XtGem Forum catalog
HARRY
POTTER
BAB 24 PEMBUAT TONGKAT SIHIR (The Wandmaker) Rasanya seperti tenggelam ke dalam mimpi buruk lama; dalam sekejap, Harry seperti berlutut lagi di samping tubuh Dumbledore di kaki menara tertinggi Howarts, tapi kenyataannya dia sedang memandang tubuh kurus yang ada di atas rumput, tertusuk oleh pisau perak Bellatrix. Suara Harry masih menyebut, ”Dobby… Dobby…” meskipun dia tahu bahwa peri itu telah pergi ke tempat dimana ia tak dapat memanggilnya kembali. Setelah beberapa menit atau sekitar itu, dia sadar bahwa dia, akhirnya, telah datang ke tempat yang benar, ketika Bill dan Fleur, Dean dan Luna, berkumpul di sekitarnya ketika dia berlutut di samping peri rumah itu. “Hermione.” Akhirnya dia berkata, “Dimana dia?” “Ron telah membawanya ke dalam.” Kata Bill, “Dia akan baik-baik saja.” Harry melihat ke belakang pada Dobby lagi. Dia menggenggamkan tangannya dan mencabut pisau tajam itu dari tubuh Dobby, kemudian melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Dobby dengannya seperti selimut. Laut menghantam karang disuatu tempat yang dekat; Harry mendengarkannya sementara yang lain berbicara mendiskusikan masalah yang tidak dapat diperhatikannya, membuat keputusan, Dean membawa Griphook yang terluka ke dalam rumah, Fleur mengikuti mereka; sekarang Bill mengerti apa yang dia katakan, ketika dia melakukannya, dia memAndang kebawah pada tubuh kecil itu, dan lukanya menjadi sakit dan serasa terbakar, dan di salah satu bagian pikirannya, seperti memAndang dari ujung teleskop yang salah, dia melihat Voldemort menghukum mereka yang tinggal di rumah Keluarga Malfoy. Kemarahannya sangat mengerikan dan belakangan Harry bersyukur pada Dobby yang kelihatannya menyebabkannya, sehingga itu menjadi sebuah badai yang jauh dan menggapai Harry dari seberang laut, lautan yang sunyi. “Aku ingin melakukannya sendiri,” adalah kata pertama yang diucapkan Harry ketika dia benar-benar sadar, “tidak dengan sihir, apakah kau punya sekop?” dan tak lama kemudian dia mulai bekerja, sendirian, menggali kubur di tempat yang ditunjukkan Bill di pinggir kebun, diantara semak. Dia menggali dengan sedikit kemarahan, melampiaskannya pada kerja moral, membanggakan nonsihir di dalamnya, pada tiap tetes keringatnya dan tiap lepuh merasakan duka cita bagi peri yang telah menyelamatkan nyawa mereka. Bekas lukanya terasa terbakar, tapi dia menguasai sakitnya, dia merasakannya, masih belum jauh darinya. Dia akhirnya belajar bagaimana mengendalikannya, belajar menutup pikirannya dari Voldemort, sesuatu Dumbledore inginkan ia pelajari dari Snape. Hanya karena Voldemort tidak mampu menguasai Harry ketika Harry dipenuhi duka untuk Sirius, sehingga dia berpikir bahwa Voldemort tidak mampu menguasai pikirannya sekarang ketika dia berduka atas Dobby. Duka cita kelihatannya membuat Voldemort kalah… yang menurut Dumbledore, tentunya, bisa dikatakan sebagai cinta. Dalam penggalian Harry, dalam dan lebih dalam lagi ke tanah yang dingin dan keras, menumpahkan duka citanya dalam keringat, mengabaikan sakit di bekas lukanya. Dikegelapan, dengan kesunyian setelah suara napasnya dan deburan laut yang tetap menemaninya, sesuatu yang terjadi di rumah Malfoy teringat lagi, sesuatu yang dia dengar kembali lagi padanya, dan pengertian terbentuk di kegelapan. Irama tetap dari gerakan tangannya beriringan dengan pikirannya, Hallows… Horcrux… Hallows… Horcrux… tak lama kemudian terbakar dalam keanehan itu, obsesi yang panjang. Rasa kehilangan dan ketakutan menyedotnya, dia merasa bahwa dia tersentak bangun lagi. Lebih dalam dan lebih dalam lagi Harry menggali kedalam makam, dan dia tahu dimana Voldemort sebelumnya malam ini, dan siapa yang telah dibunuhnya di sel paling atas Numengard, dan sebabnya… Dan dia memikirkan Wormtail, meski karena dorongan tak sadar sebuah belas kasihan… Dumbledore telah meramalkannya… berapa banyak lagi yang dia tahu? Harry kehilangan ukuran waktu, yang dia tahu hanya kegelapan telah merebak semakin gelap ketika Dean dan Ron datang menenaminya lagi. “Bagaimana Hermione?” “Lebih baik” kata Ron, “Fleur sedang menjaganya.” Harry telah mempersiapkan alasan jika mereka menanyakan mengapa dia tidak membuat makam yang lebih baik dengan sihir, tapi dia tidak membutuhkannya. Mereka berdua meloncat kedalam lubang yang Harry buat dengan sekop dan mereka bekerja bersama dalam diam hingga lubang itu kelihatannya sudah cukup dalam. Harry menyelimuti peri itu lebih rapi dengan jaketnya, Ron duduk di pinggiran lubang dan melepaskan sepatu dan kaus kakinya yang lalu dipakaikannya di kaki telanjang si peri, Dean memberikan topi wol, yang Harry pakaikan dengan hati-hati diatas kepala Dobby, menutupi telinga kalelawarnya. “Kita seharusnya menutup matanya.” Harry tidak mendengar yang lain datang dalam kegelapan. Bill memakai jubah perjalanannya, Fleur memakai sebuah celemek lebar berwarna putih; dari sakunya muncul sebuah ujung botol, yang Harry kenali sebagai Skele-Gro. Hermione terbungkus gaun panjang pinjaman, dengan wajah pucat, dan berdiri sedikit goyah diatas kakinya; Ron meletakkan sebelah tangannya, merangkulnya ketika dia mendekati Ron. Luna, yang memakai salah satu mantel Fleur, membungkuk dan meletakkan jemarinya dengan perlahan di atas kelopak mata Dobby, menutupnya di atas tatapan kosong. “Begitulah,” katanya lembut, “sekarang dia dapat