dalam bab enam belas, Ivor Dillonsby mengklaim bahwa dia sebenarnya sudah menemukan delapan kegunaan darah naga ketika Dumbledore meminjam tulisannya.” Tapi pencapaian Dumbledore yang paling penting tentu tak dapat disangkal lagi. Yaitu ketika dia mengalahkan Grindelwald. “Ah, aku senang anda menyinggung mengenai Grindelwald,” kata Skeeter sambil tersenyum menggoda. “Harus kukatakan kepada mereka yang selama ini terpesona oleh kemenangan Dumbledore yang spektakuler bahwa mereka harus bersiap-siap untuk terkejut. Sangat-sangat penuh kelicikan. Yang kumaksud adalah jangan terlalu yakin bahwa telah terjadi duel yang spektakuler antara dua legenda. Setelah nanti mereka membaca bukuku, orang-orang mungkin berkesimpulan bahwa Grindelwald paling hanya menyihir sebuah sapu tangan putih dan menyerah begitu saja!” Skeeter menolak untuk membahas masalah yang menarik ini, jadi kami melanjutkan pembicaraan kami mengenai hubungan antara Dumbledore dengan ‘seseorang’ yang pasti akan mempesona pembacanya. “Ah, ya tentu saja,” kata Skeeter sambil mengangguk pelan, “Aku bahkan mempersembahkan satu bab penuh untuk hubungan antara Potter dengan Dumbledore. Hubungan keduanya sangat penuh rahasia. Tapi tentu saja kalian harus membeli bukuku untuk mengetahui cerita keseluruhannya, tapi dapat kukatakan bahwa Dumbledore memberikan perhatian khusus bagi Potter – yang dapat kita lihat sendiri hasilnya bahwa Potter merupakan remaja yang paling bermasalah.” Aku bertanya pada Skeeter apakah ia masih berhubungan dengan Harry Potter, yang dia wawancarai tahun lalu dimana Potter mengatakan bahwa Kau-Tahu-Siapa telah kembali. “Oh, ya, kami membina hubungan yang sangat dekat,” kata Skeeter. “Potter yang malang, dia hanya memiliki sedikit teman, dan kami bertemu pada suatu kejadian yang sangat penting dalam hidupnya – Turnamen Triwizard. Aku mungkin satu di antara segelintir orang yang masih hidup yang dapat mengatakan bahwa kami mengenal Harry Potter.” Pembicaraan kami kemudian mengarah pada saat-saat terakhir Dumbledore hidup. Apakah Skeeter percaya bahwa Potter berada disana saat Dumbledore meninggal? “Aku tak mau mengatakan banyak – semua ada di bukuku – tapi saksi mata di Hogwart mengatakan bahwa Potter berlari menjauhi tempat kejadian setelah Dumbledore jatuh, atau meloncat, atau bahkan mungkin didorong. Potter tentu saja menuduh Severus Snape, orang yang selalu ia benci. Bagaimana kejadian sebenarnya? Itu semua terserah kalian untuk memutuskannya – tentu setelah membaca bukuku.” Pembicaraan yang menarik tadi menutup wawancara kami. Tak diragukan lagi bahwa buku Sketeer akan menjadi bestseller. Sementara itu para pengagum Dumbledore mungkin sedang was-was menunggu kisah mengenai pahlawannya itu. Harry sudah membaca sampai akhir artikel itu, namun tetap menatap kosong pada koran itu. Rasa muak dan marah timbul dalam dirinya. Dia meremas-remas koran itu dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah tembok, yang kemudian memantul ke arah tumpukan sampah. Dia mondar-madir tak menentu di dalam kamarnya, membuka laci yang kosong atau mengambil sebuah buku kemudian meletakannya kembali ke tumpukannya, sepertinya dia tidak menyadari apa yang dia perbuat, kepalanya diisi oleh kata-kata Rita dalam artikel itu : Satu bab penuh untuk hubungan antara Potter dengan Dumbledore… Hubungan keduanya sangat penuh rahasia…Dia mempraktekan Ilmu Hitam di masa mudanya… Aku mempunyai sumber yang bahkan para jurnalis pun akan rela memberikan tongkat sihirnya… “Dasar pembohong!” kata Harry, sambil memandang ke luar jendela, dia dapat melihat tetangganya sedang menyalakan pemotong rumput sambil melihat ke atas dengan gugup. Harry duduk kembali di kasurnya. Pecahan cermin ajaib tergolek di sampingnya; dia meraihnya kemudian mengamatinya, sambil berpikir, berpikir tentang Dumbledore dan fitnah yang dilontarkan padanya oleh Rita Skeeter… Tiba-tiba terlihat sekilas warna biru terang di pecahan cermin itu. Harry terkejut, jarinya yang terluka tergores pinggiran pecahan cermin itu lagi. Dia mungkin hanya membayangkannya. Dia menoleh ke belakangnya, tapi dia hanya melihat tembok yang berwarnapeachpilihan Bibi Petunia, tidak ada warna biru di tembok itu. Dia melihat ke pecahan cermin itu lagi, tapi hanya melihat matanya yang berwarna hijau memandang balik padanya. Dia pasti hanya membayangkannya, tak ada penjelasan lain; membayangkan hal tersebut karena ia sedang memikirkan kepala sekolahnya yang telah meninggal itu. Satu yang pasti adalah bahwa mata biru Dumbledore tidak akan pernah memandangnya lagi.