Disneyland 1972 Love the old s
H
A
R
R
Y
POTTER
BAB 27 TEMPAT PERSEMBUNYIAN TERAKHIR (The Final Hiding Place) Tak ada cara untuk mengendalikan sang naga; naga itu tak dapat melihat kemana ia pergi, dan Harry tahu bahwa jika naga itu berbelok dengan tajam atau berputar di udara, maka tidak mungkin bagi mereka untuk berpegangan ke punggungnya yang lebar. Meskipun demikian, saat mereka terbang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, London terbentang di bawah mereka seperti peta berwarna abu-abu dan hijau, perasaan gembira Harry yang meluap adalah suatu bentuk syukur atas sebuah pelarian yang nampak tidak mungkin. Ia membungkukkan badannya di atas leher naga itu, berpegang erat pada sisik-sisik metalik, dan angin sepoi-sepoi yang sejuk terasa menenangkan di kulitnya yang terbakar dan melepuh, sayap naga itu berkepak di udara seperti putaran kincir angin. Di belakangnya, apakah karena takut atau gembira Harry tidak tahu, namun Ron tak henti-hentinya menyerukan sumpah-serapah sekuat yang ia bisa, dan Hermione kelihatan menangis tersedu-sedu. Setelah lima menit atau lebih, Harry kehilangan sebagian rasa takut bahwa naga itu akan melemparkan mereka dari punggungnya, karena naga itu kelihatannya tidak bermaksud apapun kecuali pergi sejauh mungkin dari penjara bawah tanah; walaupun begitu pertanyaan tentang bagaimana dan kapan mereka akan turun masih terasa agak menakutkan. Harry tidak tahu berapa lama seekor naga dapat terbang tanpa mendarat, atau bagaimana naga ini, yang nyaris tak dapat melihat, dapat menemukan tempat yang baik untuk mendarat. Ia melihat keadaan sekitar terus-menerus, dan membayangkan bahwa ia dapat merasakan tempat ia duduk menusuknya. Berapa lama lagi waktu yang tersisa sebelum Voldemort mengetahui bahwa mereka telah menerobos masuk ke brankas penyimpanan milik Lestrange? Seberapa cepat para goblin dari Gringgots melaporkannya kepada Bellatrix? Seberapa cepat mereka menyadari apa yang telah diambil? Lalu, kapan mereka akan menyadari bahwa piala emas telah hilang? Voldemort akan tahu, pada akhirnya, bahwa mereka sedang berburu Horcrux. Sang naga sepertinya menginginkan udara yang lebih sejuk dan segar. Ia terbang terus-menerus, hingga mereka terbang melalui gumpalan awan yang dingin, dan Harry tak bisa lagi melihat titik-titik kecil beraneka warna yang sebenarnya adalah mobil yang keluar-masuk ibu kota di bawah mereka. Mereka terus terbang, di atas daerah pedesaan yang tampak seperti sebidang kain penuh tambalan berwarna hijau dan coklat, melintasi jalan-jalan dan sungai-sungai yang meliuk-liuk melalui pemandangan seperti potongan-potongan pita, baik yang pudar maupun mengkilap. “Menurutmu, apa yang dicarinya?” Ron berteriak saat mereka terbang lebih jauh dan lebih jauh lagi ke utara. “Entahlah,” Harry berteriak kembali kepada Ron. Tangannya terasa kebas karena dingin, tetapi ia tak berani untuk mencoba melepaskan genggamannya. Harry membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka melintasi garis pantai di bawah mereka, jika sang naga menuju ke laut lepas. Belum lagi dengan keadaan naga itu yang kelaparan dan kehausan. Kapan, Harry bertanya-tanya dalam hati, makhluk ini terakhir kali makan? Tentu saja ia akan membutuhkan makanan tak lama lagi? Dan bagaimana jika, pada suatu saat, ia menyadari bahwa ada tiga orang manusia yang dapat dimakan sedang duduk di punggungnya? Matahari mulai tergelincir di langit, yang berubah warna menjadi nila; dan naga itu masih terbang, kota besar dan kecil di bawah mereka melintas cepat, sejenak tampak dan sejenak tak terlihat lagi, bayangan naga yang sangat besar itu meluncur di