XtGem Forum catalog
HARRY
POTTER
BAB 26 GRINGOTTS Rencana telah disusun, persiapan sudah lengkap; di kamar tidur yang paling kecil, sehelai rambut panjang dan kasar (dicabut dari sweater yang Hermione kenakan saat di Kediaman Malfoy) bergulung dalam botol kaca kecil di rak atas perapian. “Dan kau akan memakai tongkat aslinya,” kata Harry, mengangguk ke arah tongkat walnut, “jadi menurutku kau akan sangat meyakinkan.” Hermione tampak ketakutan seolah tongkat itu akan menyengat atau menggigit ketika dia mengambilnya. “Aku benci benda itu,” katanya pelan. “Aku benar-benar membencinya. Rasanya serba salah, tidak berfungsi dengan baik untukku…seperti ada sedikit bagian dari dirinya.” Mau tak mau Harry mengingat bagaimana dulu Hermione mengabaikan keengganannya terhadap tongkat blackthorn, ngotot kalau cuma khayalan Harry sajalah tongkat itu tidak berfungsi sebaik miliknya sendiri, menasehatinya untuk terus berlatih. Harry memilih untuk tidak membalas Hermione dengan nasehatnya sendiri, bagaimanapun, malam sebelum serangan mereka ke Gringotts bukanlah waktu yang tepat untuk berseberangan dengannya. “Tapi itu mungkin bisa membantumu mendalami karakter,” kata Ron, “pikirkan apa yang telah dilakukan tongkat itu!” “Justru itu maksudku!” kata Hermione. “Ini tongkat yang menyiksa ayah dan ibu Neville, dan siapa yang tahu ada berapa banyak lagi? Ini tongkat yang membunuh Sirius!” Harry tidak memikirkan itu sebelumnya: dia memandang tongkat itu dan diliputi keinginan kuat untuk mematahkan, memotongnya dengan pedang Gryffindor, yang bersandar di dinding sampingnya. “Aku rindu tongkatku,” ujar Hermione sedih. “Kuharap Tuan Ollivander akan membuatkan satu untukku juga.“ Tuan Ollivander telah mengirimkan satu tongkat baru untuk Luna pagi itu. Sekarang dia sedang berada di padang rumput belakang, menguji kemampuan tongkat itu di bawah sinar matahari sore. Dean, yang kehilangan tongkatnya di tangan para Perampas, memandang dengan muram. Harry memandang tongkat Hawthorn yang sebelumnya milik Draco Malfoy. Dia terkejut, tapi senang mengetahui bahwa tongkat itu berfungsi dengan baik untuknya, setidaknya sebaik tongkat Hermione. Mengingat kata-kata Ollivander tentang rahasia cara kerja tongkat, Harry merasa tahu apa masalah Hermione: Dia tidak memenangkan kesetiaan tongkat walnut dari Bellatrix pribadi. Pintu kamar terbuka dan Griphook masuk. Secara refleks, Harry meraih pangkal pedang dan menariknya mendekat, tapi segera menyesali tindakannya. Dia menyadari bahwa sang Goblin memperhatikan. Berusaha menutupi situasi yang tidak enak, dia berkata, “Kami baru saja memeriksa persiapan terakhir, Griphook. Kami sudah bilang Bill dan Fleur bahwa kita pergi besok dan kami juga berpesan bahwa mereka tak perlu bangun untuk melihat kita berangkat.” Mereka telah menegaskan poin ini, karena Hermione harus menjadi Bellatrix sebelum mereka pergi, dan semakin sedikit Bill dan Fleur tahu apa yang akan mereka lakukan, semakin baik. Mereka juga sudah menjelaskan bahwa kemungkinan besar mereka tidak akan kembali. Setelah kehilangan tenda tua Perkins pada malam para Perampas menangkap mereka, Bill telah meminjamkan tenda yang lain. Tenda itu sekarang terbungkus dalam tas manik-manik, yang, membuat Harry terkesan, telah diamankan Hermione dari para Perampas dengan gagasan sederhana yaitu menjejalkannya di bagian bawah kaos kakinya. Walaupun dia akan merindukan Bill, Fleur, Luna dan Dean, belum lagi kenyamanan rumah yang mereka nikmati selama beberapa minggu terakhir, Harry telah menunggu-nunggu saat untuk keluar dari keterbatasan di Pondok Kerang. Dia sudah capek terus-menerus berusaha memastikan bahwa mereka tidak dicuri-dengar, capek terkurung dalam kamar yang kecil dan gelap itu. Yang terpenting, dia ingin sekali terbebas dari Griphook. Akan tetapi, tepatnya bagaimana dan kapan mereka bakal terpisah dari sang Goblin tanpa menyerahkan pedang Gryffindor merupakan pertanyaan yang tidak bisa dijawab Harry. Tak mungkin memutuskan bagaimana cara mereka akan melakukannya, karena sang Goblin jarang sekali meninggalkan Harry, Ron dan Hermione bertiga saja lebih dari 5 menit: “Dia bisa memberi pelajaran pada ibuku,” keluh Ron, ketika jari-jari panjang sang Goblin terus-menerus muncul di daun pintu. Dengan peringatan Bill dalam otaknya, mau tak mau Harry mencurigai bahwa Griphook waspada terhadap kemungkinan adanya tipuan. Hermione sungguh-sungguh tidak menyetujui rencana pengkhianatan sehingga Harry menyerah dalam usaha meminta pendapatnya tentang cara terbaik bagaimana melakukan itu: Ron, menggunakan kesempatan bebas-Griphook yang jarang-jarang, memberi usul yang tidak lebih baik dari sekedar, “Kita cuma harus membawanya kabur, teman.” Harry sulit tidur malam itu. Berbaring lebih awal, Harry memikirkan apa yang dulu ia rasakan pada malam sebelum mereka menyusup ke Kementerian Sihir, dan teringat suatu tekad yang kuat, bahkan hampir-hampir perasaan gembira. Sekarang dia merasakan guncangan keraguan yang menggelisahkan dan mengganggu: dia tidak bisa membuang rasa takut bahwa semuanya akan kacau. Dia terus-menerus meyakinkan diri bawa rencana mereka sudah bagus, bahwa Griphook tahu apa yang mereka hadapi, bahwa mereka sudah mempersiapkan diri dengan baik menghadapi segala kesulitan yang mungkin terjadi, tapi dia masih juga merasa resah. Sesekali dia mendengar Ron bergerak, dan dia yakin