HARRY
POTTER
BAB 35 KING’S CROSS Dia terbaring dengan wajah menghadap ke bawah, sambil mendengarkan kepada kesunyian. Dia sendirian di tempat itu. Tak ada penonton. Tak ada orang lain di tempat itu. Dia sendiri tidak yakin dimana dirinya. Beberapa saat kemudian, atau mungkin saat itu juga, dia baru menyadari bahwa dirinya masih utuh, karena dia merasakan dirinya terbaring di atas sebuah permukaan dan dapat merasakan sentuhannya, dapat merasakan permukaan dimana dia terbaring. Kemudian Harry mulai menyadari bahwa dirinya telanjang. Yakin karena dirinya sendiri di tempat itu, ketelanjangannya ini tidak menjadikan pikirannya sekarang, walaupun sedikit aneh rasanya. Dia bertanya-tanya apakah dia mampu merasakan sesuatu ataupun melihat sesuatu. Dia juga menyadari bahwa di dapat melihat yang berarti masih memiliki mata. Dia terbaring di dalam kabut yang terang, walaupun dia belum pernah melihat kabut seperti ini sebelumnya. Pemandangan di sekelilingnya bukannya tertutupi kabut ini namun sepertinya kabut ini adalah sekelilingnya yang belum terbentuk sempurna. Lantai dimana dia terbaring berwarna putih, tidak terasa dingin maupun hangat, sesuatu yang datar dan kosong sebagaiamana mestinya. Dia mengangkat tubuhnya dan duduk. Tubuhnya tanpa luka. Dia meraba wajahnya. Dia tidak memakai kacamatanya lagi. Tiba-tiba sebuah suara terdengar muncul dari kesunyian di sekelilingnya : suara ketukan kecil seperti sebuah kepakan dan pukulan, sesuatu yang sedang meronta. Suara itu terdengar menyedihkan namun juga tredengar kurang sopan. Dia merasa tidak nyaman dan malu seperti sedang menguping sesuatu secara diam-diam. Untuk pertama kalinya, dia berharap dirinya memakai baju. Belum sempat dia berpikir mengenai pakaian yang layak untuknya, setumpuk jubah terlihat tak jauh darinya. Dia mengambil jubah itu dan memakainya. Pakaian itu lembut, bersih dan terasa hangat. Sangatlah luar biasa bagaimana pakaian itu muncul begitu saja sesaat setelah dia mengharapkannya ... Harry berdiri dan melihat ke sekitarnya. Apakah dia berada di sebuah tempat mirip Kamar Kebutuhan? Semakin lama dia melihat semakin banyak benda yang terlihat. Tempat itu beratap kaca berbentuk kubah yang berkilauan diterpa sinar matahari. Mungkin tempat ini istana. Semua tampak tenang dan tak bergerak, kecuali suara aneh yang berasal dari suatu tempat di kabut ini... Harry perlahan memutar tubuhnya, dan sekitarnya tampaknya mulai membentuk benda dengan sendirinya. Sebuah tempat yang terbuka luas, terang dan bersih, sebuah aula yang jauh lebih besar dari pada Aula Besar Hogwarts, dengan beratap kubah kaca. Tempat itu kosong, Harry satu-satunya manusia di sana, kecuali -- Harry melompat mundur. Dia telah melihat benda yang membuat suara aneh itu. Benda atau makhluk itu adalah anak kecil telanjang, meringkuk di bawah, kulitnya terlihat kasar, terkuliti, dan anak itu tergolek dan terlihat gemetar di bawah kursi, seolah-olah anak itu memang ditinggalkan disana, tak diinginkan, disembunyikan, dan sedang berusaha untuk bernafas. Harry merasa takut akan anak itu. Walaupun anak itu kecil dan terlihat rapuh, Harry tak ingin mendekatinya. Namun kemudian dia