H
A
R
R
Y
POTTER
"RON!" desah Harry, merayap ke jendela dan men- dorongnya ke atas, agar mereka bisa bicara lewat jeruji. "Ron, bagaimana kau—apa i...?"
Harry ternganga ketika sadar sepenuhnya apa yang dilihatnya. Ron menjulurkan tubuhnya dari jendela belakang mobil tua berwarna hijau toska, yang di- parkir di tengah udara.Fred dan George, kakak kembar- nya, nyengir kepada Harry dari tempat duduk depan.
"Baik-baik saja, Harry?"
"Apa yang terjadi?" tanya Ron. "Kenapa kau tidak membalas surat-suratku? Sudah dua belas kali kuminta kau datang, kemudian Dad pulang dan bilang kau mendapat peringatan resmi gara-gara menggunakan sihir di depan Muggle..."
"Bukan aku—dan bagaimana dia tahu?"
"Dia kerja di Kementerian Sihir," kata Ron. "Kau kan tahu kita dilarang menggunakan sihir di luar sekolah..."
"Aneh juga kau ngomong begitu,". kata Harry, me- mandang mobil yang melayang itu.
"Oh, ini tidak masuk hitungan," kata Ron. "Kami cuma pinjam. Ini punya Dad, bukan kami yang me- nyihirnya. Tetapi menyihir di depan Muggle, di tempat kau tinggal..."
"Sudah kubilang itu bukan aku—tapi perlu waktu lama untuk menjelaskannya sekarang. Bisakah kau- katakan kepada mereka di Hogwarts bahwa keluarga Dursley mengurungku dan tidak mengizinkanku kem- bali, dan jelas aku tidak bisa menyihir diriku keluar kamar, karena Kementerian Sihir nanti mengira itu kedua kalinya aku menyihir dalam waktu tiga hari, jadi..."
"Berhenti ngoceh," kata Ron. "Kami datang untuk membawamu pulang bersama kami."
"Tapi kalian juga tidak bisa menyihirku bebas..."
"Tidak perlu," kata Ron, mengedikkan kepalanya ke arah tempat duduk depan sambil menyeringai. "Kau lupa siapa yang bersamaku."
"Ikat ini di sekeliling jeruji-jeruji itu," kata Fred, melempar ujung seuntai tambang kepada Harry.
"Kalau keluarga Dursley bangun, mati aku," kata Harry, ketika dia mengikatkan tambang erat-erat ke satu jeruji sementara Fred menekan pedal gas kuat- kuat.
"Jangan khawatir," kata Fred. "Sekarang kau mundur."
Derum mobil semakin keras, dan mendadak, dengan bunyi berkelontangan, jeruji-jeruji itu berhasil dicabut dari jendela sewaktu Fred meluncurkan mobil ke atas—Harry berlari kembali ke jendela dan melihat jeruji itu bergelantungan kira-kira semeter dari tanah. Terengah-engah, Ron menariknya ke dalam mobil. Harry mendengarkan dengan cemas, tetapi tak ter- dengar suara dari kamar tidur keluarga Dursley.
Ketika jeruji sudah aman di tempat duduk belakang bersama Ron, Fred memundurkan mobil sedekat mungkin ke jendela Harry.
"Masuk," kata Ron.
"Tetapi semua keperluan Hogwarts-ku... tongkat- ku... sapuku..."
"Di mana?"
"Dikunci di lemari di bawah tangga, dan aku tidak bisa keluar dari kamar ini..."
"Tak jadi soal," kata George dari tempat duduk depan. "Minggir, Harry."
Fred dan George memanjat hati-hati lewat jendela, masuk ke kamar Harry. Harry kagum sekali melihat George mengeluarkan jepit rambut biasa dari sakunya dan mulai mengotak-atik kunci pintu.
"Banyak penyihir menganggap mempelajari trik Muggle semacam ini buang-buang waktu," kata Fred, "tapi menurut kami ini kecakapan yang layak di- pelajari, walaupun agak lambat."
Terdengar bunyi klik pelan dan pintu terbuka.
"Nah—kami akan mengambil kopermu. Ambil apa saja yang kauperlukan dari kamarmu dan ulurkan pada Ron," bisik George.
"Awas, anak tangga yang paling bawah berderit," Harry balik berbisik, ketika si kembar menghilang di puncak tangga yang gelap.