Ron pun masih terjaga, tetapi mereka berbagi ruang keluarga dengan Dean, jadi Harry tidak berkata apa-apa. Sangat melegakan ketika tiba jam 6 pagi dan mereka bisa keluar dari kantong tidur, berpakaian dalam kondisi setengah-gelap lalu berjalan pelan menuju kebun, dimana seharusnya mereka bertemu Hermione dan Griphook. Fajar terasa dingin, tapi agak berangin mengingat ini bulan Mei. Harry mendongak menatap bintang-bintang yang berkilau pucat di langit gelap dan mendengar gemuruh ombak menyapu sisi-sisi tebing. Dia akan merindukan suara-suara itu. Tunas-tunas hijau kecil tumbuh dengan cepat menembus tanah merah di makam Dobby sekarang, dalam setahun gundukan tanah itu akan dipenuhi bunga-bunga. Batu putih dengan ukiran nama peri rumah itu mulai luntur dimakan cuaca. Dia menyadari bahwa mereka tidak mungkin mengistirahatkan Dobby di tempat yang lebih indah dari itu, tapi Harry merasa pedih memikirkan akan meninggalkannya di sana. Memandang makam, dia masih bertanya-tanya bagaimana si peri rumah tahu harus pergi kemana untuk menyelamatkannya. Tanpa sadar jarinya bergerak menyentuh kantong yang tergantung di lehernya, menyeluruh hingga dia bisa merasakan pecahan kaca yang tidak rata dimana ia merasa yakin telah melihat mata Dumbledore. Kemudian dia berputar ketika mendengar suara pintu dibuka. Bellatrix Lestrange berjalan melintasi padang rumput ke arah mereka, ditemani oleh Griphook. Sambil berjalan, dia melipat tas manik-manik kecil dan memasukkan ke saku bagian dalam jubah tua yang mereka ambil dari Grimmauld Place. Meskipun Harry tahu pasti kalau itu Hermione, dia tidak bisa menahan getaran kebencian. Bellatrix lebih tinggi daripada Harry, rambut hitam panjang berombak dipunggungnya, kelopak matanya yang berat tampak menghina ketika memandangnya, tapi lalu ia bicara, dan dia mendengar Hermione melalui suara Bellatrix yang dalam. “Rasanya menjijikkan, lebih parah dari akar Gurdy! Oke, Ron, kemarilah jadi aku bisa me....“ “Baik, tapi ingat, aku tak suka jenggot yang terlalu panjang.“ “Oh, demi Tuhan, ini bukan tentang tampil keren!“ “Bukan begitu, itu menghalangi jalanku! Tapi aku suka hidungku lebih kecil, cobalah seperti yang terakhir kau lakukan dulu.“ Hermione menghela nafas dan mulai bekerja, bergumam seiring nafasnya sembari mengubah beberapa aspek dari penampilan Ron. Dia telah menjadi seseorang yang benar-benar palsu, dan mereka mempercayakan aura kedengkian Bellatrix untuk melindunginya, sementara Harry dan Griphook tersembunyi dibawah jubah gaib. “Sudah,“ kata Hermione, “bagaimana penampilannya, Harry?“ Jelas tak mungkin mengenali Ron dibalik penyamarannya, hanya karena Harry benar-benar mengenalnya dengan baik sajalah ia bisa membedakan. Rambut Ron sekarang panjang dan berombak, jenggot dan kumisnya coklat lebat, wajahnya bersih tanpa bintik-bintik, hidungnya kecil dan lebar, alis matanya tebal. “Well, dia bukan tipeku, tapi dia akan berhasil,“ kata Harry. “Bisakah kita pergi?“ Mereka bertiga memandang sekilas ke arah Pondok Kerang, gelap dan sunyi di bawah bintang yang memudar, lalu memutar tubuh dan mulai berjalan menuju lokasi, di balik dinding garis batas, dimana mantra Fidelius berhenti bekerja, dan mereka bisa ber-disapparate. Setelah melewati gerbang, Griphook berkata. “Aku bisa naik sekarang, Harry Potter, kurasa?“ Harry berlutut dan sang Goblin memanjat punggungnya, tangannya bertaut di depan kerongkongan Harry. Dia tidak berat, tapi Harry tidak suka perasaannya terhadap si Goblin dan kekuatan mengejutkan eratnya pegangannya. Hermione menarik jubah gaib dari tas manik-maniknya dan menutupi keduanya. “Sempurna,“ katanya, berlutut untuk memeriksa kaki Harry, “Aku tidak bisa melihat apa-apa. Ayo pergi!“ Harry berputar di tempat, dengan Griphook di atas bahunya, sekuat mungkin berkonsentrasi ke Leaky Cauldron, penginapan yang merupakan pintu masuk ke Diagon Alley. Si Goblin berpegangan lebih erat ketika mereka bergerak memasuki kegelapan yang menekan, dan beberapa detik kemudan kaki Harry menapaki trotoar kemudian saat ia membuka matanya tampaklah jalan Charing Cross. Para muggle lewat dengan tergesa-gesa, dengan ekspresi setengah hati pagi hari, tanpa menyadari keberadaan penginapan kecil itu. Bar Leaky Cauldron nyaris kosong. Tom, pemilik penginapan yang bungkuk dan ompong, sedang mengelap gelas-gelas dibalik meja bar, sepasang penyihir bergumam mengobrol di pojok yang jauh sambil memandang sekilas pada Hermione kemudian menjauhkan diri kedalam kegelapan. “Madam Lestrange,” Tom bergumam, dan ketika Hermione berhenti sejenak dia menundukkan kepala dengan patuh. ”Selamat pagi,“ kata Hermione, dan ketika Harry bergerak cepat, masih menggendong Griphook di bawah jubah gaib, dia melihat Tom terkejut. ”Terlalu sopan,“ Harry berbisik di telinga Hermione ketika mereka melangkah keluar dari penginapan menuju halaman belakang yang kecil. ”Kau harus memperlakukan orang seolah mereka sampah.“ “Oke, oke!