tertidur”. Harry meletakkan Dobby ke dalam makam, mengatur kaki kecilnya sehingga dia kelihatannya seperti beristirahat, lalu memanjat keluar dan memandang untuk terakhir kalinya kepada tubuh kecil itu. Harry berusaha tidak kecewa ketika mengingat acara pemakaman Dumbledore, baris demi baris kursi emas, dan mentri sihir di deretan paling depan, pidato tentang penghargaan kepada Dumbledore, makam marmer putih yang indah. Dia merasa Dobby layak mendapatkan acara pemakaman yang lebih baik dari ini, tapi kenyataannya di sini terbaring peri itu dalam sebuah lubang kasar dalam tanah diantara semak. “Kupikir kita harus mengucapkan sesuatu,” Luna mulai bicara, “aku yang pertama, boleh?” Dan ketika semua orang melihat padanya, dia memAndang jasad peri di dasar lubang itu. “Terima kasih banyak, Dobby, karena telah menyelamatkan kami dari penjara itu. Sangat tidak adil kau meninggal karena kau sangat berani dan baik. Aku akan selalu mengingat apa yang kau lakukan untuk kami. Kuharap kau bahagia sekarang.” Dia berpaling dan menatap dengan penuh harap kepada Ron, yang membasahi tenggorokannya dan berbicara dalam suara yang kecil, “Yeah… terima kasih, Dobby.” “Terima kasih,” gumam Dean. Harry melanjutkan, “Selamat tinggal, Dobby.” dia mengatakannya dengan susah payah, tapi Luna telah mengatakan semuanya untuk Dobby. Bill mengangkat tongkatnya, dan gundukan tanah disamping makam terangkat ke udara dan menutup perlahan diatasnya, sebuah tanah merah yang kecil. Mereka menggumamkan kata-kata yang tidak dapat didengar Harry; dia merasakan tepukan halus pada punggungnya, dan mereka semua berbalik untuk berjalan ke pondok lagi, meninggalkan Harry sendirian di samping si peri. Dia melihat berkeliling: ada beberapa batu lebar berwarna putih, dihaluskan oleh laut, menandai batas untuk tempat tumbuh bunga. Dia mengambil satu yang terlebar dan meletakkannya, seperti bantal, di atas tempat dimana kepala Dobby beristirahat sekarang. Kemudian dia mengambil tongkat yang ada di sakunya. Ada dua tongkat. Dia telah lupa; sepertinya dia telah menyambar tongkat-tongkat itu dari tangan seseorang. Dia memilih tongkat yang lebih pendek, yang terasa akrab di tangannya. Ketika Harry berdiri lagi, di batu itu tertulis: DISINI TERBARING DOBBY, PERI RUMAH YANG BEBAS Dia memandang hasil pekerjaan tangannya beberapa saat; lalu berjalan pergi, bekas lukanya masih berdenyut sedikit, dan pikirannya dipenuhi suatu pikiran yang didapatkannya ketika di makam tadi, rencana yang menjadi tajam di kegelapan tadi, rencana yang sangat menarik dan sekaligus menakutkan. Yang lain sedang duduk di ruang duduk ketika dia masuk ke dalam ruang depan yang kecil, perhatian mereka terpusat pada Bill, yang sedang berbicara. Ruangan itu berwarna cerah, indah, dengan api kecil dari kayu api yang terbakar riang di perapian. Harry tidak mau menjatuhkan lumpur di atas karpet, sehingga dia berdiri di pintu masuk, ikut mendengarkan. “…Beruntung Ginny sedang liburan. Jika dia sedang berada di Hogwarts, mereka dapat menangkapnya sebelum kita berhasil membawanya. Sekarang kita tahu dia aman juga.” Dia memandang berkeliling dan melihat Harry berdiri disana. “Aku telah memindahkan mereka semua dari the Burrow,” dia menjelaskan. “Memindahkan mereka ke rumah bibi Muriel.” ParaDeath Eater sekarang tahu Ron ada bersamamu, mereka bermaksud membatasi gerak keluarga… Jangan minta maaf,” dia menambahkan pada ekspresi Harry. “ini hanya masalah waktu, Dad telah mengatakannya berbulan-bulan yang lalu. Kami adalah keluarga berdarah pengkhianat paling besar yang pernah ada.” "Bagaimana melindungi mereka?” tanya Harry. “Mantra Fidelius.” Kata Bill. “Dad Penjaga Rahasianya. Dan kami melakukannya untuk pondok ini juga; aku adalah Penjaga Rahasia di sini. Tak ada seorang pun diantara kami yang bisa pergi bekerja, tapi hal ini adalah yang terpenting untuk saat ini. Begitu Ollivander dan Griphook sudak cukup sehat, kami akan memindahkannya juga ke rumah Muriel. Tak ada cukup kamar di sini, tapi di rumah Muriel ada banyak. Kaki Griphook sedang diperbaiki. Fleur memberinya Skele-Gro… kita mungkin dapat memindahkan mereka sekitar satu jam lagi atau…” “Tidak,” kata Harry dan Bill berpaling padanya. ”Aku membutuhkan mereka berdua di sini. Aku ingin berbicara dengan mereka. Ini penting.” Dia mendengar kekuasaan dalam suaranya, suara yang meyakinkan, suara dari rencana yang telah datang padanya ketika dia menggali makam Dobby. Wajah mereka semua yang melihatnya penuh tanda tanya. “Aku ingin membersihkan diri,” Harry berkata pada Bill sambil melihat pada tangannya yang masih ditutupi oleh lumpur dan darah Dobby. “Kemudian aku ingin bertemu mereka, langsung.” Dia berjalan ke dalam dapur yang kecil, ke sebuah baskom di bawah jendela yang berpemandangan laut. Fajar sedang merekah di cakrawala, berwarna merah jambu dan emas, ketika dia mencuci, dia memeriksa lagi rangkaian pikiran yang telah datang padanya dalam kegelapan di kebun tadi… Dobby mungkin tidak akan pernah dapat memberitahu mereka siapa yang telah mengirimkannya ke penjara itu, tapi Harry tahu apa yang telah dilihatnya. Sebuah kilatan mata berwarna biru telah melihatnya dari pecahan cermin, dan kemudian bantuan datang.Bantuan akan selalu diberikan di Hogwarts untuk mereka yang membutuhkannya. Harry mengeringkan tangannya, tertarik pada keindahan pemandangan di luar jendela dan pada gumaman