tetap mendekat perlahan, sambil bersiap-siap untuk melompat menjauh setiap saat. Sesaat kemudian dia sudah berdiri di dekat makhluk itu, sangat dekat sehingga ia mampu menjangkau untuk menyentuhnya, namun Harry tak berani untuk menyentuhnya. Dia merasa dirinya pengecut. Harry merasa dia harus menenangkan anak itu, namun anak itu menolaknya. "Kau tak dapat menolongnya." Harry memutar tubuhnya. Albus Dumbledore sedang berjalan menuju ke arahnya, terlihat segar dan bugar, mengenakan jubah berwarna biru gelap. "Harry." Dumbledore membentangkan tangannya, kedua tangannya terlihat baik-baik saja tanpa luka. "Kau sungguh hebat anakku. Kau sangat berani, sungguh pemberani. Mari berjalan bersamaku." Masih terlihat terkejut, Harry mengikuti Dumbledore yang berjalan menjauhi anak yang masih tergeletak itu, menuju ke dua bangku yang sebelumnya tidak diperhatikan Harry, bangku-bangku itu terletak di bawah atap tinggi yang berkilauan. Dumbledore duduk di salah satu bangku itu, dan Harry duduk di bangku satunya sambil tetap menatap wajah mantan kepala sekolahnya itu. Rambut dan jenggot Dumbledore yang berwarna perak, mata birunya yang tajam di balik kaca mata setengah lingkaran, hidung yang bengkok: Semuanya sama seperti yang Harry ingat. Namun ... "Tapi bukankah kau sudah mati," kata Harry. "Oh, iya," kata Dumbledore pasti. "Berarti ... aku juga sudah mati?" "Ah," kata Dumbledore, sambil tersenyum lebar. "Pertanyaan yang tepat. Secara keseluruhan, aku tak berpikir demikian anakku." Mereka saling menatap, mata Dumbledore masih bersinar. "Tidak?" tanya Harry. "Tidak," kata Dumbledore. "Tapi ..." Harry mengangkat tangannya secara reflek dan mengelus tempat dimana lukanya berada. Luka itu tidak ada lagi. "Tapi aku seharusnya sudah mati -- Aku tidak mempertahankan diriku! Aku memang membiarkannya membunuhku!" "Dan itulah," kata Dumbledore, "yang akan membuat semua perbedaan." Kegembiraan terpancar dari wajah Dumbleldore seperti cahaya; seperti api: Harry belum pernah melihat Dumbledore seyakin ini, sungguh-sungguh terkesan puas. "Tolong jelaskan padaku," kata Harry "Tapi kau sudah tahu hal ini," kata Dumbledore. Dia memutar-mutar kedua jempolnya. "Karena aku membiarkannya membunuhku ya," kata Harry. "Ya," kata Dumbledore sambil mengangguk. "Teruskan!" "Jadi pecahan jiwanya yang tadinya menempel padaku ..." Dumbledore masih mengangguk dengan antusias, menyemangati Harry, sebuah senyum menghiasi wajahnya. " ... apakah sudah tidak ada padaku lagi?' "Oh ya!" kata Dumbledore. "Benar kau telah memusnahkannya. Jiwamu sekarang menyatu seluruhnya, dan hanya jiwamu saja, Harry." "Lalu ..." Harry menunjuk kepada makhluk kecil yang gemetar di bawah kursi itu. "Itu apa, Professor?" "sesuatu diluar pemahaman kita," kata Dumbledore. "Tapi jika Voldemort memakai kutukan pembunuh," Harry melanjutkan, "dan tidak ada seseorang pun yang berkorban demi aku sekarang - bagaimana aku bisa masih hidup?" "Kurasa kau pun tahu mengapa," kata Dumbledore. "Coba ingat kembali. Ingat apa yang telah Voldemort lakukan, dalam keangkuhannya, dalam kerakusan dan kekejamannya." Harry mencoba berpikir. Dia berpikir sambil melihat sekilas ke