“ Hermione mengangkat tongkat Bellatrix dan mengetuk batu bata tertentu di dinding depan mereka. Batu bata langsung berputar: Tampak lubang di tengah-tengahnya, yang semakin melebar, akhirnya membentuk gerbang lengkung menuju jalan Cornblock sempit yang merupakan Diagon Alley. Masih sunyi, belum waktunya toko-toko buka, dan hampir tidak ada orang berbelanja. Jalan cornblock berliku-liku itu telah banyak berubah sekarang dari tempat berisik yang dikenal Harry bertahun-tahun yang lalu sebelum ia masuk Hogwarts. Lebih banyak lagi toko ditutup daripada sebelumnya, meski beberapa toko baru yang beraliran sihir hitam bermunculan sejak kunjungan terakhirnya. Wajah Harry sendiri memandangnya dari poster yang tertempel di kaca-kaca, semuanya dengan tulisan YANG TIDAK DIINGINKAN NOMOR SATU. Beberapa orang berpakaian compang-camping duduk meringkuk di depan pintu. Dia mendengar mereka mengemis kepada orang lewat, memohon uang emas, berusaha meyakinkan bahwa mereka benar-benar penyihir. Tampak pula seorang laki-laki dengan pembalut penuh darah yang menutupi matanya. Ketika mereka mulai melangkah menuju jalan cornblock, pengemis-pengemis itu memandang sekilas ke arah Hermione. Sepertinya mereka segera menghilang satu persatu, menutupi wajah dengan kerudung, dan kabur secepat mungkin. Hermione mengikuti mereka dengan pandangan mata yang aneh, hingga laki-laki dengan pembalut penuh darah tiba-tiba menghalangi jalannya. “Anak-anakku,“ dia berteriak sambil menunjuk Hermione. Suaranya pecah, bernada tinggi, kedengaran bingung. “Dimana anak-anakku?” Apa yang dia lakukan pada mereka? Kau tahu, kau tahu!” “Aku—aku benar-benar—,“ Hermione tergagap. Laki-laki itu sekonyong-konyong maju mendekatinya, dan berusaha mencekik lehernya. Lalu, bersamaan dengan suara keras dan semburan cahaya merah dia terlempar ke belakang, jatuh ke tanah tak sadarkan diri. Ron berdiri disana, tongkatnya masih teracung dan ekspresi tegang terlihat dibalik jenggotnya. Wajah-wajah muncul di balik kaca-kaca di sepanjang sisi jalan, sementara sekelompok kecil orang lewat yang kelihatannya-orang-kaya saling bertaut jubah dan mulai menderap langkah pelan, ingin sekali meninggalkan lokasi. Kunjungan mereka ke Diagon Alley kemungkinan tidak pernah lebih menarik perhatian daripada ini, sesaat Harry bertanya-tanya apakah sekarang sebaiknya pergi dan mencoba memikirkan rencana lain. Tetapi sebelum mereka bisa bergerak atau saling berkonsultasi, terdengar teriakan dari belakang. “Kenapa, Madam Lestrange?“ Harry berputar dan Griphook mengeratkan pegangannya di leher Harry. Seorang penyihir tinggi dan kurus dengan rambut abu-abu lebat dan hidung mancung yang tajam berjalan dengan langkah panjang kearah mereka. “Itu Travers,“ desis si Goblin di telinga Harry, tapi saat itu Harry tidak bisa berpikir siapa Travers itu. Hermione sudah menegakkan diri dan berkata dengan sikap menghina yang sebaik mungkin: “Dan apa maumu?” Travers berhenti berjalan, merasa terhina. “DiaDeath Eater juga!” desah Griphook, dan Harry berjalan menyamping perlahan untuk menyampaikan informasi itu ke telinga Hermione. “Aku hanya mencoba menyapa,” kata Travers dingin, “tapi kalau kehadiranku tidak diharapkan….” Harry mengenali suaranya sekarang: Travers adalah salah satuDeath Eater yang muncul dirumah Xenophilius. “Tidak, tidak apa-apa, Travers,” kata Hermione segera, berusaha menutupi kesalahannya. “Apa kabar?” “Well, kuakui aku terkejut melihatmu pergi keluar, Bellatrix.” “Oya? Kenapa?” tanya Hermione. “Well,” Travers berdehem, “kudengar Penghuni Kediaman Malfoy dikurung dirumah itu, setelah – ah….pelarian itu.” Harry berharap Hermione tidak gugup. Jika berita ini benar, dan Bellatrix seharusnya tidak muncul di hadapan publik…. “Pangeran Kegelapan memaafkan orang yang setia melayaninya di masa lalu,” kata Hermione meniru sikap menghina Bellatrix secara luar biasa. “Mungkin reputasimu tidak sebaik aku di matanya, Travers.” WalaupunDeath Eater itu tampak tersinggung, dia juga tampak tidak terlalu curiga. Dia memandang sekilas saja pada laki-laki yang baru saja dipingsankan Ron. “Apa yang menyinggungmu?” “Bukan apa-apa, takkan terjadi lagi,” kata Hermione dingin. “Orang-orang tanpa tongkat memang bisa jadi masalah,” kata Travers. “Jika mereka hanya mengemis aku tidak keberatan, tapi salah satu dari mereka benar-benar memintaku untuk membela perkaranya di Kementerian minggu lalu. “Aku penyihir Tuan, aku penyihir, ijinkanlah aku membuktikan kepada anda!” katanya sambil bercicit menirukan. “Seolah-olah aku akan memberinya tongkatku —tapi tongkat siapa,“ tanya Travers ingin tahu, “yang kau pakai sekarang Bellatrix? Kudengar punyamu sudah--” “Ini tongkatku,” kata Hermione dingin, memegang tongkat Bellatrix. “Entah gosip apa yang kaudengar, Travers, tapi sepertinya kau salah informasi.” Travers kelihatan kaget mendengarnya, dan dia menoleh menghadap Ron. “Siapa temanmu? Aku tidak mengenalnya.” “Ini Dragomir Despard,” kata Hermione; mereka telah memutuskan bahwa tokoh fiksi dari luar negeri adalah penyamaran yang paling aman untuk Ron. “Dia hanya bisa sedikit Bahasa Inggris, tapi dia menaruh simpati pada tujuan Pangeran Kegelapan. Dia berkunjung kemari dari Transilvania untuk melihat rezim baru kita.” ”Benarkah? Apa kabar Dragomir?