yang lain di ruang duduk. Dia melihat pada laut di luar sana dan merasa dekat, fajar ini, lebih dekat di hatinya lebih dari kapan pun. Dan bekas lukanya masih tetap berdenyut, dan dia tahu Voldemort ada di sana juga. Harry sudah mengerti dan belum mengerti pada saat bersamaan. Perasaannya mengatakan suatu hal, tapi otaknya mengatakan lain. Dumbledore dalam pikiran Harry tersenyum, meneliti Harry di atas jari-jarinya, yang menelengkup seperti sedang berdoa… Kau memberi Ron Deluminator… Kau memahaminya… Kau memberinya jalan untuk kembali… Dan kau juga mengerti Wormtail… Kau tahu ada sedikit penyesalan di sana, di suatu tempat… Dan jika kau memahami mereka… Apa yang kau pahami tentangku, Dumbledore? Apa ini berarti aku hanya boleh tahu dan bukannya untuk mencari? Apakah kau tahu betapa sulit merasakannya? Apakah itu sebabnya kau membuat ini menjadi sulit? Sehingga aku perlu waktu untuk mengerjakannya? Harry berdiri diam, melihat pemandangan, mengamati tempat dimana sinar keemasan matahari yang cerah terbit di cakrawala. Kemudian dia melihat ke bawah pada tangannya yang sudah bersih dan sedikit terkejut melihat pakaian yang ia genggam. Dia meletakkannya dan kembali ke ruang depan, dan ketika dia melakukannya, dia merasakan bekas lukanya berdenyut marah, dan kemudian kilatan melewati pikirannya, cepat seperti bayangan capung di atas air, sebuah bentuk bangunan yang dia kenal dengan baik. Bill dan Fleur berdiri di kaki tangga. “Aku ingin bebicara dengan Griphook dan Ollivander.” kata Harry. “Tidak,” kata Fleur. “kau ‘arus menunggu, ‘Arry. Mereka berdua sangat kelela’an…” “Aku minta maaf,” dia berbicara dengan tenang, ”tapi aku tidak dapat menunggu. Aku perlu berbicara dengan mereka sekarang, sendirian… dan terpisah. Ini penting.” “Harry, apa yang terjadi?” tanya Bill. “Kau datang kemari dengan seorang peri rumah yang mati dan goblin yang setengah sadar, Hermione seperti telah kena siksa, dan Ron menolak untuk memberitahuku apapun…” “Kami tidak dapat memberitahumu apa yang kami lakukan,” kata Harry datar. “Kau di Orde, Bill. Kau tahu Dumbledore memberikan kami sebuah tugas. Kami tidak seharusnya memberitahu orang lain tentang ini.” Fleur mengeluarkan suara tidak sabar, tapi Bill tidak melihat padanya; dia memandang Harry. Wajahnya yang terluka yang dipenuhi bekas luka dalam sulit untuk dibaca. Akhirnya, Bill berkata, “Baiklah, siapa yang ingin kau ajak bicara lebih dahulu?” Harry bimbang. Dia tahu apa yang menggantung dalam keputusannya. Tak banyak waktu yang tersisa; sekarang adalah waktunya untuk memutuskan: Horcrux atau Hallows? “Griphook,” Harry berkata. “Aku akan berbicara dengan Griphook lebih dahulu.” Jantungnya bedegup kencang seakan dia telah berlari kencang dan telah menyelesaikan rintangan yang besar. “Ke atas sini, kalau begitu.” Kata Bill, memimpin jalan. Harry telah melangkah ke atas beberapa langkah sebelum dia berhenti dan melihat ke belakang. “Aku membutuhkan kalian berdua,” dia memanggil Ron dan Hermione, yang telah menyelinap, setengah tersembunyi di pintu ruang duduk. Mereka bergerak ke dalam cahaya, melihat dengan sedikit aneh. “Bagaimana keadaanmu?” Harry bertanya pada Hermione. “Kau luar biasa bisa bertahan dengan cerita itu ketika dia menyakitimu seperti itu…” Hermione tersenyum lemah ketika Ron meremas sebelah lengannya. “Apa yang kita lakukan sekarang, Harry?” Ron bertanya. “Kau akan tahu, ayo” Harry, Ron dan Hermione mengikuti Bill naik ke tangga keatas ruangan yang sempit. Ada tiga pintu disana. “Di dalam sini.” Kata Bill, membuka pintu ruang kamarnya dan Fleur, ruangan itu mempunyai pemandangan laut, yang sekarang dipenuhi warna keemasan sinar matahari. Harry bergerak ke jendela, membalik punggungnya ke pemandangan luar biasa itu, dan menunggu, lengannya terlipat, bekas lukanya berdenyut. Hermione duduk di kursi disamping meja rias, Ron duduk di lengan kursinya. Bill datang lagi, menggendong seorang goblin kecil, yang diletakkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur. Griphook mengucapkan terima kasih, dan Bill pergi, menutup pintu di depan mereka. “Aku minta maaf mengganggu istirahatmu,” kata Harry. “Bagaimana keadaan kakimu?” “Sakit,” jawab si goblin. “tapi membaik.” Dia masih memegang pedang Gryffindor, dan kelihatan aneh, setengah galak, setengah licik. Harry memperhatikan kulitnya yang pucat, jari-jarinya yang kurus panjang, mata hitamnya. Fleur telah melepas sepatunya; telapak kakinya yang panjang kotor. Dia sedikit lebih besar daripada peri rumah, tapi tidak terlalu. Kepala bulatnya sedikit lebih besar dari kepala manusia. “Mungkin kau tidak ingat…” Harry memulai. “—bahwa aku adalah goblin yang menuntunmu ke ruang penyimpananmu, pada saat pertama kalinya kau mengunjungi Gringotts?” kata Griphook. “Aku ingat, Harry Potter. Bahkan diantara para goblin, kau sangat terkenal.” Harry dan goblin itu saling bertatapan, saling menilai. Bekas luka Harry masih berdenyut. Dia ingin menyelesaikan pembicaraan ini dengan cepat, dan pada saat bersamaan merasa takut telah melakukan kesalahan. Sementara dia memutuskan cara terbaik untuk menyampaikan permintaannya, goblin itu memecah kesunyian. “Kau menguburkan peri rumah itu,” dia berkata, kedengaran seperti tanpa belas kasihan yang tidak terduga. “Ya,” kata Harry. Griphook memandangnya lewat sudut matanya yang hitam. “Kau penyihir yang tidak biasa, Harry