sekitarnya. Jika ini memang sebuah istana, tentu ini istana yang aneh, dimana terdapat kursi-kursi yang berjajar dan berbaris, dan dia, Dumbledore, maupun makhluk di bawah kursi itu adalah tiga makhluk yang ada di tempat ini. Tiba-tiba jawabannya muncul tanpa ia harus berpikir keras. "Dia mengambil darahku," kata Harry. "Tepat sekali!" kata Dumbledore. "Dia mengambil darahmu dan membentuk tubuhnya lagi dengan itu! Darahmu mangalir dalam tubuhnya, Harry, perlindungan Lily ada dalam tubuh kalian berdua! Dia telah mengikat dirimu untuk terus hidup selagi dia juga masih hidup!" "Aku hidup ... selagi dia hidup? Tapi kupikir ... Kupikir bukannya sebaliknya! Dan bukankah kami berdua harus mati? Atau semua itu sama saja?" Harry terganggu oleh suara rengekan dan pukulan dari makhluk yang kesakitan di belakang mereka itu dan ia melirik ke arah makhluk itu lagi. "Kau yakin kita tak dapat melakukan sesuatu untuknya?" "Tidak ada pertolongan yang mampu kita berikan." "Kalau begitu... tolong jelaskan lebih lanjut lagi," kata Harry, dan Dumbledore tersenyum. "Kau adalah Horcrux yang ke tujuh, Harry, Horcrux yang tak pernah diniatkan untuk dibuat oleh Voldemort. Dia sebelumnya telah membuat jiwanya menjadi tidak stabil sehingga jiwanya terpecah saat dia melakukan kejahatan itu, membunuh kedua orangtuamu, dan berusaha membunuh seorang anak kecil. Dia bahkan tak menyadari sesuatu yang lolos dari ruangan itu. Dia tak hanya meninggalkan tubuhnya. Dia juga meninggalkan sebagian dari jiwanya yang kemudian menempel padamu, korban yang berhasil bertahan hidup. Dan pengetahuannya tetap saja tidak lengkap, Harry! Ada banyak hal yang tidak pernah dihargai oleh Voldemort, dan dia memang tidak mau peduli. Mengenai peri rumah dan cerita anak-anak, mengenai cinta, kesetiaan, dan kebaikan, Voldemort tidak tahu dan tidak memahami apapun,Tidak mengerti sama sekali . Bahwa semua itu memiliki kekuatan diluar kemampuannya, sebuah kekuatan jauh melebih kekuatan sihir apapun, dan itu semua adalah hal-hal yang tidak pernah dia coba untuk mengerti. Dia mengambil darahmu, karena mengira itu akan memperkuat dirinya. Dia telah memasukkan ke dalam tubuhnya, sebagian kecil dari perlindungan yang diberikan ibumu padamu saat ibumu mati. Tubuhnya telah membuat pengorbanan ibumu tetap hidup, dan saat mantra tersebut tetap hidup, kau pun akan tetap hidup dan demikian juga sisa pecahan jiwa Voldemort." Dumbledore tersenyum kepada Harry yang menatapnya. "Dan kau telah tahu hal ini? Kau tahu -- selama ini?' "Aku telah menduganya. dan dugaanku biasanya bagus," kata Dumbledore senang, mereka kemudian terdiam dalam waktu yang sepertinya lebih lama, makhluk di belakang mereka masih merengek dan gemetar. "Ada lagi," kata Harry. "Ada hal lain. Mengapa tongkatku menghancurkan tongkat yang dia pinjam?" "Untuk hal itu, Aku tak dapat yakin sepenuhnya." "Ayo cobalah menduga," kata Harry, dan Dumbledore tertawa. "Yang harus kau pahami Harry, adalah bahwa kau dan Voldemort telah melalui sebuah peristiwa yang belum pernah dilalui oleh orang lain dan belum dipahami sepenuhnya. Itu menurutku, jadi peristiwa tersebut belum pernah terjadi sebelumnya, dan para