“ ”“Abar baik,“ kata Ron, menjabat tangannya. Travers mengulurkan dua jari dan menjabat tangan Ron seakan takut mengotori dirinya sendiri. “Jadi apa yang membawamu dan teman –ah- yang bersimpati ke Diagon Alley sepagi ini?” Tanya Travers. “Aku perlu ke Gringotts,” kata Hermione. “Kebetulan, aku juga,” ujar Travers. “Emas, emas yang kotor! Kita tidak bisa hidup tanpanya, kuakui aku menyesalkan keharusan bergaul dengan rekan berjari panjang kita.” Harry merasa genggaman tangan Griphook mengencang sejenak di lehernya. “Silakan,” Travers mengisyaratkan Hermione untuk berjalan duluan. Hermione tak punya pilihan selain berjalan bersamanya dan menyusuri jalan berbatu yang berliku-liku menuju gedung Gringotts yang seputih salju berdiri menjulang diantara toko-toko kecil. Ron mengiringi di sampingnya, lalu Harry dan Griphook mengikuti. SeorangDeath Eater yang waspada adalah hal terakhir yang mereka butuhkan, dan yang paling parah adalah, dengan Travers berada di tempat yang ia yakini sebagai sisi Bellatrix, tak ada kesempatan bagi Harry untuk berkomunikasi dengan Hermione atau Ron. Dengan segera mereka sampai di kaki tangga pualam menuju pintu perunggu besar. Sebagaimana yang telah diperingatkan Griphook, goblin-goblin berseragam yang biasanya mengapit pintu masuk telah digantikan oleh 2 penyihir, memegang batang logam emas yang panjang dan kurus. “Ah, Detektor Kejujuran,” tunjuk Travers dibuat-buat, “Sangat kejam—tapi efektif!” Dan dia melangkah naik tangga, mengangguk kepada kedua penyihir di sebelah kanan dan kiri, yang mengangkat batang emas dan menggerakkannya keatas dan bawah memeriksa seluruh tubuh Travers. Detektor itu –Harry tahu- mendeteksi mantra dan barang-barang tersembunyi. Menyadari waktunya hanya beberapa detik, Harry mengarahkan tongkat Draco bergantian kearah kedua penjaga da bergumam “Confundo” dua kali. Tanpa disadari oleh Travers, yang memandang pintu perunggu di aula dalam, kedua penjaga tersentak ketika mantra mengenai mereka. Rambut hitam panjang Hermine berombak di punggungnya ketika ia menaiki tangga. “Sebentar, Madam!” kata si penjaga, mengangkat Detektor. “Tapi kau baru saja melakukannya!“ kata Hermione dalam suara memerintah dan arogan milik Bellatrix. Travers memandang sekeliling, alisnya terangkat. Si penjaga bingung. Dia memandang Detektor emas kurus itu lalu memandang rekannya, yang berkata dengan suara agak linglung. “Yeah, kau sudah memeriksa mereka, Marius.” Hermione kembali berjalan, Ron di sampingnya, Harry dan Griphook yang tidak tampak, berlari di belakangnya, Harry memandang sekilas ke belakang saat mereka melalui ambang pintu. Kedua penyihir sedang menggosok-gosok kepalanya. Dua goblin berdiri di depan pintu dalam, yang terbuat dari perak dan membawa tulisan peringatan tentang hukuman mengerikan bagi calon pencuri. Harry melihatnya, dan tiba-tiba ingatan setajam-pisau muncul di kepalanya: Berdiri tepat di titik ini pada hari dia berusia 11 tahun, ulang tahun terhebat dalam hidupnya, dan Hagrid berdiri di sampingnya berujar, “Seperti kataku, m’reka gila klo’ coba m’rampoknya.” Gringotts tampaknya tempat yang aneh hari itu, tempat penyimpanan sihir berisi segunung emas yang tak pernah ia tahu telah dimilikinya, dan tak pernah sekejap pun dia bermimpi akan kembali untuk mencuri…. Tapi dalam hitungan detik mereka sudah berdiri di aula bank berlantai pualam yang sangat luas itu. Meja kasir panjang dijaga oleh seorang Goblin yang duduk diatas kursi tak berlengan yang sedang melayani pelanggan pertama hari itu. Hermione, Ron dan Travers menghadapi goblin tua yang sedang memeriksa sebuah koin emas tebal melalui sebuah kacamata. Hermione membiarkan Travers untuk melangkah lebih dulu dengan alasan yang dibuat-buat, yaitu menjelaskan bagian-bagian ruangan kepada Ron. Goblin itu melontarkan koin yang dipegangnya ke samping, berkata tidak kepada siapa-siapa, “Leprechaun,” dan lalu menyambut Travers, yang memberikan sebuah kunci emas kecil, diperiksa, kemudian dikembalikan lagi padanya. Hermione melangkah ke depan. “Madam Lestrange!” kata sang Goblin, jelas sekali terkejut. “Astaga! Apa—apa yang bisa saya bantu hari ini?“ “Aku ingin memasuki lemari besiku,” kata Hermione. Sang Goblin tua tampak sedikit terlonjak. Harry memandang sekilas sekeliling. Tak hanya Travers yang tidak bergerak, mengawasi, tapi beberapa goblin yang lain pun mengangkat kepala dari pekerjaannya, memandang Hermione. “Anda punya….identitas?” tanya sang goblin. “Identitas? Aku—aku belum pernah dimintai identitas sebelumnya!” kata Hermione. “Mereka tahu!” bisik Griphook di telinga Harry, “Mereka pasti telah diperingatkan akan kemungkinan adanya penipu!” “Tongkat anda akan membuktikannya, Madam,” ucap si goblin. Ia mengangkat tangan yang gemetar, dan tiba-tiba dalam diri Harry muncul kesadaran yang mengkuatirkan, ia menduga bahwa para goblin Gringotts pastilah telah diperingatkan bahwa tongkat Bellatrix telah dicuri. “Lakukan sesuatu, lakukan sesuatu!” bisik Griphook di telinga Harry. “Kutukan Imperius!” Harry mengangkat tongkat hawthorn dari dalam jubah, mengarahkan ke goblin tua, dan berbisik, untuk yang pertama kali dalam hidupnya, “Imperio!” Sebuah sensasi aneh menjalari lengan Harry, perasaan pedih, kehangatan yang sepertinya mengalir dari pikirannya, turun ke otot dan pembuluh darah, menghubungkannya ke tongkat dan kutukan yang baru saja dilancarkannya. Goblin itu mengambil tongkat Bellatrix, memeriksanya dari dekat, lalu berkata, “Ah, anda telah membuat tongkat baru, Madam Lestrange!” “Apa?” ujar Hermione. “Tidak, tidak, itu milikku—“ “Tongkat baru?” tanya Travers, mendekat ke meja lagi; para goblin di sekitarnya masih mengawasi. “Tapi bagaimana kau melakukannya? Siapa pembuat tongkat yang kau pakai?” Harry bertindak tanpa berpikir. Mengarahkan tongkat ke Travers, ia bergumam, “Imperio!” sekali lagi. “Oya, aku mengerti,” kata Travers, memandang tongkat Bellatrix, “Ya, sangat tampan, dan berfungsi dengan baik? Aku selalu berpikir tongkat membutuhkan sedikit latihan, bukan begitu?” Hermione tampak benar-benar bingung, tapi mengingat kemungkinan bantuan dari Harry, dia menerima saja perubahan peristiwa yang ganjil itu tanpa berkomentar. Goblin di belakang meja menepuk tangan dan goblin yang lebih muda datang mendekat. “Aku perlu Logam Gerincing,“ ia berkata pada si goblin muda, yang bergerak cepat dan kembali lagi sesaat kemudian membawa tas kulit yang tampaknya penuh logam-logam gemerincing dan memberikannya pada sang senior. ”Bagus, bagus! Jadi, jika anda berkenan mengikuti saya, Madam Lestrange,“ kata goblin tua, melompat turun dari kursi tak berlengan dan menghilang dari pandangan, ”Saya akan mengantar anda ke lemari besi.