Potter.” “Dibagian mana?” kata Harry, menggosok bekas lukanya “Kau menggali sebuah makam.” “Jadi?” Griphook tidak menjawab. Harry berpikir bahwa goblin itu mencemoohnya karena berbuat seperti muggle, tapi itu bukan masalah apakah Griphook menyetujui makam Dobby atau tidak. Dia mempersiapkan dirinya untuk menyerang. “Griphook, aku ingin bertanya…” “Kau juga menyelamatkan goblin.” “Apa?” “Kau membawaku kemari. Menyelamatkanku.” “Well, kurasa kau tidak menyesal?” kata Harry sedikit tidak sabar. “Tidak, Harry Potter,” kata Griphook, dan dengan satu jari dia memilin janggut kecil di dagunya, “tapi kau penyihir yang sangat aneh.” “Baiklah.” kata Harry. “Well, aku membutuhkan beberapa pertolongan, Griphook, dan kau dapat memberikannya.” Goblin itu tidak memperlihatkan ketertarikan, tetapi masih melanjutkan memandang Harry seakan dia belum pernah melihat sesuatu sepertinya. “Aku ingin menerobos ke dalam ruang penyimpanan Gringgots.” Harry tidak bermaksud mengatakannya begitu buruk; kata-kata yang terucap darinya ketika rasa sakit terasa di bekas lukanya dan dia melihat, lagi, bentuk bangunan Hogwarts. Dia menutup pikirannya. Dia butuh kesepakatan dengan Griphook terlebih dahulu. Ron dan Hermione memandang Harry seperti dia sudah gila. “Harry—” kata Hermione, tapi dia dipotong oleh Griphook. “Menerobos ke ruang penyimpanan Gringotts?” ulang si goblin, mengernyit sedikit ketika dia berubah posisi di atas tempat tidur. “Itu tidak mungkin.” “Tidak, itu tidak benar,” Ron menentangnya, “itu sudah pernah dilakukan.” “Yeah,” kata Harry, “pada hari yang sama ketika aku bertemu denganmu, Griphook. Saat ulang tahunku, tujuh tahun yang lalu.” “Ruang penyimpanan yang kalian maksud sudah dikosongkan pada hari itu juga.” timpal si goblin, dan Harry mengerti bahwa meskipun Griphook telah meninggalkan Gringotts, dia tertahan pada rencana untuk melanggar pertahanannya. “pengamanan ruang itu minimal.” “Well, ruang penyimpanan yang kami inginkan tidak kosong, dan aku rasa pengamanannya akan sangat kuat,” kata Harry. “Ruang itu milik keluarga Lestrange.” Dia melihat Ron dan Hermione saling berpandangan, keheranan, tapi ada banyak waktu untuk menjelaskan setelah Griphook telah memberikan jawabannya. “Kau tidak memiliki kesempatan,” kata Griphook datar. “Tak ada kemungkinan sama sekali.Jika kau mencari dibawah lantai kami, harta yang tak berhak kaumiliki… " “Pencuri, kau telah diperingatkan, waspadalah…yeah, aku tahu, aku ingat,” kata Harry. “Tapi aku bukan mencoba mengambil harta apapun untukku, aku tidak bermaksud mendapatkan keuntungan pribadi. Dapatkah kau mempercayainya?” Goblin itu memandang condong ke Harry, dan bekas luka sambaran kilat di dahi Harry berdenyut, tapi dia mengacuhkannya, menolak untuk merasakan sakitnya atau undangannya. “Jika ada penyihir yang dapat aku percaya bahwa mereka tidak mencari keuntungan pribadi,” akhirnya Griphook berkata, “itu adalah kau, Harry Potter. Para goblin dan peri belum pernah mendapatkan perlindungan dan penghormatan seperti yang kau tunjukkan malam ini. Tidak dari para pembawa-tongkat.” “Pembawa-tongkat.” Ulang Harry: istilah itu kedengaran aneh di telinganya ketika bekas lukanya berdenyut, ketika Voldemort melayangkan pikirannya ke utara, dan ketika Harry merencanakan pertanyaan untuk Ollivanders di pintu selanjutnya. “Kesepakatan untuk mempunyai sebuah tongkat sihir,” kata si goblin dengan pelan, “telah dibuat lama sebelumnya diantara para penyihir dan goblin.” “Well, para goblin dapat melakukan sihir tanpa tongkat sihir,” kata Ron. “Bukan itu masalahnya! Para penyihir menolak untuk berbagi rahasia pembuatan tongkat dengan mahluk sihir lainnya, mereka mengira kami bermaksud untuk memperkuat kekuatan kami!” “Well, para goblin juga tidak mau membagikan rahasia mereka,” kata Ron, “Kau tidak mau memberitahu kami bagaimana membuat pedang-pedang dan pakaian perang seperti yang kalian lakukan. Para goblin tahu bagaimana bekerja dengan logam dengan cara yang para penyihir tidak…” “Itu tidak masalah,” kata Harry, memperhatikan perubahan warna Griphook. “Ini bukan tentang para penyihir lawan para goblin atau jenis mahluk sihir lainnya…” Griphook tertawa tidak menyenangkan. “Tapi ini memang benar, ini masalah sebenarnya! Ketika Penguasa Kegelapan menjadi lebih kuat, ras kalian berada lebih tinggi di atas kami! Gingotts tunduk di bawah peraturan penyihir, peri rumah dijadikan budak, dan siapa diantara para pembawa-tongkat yang keberatan?” “Kami!” kata Hermoine. Dia telah duduk tegak, matanya bersinar. “Kami keberatan! Dan aku diburu seperti setiap goblin dan peri rumah, Griphook! Aku adalah Darah Lumpur!” “Jangan sebut dirimu…” Ron bergumam. “Kenapa tidak?” kata Hermione. “Darah Lumpur, dan aku bangga karenanya! Aku tidak memiliki posisi yang lebih tinggi dari pada kau sekarang, Griphook! Aku yang mereka pilih untuk disiksa, di rumah Malfoy!” Sementara dia berbicara, dia mendorong ke samping gaun di lehernya kesamping untuk menunjukkan goresan kecil yang telah dibuat Bellatrix, bekas luka di atas tenggorokannya. “Apakah kau tahu bahwa Harry lah yang membebaskan Dobby?” dia bertanya. “Apakah kau tahu kami memperjuangkan kebebasan peri selama bertahun-tahun?”