pembuat tongkat pun tak pernah memperkirakan ini maupun menjelaskan ini pada Voldemort sebelumnya. Tanpa dimengerti oleh Voldemort, dia telah menggandakan ikatan diantara kalian berdua saat dia kembali ke wujud manusianya. Sebagian dari jiwanya masih menempel padamu, dan ia berpikir bahwa dengan mengambil sebagian dari pengorbanan ibumu maka itu akan memperkuat dirinya. Jika saja dia mengerti kekuatan dari pengorbanan itu, tentu dia tak akan berani menyentuh darahmu. Namun jika dia dapat memahami ini tentu dia bukanlah Lord Voldemort, dan dia tentu tak akan menjadi pembunuh sama sekali. Tanpa mengetahui bahwa hubungan kalian telah menjadi dua kali lebih kuat, bahwa takdir kalian telah menyatu lebih dari pada dua penyihir yang pernah bersatu sebelumnya, Voldemort tetap menyerangmu dengan tongkat yang intinya merupakan kembaran inti tongkatmu. Dan sesuatu yang aneh terjadi, sebagaimana yang telah kita ketahui. Inti tongkat itu bereaksi tanpa dapat diprediksi karena Voldemort tak tahu bahwa inti tongkatmu adalah kembaran inti tongkatnya. Dia sebenarnya jauh lebih takut dari pada dirimu pada malam itu, Harry. Kau telah menerima, bahkan menyambut, kemungkinan dari kematianmu, sesuatu yang Lord Voldemort tidak pernah dapat lakukan. keberanianmu menang, tongkatmu mengalahkan tongkatnya. dan sesuatu terjadi diantara tongkatmu, sesuatu yang juga berpengaruh pada hubungan antara para pemiliknya. Aku yakin bahwa tongkatmu menyerap sebagian kekuatan dan kemampuan dari tongkat Voldemort malam itu, yang kalau boleh dibilang mengandung kekuatan Voldemort sendiri. Sehingga tongkatmu mengenalinya saat ia mengejarmu, tongkatmu mengenali orang yang merupakan saudara sekaligus musuh abadinya, dan tongkatmu memuntahkan kekuatan sihirnya sendiri melawan Voldemort, sihir yang jauh lebih kuat dari semua yang dapat dilakukan oleh tongkat Lucius. Tongkatmu sekarang mengandung keberanian sekaligus kemampuan Voldemort yang mematikan: Tentu saja tongkat Lucius tak dapat bertahan melawannya khan?" "Tapi jika tongkatku begitu ampuh, bagaimana mungkin Hermione dapat mematahkannya?" tanya Harry. "Anakku, kedasyatan tongkatmu hanya berpengaruh pada Voldemort, yang telah bermain-main dengan hukum sihir yang terdalam. Hanya padanyalah tongkatmu mengeluarkan kekuatan luar biasa. Selain kepadanya, tongkatmu hanyalah sama seperti tongkat lainnya ... tentu saja tongkat yang bagus, aku yakin itu," kata Dumbledore mengakhiri dengan sopan. Harry duduk sambil berpikir dalam waktu yang lama, namun terasa beberapa detik. Dia merasa tidak dapat yakin mengenai segala sesuatunya di sini, termasuk waktu. "Dia membunuhku dengan tongkatmu." "Dia gagal membunuhmu dengan tongkatku," Dumbledore membetulkan Harry. "Kurasa kita dapat menyetujui bahwa dirimu tidak mati -- namun demikian," dia menambahkan seakan-akan takut kalau dirinya tidak sopan, "tentu saja aku tidak mengecilkan penderitaanmu, yang tentu saja aku yakin sangat besar." "Tapi aku merasa baik-baik saja saat ini," kata Harry, sambil melihat ke bawah ke arah tangannya yang bersih dan tanpa cacat. "Dimana kita sebenarnya?" "Aku baru saja akan bertanya padamu," kata Dumbledore sambil