HARRY
POTTER
BAB 3 KELUARGA DURSLEY BERANGKAT (The Dursley Departing) Suara pintu depan ditutup dengan keras terdengar sampai lantai atas, kemudian sebuah teriakan terdengar, “Hei, kau!” Enam belas tahun selalu dipanggil dengan cara seperti itu membuat Harry yakin bahwa pamannya sedang memanggilnya, namun dia tidak segera menjawab. Harry masih memandangi pecahan cermin itu, untuk sesaat tadi dia mengira melihat mata Dumbledore. Namun tak berapa lama pamannya berteriak lagi, “HEI!” yang membuat Harry bangun perlahan kemudian menuju pintu kamar tidurnya, berhenti sejenak untuk memasukkan pecahan cerminnya ke dalam kantong yang berisi barang-barang yang akan dibawanya. “Lambat sekali kau ini!” bentak Vernon Dursley saat melihat Harry muncul di atas tangga, “Turun sini. Aku mau bicara!” Harry berjalan menuruni tangga, kedua tangannya dimasukkan dalam kantong celananya. Ketika dia memandang sekeliling ruang tamu, dia melihat ketiga anggota keluarga Dursley ada disana semua. Mereka terlihat berpakaian rapi seperti akan bepergian; Paman Vernon memakai jaket tuanya dan Dudley , sepupu Harry yang gemuk dan berambut pirang, memakai jaket kulitnya. “Ya, ada apa?” tanya Harry. “Duduk sini!” kata Paman Vernon. Harry hanya mengangkat alisnya. “Please!”kata Paman Vernon menambahkan, dia menggernyit sedikit seolah-olah katapleasetersebut sesuatu yang tajam di tenggorokannya. Harry lalu duduk. Tapi dia merasa tahu apa yang akan terjadi kemudian. Pamannya terlihat mondar-mandir, Bibi Petunia dan Dudley hanya melihat pamanVernon dengan gelisah. Akhirnya, pamannya terlihat berkonsentrasi kemudian berhenti tepat di depan Harry lalu berkata. “Aku berubah pikiran,” katanya “Oh, sangat mengejutkan,” kata Harry sinis. “Jaga mulutmu-“ kata Bibi Petunia, tapi Vernon Dursley melambaikan tangannya pada Petunia. “Ini semua omong kosong,“ kata PamanVernon sambil menatap Harry dengan matanya yang kecil. “Ku putuskan aku tidak akan mempercayai kata-katamu itu. Kami akan tetap tinggal di sini dan tidak akan pergi ke mana-mana.” Harry memandang pamannya dengan perasaan jengkel bercampur geli. Vernon Dursley telah berubah-ubah pikiran setiap dua puluh empat jam sekali dalam empat minggu ini, kadang kala ia berkemas-kemas, namun kemudian membongkarnya lagi, lalu mengepak barangnya lagi ke dalam mobilnya, begitu terus tergantung suasana hatinya. Kejadian favorit Harry adalah saat Paman Vernon tidak menyadari bahwa Dudley telah memasukkandumbellke dalam kopernya saat di bongkar terakhir sebelumnya, kemudian pamannya berusaha mengangkat koper itu namun koper itu terjatuh ke kakinya disertai teriakan kesakitan. “Jadi menurutmu,” Vernon Dursley berkata sambil melanjutkan mondar-mandirnya di ruang tamu. “kami – Petunia, Dudley, dan aku – dalam bahaya. Bahaya dari – dari –“ “Dari beberapa ‘teman-temanku’tentu saja.” sahut Harry. “Aku tidak mempercayai kata-katamu itu.” kata Paman Vernon, berhenti sebentar di hadapan Harry lagi. “Aku sudah berpikir masak-masak tadi malam, dan aku yakin ini hanyalah taktikmu untuk mendapatkan rumah.” “Rumah?” kata Harry. “Rumah apa maksud paman?” “Ya rumah ini!” teriak Paman Vernon, urat nadi di keningnya mulai berdenyut. “Harga rumah sedang meroket di daerah ini! Kau ingin kami pergi dan kemudian kau melakukan sedikit trikmu itu, tahu-tahu akta rumah ini sudah berganti nama menjadi milikmu dan –“ “Paman sudah gila ya?” potong Harry kesal. “Taktik untuk mendapatkan rumah ini? Paman benar-benar bodoh atau hanya pura-pura