(Ron bergerak tidak nyaman di lengan kursi Hermione) “Kau tidak ingin Kau-Tahu-Siapa menghalangi apa yang kami lakukan, Griphook!” Goblin itu memandang Hermione dengan pandangan aneh yang sama seperti yang diberikannya pada Harry. “Apa yang kau cari di ruang penyimpanan keluarga Lestrange?” dia tiba-tiba bertanya. “Pedang yang ada di ruang penyimpanan itu palsu. Ini yang asli.” Dia melihat mereka satu per satu. “Aku rasa kau telah mengetahui ini. Kau memintaku berbohong pada waktu di sana.” “Tapi pedang yang palsu itu bukan satu-satunya benda yang ada di sana, kan?” tanya Harry. “Mungkin kau pernah melihat benda lain di sana?” Jantungnya berdetak lebih cepat dari pada kapanpun. Dia melipatgandakan keinginannya untuk mengacuhkan denyutan di bekas lukanya. Goblin itu memilin lagi janggut di dagunya. “Itu melanggar peraturan kami jika berbicara rahasia Gringotts pada yang lain. Kami adalah penjaga harta-harta berharga. Kami mempunyai tugas untuk memelihara benda yang ada pada kami, yang mana seringkali, dibuat oleh jari-jari kami.” Goblin itu memandang pedang, dan mata hitamnya berpaling dari Harry ke Hermione ke Ron lalu kembali memandang pedang lagi. “Sangat muda,” akhirnya dia berkata, “untuk bertarung dengan keras.” “Maukah kau menolong kami?” kata Harry. “Kami tidak memiliki harapan menerobos tanpa bantuan goblin. Kau satu-satunya kesempatan kami.” “Aku akan… memikirkannya.” Kata Griphook dengan lambat. “Tapi…” Ron mulai marah; Hermione menyodok rusuknya. “Terima kasih.” kata Harry. Goblin itu menundukkan kepalanya dengan penghormatan, kemudian memegang kaki pendeknya. “Kurasa,” dia berkata, mengatur dirinya dengan sok di atas tempat tidur Bill dan Fleur, “Skele-Gro telah selesai bekerja. Akhirnya aku dapat tidur. Maafkan aku…” “Yeah, tentu saja,” kata Harry, tapi sebelum meninggalkan ruangan dia membungkuk ke depan dan mengambil pedang Gryfinddor dari samping goblin itu. Griphook tidak keberatan, tapi Harry mengira dia melihat kemarahan di mata goblin itu ketika dia menutup pintu di depannya. “Iblis kecil,” bisik Ron. “Dia menikmati telah menggantung keadaan kita.” “Harry,” bisik Hermione, mendorong mereka berdua jauh dari pintu, ke tengah ruangan yang masih gelap, “apakah kau berpikir sama dengan yang aku pikirkan? Kau mengira ada sebuah Horcrux di dalam ruang penyimpanan Lestrange?” “Ya,” kata Harry. “Bellatrix ketakutan ketika dia mengira kita pernah berada di sana, dia seperti bukan dirinya. Mengapa? Apa yang dia kira kita cari, apa lagi yang dia pikir mungkin kita ambil? Sesuatu yang dia tidak ingin Kau-Tahu-Siapa mengetahuinya.” “Tapi kukira kita mencari di tempat dimana Kau-Tahu-Siapa pernah tinggal, tempat dimana dia melakukan sesuatu yang penting?” kata Ron, terlihat heran. “Apakah dia pernah berada dalam ruang penyimpanan Lestrange?” “Aku tidak tahu apakah dia pernah berada di dalam Gringotts,” kata Harry. “Dia tidak pernah mempunyai emas di sana ketika dia masih muda, karena tak ada yang memberinya. Dia mungkin pernah melihat bank itu dari luar, kupikir, pada saat pertama kali dia pergi ke Diagon Alley.” Bekas luka Harry berdenyut, tapi dia mengacuhkannya; dia ingin Ron dan Hermione untuk mengerti tentang Gringotts sebelum mereka berbicara pada Ollivander. “Kurasa dia bisa mencari seseorang yang mempunyai kunci ke sebuah ruang penyimpanan Gringotts. Aku rasa dia telah melihat bangunan itu sebagai salah satu simbol yang dimiliki oleh Dunia Sihir. Dan jangan lupa, dia mempercayai Bellatrix dan suaminya. Mereka adalah abdinya yang paling setia sebelum dia jatuh, dan mereka yang mencoba mencarinya setelah dia menghilang. Dia mengatakan itu pada saat dia kembali, aku mendengarnya.” Harry menggosok bekas lukanya. “Aku tidak berpikir dia memberitahu Bellatrix bahwa benda itu sebuah horcrux. Dia tidak pernah memberitahu Lucius kebenaran tentang buku harian. Kemungkinan dia memberitahunya itu adalah sebuah harta berharga dan memintanya untuk menyimpannya di ruang penyimpananya. Tempat teraman di dunia untuk menyembunyikan sesuatu… kecuali Hogwarts.” Ketika Harry selesai bicara, Ron menganggukkan kepala. “Kau sangat mengerti dia.” “Sedikit tentangnya,” kata Harry. “Sedikit… Aku hanya berharap aku memahami Dumbledore sama banyaknya. Tapi kita lihat saja. Ayo… sekarang Ollivander.” Ron dan Hermione terlihat cemas tapi sangat tertarik ketika mereka mengikutinya melintasi lantai kecil itu dan mengetuk pintu yang ada di seberang kamar Bill dan Fleur. Suara “Silahkan masuk!” lemah terdengar menjawab. Pembuat tongkat itu berbaring di atas salah satu tempat tidur kembar yang paling jauh dari jendela. Dia telah berada di penjara lebih dari satu tahun, dan disiksa, Harry tahu, dalam lebih dari satu kesempatan. Dia terlihat memprihatinkan, tulang di wajah kurusnya terlihat tajam di bawah kulitnya yang pucat kekuningan. Mata abu-abunya yang besar terlihat menonjol di kelopak mata berkantung. Tangan yang terbaring di atas selimut itu menyerupai tulang. Harry duduk diatas tempat tidur kosong, disamping Ron dan Hermione. Matahari yang sedang terbit tidak terlihat dari sini. Ruangan ini menghadap bagian atas kebun karang dan makam yang masih basah. “Mr. Ollivander, saya minta maaf telah mengganggu Anda,” Harry berkata. “Anakku sayang,” Suara Ollivander terdengar bergetar. “Kau menyelamatkan kami, aku pikir kami akan mati di tempat itu, aku tidak pernah bisa berterima kasih… tak pernah bisa cukup berterima kasih….” Bekas luka Harry berdenyut. Dia tahu, dia dapat memastikan, bahwa hanya ada sedikit waktu tersisa