melihat ke sekeliling. "Menurutumu dimana kita?" Sampai saat Dumbledore bertanya, Harry tak tahu dimana mereka sebelumnya. Namun sekarang, sepertinya dia tahu jawabannya. "Sepertinya," katanya perlahan, "ini adalah Stasiun Kereta Api King's Cross. Hanya saja jauh lebih bersih dan kosong, dan tak ada kereta api di sini setahuku." "Stasiun King's Cross!" kata Dumbledore. "Wow, benarkah?" "Kalau begitu menurutmu dimana kita sekarang?" tanya Harry sedikit terlihat mempertahankan diri. "Oh, anakku, aku tentu saja tak tahu. Tempat ini, seperti yang mereka bilang, adalah pilihanmu." Harry tak mengerti maksudnya; Dumbledore hanya membuatnya tambah bingung dan gusar. Harry memandang padanya dengan marah, kemudian ia ingat sesuatu yang ingin ditanyakannya jauh lebih penting dari pada pertanyaan mengenai tempat ini. "Relikui Kematian," katanya, dan dia senang melihat senyum di bibir Dumbledore langsung menghilang ketika dia menyebut kata-kata itu. "Ah, ya," katanya. Dia bahkan terlihat sedikit lebih cemas. "Jadi?" Untuk pertama kalinya sejak Harry bertemu Dumbledore, dia tidak lagi terlihat sebagai orang tua. Sekilas dia terlihat sebagai seorang anak yang ketahuan telah melakukan sesuatu yang salah. "Dapatkah kau memaafkanku?" katanya. "Dapatkah kau memaafkanku karena tidak mempercayaimu? Dan tidak memberitahumu? Harry, Aku hanya takut kau membuat kesalahan yang sama denganku. Aku memohon pegampunanmu Harry. Sekarang aku menyadari bahwa kau jauh lebih baik dari pada aku." "Apa yang kau bicarakan?" tanya Harry, yang kebingungan dengan nada suara Dumbledore, dan air mata yang mengalir dari mata orang tua itu. "Hallows, Relikui ," kata Dumbledore lirih. "Adalah mimpi bagi orang yang putus asa!" "Tapi mereka nyata khan!" "Nyata dan berbahaya, benda itu mempunyai daya tarik bagi mereka yang bodoh," kata Dumbledore. "Dan aku dulu sangatlah bodoh. Tapi kau sudah tahu tentunya? Aku tidak memilki rahasia padamu lagi khan." "Tapi aku tahu apa?" "Penakluk Kematian, Harry, penakluk kematian! Apakah aku lebih baik dari Voldemort?" "Tentu saja," kata Harry. "Tentu saja kau lebih baik - mengapa kau bertanya seperti itu? Kau tak pernah membunuh siapapun jika itu mampu dihindari!" "Ya memang benar," kata Dumbledore, seakan-akan dia mencari pembenaran. "Tapi aku juga tenggelam ke dalam pencarian cara mengalahkan kematian, Harry." "Namun tidak dengan cara yang seperti Voldemort lakukan," kata Harry. Setelah semua kemarahannya pada Dumbledore, betapa aneh rasanya mereka duduk di sini, di bawah atap kubah, dan membela Dumbledore. "Hallows, bukan Horcrux." "Hallows," kata Dumbledore, "bukan Horcrux. Benar sekali." Mereka terdiam. Makhluk di belakang mereka masih merengek, tapi Harry tak lagi memperdulikannya. "Grindelwald dulu juga mencarinya khan?" tanya Harry. Dumbledore menutup matanya untuk sesaat dan mengangguk. "Hallows telah menyatukan kami lebih dari pada apapun," kata Dumbledore pelan. "Dua remaja pandai dan arogan yang memiliki obsesi yang sama. Dia ingin pergi ke Godric's Hollow, yang kuyakini sebagaiamana kau duga, karena disana terdapat makam Ignotus Peverell. Dia ingin menjelajahi tempat dimana saudara