Harry bergerak gesit di kamarnya, mengumpulkan barang-barangnya dan menyerahkannya kepada Ron. Kemudian dia membantu Fred dan George meng- gotong kopernya ke atas. Harry mendengar Paman Vernon terbatuk.
Akhirnya, terengah-engah, mereka tiba di puncak tangga, lalu membawa koper itu ke jendela kamar. Fred memanjat kembali ke dalam mobil untuk menarik koper bersama Ron, sementara Harry dan George mendorong dari kamar. Senti demi senti koper itu bergerak melewati jendela.
Paman Vernon terbatuk lagi.
"Sedikit lagi," sengal Fred, yang menarik dari dalam mobil. "Dorong keras-keras...."
Harry dan George mendorong koper itu dengan bahu dan koper itu pun meluncur dari jendela ke .tempat duduk belakang mobil.
"Oke, kita berangkat," bisik George.
Tetapi ketika Harry memanjat ambang jendela, ter- dengar jerit nyaring di belakangnya, diikuti gelegar suara Paman Vernon.
"BURUNG HANTU SIALAN!"
"Aku lupa Hedwig!"
Harry berlari kembali ke seberang kamar ketika lampu di atas tangga loteng menyala. Dia menyambar sangkar Hedwig, berlari ke jendela, dan menyerahkan- nya kepada Ron. Dia sedang memanjat lemari lacinya ketika Paman Vernon menggedor pintu yang sudah tak terkunci—dan pintu berdebam terbuka.
Sedetik Paman Vernon berdiri terpaku di depan pintu, kemudian dia melenguh seperti banteng terluka dan melesat mengejar Harry, menyambar pergelangan kakinya.
Ron, Fred, dan George meraih lengan Harry dan menarik sekuat tenaga.
"Petunia!" raung Paman Vernon. "Dia kabur! DIA KABUR!"
Weasley bersaudara menyentak keras sekali dan kaki Harry terlepas dari cengkeraman Paman Vernon. Begitu Harry sudah di dalam mobil dan membanting pintunya menutup, Ron berteriak, "Tancap, Fred!" dan mobil itu tiba-tiba saja meluncur menuju bulan.
Harry tak bisa mempercayainya—dia bebas. Dia menurunkan kaca jendela mobil, angin malam me- ngibarkan rambutnya. Dia memandang atap rumah- rumah di Privet Drive yang semakin menjauh. Paman Vernon, Bibi Petunia, dan Dudley, ketiganya menatap terpana dari jendela kamar Harry.
"Sampai musim panas tahun depan!" seru Harry.
Weasley bersaudara terbahak dan Harry bersandar kembali ke tempat duduknya, nyengir lebar sekali.
"Keluarkan Hedwig," katanya kepada Ron. "Dia bisa terbang mengikuti kita. Sudah lama sekali dia tak punya kesempatan merentangkan sayapnya."
George menyerahkan jepit rambut kepada Ron dan sesaat kemudian Hedwig sudah meluncur riang gem- bira dari jendela mobil, lalu melayang-layang meng- ikuti mereka seperti hantu.
"Jadi—bagaimana ceritanya, Harry?" kata Ron tak sabar. "Apa yang terjadi?"
Harry menceritakan kepada mereka semua tentang Dobby, peringatan yang diberikannya kepada Harry, dan musibah puding violet. Terjadi kesunyian yang panjang setelah Harry mengakhiri ceritanya. Mereka kaget.
"Sangat mencurigakan," kata Fred akhirnya.
"Jelas mengada-ada," George menyetujui. "Jadi dia bahkan tidak mau memberitahu siapa yang me- rencanakan semua ini?"
"Kurasa dia tak bisa," kata Harry. "Sudah kukatakan, setiap kali nyaris buka rahasia, dia langsung mem- bentur-benturkan kepalanya ke dinding."
Harry melihat Fred dan George berpandangan.
"Kalian mengira dia bohong kepadaku?" kata Harry.
"Yah," kata Fred, "coba pikirkan—peri-rumah punya kekuatan gaib sendiri, tetapi mereka biasanya tidak bisa menggunakannya tanpa izin tuan mereka. Kurasa si Dobby itu sengaja dikirim untuk mencegahmu kem- bali ke Hogwarts. Ada yang mau mempermainkanmu. Apa di sekolah ada yang dendam padamu?"