yang bisa digunakan untuk melawan Voldemort mendapatkan keinginannya, atau paling tidak mencoba menggagalkannya. Dia merasakan sedikit kepanikan… sebelumnya dia telah membuat keputusan ketika dia memilih untuk berbicara dengan Griphook terlebih dahulu. Berpura-pura tenang seperti yang tidak dia rasakan, dia merogoh ke dalam kantong di lehernya dan mengeluarkan potongan tongkatnya yang terbelah dua. “Mr. Ollivander, Saya butuh sedikit bantuan.” “Katakan saja. Katakan saja.” Kata pembuat tongkat itu dengan lemah. “Dapatkah Anda memperbaiki ini? Apakah mungkin?” Ollivander mengadahkan tangan, dan Harry meletakkan tongkat yang nyaris terputus itu di telapak tangannya. “Kayu holly dan bulu phoenix,” kata Ollivander dalam suaranya yang gemetar. “sebelas inci, bagus dan fleksibel.” “Ya.” Kata Harry. “Dapatkah Anda…?” “Tidak,” bisik Ollivander. “Aku menyesal, sangat menyesal. Tapi sebuah tongkat yang telah menderita kerusakan seperti ini tidak dapat diperbaiki oleh kemampuan yang aku miliki.” Harry telah mencoba bertahan mendengarnya, tapi itu terbang hilang. Dia mengambil tongkat yang hampir terbelah dua itu dan meletakkannya di katong disekeliling lehernya. Ollivander memandang tempat di mana tongkat yang rusak itu menghilang, dan tidak memalingkan wajah sampai Harry mengambil dari sakunya dua tongkat yang dia bawa dari rumah Malfoy. “Dapatkah Anda mengenali ini?” Harry bertanya. Pembuat tongkat itu mengambil tongkat yang pertama dan memegangnya dekat mata pudarnya, memutarnya diantara jarinya yang kurus kering, memperhatikan bayangannya. “Kayu kenari dan pembuluh jantung naga,” katanya. “dua puluh tiga-per-empat inci, keras hati. Tongkat ini milik Bellatrix Lestrange.” “Dan yang satu ini?” Ollivander melakukan pengujian yang sama. “Hawthorn dan rambut unicorn. Tepat sepuluh inci. Elastis. Ini tongkat milik Draco Malfoy.” “Miliknya?” ulang Harry. “Masih miliknyakah?” “Mungkin tidak, jika kau mengambilnya.” “… aku melakukannya.” “… kalau begitu ini milikmu. Tentu saja, manusia sering melakukannya. Seringkali tergantung pada tongkatnya. Pada umumnya, bagaimanapun, jika sebuah tongkat telah dimenangkan, kepemilikannya akan berubah.” Ada kesunyian di ruangan itu, kecuali desiran di laut. “Anda berbicara seolah tongkat memiliki perasaan,” kata Harry. “ Sepertinya mereka dapat berpikir sendiri.” “Tongkat yang memilih penyihir,” kata Ollivander. “inilah hal yang sudah lama kami percayai sebagai orang yang mempelajari pembuatan tongkat.” “Mesikupun begitu, masihkah seseorang dapat menggunakan tongkat yang tidak memilih mereka?” kata Harry. “Oh ya, kau dan setiap penyihir lainnya dapat menyalurkan sihir melalui benda apapun. Meskipun demikian, hasil terbaik pasti selalu datang keterikatan terkuat antara penyihir dan tongkat sihir. Hubungan ini rumit. Sebuah pertunjukan awal dan kemudian saling mencari pengalaman, penyihir belajar dari tongkatnya, dan tongkatnya belajar dari penyihirnya.” Lautan menyembur ke depan dan ke belakang: seperti suara gumaman. “Saya mengambil ini dari Draco Malfoy dalam pertempuran,” kata Harry. “Dapatkah saya menggunakannya dengan aman?” “Aku rasa demikian. Berdasarkan Hukum Kepemilikan Tongkat Sihir, tongkat sihir hasil pertempuran biasanya akan membelokkan kemauannya pada penguasa barunya.” “Jadi bisakah saya menggunakan yang satu ini?” kata Ron, menarik tongkat Wormtail dari dalam sakunya dan menyerahkannya pada Ollivander. “Kastanye dan pembuluh jantung naga. Sembilan setengah inci. Rapuh. Aku diperintahkan membuat tongkat ini dengan cepat setelah diculik, untuk Peter Pettigrew. Ya, jika kau memenangkannya, tongkat ini lebih suka melakukan kehendakmu, dan melakukannya dengan baik, dari pada tongkat yang lain.” “Dan kejadian ini juga berlaku untuk semua tongkat sihir, kan?” tanya Harry. “Kurasa demikian,” jawab Ollivander, matanya yang menonjol terpaku pada wajah Harry. “Kau menanyakan pertanyaan yang dalam, Mr Potter. Pembuatan Tongkat itu salah satu cabang ilmu sihir yang misterius dan rumit.” “Jadi, apakah tidak perlu membunuh pemilik tongkat sihir yang sebelumnya untuk mengambil kepemilikan sebuah tongkat sihir?” tanya Harry. Ollivander menelan ludah. “Perlu? Tidak, aku seharusnya tidak mengatakan perlu untuk membunuh.” “Saya kira ada sebuah legenda,” kata Harry, dan seketika jantungnya berdegup kencang, rasa sakit dibekas lukanya semakin menjadi; dia menjadi yakin bahwa Voldemort telah memutuskan menjalankan rencananya. “Legenda tentang sebuah tongkat sihir… atau tongkat-tongkat sihir… yang diturunkan dari tangan ke tangan melalui pembunuhan.” Ollivander menjadi pucat. Berlawanan dengan bantalnya yang berwarna salju, dia berwarna kelabu, dan matanya membesar, merah darah, dan menonjol dengan apa yang kelihatannya seperti rasa takut. “Hanya satu tongkat, kurasa,” dia berbisik. “Dan Kau-Tahu-Siapa tertarik padanya, bukan?” tanya Harry. “Aku… bagaimana?” kata Ollivander parau, dan dia memandang Ron dan Hermione dengan pandangan minta tolong. “Bagaimana kau tahu tentang ini?” “Dia meminta Anda untuk memberitahunya bagaimana hubungan antara tongkat sihir kami,” kata Harry. Ollivander terlihat ketakutan. “Dia menyiksaku, kau harus mengerti! Kutukan Cruciatus, Aku… aku tidak punya pilihan lain selain memberitahunya apa yang kutahu, apa yang kuperkirakan!” “Saya mengerti.” Kata Harry. “Anda memberitahunya tentang inti