ketiga itu meninggal." "Jadi benar ya?" tanya Harry. "Semua ini? Tiga bersaudara Peverell --" "-- adalah tiga bersaudara dalam cerita itu," kata Dumbledore sambil mengangguk. "Menurutku begitu. Namun apakah mereka bertemu Sang Kematian di tengah perjalanan mereka ... menurutku lebih karena kakak beradik Peverell itu adalah penyihir yang sangat berbakat dan berbahaya, dan mereka berhasil membuat benda-benda yang luar biasa. Cerita mengenai mereka yang menguasai Hallows milik Sang Kematian menurutku hanyalah semacam legenda yang mulai merebak saat benda-benda tersebut dibuat. Jubah itu, sebagaimana kau ketahui juga, diturunkan sejak dulu kala dari ayah ke anak laki-lakinya, ibu ke anak perempuannya, sampai pada keturunan terakhir Ignotus yang masih hidup, yang lahir, sebagaimana Ignotus, di Godric's Hollow." Dumbledore tersenyum kepada Harry. "Maksudmu aku?" "Ya kaulah orangnya. Kau tentu telah menduganya, mengapa Jubah itu berada padaku di malam orang tuamu meninggal. James telah menunjukkannya padaku hanya beberapa hari sebelumnya. Itu tentu saja menjelaskan smuanya, bagaimana dia tak terdeteksi saat melakukan pelanggaran di sekolah! Aku tak percaya terhadap apa yang kulihat. Aku meminta pada ayahmu untuk meminjamkannya, untuk mempelajarinya. Aku sebenarnya telah lama melupakan mimpi untuk menyatukan ketiga Hallows itu, namun aku tak mampu menolak godaan itu, godaan untuk melihat lebih dekat ... Jubah itu tak seperti jubah gaib lainnya, sudah sangat tua, namun tetap sempurna di setiap detilnya ... kemudian ayahmu meninggal, dan akhirnya dua Hallows ada ditanganku?" Nadanya terdengar getir. "Jubah Gaib itu tetap tak dapat melindungi orangtuaku," kata Harry cepat. "Voldemort sudah tahu dimana ibu dan ayahku berada. Jubah Gaib tak dapat membuat mereka kebal terhadap kutukan." "Benar," kata Dumbledore. "Memang benar." Harry menunggu, namun Dumbledore tidak berkata apapun, maka dia melanjutkan. "Jadi kau sebelumnya telah melupakan hasratmmu untuk mencari Hallows saat kau melihat Jubah gaib itu?" "Iya," Kata Dumbledore pelan. Dia memaksakan diri untuk melihat ke mata Harry. "Kau tahu yang terjadi khan. Kau tak dapat membenci diriku lebih dari pada aku membenci diriku sendiri." "Tapi aku tidak membencimu - " "Sudah sepantasnya kau membenciku," kata Dumbledore. Dia menarik nafas dalam-dalam. "Kau sudah tahu rahasia mengenai kesehatan adik perempuanku, apa yang telah dilakukan para Muggle itu, sehingga adikku menjadi seperti itu. Kau sudah tahu bagaimana ayahku yang malang telah membalas dendam, dan menerima ganjarannya, meninggal di Azkaban. Kau sudah tahu bagaimana ibuku mencurahkan semuanya untuk merawat Ariana. Dulu aku merasa terbebani dengan semua itu, Harry." Dumbledore mengutarakannya dengan suara dingin. Dia memandang melewati kepala Harry, melihat ke kejauhan. "Aku dulu sangat berbakat, sangat pintar. Aku ingin melarikan diri dari semua itu. Aku ingin bersinar. Aku ingin kejayaan. Namun jangan salah paham," katanya, dan kepedihan terlihat lagi di wajahnya sehingga dia terlihat tua kembali. "Aku mencitai mereka, aku mencintai orangtuaku dan adik-adikku, tapi aku sangatlah egois, Harry, jauh