bodoh?” “Jangan kurang ajar kau --!” Teriak Bibi Petunia, tapiVernon kembali melambaikan tangannya ke pada Petunia. Pamannya sepertinya tidak menyadari bahaya yang mengancam mereka. “Paman harus ingat,” kata Harry, “Aku sudah mempunyai rumah yang diwariskan oleh bapak baptisku. Jadi untuk apa aku menginginkan rumah ini? Karena kenangan indahnya?” Semua membisu. Harry berpikir bahwa kata-katanya tadi membuat pamannya diam. “Menurutmu,” kata Paman Vernon sambil melanjutkan mondar-mandirnya, “bahwa orang ini–“ “ – Voldemort,” kata Harry tidak sabar,” kita khan sudah membahasnya berkali-kali. Ini bukan omong kosong, ini sebuah kenyataan. Dumbledore, Kingsley dan Weasley sudah menceritakannya padamu tahun lalu.” Vernon Dursely terlihat marah, dan Harry yakin bahwa pamannya sedang mengingat kembali sebuah kunjungan yang mendadak dari dua penyihir berpakaian jubah panjang pada saat Harry menikmati liburannya. Kedatangan Kingsley Shacklebolt dan Arthur Weasley menjadi sebuah kejutan buruk bagi keluarga Dursley. Harry yakin bahwa kedatangan kembali Arthur Weasley, yang pernah mengobrak-abrik ruang tamu ini, tidak akan disambut gembira oleh Paman Vernon. “Kingsley danMr. Weasley juga sudah menjelaskannya,” kata Harry. “Saat aku berusia tujuh belas tahun, mantra pelindung yang selama ini melindungiku akan hilang, dan itu tidak hanya membahayakan aku tapi kalian juga.Ordesangat yakin Voldemort mengincar kalian juga, entah akan menyiksa kalian untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaanku, atau dia mungkin berpikir dengan menjadikan kalian sandera aku akan datang menolong kalian.” Pandangan Paman Vernon dan Harry bertemu. Harry yakin bahwa mereka sedang memikirkan hal yang sama. Kemudian Paman Vernon berjalan lagi dan Harry melanjutkan perkataannya, ”Kalian harus pergi ke tempat persembunyian danOrdehanya ingin membantu. Kalian sudah ditawari perlindungan yang paling bagus.” Paman Vernon tidak berkata apa-apa, hanya melanjutkan mondar-mandirnya. Di luar matahari tergantung rendah di atas pagar jalanan. Mesin pemotong rumput tetangga sebelah berhenti lagi. “Kupikir kalian memiliki Kementrian Sihir?” tanya Vernon Dursley tiba-tiba. “Ya, memang ada,” kata Harry agak terkejut. “Jadi, mengapa bukan mereka yang melindungi kami? Menurutku sebagai korban tak bersalah, hanya karena menampung seorang yang mempunyai tanda luka di keningnya, kami seharusnya mendapatkan perlindungan dari pemerintah.!” Harry tertawa mendengarnya. Benar-benar tipikal pamannya untuk selalu mencari tempat bagi idenya, bahkan di dunia yang dia tolak keberadaannya dan bahkan tidak dia percaya. “Paman khan dengar sendiri dariMr. Weasley dan Kingsley,” balas Harry. “Kami beranggapan bahwa Kementrian sudah disusupi musuh.” Paman Vernon berjalan ke arah perapian sambil bernafas berat dan keras sehingga wajahnya yang berkumis tebal menjadi ungu karena berkonsentrasi. “Baiklah,” katanya. Berhenti kembali di depan Harry. “Misalnya kami menerima tawaran perlindungan ini, aku masih bingung mengapa kami tidak dijaga saja oleh Kingsley.” Harry berusaha untuk tidak kesal. Pertanyaan ini sebenarnya sudah berkali-kali ditanyakan. “Seperti yang pernah aku katakan,” kata Harry terlihat geram, “ Kingsley sedang menjaga Mugmaksudku Perdana Menteri kalian.” “Tepat sekali – jadi dia pasti yang terbaik!” kata Paman Vernon sambil menunjuk pada televisi yang tidak menyala. Keluarga Dursley pernah melihat Kingsley di sebuah berita, ia terlihat sedang berjalan