"Ada," Harry dan Ron langsung menjawab ber- samaan.
"Draco Malfoy," Harry menjelaskan. "Dia membenci- ku."
"Draco Malfoy?" kata George, menoleh. "Bukan anak Lucius Malfoy, kan?"
"Mestinya. Itu bukan nama yang sangat umum, kan?" kata Harry. "Kenapa?"
"Aku dengar Dad bicara tentang dia," kata George. "Dia pendukung besar Kau-Tahu-Siapa."
"Dan waktu Kau-Tahu-Siapa menghilang," kata Fred,menoleh memandang Harry, "Lucius Malfoy kembali, katanya dia tidak bermaksud melakukan semua itu. Omong kosong—Dad berpendapat dia orang dekat Kau-Tahu-Siapa."
Harry tak pernah mendengar desas-desus tentang keluarga Malfoy sebelumnya, dan ini sama sekali tidak mengejutkannya. Kalau dibandingkan dengan Malfoy, Dudley Dursley tampak seperti anak yang baik, bijak- sana, dan penuh perasaan.
"Aku tak tahu apakah keluarga Malfoy punya peri- rumah...," kata Harry.
"Siapa pun pemiliknya, tentulah keluarga penyihir yang sudah turun-temurun dan kaya raya," kata Fred.
"Yeah, Mum ingin sekali kami punya peri-rumah untuk menyetrika," kata George. "Tapi yang kami punya hanyalah hantu konyol di loteng dan jembalang yang berkeliaran di kebun. Peri-rumah adanya di rumah-rumah besar, kastil, dan tempat-tempat seperti itu. Kau tak akan menemukannya di rumah kami...."
Harry diam. Melihat fakta bahwa Draco Malfoy biasanya memiliki segala sesuatu yang paling baik, keluarganya pastilah bergelimang uang sihir. Dia bisa membayangkan Malfoy berkeliaran di rumah besar. Mengirim pelayan rumah untuk mencegah Harry kem- bali ke Hogwarts kelihatannya juga jenis hal yang akan dilakukan Malfoy. Bodohkah Harry menanggapi Dobby secara serius?
"Tapi aku senang kami datang mengambilmu," kata Ron. "Aku cemas sekali ketika kau tidak membalas satu pun suratku. Mulanya kukira Errol yang salah..."
"Siapa Errol?"
"Burung hantu kami. Dia sudah tua sekali. Bukan untuk pertama kalinya dia pingsan waktu mengantar surat. Jadi kemudian kucoba meminjam Hermes..."
"Siapa?"
"Burung hantu yang Mum dan Dad belikan untuk Percy ketika dia diangkat jadi Prefek," kata Fred dari tempat duduk depan.
"Tapi Percy tak mau meminjamkannya padaku," kata Ron. "Katanya dia sendiri memerlukannya."
"Tingkah Percy aneh sekali sepanjang musim panas ini," kata George, dahinya berkerut. "Dia mengirim banyak surat dan melewatkan banyak waktu mengu- rung diri dalam kamarnya... Maksudku, berapa kali sih kita perlu menggosok lencana Prefek? Kau menyetir terlalu ke barat, Fred," katanya menambahkan, me- nunjuk kompas di dasbor. Fred memutar roda kemudi.
"Apakah ayah kalian tahu kalian membawa mobil ini?" tanya Harry, sudah menduga jawabannya.
"Eh, tidak," kata Ron, "dia harus bekerja malam ini. Mudah-mudahan kita bisa mengembalikannya ke garasi sebelum Mum menyadari kita menerbang- kannya."
"Apa sih pekerjaan ayah kalian di Kementerian Sihir?"
"Dia bekerja di departemen paling membosankan," kata Ron. "Kantor Penyalahgunaan Barang-barang Muggle."
"Apa?"
"Segala sesuatu yang ada hubungannya dengan menyihir barang-barang buatan Muggle. Soalnya siapa tahu barang itu nantinya kembali ke toko atau rumah Muggle. Seperti tahun lalu, ada penyihir tua wanita meninggal dan peralatan minum tehnya dijual ke toko barang antik. Ada Muggle perempuan yang mem- belinya, membawanya pulang, dan menjamu teman- nya dengan peralatan ini. Benar-benar kacau-balau— selama berminggu-minggu Dad harus kerja lembur."