“ Dia muncul di ujung meja, berjalan dengan riang kearah mereka, isi tas kulit masih gemerincing. Travers masih berdiri dengan mulut ternganga lebar. Ron memperhatikan fenomena ganjil ini dan memandang Travers dengan bingung. “Tunggu—Bogrod!“ Goblin yang lain datang tergesa-gesa menuju meja. “Kita punya instruksi,“ katanya sambil menghormat kearah Hermione. “Maafkan saya, Madam, tapi ada perintah khusus berkaitan dengan lemari besi keluarga Lestrange.“ Dia segera berbisik ke telinga Bogrod, tapi si goblin di bawah kutukan imperius itu menggeleng. “Aku mengerti instruksi itu, tapi Madam Lestrange perlu ke lemari besinya...keluarga yang amat tua...klien lama...sebelah sini, silakan...“ Dan, masih gemerincing, dia bergegas menuju salah satu pintu di aula. Harry memandang Travers lagi, yang masih terpaku di tempat, kelihatan bengong yang tidak wajar, dan mengambil keputusan. Dengan sentilan tongkatnya ia membuat Travers bergerak bersama mereka, berjalan dengan taat di belakang, sesampai mereka di pintu dan memasuki jalan berbatu kasar dibaliknya, yang diterangi obor menyala. “Kita dalam masalah, mereka curiga,“ kata Harry ketika pintu berdebam di belakangnya dan ia menarik jubah gaib. Griphook melompat dari bahunya: baik Travers maupun Bogrod tak menunjukkan keterkejutan pada pemunculan Harry Potter di tengah-tengah mereka secara tiba-tiba. “Mereka dibawah kutukan Imperius,“ dia menambahkan, sebagai respon atas kebingungan Hermione dan Ron terhadap Travers dan Bogrod, yang keduanya berdiri dengan hampa. “Aku tak tahu apakah telah melakukannya dengan cukup kuat, aku tak yakin...“ Dan ingatan lain tiba-tiba muncul di kepalanya, Bellatrix Lestrange yang asli berteriak kepadanya saat pertama kali ia mencoba menggunakan Kutukan-Tak-Termaafkan: “Kau harus benar-benar menginginkannya, Potter!“ “Apa yang harus kita lakukan?“ tanya Ron. ”Haruskah kita keluar sekarang, selagi masih mungkin?“ “Kalau bisa,“ kata Hermione, menoleh ke belakang kearah pintu menuju aula utama, dimana tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi. “Kita sudah sejauh ini, menurutku kita teruskan,“ usul Harry. “Bagus!“ ujar Griphook. “Jadi kita perlu Bogrod untuk mengendalikan kereta; aku tidak lagi mempunyai otoritas itu, tapi takkan ada tempat untuk penyihir.“ Harry mengarahkan tongkat pada Travers.“ “Imperio!“ Penyihir itu berputar dan mulai melangkah cepat sepanjang jalan gelap. “Apa yang kau perintahkan padanya?” ”Bersembunyi,” kata Harry lalu mengarahkan tongkatnya pada Bogrod, yang bersiul untuk memanggil kereta kecil yang datang menggelinding sepanjang jalur di depan mereka, muncul dari kegelapan. Harry yakin telah mendengar teriakan di aula utama belakang mereka ketika mereka semua memanjat dengan susah payah ke dalam kereta, Bogrod di depan Griphook, sementara Harry, Ron dan Hermione berjejal di belakang. Dengan satu sentakan kereta mulai berjalan, semakin menambah kecepatan: Mereka melewati Travers dengan cepat, yang menggeliat menjejalkan diri kedalam retakan di dinding, lalu kereta mulai berputar dan berbelok menuju jalan-jalan labirin, terus-menerus miring ke bawah. Harry tak bisa mendengar apapun selain bunyi derak kereta yang melaju di atas jalur: Rambutnya melambai di belakangnya ketika mereka berbelok dengan tiba-tiba melewati stalagtit, semakin jauh kedalam bumi, tapi dia masih juga terus-menerus mencuri pandang ke belakang. Mereka mungkin telah meninggalkan jejak besar di belakang, semakin dia memikirkannya, semakin konyol rasanya penyamaran Hermione sebagai Bellatrix, membawa-bawa tongkatnya, ketika paraDeath Eater tahu siapa yang mencurinya— Mereka masuk lebih dalam daripada yang Harry pernah masuki; mereka melewati tikungan tajam dengan cepat, dan melihat di depan mereka, dalam hitungan detik, air terjun deras menghujani jalur kereta. Harry mendengar Griphook berteriak, “Tidak!” tapi kereta tidak berhenti. Mereka terus bergerak dengan kecepatan tinggi memasukinya. Air memenuhi mata dan mulut Harry: Dia tidak bisa melihat maupun bernafas. Lalu, dengan goncangan tak karuan, kereta itu terbalik dan mereka semua terlempar keluar. Harry mendengar kereta menabrak dinding dan hancur berkeping-keping, mendengar Hermione meneriakkan sesuatu, dan merasakan dirinya sendiri meluncur kembali ke tanah, seakan tak berbobot, mendarat di lantai berbatu tanpa rasa sakit. “M—Mantra Pemantul,” Hermione berbicara dengan gagap, Ron menariknya hingga berdiri, tapi dengan ngeri Harry menyadari bahwa ia bukan lagi Bellatrix; sebagai gantinya muncul Hermione dengan jubah terlalu besar, basah kuyup dan benar-benar