mengiringi Perdana Menteri Muggle saat sedang mengunjungi sebuah rumah sakit. Kenyataan bahwa Kingsley berpakaian seperti halnya para muggle, belum lagi suaranya yang pelan namun berat, telah menyebabkan keluarga Dursley percaya kepada Kingsley lebih dari penyihir lainnya, walau tentu saja mereka belum pernah melihat Kingsley saat memakai anting-antingnya. “Maaf, tapi dia tidak bisa diganggu,” sahut Harry. “Tapi Hestia Jones dan Dedalus Diggle lebih dari cukup untuk tugas ini –“ “Kalau saja aku bisa melihat CV mereka…” potong Paman Vernon, tapi Harry sudah hilang kesabaran. Dia berdiri kemudian mendekati pamannya. “Kecelakaan-kecelakaan yang selama ini terjadi – ledakan-ledakan dan tabrakan dan kereta api terguling atau apapun yang terjadi di berita, bukanlah kecelakaan biasa. Orang-orang hilang bahkan meninggal, dan dia yang mendalangi semua ini – Voldemort. Aku sudah mengatakan ini berkali-kali, dia membunuh muggle untuk bersenang-senang. Bahkan kabut yang selalu muncul – ini disebabkan oleh para Dementor, dan kalau paman tidak ingat seperti apa mereka silahkan tanya Dudley!” Dudley tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangannya. Harry dan orang tuanya mememperhatikannya, kemudian ia menurunkan tangannya perlahan-lahan lalu bertanya, “Mereka ada masih ada banyak lagi?” “Masih ada?” kata Harry sambil tertawa “Mereka masih ada selain dua Dementor yang menyerang kita, jika itu maksudmu? Tentu saja mereka berjumlah ratusan, mungkin ribuan sekarang, mereka memangsa ketakutan dan rasa putus asa kita –“ “Baik, baik,” potong Vernon Dursley. “Aku sudah paham maksudmu –“ “Moga-moga saja,” kata Harry, “karena begitu aku berumur tujuh belas tahun, mereka semua –Death Eater, Dementor, bahkan mungkin Inferi – mayat yang diberi mantra oleh penyihir hitam – akan dapat menemukan kalian dan sudah pasti akan menyerang kalian. Dan kalian tentu masih ingat apa yang terjadi jika kalian mencoba bersembunyi dari penyihir, aku yakin kalian setuju kalau kalian butuh bantuan.” Ingatan akan kedatangan Hagrid saat dia mendobrak pintu kayu itu di waktu dia akan masuk sekolah sepertinya membuat ruangan menjadi sepi. Bibi Petunia memandang kepada Paman Vernon; Dudley memandang Harry. Akhirnya Paman Vernon berbicara, “Tapi bagaimana dengan pekerjaanku? Bagaimana dengan sekolah Dudley? Mungkin ini tidak penting bagi sekumpulan penyihir –“ “Paman belum paham juga?” teriak Harry. “Mereka akan menyiksa dan membunuh kalian seperti yang mereka lakukan pada orang tuaku!” “Ayah,” kata Dudley tiba-tiba dengan suara keras, “Ayah – aku ingin pergi mengikuti orang-orangOrder ini.” Harry tahu bahwa akhirnya dia memenangkan debat ini. Jika Dudley sudah ketakutan dan menerima bantuan Order, orang tuanya pasti akan menemaninya. Tidak mungkin mereka berpisah dari Duddykin-nya. Harry memandang jam saku yang ada di jaket. “Mereka akan datanglima menit lagi,” kata Harry, dan saat salah satu anggota Dursley akan menjawab, dia sudah meninggalkan ruang tamu. Kenyataan bahwa ia akan berpisah – mungkin selamanya – dengan bibinya, pamannya dan sepupunya merupakan salah satu hal yang dapat dia terima dengan senang hati, tapi tetap saja ada sesuatu yang aneh dan janggal. Apa yang akan saling mereka katakan di akhir enam belas tahun yang penuh ketidaksukaan? Kembali di kamarnya, Harry bermain-main tanpa tujuan dengan kantongnya kemudian menyusupkan dua buah kacang ke sangkar Hedwig. Kacang itu langsung jatuh di dasar sangkar karena Hedwig