kembar? Anda mengatakan dia hanya perlu meminjam tongkat sihir penyihir lain?” Ollivander ketakutan, membatu, dengan banyaknya hal yang diketahui Harry. Dia mengangguk perlahan. “Tapi itu tidak berhasil.” Harry melanjutkan. “Tongkat saya tetap menghancurkan tongkat pinjaman itu. Apakah Anda tahu mengapa itu terjadi?” Ollivander menggelengkan kepalanya kepalanya dengan perlahan seperti dia mengangguk tadi. “Aku…tidak pernah mendengar sesuatu yang seperti itu. Tongkatmu melakukan sesuatu yang unik malam itu. Hubungan inti yang kembar sangat jarang terjadi, aku belum mengerti bagaimana tongkat sihirmu dapat menghancurkan tongkat pinjaman itu…” “Kita berbicara tentang tongkat yang lain, tongkat yang berpindah tangan dengan pembunuhan. Ketika Kau-Tahu-Siapa menyadari tongkat saya telah melakukan suatu yang aneh, dia kembali dan menanyakan tentang tongkat yang lain, kan?” “Bagaimana kau tahu tentang ini?” Harry tidak menjawab. “Ya, dia bertanya,” bisik Ollivander. “Dia ingin tahu semua yang dapat kukatakan tentang tongkat sihir yang sering disebut sebagai Tongkat Kematian, Tongkat Takdir, atau Tongkat Elder.” Harry memandang ke samping pada Hermione. Dia terlihat sangat keheranan. “Penguasa kegelapan,” kata Ollivander dalam suara bisikan dan ketakutan, “selalu puas dengan tongkat yang aku buatkan untuknya…Cemara dan bulu phoenix, tiga belas setengah inci… sampai akhirnya dia mengetahui tentang hubungan inti kembar. Sekarang dia mencari yang lain, tongkat sihir yang lebih kuat, untuk mengalahkan tongkat sihirmu.” “Tapi dia akan segera tahu, jika dia belum mengetahuinya, bahwa tongkat saya yang rusak tidak dapat diperbaiki,” kata Harry pelan. “Tidak!” kata Hermione, terdengar ketakutan. “Dia tidak dapat mengetahuinya, Harry, bagaimana bisa…” “Priori Incantatem,” kata Harry. “kita meninggalkan tongkat sihirmu dan tongkat sihir blackthorn di rumah Malfoy, Hermione. Jika mereka menguji tongkat itu dengan baik, membuat tongkat-tongkat itu menunjukkan kembali mantra terakhir yang dilontarkan, mereka akan melihat tongkatmu merusak tongkatku, mereka akan melihat bahwa kau berusaha dan gagal untuk memperbaikinya, dan mereka akan sadar bahwa aku telah menggunakan tongkat blackthorn sejak itu.” Sedikit warna yang telah timbul sejak kedatangan mereka telah menghilang dari wajah Hermione. Ron memberikan Harry tatapan mencela, dan berkata, “Mari kita tidak usah menghawatirkan itu sekarang…” Tetapi Mr. Ollivander menyela. “Penguasa kegelapan tidak hanya mencari Tongkat Elder untuk kehancuranmu, Mr. Potter. Dia berkeinginan untuk memilikinya karena dia percaya tongkat itu membuatnya sangat kebal.” “Dan mungkinkah itu?” “Pemilik Tongkat Elder pasti takut diserang,” kata Ollivander, “tapi rencana Penguasa Kegelapan untuk memiliki Tongkat kematian adalah, kalau boleh kukatakan…hebat.” Harry tiba-tiba ingat betapa tidak yakinnya dia, ketika mereka bertemu pertama kali, berapa besar dia menyukai Ollivander. Bahkan sekarang, setelah mendapat siksaan dan ditahan oleh Voldemort, rencana Penyihir Hitam yang ingin memiliki tongkat ini kelihatannya mempesonakannya sama besarnya dengan penolakannya terhadap Voldemort. “Anda… Anda benar-benar berpikir tongkat ini ada, kalau begitu, Mr. Ollivander?” tanya Hermione. “Oh ya,” kata Ollivander. “Ya, sangat mungkin sekali untuk menjejaki tongkat itu berdasarkan sejarah. Ada celah, tentu saja, dan panjang, saat tongkat itu menghilang dari penglihatan, hilang sementara atau disembunyikan; tapi tongkat itu masih ada. Tongkat itu memiliki karakteristik yang dikenal oleh siapa saja yang telah mempelajari pengenalan pembuatan tongkat sihir. Ada catatan tertulis, beberapa samar-samar, yang aku dan pembuat tongkat lainnya buat menjadi urusan yang dipelajari. Mereka mempunyai lingkaran tertulis” “Jadi Anda… Anda tidak berpikir ini hanya cerita dongeng atau mitos?” Hermione berkata penuh harap. “Tidak,” kata Ollivander. “Mekipun aku tidak tahu tongkat itu beralih dengan pembunuhan. Sejarah tongkat itu berdarah, tapi itu mungkin merupakan nasib wajar bagi tongkat yang nyata sangat diinginkan, dan menimbulkan minat para penyihir. Kekuatannya yang luas, berbahaya di tangan yang salah, dan sebuah benda yang luar biasa mengagumkan bagi kami semua yang mempelajari kekuatan tongkat sihir.” “Mr. Ollivander,” kata Harry, “Anda memberi tahu Kau-Tahu-Siapa bahwa Gregorovitch memiliki Tongkat Elder, kan?” Ollivander menjadi, jika mungkin, lebih pucat. Dia terlihat seperti hantu ketika dia menelan ludah. “Tapi bagaimana… bagaimana kau…?” “Tidak peduli bagaimana saya mengetahuinya,” kata Harry, menutup matanya sebentar ketika bekas lukanya serasa terbakar dan dia melihat, untuk beberapa saat, sebuah penglihatan jalan utama Hogsmeade, masih gelap, karena tempat itu berada lebih di utara. “Anda memberitahu Kau-Tahu-Siapa bahwa Gregorovitch mempunyai tongkat itu?” “Itu hanya sebuah rumor,” bisik Ollivander. “Sebuah rumor, bertahun-tahun yang lalu, jauh sebelum kau lahir, aku yakin Gregorovitch yang memulainya. Kau dapat melihat betapa bagusnya itu untuk bisnis; bahwa dia mempelajari dan menduplikasi kualitas Tongkat Elder.” “Ya, saya menyadarinya,” kata Harry. Dia berdiri “Mr. Ollivander, satu hal lagi, dan kami akan membiarkan Anda beristirahat. Apa yang Anda ketahui tentang Benda Keramat Maut atau Relikui Kematian —Deathly Hallows?” “Benda… benda