telah menjadi dirinya sendiri; Ron sudah berambut merah dan tanpa jenggot lagi. Mereka menyadarinya ketika saling memandang, merasakan wajah mereka sendiri. “Penghambat Pencuri!” seru Griphook, berdiri dengan susah payah dan memandang kembali air bah diatas rel kereta, yang, Harry sadari sekarang, ternyata tidak sekedar air. “Itu membersihkan semua mantra dan sihir tersembunyi! Mereka tahu ada penyusup di Gringotts, mereka telah memulai pertahanan melawan kita!” Harry melihat Hermione sedang memeriksa tas manik-maniknya, dan ia sendiri segera memasukkan tangan ke dalam jaket untuk memastikan ia tak kehilangan jubah gaib. Lalu ia menoleh dan melihat Bogrod menggoyang-goyang kepalanya: Penghambat Pencuri tampaknya telah mengangkat kutukan imperius dari dirinya. “Kita butuh dia,” kata Griphook, “kita tidak bisa masuk lemari besi tanpa goblin Gringotts. Dan kita perlu Logam Gerincing.” “Imperio!” Harry memantrai lagi; suaranya bergema di jalan berbatu dan merasakan lagi sensasi keras yang mengalir dari pikirannya ke tongkat. Bogrod patuh lagi pada kemauannya, ekspresi bingungnya berubah menjadi sikap acuh tak acuh yang sopan, Ron segera mengambilkan tas kulit berisi benda-benda logam. “Harry, kurasa aku mendengar orang datang,” kata Hermione dan dia mengarahkan tongkat Bellatrix pada air terjun dan berteriak, “Protego!”. Mereka melihat Mantra Pelindung membelah aliran air sihir itu saat mengguyur jalan. “Ide yang bagus,” kata Harry, “Tunjukkan jalannya, Griphook!” “Bagaimana caranya kita keluar lagi?” tanya Ron saat mereka bergegas berjalan kaki ke dalam kegelapan mengikuti Griphook, Bogrod terengah-engah di belakang mereka seperti anjing tua. “Kita pikirkan nanti saja kalau sudah saatnya,” kata Harry. Dia mencoba mendengarkan: Ia merasa mendengar sesuatu bergerincing dan bergerak dekat di sekitar mereka. “Griphook, apa masih jauh?” “Tak jauh, Harry Potter, tak jauh….” Mereka berbelok di pojok dan melihat sesuatu yang sebenarnya Harry sudah bersiap diri, tapi masih juga mereka mendadak berhenti. Seekor naga raksasa terikat rantai ke lantai di tanah depan mereka, menghalangi jalan masuk menuju empat atau lima lemari besi terdalam di tempat itu. Sisik makhluk itu berubah pucat dan pecah-pecah selama pengurungan yang begitu lama di bawah tanah, matanya memucat merah jambu; kedua kaki belakangnya dipasangi semacam manset berat yang dihubungkan rantai dengan pasak sangat besar yang terpancang jauh ke dalam lantai berbatu. Sayapnya yang besar, terlipat di dekat tubuhnya, akan memenuhi ruangan jika ia merentangkannya, dan ketika ia menolehkan kepalanya ke arah mereka, ia berkoar dengan suara ribut yang membuat batu-batu bergetar, lalu ia membuka mulut, dan menyemburkan api yang membuat mereka semua berlari kembali ke jalan naik. “Ia setengah buta,” kata Griphook terengah-engah, “tapi itu justru membuatnya lebih buas. Bagaimanapun kita diharuskan mengendalikannya. Ia telah mengetahui apa yang menantinya ketika Logam Gerincing datang. Berikan padaku Logamnya.“ Ron memberikan tas kepada Griphook, dan goblin itu mengambil beberapa alat-alat logam kecil yang jika digerakkan menimbulkan suara gemerincing yang panjang seperti miniatur palu pada landasan besi tempa. Griphook membagi-bagikannya, Bogrod menerimanya dengan patuh. “Kalian tahu apa yang harus dilakukan,“ Griphook berkata pada Harry, Ron dan Hermione. “Mungkin akan terasa sakit ketika mendengar suaranya, tapi ia akan mundur dan Bogrod harus meletakkan tangannya pada pintu lemari besi.“ Mereka bergerak maju di sekitar tikungan lagi, menggoyangkan kunci-kunci dan suaranya bergema di dinding berbatu, semakin besar sampai-sampai isi tengkorak Harry seperti ikut bergetar bersama ruangan. Naga itu meraung lagi, lalu mundur. Harry bisa melihatnya gemetar, dan saat mereka mendekat dia melihat bekas luka karena sayatan yang jelek di wajah naga itu dan menduga ia pasti diajar untuk takut pada pedang panas ketika mendengar suara Logam Gerincing. “Suruh dia menekan tangannya pada pintu,“ Griphook mengingatkan Harry, yang segera mengarahkan tongkatnya lagi pada Bogrod. Goblin tua itu menurut, menekan telapak tangannya pada pintu kayu, dan pintu lemari besi meleleh menampilkan ruangan seperti gua yang penuh berjejalan koin-koin emas dan piala-piala, baju besi perak, kulit makhluk-makhluk aneh –beberapa dengan duri-duri panjang, lainnya dengan sayap-sayap rontok—ramuan dalam botol berkilau dan sebuah tengkorak yang masih memakai mahkota. “Cepat, cari!“ kata Harry saat mereka bergegas masuk ke dalamnya. Dia telah menggambarkan bentuk Piala Hufflepuff kepada Ron dan Hermione, tapi jika itu yang lain, Horcrux tak diketahui yang terdapat di ruangan ini, ia tak tahu seperti apa bentuknya. Bagaimanapun Harry hampir tak punya waktu untuk memandang sekeliling, sebelum suara bising menutup dari belakang mereka: Pintu telah muncul kembali, mengunci mereka di dalam lemari besi dan mereka terjebak dalam kegelapan total. “Jangan kuatir, Bogrod akan mengeluarkan kita!“ kata Griphook ketika Ron berteriak terkejut. “Nyalakan tongkat kalian, bisa kan? Dan cepatlah, waktu kita hanya sedikit!“ “Lumos!“ Harry menyinari sekitar lemari besi dengan tongkatnya yang menyala. Cahayanya menerpa perhiasan yang berkilau; dia melihat pedang Gryffindor palsu tergeletak diatas rak tinggi diantara rantai yang campur aduk. Ron dan Hermione juga menyalakan tongkat mereka, dan sekarang sedang memeriksa tumpukan benda-benda di sekitar mereka. “Harry, apakah ini --? Aahh!