membiarkannya. “Sebentar lagi kita pergi,” Harry berkata pada burung itu. “Setelah itu kau bisa bebas terbang lagi.” Terdengar suara bel pintu berbunyi. Harry bergegas keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai bawah. Harry sudah pasti tidak berharap bahwa Hestia dan Dedalus akan bertemu dengan keluarga Dursley sendirian. “Harry Potter!” kata sebuah suara penuh kegirangan saat Harry membuka pintu, seorang pria pendek bertopi membungkuk padanya. “Sebuah kehormatan tentu saja!” “Terima kasih Dedalus,” kata Harry tersipu malu sambil tersenyum kepada Hestia yang berambut gelap. “Kalian sangat baik mau melakukan ini… Mereka di sebelah sini, bibiku, pamanku dan sepupuku…” “Apa kabar keluarga Harry Potter!” kata Dedalus dengan riang sambil berjalan menuju ruang tamu. Keluarga Dursley tidak senang dipanggil seperti itu; bahkan Harry berpikir mungkin mereka akan berubah pikiran lagi. Dudley merapat ke ibunya saat dua penyihir itu masuk. “Sudah bersiap-siap rupanya, bagus sekali! Rencana kita, seperti yang pernah Harry katakan, sangat sederhana,” kata Dedalus sambil mengambil jam sakunya yang besar kemudian mengamatinya. “Kita akan segera pergi sebelum kepergian Harry. Karena menggunakan kekuatan sihir agak berbahaya di rumah ini – Harry masih di bawah umur jadi jangan sampai kita memberi alasan bagi Kementrian untuk menahan Harry – kita akan memakai mobil, kira-kira sepuluh mil dari sini sebelum kitaDisapparate menuju tempat aman yang telah kami sediakan untuk kalian. Anda tahu bagaimana cara mengendarai mobil khan?” tanya Dedalus dengan sopan kepada PamanVernon . “Bagaiman cara --? Tentu saja aku tahu betul bagaimana mengendarai mobil!” serobot Paman Vernon. “Anda pintar sekali tuan, sangat pintar. Aku sendiri pasti akan kebingungan dengan berbagai tombol dan tuas yang ada di mobil,” kata Dedalus memuji. Paman Vernon langsung kehilangan kepercayaan pada segala rencana yang dikatakan oleh Dedalus. “Tidak bisa mengemudi, huh.” omel PamanVernon sambil mengelus kumisnya, untungnya baik Dedalus maupun Hestia tidak mendengarnya. “Kamu, Harry,” sambung Dedalus, “tunggu di sini sampai pengawalmu datang.Ada sedikit perubahan dalam rencana –“ “Apa maksudmu?” tanya Harry. “Kupikir Mad-Eye yang akan menjemputku dan membawaku ber- Apparatebersamanya?” “Sayangnya tidak bisa dilakukan seperti itu,” jawab Hestia ringkas, “Mad-Eye akan menjelaskannya nanti.” Keluarga Dursley yang dari tadi memperhatikan dengan raut muka kebingungan tiba-tiba melonjak kaget saat terdengar sebuah suara berteriak,“Ayo cepat!” Harry menoleh ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya menyadari bahwa teriakan tersebut berasal dari jam saku Dedalus. “Baiklah kalau begitu, kita harus segera berangkat karena waktu kita sangat terbatas,” kata Dedalus sambil mengangguk ke arah jamnya dan memasukkannya kembali ke sakunya. “Kami akan mencoba menyamakan waktu saat keberangkatanmu nanti dengan Disapparate-nya keluargamu Harry, sehingga begitu mantra pelindungnya hilang kalian sudah berada di tempat yang aman.” Dedalus kemudian menoleh ke arah Keluarga Dursley, “Baiklah, sudah siap berangkat?” Keluarga Dursley tak ada satu pun yang menjawab, Paman Vernon masih memandang terkejut ke arah kantong Dedalus yang berisi jam saku. “Mungkin sebaiknya kita menunggu di luar, Dedalus,” bisik Hestia. Dia merasa sebaiknya meninggalkan ruangan saat Harry dan keluarganya berpamitan dengan penuh kasih sayang bahkan bertangisan. “Ah, tidak Perlu,” potong Harry, dan Paman Vernon bahkan membuatnya tambah jelas dengan berkata keras, “Baiklah, kalau begitu selamat tinggal nak.” Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Harry, tapi kemudian sepertinya dia tidak bisa melakukannya sehingga tangannya mengepal lagi dan menariknya kemudian mengulurkannya kembali seperti sebuahmetronome (alat pengukur irama) “Siap, Duddy?” tanya Petunia, sambil mengecek jepitan tasnya supaya menghindar dari pandangan dengan Harry. Dudley tidak menjawab, dia hanya berdiri terdiam dengan mulut sedikit terbuka, mengingatkan Harry akan raksasa ‘kecil’ Grawp. “Ayo berangkat kalau begitu,” kata Paman Vernon. Dia sudah mencapai pintu ruang tamu saat Dudley berkata lirih, “Aku tidak mengerti.” “Apa yang tidak kau mengerti,popkin ?” tanya Petunia sambil memandang anaknya. Dudley mengangkat tangannya yang besar dan menunjuk ke arah Harry. “Kenapa dia tidak ikut dengan kita?” Paman Vernon dan Bibi Petunia terdiam terpaku memandang ke Dudley, seolah-olah Dudley baru saja mengatakan bahwa ia ingin menjadi penari ballerina. “Apa?” kata Paman Vernon keras. “Kenapa dia tidak pergi juga?” tanya Dudley. “Eh, karena dia – tidak mau ikut,” kata PamanVernon sambil menengok ke arah Harry dan menambahkan, “Kau tidak mau ikut, khan?” “Tentu saja tidak,” kata Harry. “Tuh khan, dengar sendiri.” Paman Vernon memberitahu Dudley. “Sekarang mari kita berangkat.” Paman Vernon berjalan keluar ruangan. Terdengar suara pintu depan terbuka, tapi Dudley tidak bergerak dan setelah beberapa langkah Bibi Petunia berhenti. “Apalagi sekarang?” Teriak Paman Vernon yang muncul kembali dari pintu. Sepertinya Dudley berusaha keras untuk menyusun kata-kata. Setelah beberapa saat dalam kegelisahannya dia berkata, “Tapi kemana dia akan pergi?” Bibi Petunia dan Paman Vernon saling memandang. Mereka jelas sekali sangat ketakutan akan tingkah Dudley. Hestia Jones kemudian memecahkan kebisuan. “Tapi… tentu kalian tahu kemana keponakan kalian ini akan pergi, khan?” tanyanya dengan penuh kebingungan. “Tentu saja kami tahu,” kata Vernon Dursley. “Dia akan pergi denganjenis -nya khan? Iya khan Dudley, ayo masuk ke dalam mobil, kau dengar sendiri khan, kita sedang terburu-buru.” Kembali Vernon Dursley berjalan ke luar, tapi Dudley tetap tidak mengikuti. “Pergi bersamajenis kami ?” Hestia terlihat marah. Harry tentu saja sudah menduganya, banyak penyihir yang sangat terkejut saat tahu bahwa keluarganya tidak menaruh perhatian pada Harry Potter yang terkenal. ”Ah, tidak apa-apa,” kata Harry meyakinkan Hestia. “Tidak masalah kok.” “Tidak masalah?” tanya Hestia dengan nada yang meninggi. “Apa mereka tidak tahu apa yang telah kau lalui? Bahaya yang mengancam jiwamu? Posisimu yang sangat penting dalam pergerakan melawan Voldemort?” “Eee, sebenarnya mereka tidak tahu sama sekali,” kata Harry. “Menurut mereka aku hanyalah anak tak berguna, tapi sebenarnya aku sudah terbi – “ “Aku tidak menganggapmu tak berguna.” Jika Harry tidak melihat sendiri mulut Dudley yang bergerak, dia mungkin tak akan mempercayai pendengarannya. Dia memandang ke arah Dudley beberapa saat sebelum akhirnya menyadari bahwa sepupunya memang mengucapkan kata-kata itu ; kemudian terlihat wajah Dudley menjadi merah. Harry sendiri merasa sedikit malu bercampur terpesona. “Eee, terima kasih Dudley.” Terlihat Dudley seperti sedang berusaha mengatakan sesuatu lagi, sebelum akhirnya dia berkata lirih “Kau menyelamatkanku,” “Biasa aja,” kata Harry. “Dementor itu akan mengambil