atas bumi bagaikan awan hitam raksasa. Semua bagian tubuh Harry terasa sakit karena usahanya untuk berpegangan pada punggung naga itu. “Apakah ini hanya perasaanku,” teriak Ron setelah beberapa saat dalam kesunyian, “atau kita memang kehilangan ketinggian?” Harry menoleh ke bawah dan melihat pegunungan dan danau yang hijau, sedikit berwarna tembaga saat matahari terbenam. Pemandangannya kelihatan lebih besar dan jelas ketika ia melihatnya melalui bagian samping tubuh sang naga, dan Harry membayangkan apakah sang naga telah meramalkan adanya air segar dengan kilasan-kilasan pantulan cahaya matahari. Naga itu terbang lebih rendah dan lebih rendah lagi, berputar-putar membentuk lingkaran yang sangat besar, semakin mendekat ke atas permukaan sebuah danau kecil. “Menurutku kita harus melompat begitu naga ini terbang cukup rendah!” Harry berkata pada yang lain, “Langsung ke dalam air sebelum ia menyadari kita di sini!” Mereka menyetujuinya, Hermione sedikit pucat, sekarang Harry dapat melihat perut bagian bawah naga yang lebar dan berwarna kuning berdesir di atas permukaan air. “SEKARANG!” Ia merayap di atas punggung naga dan terjun ke danau dengan kaki terlebih dahulu; dengan jarak yang ternyata lebih jauh daripada yang ia perkirakan dan ia menghantam air dengan sangat keras, jatuh bagaikan sebuah batu ke dalam dunia yang sangat dingin, hijau, dan dipenuhi alang-alang. Ia berenang ke arah permukaan dan muncul, terengah-engah, untuk melihat riak membulat yang sangat besar, di tempat Ron dan Hermione jatuh. Naga itu kelihatannya tidak menyadari apapun, ia telah pergi sejauh lima puluh kaki, menukik rendah di atas danau untuk mengambil air dengan moncongnya yang berluka. Ketika Ron dan Hermione muncul, gemetar dan terengah-engah, dari kedalaman danau, naga itu terbang lagi, sayapnya mengepak sangat keras, dan akhirnya mendarat di tepi danau yang jauh. Harry, Ron, dan Hermione berenang menuju ke pantai yang berlawanan dengan sang naga. Danaunya tak nampak dalam. Tidak berapa lama kemudian mereka tidak lagi berenang, akan tetapi lebih mirip bergumul dengan alang-alang dan lumpur, namun pada akhirnya mereka berhasil naik ke rumput yang licin dengan keadaan basah kuyup dan kelelahan. Hermione jatuh, batuk-batuk dan ketakutan. Meskipun Harry dapat berbaring dan tidur dengan gembira, ia berdiri terhuyung-huyung di atas kakinya, mengeluarkan tongkat, dan mulai memasang mantra pelindung seperti biasa di sekitar mereka. Ketika ia telah selesai, ia bergabung dengan yang lain. Itu adalah kali pertama Harry melihat wajah kedua temannya sejak mereka melarikan diri dari brankas penyimpanan Gringgots. Wajah mereka berdua merah terbakar di mana-mana, dan pakaiannya terbakar pula di beberapa tempat. Mereka bergerenyit kesakitan ketika mereka mengoleskan sari dittany ke atas luka-luka mereka yang banyak. Hermione memberikan botol sari dittany tersebut kepada Harry, lalu ia mengambil tiga botol jus labu yang dibawanya dari Pondok Kerang dan jubah yang bersih, dan kering untuk mereka bertiga. Mereka berganti jubah, kemudian meneguk habis jus labu itu. "Yah, berita baiknya," kata Ron akhirnya, yang sedang duduk sambil melihat kulit di tangannya tumbuh kembali,"kita mendapatkan Horcrux itu. Berita buruknya -" "-- tidak ada pedang," potong Harry dengan gigi bergeretak, sambil meneteskan sari dittany melalui lubang bekas terbakar pada celana jeansnya ke atas luka bakar yang besar di bawahnya. "Tidak ada pedang," ulang Ron. "Pengkhianat kecil tukang tipu itu..." Harry menarik Horcrux itu keluar dari saku jaketnya yang basah, yang baru ia lepas dan tergeletak di atas rumput di depan mereka. Benda itu berkilau ditimpa cahaya matahari, dan menarik perhatian mereka sembari mereka meneguk botol-botol jus labu mereka. "Setidaknya kita tak bisa memakainya kali ini, benda itu pasti akan kelihatan aneh jika bergantung di leher kita," kata Ron, seraya menyeka mulut dengan punggung tangannya. Hermione melihat ke seberang danau, ke tepi yang jauh dari mereka di mana naga itu masih minum. “Apakah kau memikirkan apa yang akan terjadi pada naga itu nanti?” ia bertanya, “Apakah ia akan baik-baik saja?’ “Kau mulai kedengaran seperti Hagrid,” kata Ron, “Ia seekor naga, Hermione, ia bisa menjaga dirinya sendiri. Kau seharusnya lebih mengkhawatirkan tentang kita.” “Apa maksudmu?” “Yah, aku tak tahu bagaimana menjelaskan hal ini padamu,” kata Ron “Tapi kurasa mereka mungkin sudah tahu kalau kita mengacau di Gringgots.” Mereka bertiga mulai tertawa, dan begitu mulai, sulit untuk berhenti. Tulang rusuk Harry terasa sakit, ia merasa pusing karena kelaparan, namun ia kembali berbaring di rumput, di bawah langit yang mulai kemerahan dan terus tertawa hingga kerongkongannya terasa kering. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?' kata Hermione akhirnya, berusaha untuk kembali serius. "Ia akan tahu kan? Kau-Tahu-Siapa akan mengetahui bahwa kita tahu mengenai Horcrux-Horcrux nya!" “Mungkin mereka akan terlalu takut untuk mengatakan padanya!” kata Ron penuh harap, “Mungkin mereka akan menutup-nutupi --” Langit, bau air danau, dan suara Ron, lenyap. Sakit membelah kepala Harry seperti sebuah tebasan pedang. Ia sedang berdiri di dalam ruangan bercahaya temaram, dan dikelilingi oleh penyihir-penyihir yang membentuk setengah lingkaran, dan di lantai tepat di kakinya sedang berlutut seorang makhluk kecil, yang sedang gemetar. "Apa kau bilang tadi?" Suaranya tinggi dan dingin, namun amarah dan rasa takut membara dalam dirinya. Satu-satunya hal yang ditakutinya - tapi ini tidak mungkin benar, ia tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi... Goblin itu gemetaran, tidak berani menatap mata yang merah di atasnya. “Katakan lagi!” bisik Voldemort. “Katakan lagi!” “T-Tuanku,”goblin itu tergagap, matanya yang hitam terbelalak ketakutan, “T-Tuanku… Kami m-mencoba untuk me-menghentikan mereka… Pa-para penyamar itu, Tuanku… menerobos – menerobos masuk ke dalam – ke dalam brankas penyimpanan milik Lestrange…” “Penyamar? Penyamar apa? Aku kira Gringgots mempunyai cara membongkar penyamaran dan penipuan? Siapa mereka?” “Mereka adalah… mereka adalah… b-bocah P-Potter dan k-kedua orang temannya…” “Dan apa yang mereka ambil?” katanya, suaranya meninggi, ia ketakutan luar biasa, “Katakan padaku! Apa yang telah mereka ambil?” “Sebuah.. Sebuah p-piala emas k-kecil T-Tuanku…” Teriakan amarah dan pengkhianatan meninggalkan raganya bak diteriakkan bukan olehnya. Ia telah dibuat gila, dan kebingungan, itu tidak mungkin benar, itu tidak mungkin, tak ada yang tahu mengenai hal ini. Bagaimana mungkin anak itu mengetahui rahasianya? Tongkat Elder terayun membelah udara dan mengeluarkan sinar hijau yang melintasi ruangan; goblin yang berlutut itu mati tergelimpang; para penyihir yang menyaksikan dari depannya menyebar, ketakutan. Bellatrix dan Lucius Malfoy melemparkan goblin yang berada di belakang mereka dalam usaha mereka menuju pintu, berulang-ulang kali tongkatnya teracung, dan semua goblin yang tersisa dibunuh karena membawa berita tentang hilangnya piala emas itu - Sendirian di tengah-tengah mayat para goblin itu ia menghentak-hentakkan kakinya, dan bayangan-bayangan tersebut menghampirinya: harta bendanya, pelindungnya, jangkarnya menuju keabadian - buku harian