lebih egois dari pada dirimu, yang menurutku orang yang paling tidak egois yang pernah ada. Jadi, ketika ibuku meninggal, dan aku diwarisi tanggung jawab akan seorang adik perempuan yang sakit dan seorang adik laki-laki yang sulit dikendalilan, aku kembali ke rumahku dengan perasaan jengkel dan marah. Aku merasa terpenjara dan sia-sia! Dan kemudian, dia datang ..." Dumbledore menatap mata Harry lagi. "Grindelwad. Kau tak dapat membayangkan betapa ide-idenya mempesonaku., Harry, membuatku bersemangat. Ide membuat Muggle patuh. Ide mengenai kita sebagai penyihir akan berjaya. Grindelwad dan aku, dua pemuda sebagai pemimpin revolusi. Tentu saja aku merasakan sedikit keberatan. Namun aku selalu mencoba menghilangkan akal sehatku dengan alasan-alasan kosong. Ini semua dilakukan untuk kebaikan yang lebih besar, dan jika ada korban, semua itu sepadan dengan keuntungan yang akan diperoleh oleh para penyihir. Aku sendiri bertanya pada diriku, apakah waktu itu aku sebenarnya tahu isi hati Grindelwad? Kurasa aku tahu, tapi aku pura-pura tidak tahu. Jika rencana kami berhasil, semua mimpiku akan menjadi kenyataan. Dan inti dari rencana kami adalah Relikui Kematian, The Deathly Hallows! Benda itu sangat mempesonanya, akupun ikut terpesona! Tongkat yang tak terkalahkan, senjata yang akan memberi kami kekuatan! Batu Kebangkitan - walupun aku pura-pura tidak tahu dan menutup mata, tapi kurasa dia akan menggunkannya untuk membentuk pasukan Inferi! Namun bagiku ini berarti kembalinya kedua orang tuaku, sehingga aku dapat terbebaskan dari tanggung jawabku akan adik-adikku. Dan mengenai Jubah itu ... rasanya kami jarang membahasnya, Harry. Kami berdua merasa dapat membuat diri kami tak terlihat tanpa bantuan Jubah apapun, fungsi sebenarnya dari jubah itu adalah untuk melindungi pemiliknya maupun orang lain jika diinginkan. Kupikir jika kami berhasil menemukannya, mungkin akan berguna untuk menyembunyikan Ariana, namun sebenarnya kami berpendapat bahwa Jubah itu hanya untuk melengkapi Hallow lainnya, karena legenda mengatakan bahwa siapapun yang mampu menyatukan ketiganya maka dia akan menjadi penakluk kematian, yang menurut kami itu artinya menjadi tak terkalahkan. Penakluk kematian yang tak terkalahkan, Grindelwald dan Dumbledore! Dua bulan penuh mimpi yang liar dan penuh kegilaan, sampai aku menelantarkan dua anggota keluargaku yang tersisa, dimana mereka sebenarnya adalah tanggung jawabku. Dan kemudian ... kau tahu yang terjadi. Kenyataan kembali padaku melalui adik laki-lakiku yang kasar, tak berpendidikan, namun jauh lebih terhormat dari pada aku. Waktu itu aku tak mau mendengarkan kenyataan yang terus diteriakkan olehnya. Aku tak mau mendengar bahwa aku tak akan dapat terus mencari Hallow dengan adanya adik yang sakit dan rapuh di pundakku. Perdebatan kami menjadi sebuah pertengkaran. Grindelwald kehilangan kendali. Sebenarnya aku sudah dapat merasakan keganasan dalam dirinya, namun aku menutup mata, yang pada akhirnya dirinya menjadi sesuatu yang sangat jahat. Dan Ariana ... setelah semua perawatan dan kasih sayang yang dicurahkan oleh ibuku ... dia terbaring mati di lantai." Dumbledore sedikit