jiwamu …” Harry memandang Dudley dengan penuh tanda tanya. Selama musim panas ini mereka hampir sama sekali tidak melakukan kontak, begitu Harry tiba diPrivet Drive ia hampir selalu tinggal di dalam kamarnya. Harry tiba-tiba menyadari bahwa secangkir teh yang dia tabrak tadi pagi mungkin sama sekali bukan jebakan. Meskipun Harry merasa tersentuh, namun ekspresi Dudley yang menunjukan bahwa dia sudah kehabisan ‘kemampuan’ untuk mengeluarkan perasaannya membuat Harry bernapas lega. Setelah membuka mulutnya sesekali, Dudley akhirnya terdiam dengan muka merah. Bibi Petunia menangis terharu. Hestia Jones menunjukan wajah senyum namun segera berubah menjadi marah begitu melihat Bibi Petunia berlari dan merangkul Dudley bukannya merangkul Harry. “Kau memang anak yang manis, Dudders..” kata Petunia terisak di dada Dudley. “Benar-benar anak yang baik… kau berterima kasih padanya…” “Tapi dia tidak mengucapkan kata-kata terima kasih sama sekali!” Kata Hestia marah. “Dia hanya menganggap Harry bukanlah anak tak berguna!” “Memang betul sih, tapi jika itu yang mengucapkan Dudley sama saja dia berkataAku sayang kamu ,” kata Harry yang merasa aneh sekaligus geli melihat tingkah Bibi Petunia yang membanggakan Dudley seolah-olah dia baru saja menyelamatkan Harry dari sebuah kebakaran gedung. “Kita jadi pergi atau tidak?” teriak Paman Vernon yang muncul kembali ke ruang tamu. “Bukankah waktu kita sangat terbatas!” “Ya – ya tentu saja,” kata Dedalus Diggle yang memperhatikan semua kejadian itu dengan raut muka terpesona dan kemudian dia mulai tersadar kembali. “Ayo kita harus segera berangkat. Eh, Harry –“ katanya sambil berjalan ke arah Harry dan menyalami Harry dengan kedua tangannya. “ –good luck.Semoga kita berjumpa lagi. Harapan dunia ada di pundakmu.” “Oh,” kata Harry, “ Ya tentu saja.Thanks.” “Selamat tinggal, Harry,” kata Hestia juga sambil menyalaminya. “Doa kami bersamamu.” “Semoga semuanya baik-baik saja,” kata Harry sambil melihat ke arah Bibi Petunia dan Dudley. “Aku yakin kita semua akan berkumpul lagi,” kata Diggle lirih sambil melambaikan topinya ke luar ruangan. Hestia mengikutinya. Dudley kemudian melepaskan diri dari pelukan ibunya dan berjalan ke arah Harry yang dengan susah payah menahan diri untuk tidak menakut-nakuti Dudley dengan sihirnya. Tapi kemudian Dudley mengulurkan tangan besarnya yang berwarna pink. “Yang benar nih Dudley,” Kata Harry di antara isak tangis Bibi Petunia, “apa Dementor meniupkan kepribadian lain padamu?” “Mungkin saja,” kata Dudley lirih, “Sampai ketemu lagi Harry.” “Ya…” kata Harry sambil menjabat tangan Dudley. “Mungkin saja. Jaga dirimuBig D.” Dudley tersenyum kecil, kemudian berjalan menuju ke luar. Langkah kaki Dudley di halaman depan terdengar berat, kemudian terdengar suara pintu mobil ditutup. Bibi Petunia, yang wajahnya tengah tenggelam di dalam sapu tangan, melihat ke sekeliling. Dia sebenarnya tidak berharap tertinggal berdua dengan Harry. Sambil tergesa-gesa memasukan sapu tangannya yang basah ke dalam saku bajunya, dia berkata “Baiklah – selamat tinggal kalau begitu” kemudian dia berjalan ke pintu tanpa menoleh pada Harry. “Selamat tinggal” sahut Harry. Petunia berhenti dan menoleh ke belakang. Untuk sesaat Harry merasa bibinya ingin mengatakan sesuatu padanya; Bibinya melihatnya dengan pandangan aneh, sedikit bergetar, dan hampir mengatakan sesuatu, namun kemudian, sambil mengangguk sedikit, dia bergegas keluar ruangan menyusul suami dan anaknya.

XtGem Forum catalog