“ Hermione menjerit kesakitan, Harry langsung mengarahkan tongkat kepadanya dan melihat piala permata berguling dari pegangannya. Tapi saat piala itu jatuh, ia membelah, berubah menjadi hujan piala, sehingga sedetik kemudan, dengan bunyi gemerincing yang berisik, lantai tertutup piala-piala identik di semua penjuru, yang asli tak mungkin dibedakan lagi. “Piala itu membakarku!“ rintih Hermione, mengibas-ngibaskan tangan yang melepuh. “Mereka pasti menambahkan Kutukan Pengganda dan Pembakar,“ kata Griphook. “Semua yang kau sentuh akan terbakar dan menjadi banyak, tapi tiruannya tidak berharga—jika kalian meneruskan memegang harta, kalian akhirnya akan hancur menuju kematian karena tertimbun emas yang terus bertambah.“ “Oke, jangan menyentuh apapun!“ kata Harry putus asa, tapi bahkan saat ia mengatakannya, Ron tak sengaja menyentuh salah satu piala dengan kakinya, dan duapuluh piala lagi muncul ketika Ron melompat di tempat, sebagian sepatunya terbakar karena bersentuhan dengan logam panas. “Tetap disitu, jangan bergerak!“ kata Hermione sambil mencengkeram Ron. “Cukup lihat saja sekeliling!“ kata Harry. “Ingat piala itu kecil dan emas, ada lambang terukir di atasnya, dua pegangan –lihat juga barangkali kalian menemukan lambang Ravenclaw di suatu tempat, elang—.“ Mereka mengarahkan tongkat ke setiap sudut dan celah, berputar di tempat dengan hati-hati. Sangat tidak mungkin tidak menyentuh apapun: Harry menambahkan segunung galleon palsu bersama piala-piala, dan sekarang sulit sekali mendapatkan tempat untuk kaki mereka, dan emas berkilau menyala karena panas, sehingga lemari besi itu terasa seperti tungku. Nyala tongkat Harry melewati pelindung dan helm buatan-goblin tergeletak dirak yang tergantung di langit-langit; ia mengangkat sinar semakin tinggi, hingga akhirnya ia menemukan sebuah benda yang membuat jantungnya berdegup kencang dan tangannya berkeringat. “Itu dia, di atas sana!“ Ron dan Hermioe mengarahkan tongkat mereka kesana juga, sehingga piala emas kecil itu berkilau diterpa sinar-tiga-penjuru: piala yang merupakan milik Helga Hufflepuff, yang berpindah menjadi milik Hebzibah Smith, dari siapa Tom Riddle telah mencurinya. ”Dan bagaimana kita bisa naik ke sana tanpa menyentuh apapun?” tanya Ron. “Accio piala!” raung Hermione, yang karena putus asa telah melupakan kata-kata Griphook saat sesi perencanaan. “Tak ada gunanya, tak ada gunanya!” teriak Griphook. “Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Harry, memandang dengan marah kepada si Goblin, “Jika kau ingin pedang itu, Griphook, kau harus membantu kami lebih dari –tunggu! Bisakah aku memegang benda dengan pedang itu? Hermione, berikan pedangnya!“ Hermione meraba ke dalam jubahnya, menarik keluar tas manik-manik, menggeledah sebentar, lalu memindahkan pedang berkilau. Harry menangkap pangkal pedang yang berwarna merah tua itu dan menyentuhkan ujung mata pedangnya ke sebuah botol besar perak di dekatnya, yang ternyata tidak bertambah banyak. “Kalau aku bisa menusukkan pedang melalui pegangan piala –tapi bagaimana aku bisa naik kesana?“ Rak tempat piala itu bertengger sangat jauh dari jangkauan mereka, bahkan juga Ron, yang tubuhnya paling tinggi. Panas dari harta karun sihir itu semakin membumbung ke angkasa. Keringat membanjiri wajah dan punggung Harry saat dia berusaha memikirkan cara untuk naik menuju piala; lalu dia mendengar sang naga meraung di sisi lain pintu lemari besi, dan suara gemerincing terdengar semakin keras. Mereka benar-benar terjebak sekarang: Tak ada jalan lain kecuali lewat pintu, dan sekelompok goblin tampaknya semakin mendekat di balik pintu. Harry memandang Ron dan Hermione dan terlihat ekspresi ngeri di wajah keduanya. “Hermione,“ panggil Harry, ketika suara gemerincing semakin dekat. “Aku harus naik kesana, kita harus membebaskan diri dari ini—“ Hermione mengangkat tongkatnya, mengarahkannya pada Harry dan berbisik, “Levicorpus.” Tergantung terbalik di pergelangan kakinya, Harry terangkat ke udara, menabrak setelan baju besi dan tiruannya menyembur keluar seprti tubuh-tubuh putih panas, berjejalan mengisi ruangan. Dengan teriakan kesakitan, Ron, Hermione dan kedua goblin terdorong kesamping mengenai benda-benda lain, yang juga mulai berduplikasi. Setengah terkubur dalam gunungan arus harta yang panas memerah, mereka berjuang dan berteriak, Harry menusukkan pedang melalui pegangan piala Hufflepuff, mengaitkannya ke mata pedang. “Impervius!” jerit Hermione berusaha melindungi dirinya, Ron dan kedua goblin dari logam yang membara. Lalu jeritan yang sangat mengerikan membuat Harry memandang ke bawah: Ron dan Hermione tenggelam sebatas pinggang, berjuang mencegah Bogrod agar tidak terkubur dalam gunungan harta, tapi Griphook sudah tidak kelihatan; hanya sedikit ujung jari panjangnya yang terlihat. Harry menangkap jari Griphook dan menariknya. Goblin yang melepuh itu muncul sedikit demi sedikit, melolong. “Liberatocorpus!” teriak Harry, dan dengan dentuman keras ia dan Griphook mendarat di permukaan harta yang terus membengkak, lalu pedang Gryffindor lepas dari tangan Harry. “Ambil itu!” Harry berteriak, melawan rasa sakit di kulitnya karena panas logam, ketika Griphook memanjat ke bahunya lagi, berusaha menghindar