apa?” tanya sang pembuat tongkat, terlihat benar-benar keheranan. “Benda Keramat Maut.” “Aku takut aku tidak mengetahui apa yang kau bicarakan. Apakah ini masih sesuatu yang berkaitan dengan tongkat sihir?” Harry memandang wajah kurus itu dan percaya bahwa Ollivander tidak berdusta. Dia tidak mengetahui tentang Benda Keramat / Relikui itu. “Terima kasih,” kata Harry, “Terima kasih banyak, kami meninggalkan Anda agar dapat beristirahat sekarang.” Ollivander terlihat terpukul. “Dia menyiksaku!” dia terengah. “Kutukan Cruciatus… kau tidak mengerti…” “Saya mengerti,” kata Harry, “Saya sangat mengerti, saya mohon beristirahatlah. Terima kasih telah menjelaskan semua ini kepada kami.” Harry memimpin Ron dan Hermione menuruni tangga. Harry melihat sekilas Bill, Fleur, Luna, dan Dean duduk di depan meja di dapur, cangkir teh di depan mereka. Mereka melihat Harry ketika dia muncul di ambang pintu, tapi dia mengangguk pelan pada mereka dan melanjutkan berjalan ke kebun. Ron dan Hermione di belakangnya. Gundukan tanah merah yang menutupi Dobby terhampar di depan, dan Harry berjalan ke arahnya, ketika sakit di kepalanya menjadi lebih terasa. Dibutuhkan usaha yang kuat sekarang untuk menutup penglihatan yang didorong mereka padanya, tapi dia tahu bahwa usahanya hanya dapat bertahan sebentar. Dia bisa segera berhasil, karena dia perlu mengetahui apakah teorinya benar. dia hanya perlu membuat satu usaha kecil, sehingga dia dapat menjelaskannya kepada Ron dan Hermione. “Gregorovitch mempunyai Tongkat Elder pada masa lalu,” dia berkata, “Aku melihat Kau-Tahu-Siapa mencoba menemuinya. Ketika dia bertemu dengan Gregorovitch, Kau-Tahu-Siapa menemukan bahwa dia sudah tidak memilikinya: tongkat itu telah dicuri darinya oleh Grindelwald. Bagaimana Grindelwald mengetahui bahwa Gregorovicth memilikinya, aku tidak tahu… tapi jika Gregorovitch cukup bodoh dengan menyebarkan rumor, ini tidak jadi terlalu sulit.” Voldemort telah berada di gerbang Hogwarts: Harry dapat melihatnya berdiri di sana, dan melihat juga lampu berkelip saat subuh, dekat dan semakin dekat. “Dan Grindelwald menggunakan Tongkat Tertua untuk menjadi kuat. Dan dia ada di puncak kekuasaannya, ketika Dumbledore menyadari hanya dia yang dapat menghentikannya, dia berduel dengan Grindelwald dan mengalahkannya, dan mengambil Tongkat Elder.” “Dumbeldorememiliki Tongkat Elder?” kata Ron. “Tapi dimana tongkat itu sekarang?” “Di Hogwarts,” kata Harry, berusaha bertahan dengan mereka di kebun di atas puncak karang. “Kalau begitu, ayo!” kata Ron segera. “Harry, ayo pergi dan mendapatkannya sebelum dia!” “Sangat terlambat untuk itu,” kata Harry. Dia tidak dapat menolong dirinya sendiri, tapi memegang kepalanya, berusaha membantunya bertahan. “Dia tahu dimana tongkat itu, dia ada di sana sekarang.” “Harry!” Ron berkata putus asa. “Berapa lama kau tahu soal ini… mengapa kau membuang-buang waktu? Mengapa kau berbicara dengan Griphook duluan? Kita bisa kehilangan—kita masih bisa pergi—” “Tidak,” kata Harry, dan dia berlutut di rumput. “Hermione benar. Dumbledore tidak menginginkan aku memilikinya. Dia tidak ingin aku mengambilnya. Dia ingin aku memusnahkan Horcrux.” “Itu tongkat sihir yang tak terkalahkan, Harry.” Ratap Ron. “Aku tidak seharusnya… aku seharusnya menghancurkan Horcrux…” Dan sekarang semuanya dingin dan gelap: matahari telah terlihat jelas di cakrawala ketika memandang melewati Snape, naik dari tanah ke danau. “Aku akan menemuimu di kastil segera,” dia berkata dengan suaranya yang tinggi dan dingin. “tinggalkan aku sekarang.” Snape membungkuk dan berjalan pergi, jubah hitamnya melambai di belakangnya. Harry berjalan perlahan, menunggu sosok Snape menghilang. Tidak perlu didepan Snape, atau orang lain, untuk melihatnya kemana dia pergi. Tapi tidak ada cahaya di jendela-jendela kastil, dan dia dapat meyakinkan dirinya…dan beberapa saat dia melontarkan Mantra Ilusi di atasnya yang menyembunyikan tubuhnya bahkan dari matanya sendiri. Dan dia berjalan terus, mengelilingi pinggir danau, memandang bentuk kastilnya tercinta, kerajaannya yang pertama, warisannya… Dan itu dia, di samping danau, tercermin di air kelam. Makam marmer putih, tinta kotor yang tidak perlu diatas pemandangan yang akrab. Dia merasa berjalan dengan cepat yang dikendalikan oleh euphoria, yang terasa memabukkan dari keinginan dalam menghancurkan. Dia mengangkat tongkat cemaranya yang lama: betapa menyedihkannya bahwa ini menjadi pekerjaan hebat terakhir tongkat sihirnya. Makam itu bergeser terbuka dari kepala ke bagian kaki. Sosok terselubung itu masih sekurus ketika dia masuh hidup. Dia mengangkat tongkatnya lagi. Selubung itu terbuka. Wajah itu tembus cahaya, pucat, seperti tenggelam, tapi hampir awet sempurna. Mereka meninggalkan kacamata di atas hidung bengkoknya: dia tertawa mengejek. Tangan Dumbledore terlipat diatas dadanya, dan di sana tongkat itu terbaring, tergenggam diantaranya, terkubur bersamanya. Apakah orang tua bodoh ini mengira marmer dan kematian dapat melindungi tongkat sihir itu? Apakah dia berpikir bahwa Penguasa Kegelapan akan takut mengganggu makamnya? Tangan yang seperti laba-laba itu menjangkau dan menarik tongkat sihir dari genggaman Dumbledore, dan ketika dia mengambilnya, semburan bunga api memancar dari ujungnya, berkelip di atas jasad pemiliknya yang lama, akhirnya siap untuk melayani tuannya yang baru.