"Apa yang terjadi?"
"Teko tehnya ngamuk dan menyemburkan teh men- didih ke seluruh ruangan, dan seorang laki-laki harus dibawa ke rumah sakit dengan penjepit gula menjepit hidungnya. Dad panik. Cuma ada dia dan satu pe- nyihir tua bernama Perkins di kantor. Mereka harus menggunakan Jimat Memori dan segala macam man- tra lainnya untuk menutupi peristiwa ini..."
"Tetapi ayahmu... mobil ini..."
Fred tertawa. "Yeah, Dad tergila-gila pada segala sesuatu yang ada hubungannya dengan Muggle. Gu- dang kami penuh dengan barang-barang Muggle. Dia membongkarnya, memantrainya, dan merakitnya kem- bali. Kalau dia merazia rumah kami sendiri, dia pasti harus langsung menangkap dirinya sendiri. Mum sam- pai kesal."
"Itu jalan utamanya," kata George menyipitkan mata, memandang ke bawah melalui kaca depan. "Sepuluh menit lagi kita sampai... untunglah, sudah mulai terang...."
Semburat pucat kemerahan sudah mulai tampak di ufuk timur.
Fred menurunkan mobilnya dan Harry melihat petak-petak ladang dan gerumbul-gerumbul pohon yang gelap.
"Kita sudah hampir sampai di tepi desa," kata George. "Ottery St Catchpole..."
Mobil terbang itu semakin lama semakin rendah. Tepi lingkaran matahari yang merah jingga sekarang berkilau di antara pepohonan.
"Pendaratan!" kata Fred, ketika dengan entakan kecil mereka menyentuh tanah. Mereka mendarat di sebelah garasi yang hampir roboh di halaman kecil itu, dan Harry untuk pertama kalinya melihat rumah Ron.
Tampaknya dulunya rumah ini kandang babi besar, tetapi kamar-kamar ekstra sudah ditambahkan di sana- sini sampai rumah ini menjadi beberapa tingkat dan miring sekali, sehingga seolah rumah ini masih ber- tahan berdiri karena disihir (yang, Harry mengingat- kan dirinya, mungkin memang benar). Empat atau lima cerobong asap bertengger di atas atap merahnya. Papan miring yang ditancapkan di tanah dekat pintu masuk bertulisan "The Burrow"—Liang. Di sekeliling pintu depan bertebaran sepatu bot dan kuali yang sudah sangat berkarat. Beberapa ayam cokelat gemuk sedang mematuk-matuk di halaman.
"Tidak seberapa," kata Ron.
"Ini hebat," kata Harry riang, teringat Privet Drive. Mereka turun dari mobil.
"Nah, kita ke atas diam-diam," kata Fred, "dan tunggu sampai Mum memanggil kita untuk sarapan. Kemudian, Ron, kau turun sambil bilang, 'Mum, coba lihat siapa yang muncul semalam!' Mum akan senang sekali melihat Harry, dan tak seorang pun perlu tahu kita menerbangkan mobil."
"Betul," kata Ron. "Ayo, Harry, aku tidur di..."
Wajah Ron berubah pucat, matanya terpaku ke rumah. Yang lain segera berbalik.
Mrs Weasley berjalan tegap menyeberangi halaman, membuat ayam-ayam menyebar. Untuk wanita pen- dek, gemuk, berwajah ramah, mengherankan sekali betapa miripnya dia dengan harimau bergigi pedang sekarang.
"Ah," kata Fred.
"Oh," kata George.
Mrs Weasley berhenti di depan mereka, tangannya di pinggul, memandang bergantian wajah-wajah ber- salah itu. Dia memakai celemek berbunga-bunga de- ngan tongkat mencuat keluar dari sakunya.
"Jadi," katanya.
"Pagi, Mum," kata George, dengan suara yang di- anggapnya riang membujuk.
"Tahukah kalian betapa cemasnya aku?" kata Mrs Weasley dalam bisikan maut.
"Maaf, Mum, tapi soalnya, kami harus..."
Ketiga anak Mrs Weasley lebih tinggi daripadanya, tetapi mereka mengerut ketika kemarahannya meledak.