itu telah hancur dan piala itu telah dicuri. Bagaimana jika, bagaimana jika, anak itu tahu tentang yang lainnya? Tahukah ia, sudahkah ia bertindak, apakah ia telah menemukan Horcrux lainnya? Apakah Dumbledore dalang dari semua ini? Dumbledore yang selalu mencurigainya; Dumbledore, yang telah mati karena perintahnya; Dumbledore, yang tongkatnya menjadi miliknya sekarang, yang juga menjangkaunya dari balik kematian, melalui anak itu, anak itu -. Akan tetapi jika anak itu benar-benar telah menghancurkan salah satu dari Horcruxnya, pastinya ia, Lord Voldemort, akan mengetahuinya, akan merasakannya? Ia, penyihir terhebat di dunia; ia, penyihir terkuat; ia, pembunuh Dumbledore dan banyak orang-orang tak dikenal dan tak berharga lainnya. Bagaimana mungkin Lord Voldemort tidak tahu, jika ia, ia sendiri, penyihir yang paling penting dan berharga, telah diserang, dirusakkan? Memang benar, ia tidak merasakan apa-apa pada saat buku harian itu dihancurkan, tetapi ia berpikir itu karena saat itu ia tidak mempunyai tubuh untuk merasakan, tidak lebih dari hantu... Tidak, pasti, yang lainnya aman… Horcrux yang lain pasti masih utuh... Tetapi ia harus tahu, ia harus memastikannya... Ia melangkah meninggalkan ruangan, menendang mayat goblin ketika ia melewatinya, dan bayangan-bayangan yang samar melintas di otaknya yang terasa mendidih: danau, pondok, dan Hogwarts - Sebuah pikiran yang menenangkan amarahnya muncul tiba-tiba. Bagaimana mungkin anak itu mengetahui bahwa ia menyembunyikan cincin di pondok Gaunt? Tak ada seorang pun yang tahu kalau ia punya hubungan dengan keluarga Gaunt, ia telah menyembunyikan hubungan tersebut, pembunuhan itu tak pernah dilacak sampai pada dirinya. Cincin itu, pasti, masih aman. Dan bagaimana mungkin anak itu, atau orang lain, mengetahui tentang gua itu atau menembus perlindungannya? Pemikiran tentang kalung itu telah dicuri tak terlintas di benaknya… Dan mengenai yang di Hogwarts: Hanya ia yang tahu di mana ia menyimpan Horcrux itu, karena ia lah yang menyusun rahasia tempat itu... Dan masih ada Nagini, yang harus selalu berada di dekatnya mulai saat ini, tak akan disuruh untuk melakukan apa-apa lagi, selalu berada di bawah pengawasannya … Tetapi untuk memastikannya, untuk benar-benar memastikannya, ia harus kembali ke masing-masing tempat persembunyiannya, ia harus menggandakan perlindungan di sekitar Horcrux-Horcrux nya... Suatu pekerjaan yang harus ia lakukan sendiri, seperti saat ia mencari Tongkat Elder... Tapi yang mana yang harus ia kunjungi terlebih dahulu, yang mana yang berada dalam bahaya yang terbesar? Sebuah kekhawatiran lama terlintas di benaknya. Dumbledore mengetahui nama tengahnya... Dumbledore pasti mengetahui hubungannya dengan para anggota keluarga Gaunt itu... Pondok itu mungkin yang paling berpotensi untuk ditemukan oleh mereka, kesanalah ia harus pergi terlebih dahulu... Danau itu, pasti tidak mungkin... meskipun ada sedikit kemungkinan Dumbledore mengetahui beberapa kelakuan buruknya di masa lalu, melalui panti asuhan itu. Dan Hogwarts.. meskipun begitu, ia yakin kalau Horcrux-nya yang disembunyikan di Hogwarts aman; tidak mungkin bagi Potter untuk masuk ke Hogsmeade tanpa ketahuan, jadi biarkanlah yang di Hogwarts. Meskipun demikian, ada baiknya untuk memperingati Snape mengenai kemungkinan anak itu akan mencoba masuk ke kastil. … Untuk mengatakan kepada Snape mengapa anak itu mungkin kembali, tentu adalah ide bodoh; ia telah membuat kesalahan yang sangat fatal dengan mempercayai Bellatrix dan Malfoy. Bukankah kebodohan dan kecerobohan mereka telah membuktikan betapa tidak bijaksananya untuk mempercayakan