dari benda-benda panas kemerahan yang terus-menerus bertambah. “Dimana pedangnya? Ada pialanya!” Suara gemerincing di balik pintu semkin memekakkan telinga –sudah terlambat--. “Disana!” Griphooklah yang melihatnya dan dia jugalah yang sekonyong-konyong bergerak cepat, dengan segera Harry menyadari bahwa goblin itu tak pernah mengharapkan mereka memegang janjinya. Satu tangan berpegang kuat pada segenggam rambut Harry, untuk memastikan dia tidak jatuh ke dalam lautan emas membara, Griphook menangkap gagang pedang dan mengayunkannya tinggi di atas jangkauan Harry. Piala emas kecil, yang pegangannya ditusuk mata pedang itu, terlempar ke udara. Goblin itu duduk mengangkangi Harry, Harry menukik dan menangkap piala, dan walaupun ia bisa merasakannya membakar dagingnya, ia tak mau melepaskan, bahkan ketika tak terhitung banyaknya piala Hufflepuff menyembur dari genggamannya, membanjirinya ketika pintu masuk lemari besi terbuka lagi dan ia merasakan dirinya terlincir tak terkendali diatas longsoran emas dan perak menyala-menyala yang terus membengkak dan mendorong dia, Ron dan Hermione keluar ruangan. Hampir tak menyadari rasa sakit yang membakar tubuhnya, dan masih bergerak bersama duplikat harta yang terus membengkak, Harry memasukkan piala ke dalam sakunya, meraih-raih untuk mendapatkan kembali pedang Gryffindor, tapi Griphook telah menghilang. Meluncur dari bahu Harry saat ia masih sempat, Griphook berlari untuk berlindung diantara goblin yang mengelilinginya, mengayunkan pedang dan berteriak, “Pencuri! Pencur! Tolong! Pencuri!” Dia menghilang di tengah kerumunan yang mendekat, yang semuanya memegang pisau belati dan yang langsung bersedia menerimanya tanpa bertanya-tanya. Tergelincir di logam panas, Harry berusaha untuk berdiri dan menyadari bahwa satu-satunya jalan keluar adalah melewati mereka. “Stupefy!” ia berteriak, Ron dan Hermione bergabung: kilatan cahaya merah berkelebatan diantara kerumunan goblin, beberapa tumbang tapi lainnya bertahan, dan Harry melihat beberapa penyihir berjaga di sekitar tikungan. Sang naga yang terikat meraung, dan api menyembur ke arah goblin; para penyihir melarikan diri, menunduk, kembali menuju jalan masuk, dan sebuah inspirasi, atau kegilaan, muncul di kepala Harry. Mengarahkan tongkatnya pada manset tebal yang mengikat makhluk itu ke lantai, dia berteriak, “Relashio!” Manset itu pecah dengan suara keras. “Sebelah sini!” teriak Harry, dan masih melancarkan Mantra Pemingsan ke arah goblin yang mendekat, dia berlari ke arah naga buta. “Harry –Harry—apa yang kau lakukan?” jerit Hermione. “Naik sini, ayo, cepat—“ Naga itu tak menyadari kebebasannya: Kaki Harry merasakan lekukan kaki belakang naga dan dia memanjat ke punggungnya. Sisiknya sekeras baja; makhluk itu bahkan seperti tidak merasakan kehadirannya. Harry merentangkan lengan; Hermione menaikkan tubuhnya ke atas; Ron memanjat di belakangnya, dan sedetik kemudian sang naga menyadari ia tak lagi terikat. Dengan satu raungan dia berdiri di kaki belakangnya: Harry menekan lututnya, berpegangan seerat mungkin pada sisik yang menonjol ketika sayap-sayapnya membuka, menyapu ke samping goblin-goblin yang menjerit-jerit, bagaikan bowling, dan membumbung tinggi ke udara. Harry, Ron dan Hermione, menunduk di punggungya, bergesekan dengan langit-langit ketika makhluk itu meluncur ke arah jalan yang terbuka, sementara goblin-goblin yang mengejar melempari pisau belati yang hanya memantul di sisi-sisi tubuhnya. “Kita takkan pernah bisa keluar, ini terlalu besar!” jerit Hermione, tapi sang naga membuka mulutnya dan menyemburkan api lagi, meledakkan terowongan, yang lantai dan langit-langitnya retak dan ambruk. Dengan sedikit kekuatan, naga itu mencakar-cakar dan berusaha mencari jalan keluar. Mata Harry terpejam karena panas dan debu: Telinganya pekak oleh bunyi pecahan batu dan raungan naga, dia hanya bisa berpegangan pada punggung makhluk itu, berharap bisa melepaskan diri pada saat yang tepat, lalu ia mendengar Hermione berteriak, “Defodio!” Dia sedang berusaha membantu sang naga memperbesar jalan keluar, menjebol langit-langit saat makhluk itu berjuang naik menuju udara segar, jauh dari goblin yang berteriak-teriak dan gemerincing: Harry dan Ron menirunya, meledakkan langit-langit dengan lebih banyak mantra pencungkil. Mereka melewati danau bawah tanah, dan akhirnya makhluk besar yang merangkak dan menggeram itu tampaknya merasakan kebebasan dan ruang gerak, dan di belakang mereka jalan yang tadi dilalui penuh dengan sampah, ekor berduri, reruntuhan batu, pecahan stalagtit raksasa, dan suara gemerincing goblin tampak semakin menjauh, sementara di depan, api sang naga memastikan gerak mereka selanjutnya lancar— Dan akhirnya, kombinasi antara usaha mantra-mantra mereka dan kekuatan brutal sang naga, mereka telah meledakkan jalan keluar menuju aula pualam. Goblin dan penyihir menjerit-jerit dan berlarian mencari perlindungan, dan akhirnya sang naga mempunyai ruang untuk merentangkan sayapnya: Mengangkat kepala bertanduk ke arah udara dingin luar yang bisa dirasakannya melalui jalan masuk, ia melambung, dan dengan Harry, Ron dan Hermione masih berpegangan di punggungnya, makhluk itu mendobrak jalan melalui pintu logam, meninggalkannya terkait dan tergantung di engselnya, ketika ia terbang terhuyung-huyung melewati Diagon Alley dan melambung tinggi ke angkasa.