"Tempat tidur kosong! Tak ada pesan! Mobil lenyap... bisa tabrakan... gila rasanya aku saking cemasnya... apa kalian pedulil... belum pernah, seumur hidupku... tunggu sampai ayah kalian pulang, kami tak pernah dapat kesulitan begini dari Bill atau Charlie atau Percy..."
"Prefek Percy yang sempurna," gumam Fred.
"KAU SEHARUSNYA MENCONTOH PERCY!" teriak Mrs Weasley, menusukkan jari ke dada Fred. "Kau bisa mati, kau bisa kelihatan kau bisa membuat ayahmu kehilangan pekerjaannya..."
Kemarahan Mrs Weasley rasanya berlangsung ber- jam-jam. Dia berteriak-teriak sampai serak, sebelum menoleh pada Harry, yang mundur menjauh.
"Aku senang sekali bertemu kau, Nak," katanya. "Mari masuk dan sarapan."
Mrs Weasley berbalik dan berjalan kembali ke dalam rumah, sedangkan Harry—setelah dengan gugup me- lirik Ron, yang mengangguk membesarkan hatinya— mengikutinya.
Dapurnya kecil dan agak penuh sesak. Ada meja kayu dan kursi-kursi di tengahnya dan Harry duduk di tepi tempat duduknya, memandang berkeliling. Dia belum pernah berada dalam rumah penyihir.
Jam di dinding di depannya cuma punya satu
jarum dan sama sekali tak ada angkanya. Mengitari
tepinya ada tulisan-tulisan seperti "Waktu membuat
teh", "Waktu memberi makan ayam-ayam", dan "Kau
terlambat". Buku-buku ditumpuk tiga-tiga di atas rak
perapian, buku-buku dengan judul seperti
Sihir Sendiri Kejumu, Jampi-jampi dalam Memanggang, dan Sajian dalam Semenit—Sungguh Ajaib!
Dan kecuali telinga Harry mengelabuinya, radio tua di sebelah tempat cuci piring baru saja mengumumkan bahwa acara berikutnya adalah "Jam Sihir, dengan penyanyi pe- nyihir wanita terkenal, Celestina Warbeck."
Mrs Weasley mondar-mandir dengan berisik, me- nyiapkan sarapan dengan agak serampangan, meman- dang sebal anak-anaknya sementara dia melemparkan sosis ke dalam wajan. Sekali-sekali dia menggumam- kan kalimat seperti, "Tak tahu apa yang ada di pikiran kalian," dan "Tak akan pernah mempercayainya."
"Aku tidak menyalahkanmu, Nak," katanya meyakin- kan Harry, menuang delapan atau sembilan sosis ke dalam piringnya. "Arthur dan aku mencemaskanmu juga. Baru semalam kami katakan kami sendiri akan da tang menjemputmu kalau sampai hari Jumat kau tidak membalas surat Ron. Tapi sungguh kelewatan," (sekarang dia menambahkan tiga telur goreng ke piling Harry), "menerbangkan mobil ilegal, menye- berang separo negeri—bisa kelihatan siapa saja...."
Dia menjentikkan tongkatnya sambil lalu ke perabot di tempat cuci piring yang langsung mulai mencuci sendiri, berdentang-denting lembut di latar belakang.
"Langit mendung,Mum!" kata Fred.
"Jangan bicara waktu makan!" bentak Mrs Weasley.
"Mereka membuatnya kelaparan, Mum!" kata George.
"Dan kau juga!" kata Mrs Weasley, tetapi ekspresi wajahnya lebih lembut ketika dia mulai mengiris roti untuk Harry dan mengolesinya dengan mentega.
Pada saat itu sesosok tubuh kecil berambut merah— memakai gaun tidur panjang—muncul di pintu, meng- alihkan perhatian semua orang. Sosok itu menjerit kecil, dan berlari keluar lagi.
"Ginny," kata Ron pelan kepada Harry. "Adikku. Dia ngomong tentang kau terus sepanjang musim panas."
"Yeah, dia mau minta tanda tanganmu, Harry," Fred nyengir, tetapi dia menangkap pandangan ibunya dan segera menundukkan wajah di atas piringnya, tanpa berkata apa-apa lagi. Tak ada lagi yang di- bicarakan sampai keempat piring bersih, dalam waktu yang singkat sekali.