rahasianya kepada orang lain? Ia akan pergi ke pondok Gaunt terlebih dahulu, dan membawa Nagini bersamanya. Ia tak akan berpisah dari ular itu lagi... dan ia meninggalkan ruangan itu, melalui aula, dan menuju ke kebun yang gelap di mana terdapat air mancur yang sedang memancurkan air; ia memanggil Nagini dengan Parseltongue dan ular itu merayap mengikutinya seperti sebuah bayangan yang panjang… Mata Harry mendadak terbuka saat ia kembali ke dirinya sendiri. Ia sedang berbaring di tepi danau sambil menatap matahari yang sedang terbenam, Ron dan Hermione menatap ke arahnya. Menilai dari wajah khawatir mereka, dan bekas lukanya yang masih sakit, penglihatan yang mendadak ke dalam pikiran Voldemort tadi sepertinya diketahui oleh mereka. Ia bangkit dengan susah payah, gemetar, merasa terkejut karena mendapati pakaian dan kulitnya masih basah, dan melihat piala itu tergeletak di rumput di dekatnya, dan danau, berwarna biru keemasan di saat matahari tenggelam. "Ia tahu." Suaranya sendiri terdengar aneh dan rendah setelah tadi ia mendengar teriakan tinggi milik Voldemort keluar dari mulutnya. "Ia mengetahuinya dan akan segera memeriksa Horcrux lainnya, dan yang terakhir," ia telah berdiri, "ada di Hogwarts. Aku tahu. Aku tahu." "Apa?" Ron menatap heran ke arah Harry; Hermione duduk tegak, kelihatan khawatir. “Tapi apa yang kau lihat tadi? Bagaimana kau tahu?” "Aku melihat ia mengetahui tentang piala itu, Aku - aku berada di dalam kepalanya, Ia" - Harry mengingat tentang pembunuhan itu - "Ia benar-benar marah, dan juga takut, ia tidak mengerti bagaimana kita tahu, dan sekarang ia sedang memeriksa apakah Horcrux lainnya aman, cincin itu terlebih dahulu. Ia mengira kalau yang di Hogwarts adalah yang paling aman, karena ada Snape di sana, dan akan sangat sulit bagi kita untuk bisa masuk ke sana tanpa diketahui orang lain. Aku rasa ia akan memeriksa yang di Hogwarts belakangan, tapi ia masih bisa ke sana dalam beberapa jam – " "Apakah kau melihat di bagian mana dari Hogwarts benda itu berada?" tanya Ron, yang sekarang juga berusaha berdiri. “Tidak, ia berkonsentrasi untuk memberi peringatan kepada Snape, ia tidak memikirkan di mana tepatnya Horcrux itu berada - ” "Tunggu, tunggu!" jerit Hermione ketika Ron menyambar Horcrux itu dan Harry mengambil Jubah Gaib lagi. "Kita tidak bisa pergi begitu saja, kita belum mempunyai rencana, kita harus - " "Kita harus pergi," kata Harry dengan suara keras. Ia sangat ingin tidur di dalam tenda baru mereka, tetapi itu tidak mungkin sekarang, "Dapatkah kau bayangkan apa yang akan ia lakukan ketika ia menyadari bahwa cincin dan liontin itu telah hilang? Bagaimana jika ia memindahkan Horcrux yang berada di Hogwarts karena menganggap tempat itu tidak cukup aman? "Tapi bagaimana cara kita masuk ke sana?" "Kita akan pergi ke Hogsmeade," kata Harry, "dan mencoba melakukan sesuatu ketika kita sudah melihat perlindungan seperti apa yang dilakukan oleh para DE di sekolah. Masuk ke bawah Jubah, Hermione, aku ingin kita tetap bersama sekarang." “Tapi kita tidak benar-benar cukup –“ “Hari sudah gelap,tak akan ada yang dapat melihat kaki kita.” Suara kepakan sayap yang sangat besar menggema dari seberang danau yang gelap. Naga itu sudah puas minum dan kini akan terbang lagi. Mereka berhenti sesaat dari kesibukannya untuk memperhatikan naga itu terbang meninggi, hingga menembus awan yang hitam dan menghilang di balik pegunungan. Lalu Hermione berjalan menuju ke arah kedua orang temannya dan berdiri di tengah-tengah, Harry menarik Jubah Gaib sejauh yang ia bisa, dan mereka pun berputar di titik itu bersama-sama berjalan menuju kegelapan.
Log in