"Ya ampun, aku capek," Fred menguap, akhirnya meletakkan pisau dan garpunya. "Aku mau tidur dan..."
"Tidak boleh," potong Mrs Weasley. "Salahmu sendiri kau tidak tidur semalaman. Kau akan membersihkan jembalang di kebun untukku, mereka sudah tak terkontrol lagi."
"Oh, Mum..."
"Dan kalian berdua juga," katanya mendelik pada Ron dan Fred. "Kau boleh tidur, Nak," katanya me- nambahkan kepada Harry. "Kau tidak meminta mereka menerbangkan mobil brengsek itu."
Tetapi Harry yang sama sekali tidak mengantuk, buru-buru berkata, "Saya akan membantu Ron. Saya belum pernah melihat pembersihan jembalang..."
"Kau baik sekali, Nak, tapi itu pekerjaan mem- bosankan," kata Mrs Weasley. "Coba kita lihat dulu apa kata Lockhart tentang masalah ini."
Dan dia menarik sebuah buku berat dari tumpukan di atas rak perapian. George mengerang.
"Mum, kami sudah tahu bagaimana membersihkan kebun dari jembalang."
Harry memandang sampul buku Mrs Weasley. Judulnya ditulis dengan huruf-huruf emas indah: Penuntun Penanganan Hama Rumah Gilderoy Lockhart. Di sampul itu terpampang foto besar penyihir yang amat tampan, dengan rambut pirang berombak dan mata biru cerah. Seperti biasanya di dunia sihir, foto itu bergerak-gerak. Si penyihir, yang Harry duga ada- lah Gilderoy Lockhart, tak henti-hentinya mengedip nakal kepada mereka semua. Mrs Weasley menunduk tersenyum kepadanya.
"Oh, dia hebat sekali," katanya, "dia tahu betul ten- tang hama-hama rumah. Ini buku yang bagus sekali...."
"Mum naksir dia," kata Fred dalam bisikan yang sangat jelas.
"Jangan ngaco, Fred," kata Mrs Weasley, pipinya merona merah jambu. "Baiklah, kalau kalian merasa lebih tahu dari Lockhart, kalian boleh keluar dan langsung mulai. Awas, kalau sampai masih ada satu saja jembalang di kebun waktu aku memeriksanya nanti."
Menguap dan menggerutu, Ron dan kedua kakak- nya berjalan ogah-ogahan keluar, diikuti Harry. Kebun mereka luas, dan dalam pandangan Harry, begitulah seharusnya kebun. Keluarga Dursley tidak akan me- nyukainya—ada banyak ilalang, rumputnya perlu di- potong—tetapi ada pohon-pohon yang batangnya ber- bonggol-bonggol di sekeliling tembok, tanaman- tanaman yang belum pernah dilihat Harry melimpah dengan lebatnya dari setiap petak bunga, dan ada kolam besar penuh kodok.
"Muggle juga punya jembalang kebun lho," Harry memberitahu Ron ketika mereka menyeberang ke kebun.
"Yeah, aku sudah melihat apa yang mereka sebut jembalang," kata Ron, membungkuk dengan kepala tenggelam di semak bunga peoni. "Seperti Santa Claus gemuk membawa tangkai pancing...."
Terdengar bunyi baku hantam seru, semak peoni bergetar, dan Ron menegakkan diri."Ini jembalang," katanya suram.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" jerit si jembalang.
Makhluk itu sama sekali tidak seperti Santa Claus, melainkan bertubuh kecil, kulitnya kasar, dengan kepala besar botak menonjol persis kentang. Ron me- megangnya agak jauh, sementara si jembalang me- nendang-nendangnya dengan kakinya yang kecil ber- tanduk. Ron mencengkeram pergelangan kakinya dan menjungkirkannya.
"Ini yang harus kaulakukan," katanya. Ron mengangkat si jembalang ke atas kepalanya ("Lepas- kan aku!") lalu mulai memutar-mutarnya dalam ling- karan besar seperti laso. Melihat kekagetan di wajah Harry, Ron menambahkan, "Ini tidak melukai mereka— kau cuma harus membuatnya benar-benar pusing, supaya mereka tidak bisa menemukan jalan pulang ke lubang jembalangnya."
Dilepasnya kaki si jembalang dan jembalang itu melayang enam meter ke atas dan jatuh di padang di seberang pagar.
"Payah," kata Fred. "Aku pasti bisa melempar jem- balangku sampai melewati tunggul itu."
Harry belajar dengan cepat untuk tidak merasa terlalu kasihan kepada si jembalang. Dia memutuskan untuk menjatuhkan saja jembalang pertama yang di- tangkapnya ke balik pagar. Tetapi si jembalang, yang bisa merasakan kelemahan, menancapkan gigi-giginya yang setajam silet ke jari Harry dan Harry dengan susah payah mengibaskannya sampai...
"Wow, Harry—pasti ada lima belas meter tuh..."
Segera saja udara dipenuhi jembalang yang beterbangan.
"Lihat, kan, mereka tidak terlalu pintar," kata George, menyambar lima atau enam jembalang se- kaligus. "Begitu mereka tahu pembersihan jembalang dimulai, mereka malah keluar untuk melihat. Mestinya kan malah ngumpet."
Tak lama kemudian gerombolan jembalang di pa- dang mulai melangkah lesu, menjauh .
"Mereka akan kemibali," kata Ron, ketika mereka mengawasi para jembalang menghilang ke balik pagar di sisi lain padang. "Mereka senang di sini... Dad terlalu lunak terhadap mereka, dia menganggap me- reka lucu..."
Saat itu terdengar pintu depan terbanting.
"Dia pulang!" kata George. "Dad pulang!"
Mereka bergegas menyeberangi kebun, kembali ke rumah.
Mr Weasley duduk lesu di kursi dapur dengan kacamata dilepas. Dia kurus, hampir botak, tetapi sisa rambut yang masih ada sama merahnya dengan ram- but anak-anaknya. Dia memakai jubah hijau panjang yang berdebu dan kelihatan habis dipakai bepergian.
"Bukan main semalam," gumamnya, meraih teko teh sementara mereka duduk mengelilinginya. "Sem- bilan penyerbuan. Sembilan! Dan si Mundungus Fletcher mencoba menyihirku ketika aku berbalik..."
Mr Weasley meneguk tehnya dan menghela napas.
"Ada yang ditemukan, Dad?" tanya Fred bersemangat.
"Yang kudapat hanyalah beberapa kunci pintu yang mengerut dan ceret yang menggigit," kata Mr Weasley menguap. "Tapi ada barang-barang kotor yang bukan bagian departemenku. Mortlake dibawa pergi gara -
gara mempertanyakan beberapa binatang sejenis mu- sang yang sudah tua sekali, tapi itu tugas Komite Jimat Eksperimental, untungnya..."
"Untuk apa orang membuat kunci mengerut?" tanya George.
"Cuma untuk memancing Muggle," keluh Mr Weasley. "Jual kepada mereka kunci yang terus menge- rut sampai akhirnya menghilang, sehingga mereka tidak bisa menemukannya sewaktu memerlukannya... Tentu saja, susah sekali meyakinkan orang, karena tak ada Muggle yang mau mengakui kunci mereka mengerut makin lama makin kecil—mereka akan ngo- tot mengatakan mereka lagi-lagi kehilangan kunci. Untung saja, para Muggle ini akan berusaha dengan segala macam cara untuk mengabaikan kejadian gaib, bahkan kalau itu terjadi di depari mereka... tapi barang-barang yang telah diambil bangsa kita untuk disihir, kalian tidak akan percaya..."
"SEPERTI MOBIL, MISALNYA?" Mrs Weasley telah muncul, membawa penyodok panjang seperti memegang pedang. Mata Mr Weasley langsung terbuka lebar. Dia memandang istrinya de- ngan perasaan bersalah.
"Mo-mobil, Molly sayang?"
"Ya, Arthur, mobil," kata Mrs Weasley, matanya berkilat. "Bayangkan, penyihir yang membeli mobil tua karatan dan memberitahu istrinya yang ingin dilakukannya dengan mobil itu hanyalah mem- bongkarnya untuk mengetahui bagaimana cara kerjanya, padahal ternyata dia menyihir mobil itu agar bisa terbang."
Mr Weasley mengejapkan mata.
"Yah, Sayang, kurasa dia tidak melanggar hukum karena melakukan itu, bahkan jika, eh, dia mungkin seharusnya, lebih baik, uhm, memberitahu istrinyn yang sebenarnya... Selalu ada peluang untuk lolos dalam peraturan, kau akan tahu... sejauh dia tidak bermaksud menerbangkan mobil itu. Fakta bahwa mobil itu bisa terbang tidak akan..."
"Arthur Weasley, kau mengatur agar ada peluang lolos ketika kau menulis peraturan itu!" teriak Mrs Weasley. "Hanya supaya kau bisa terus bermain-main dengan semua rongsokan Muggle di garasimu itu! Dan supaya kau tahu, Harry tiba pagi ini dengan mobil yang tidak akan kauterbangkan itu!"
"Harry?" ujar Mr Weasley bingung. "Harry siapa?"
Dia memandang berkeliling, melihat Harry, dan ter- lonjak.
"Astaga, Harry Potter-kah? Senang sekali bertemu kau, Ron sudah cerita banyak tentang..."
"Anak-anakmu menerbangkan mobil itu ke rumah Harry dan kembali lagi ke sini tadi pagi!" teriak Mrs Weasley. "Apa komentarmu tentang itu, eh?"
"Betulkah kalian menerbangkannya?" tanya Mr Weasley bersemangat. "Apakah bisa terbang lancar? Mak-maksudku," dia terbata-bata, ketika kilat ke- marahan terpancar dari mata Mrs Weasley, "kalian lancang, anak-anak—lancang sekali..."
"Kita tinggalkan mereka," gumam Ron kepada Harry, ketika Mrs Weasley siap meledak. "Ayo, ku- tunjukkan kamarku."
Mereka menyelinap keluar dari dapur dan menuruni lorong sempit sampai ke tangga yang tidak rata, yang berzig-zag sampai ke atas. Pada bordes ketiga, ada pintu yang sedikit terbuka. Harry sempat melihat sepasang mata cokelat cemerlang sebelum pintu itu menutup dengan keras.
"Itu Ginny," kata Ron. "Kau tak tahu, betapa aneh- nya bagi dia menjadi pemalu begini. Biasanya mulut- nya tak pernah berhenti mengoceh..."
Mereka menaiki dua tangga lagi sampai tiba di pintu yang catnya mengelupas dan ada papan kecil bertulisan "Kamar Ronald".
Harry masuk, kepalanya nyaris menyentuh atap yang miring. Dia mengejap. Rasanya seperti masuk perapian: segala sesuatu dalam kamar Ron bernuafisa jingga terang: seprai, dinding, bahkan langit-langitnya. Kemudian Harry menyadari bahwa Ron telah me- nutup hampir setiap senti dinding kamarnya yang kusam dengan poster tujuh penyihir pria dan wanita yang sama, semuanya memakai jubah jingga cemer- lang, membawa sapu, dan melambai-lambai dengan bersemangat.
"Tim Quidditch-mu?" tanya Harry.
"Chudley Cannons," kata Ron, menunjuk seprai jingganya, yang dihiasi dua huruf C raksasa berwarna hitam dan peluru meriam yang sedang meluncur. "Peringkat kesembilan-di liga."
Buku-buku sihir Ron ditumpuk sembarangan di satu sudut, di sebelah setumpuk komik yang semua- nya tampaknya mengisahkan Petualangan Martin Miggs,si Muggle Gila.Tongkat sihir Ron tergeletak di atas tangki ikan penuh telur kodok di ambang jendela, disebelah tikus gemuknya, Scabbers, yang sedang tiduran di sepetak sinar matahari.
Harry melangkahi satu pak kartu Mengocok-Sendiri di lantai dan melongok ke luar dari jendela yang kecil mungil. Di padang jauh di bawah, dia bisa melihat serombongan jembalang menyelinap lewat pagar tanaman, satu demi satu kembali ke kebun keluarga Weasley. Kemudian dia menoleh memandang Ron, yang menatapnya dengan gelisah, seakan me- nunggu komentarnya.
"Kamarnya agak kecil," kata Ron cepat-cepat. "Tidak seperti kamarmu di rumah Muggle. Dan persis di bawah tempat si hantu loteng. Dia selalu memukul- mukul pipa dan mengerang-erang..."
Tetapi Harry nyengir lebar sambil berkata, "Ini ru- mah paling hebat yang pernah kudatangi."
Telinga Ron langsung merah.
Log in