menahan nafas dan mulai menagis. Harry meraihnya dan merasa senang bahwa ia dapat menyentuh Dumbledore; Dia memegang tangan Dumbledore yang perlahan mulai dapat menguasai dirinya. "Grindelwald akhirnya melarikan diri, seharusnya sudah dapat kuperkirakan. Dia menghilang, bersama dengan rencananya untuk meraih kekuatan, menyiksa Muggle, dan mimpinya mengenai Deathly Hallows, mimpi dimana aku ikut membantu dan menyemangatinya. Dia lari disaat aku harus mengubur adikku, dan aku harus belajar untuk hidup menanggung perasaan bersalah dan kesedihan ini, sebuah harga yang harus kubayar atas semua kesalahanku. Setelah beberapa tahun, aku mendengar mengenai dirinya. Orang-orang mengatakan bahwa dia telah memperoleh sebuah tongkat dengan kekuatan luar biasa. Aku pada waktu itu sedang ditawari pekerjaan sebagai Menteri Sihir, dan ini bukan yang pertama kali, bahkan sudah beberapa kali. Tentu saja aku menolaknya. Aku telah belajar bahwa aku tidak dapat dipercaya untuk memegang kekuasaan.” "Tapi kau pasti jauh lebih baik dari pada Fudge ataupun Scimgeour!" kata Harry. "Benarkah?" kata Dumbledore dengan suara berat. "Aku tak yakin akan hal itu. Aku telah membuktikan, sebagai seorang pemuda, bahwa kekuasaan dan kekuatan adalah kelemahanku dan godaanku. Kekuasaan adalah sesuatu yang membuatku tertarik, Harry, mungkin kekuasaan dan kekuatan sebaiknya paling cocok diberikan pada mereka yang tidak pernah mencarinya. Orang seperti dirimu, yang memiliki jiwa kepemimpinan, dan mejadi pemimpin karena memang harus menjalaninya, dan mengejutkan bagi semua orang bahwa orang sepertimu dapat menjalankannya dengan baik. Aku lebih aman jika berada di Hogwarts. Menurutku aku adalah seorang guru yang baik --" "Kau guru terbaik yang pernah ada ---" "-- kau baik sekali, Harry. Namun saat aku sibuk mendidik penyihir muda, Grindelwald sedang membangun pasukannya. Menurut orang-orang dia takut padaku, mungkin memang demikian, tapi menurutku aku lebih takut. Oh, bukan kematian yang membuatku takut," kata Dumbledore begitu melihat wajah Harry yang menunjukkan tanda tanya. "Aku tidak takut pada apa yang mampu dia lakukan padaku. Aku tahu bahwa kami seimbang, mungkin aku lebih sedikit trampil. Yang kutakutkan adalah kebenaran. Sebenarnya, aku tak pernah tahu, pada pertengakaran itu siapa yang mengeluarkan kutukan sehingga menyebabkan adikku meninggal. Kau boleh memanggilku pengecut: itu memang benar. Aku sangat takut jika ternyata keangkuhanku dan kebodohankulah yang telah merengut nyawa adikku. Menurutku Grindelwald tahu hal ini, hal yang membuatku takut. Aku selalu menunda pertemuan kami, sampai akhirnya semua ini terlalu memalukan untuk ditunda lagi. Korban berjatuhan dan dia sepertinya tak terkalahkan, maka aku harus melakukan yang dapat aku lakukan. Kau tahu selanjutnya. Aku menang dalam pertempuran itu. Aku memenangkan tongkatnya." Mereka berdua kemudian terdiam. Harry tak bertanya lebih lanjut apakah Dumbledore mengetahui siapa yang membuat Ariana terbunuh. Harry tak perlu tahu itu bahkan dia tak ingin Dumbledore memberitahunya. Paling tidak dia tahu apa yang Dumbledore mungkin lihat di cermin Tarsah (Mirror of Erised), dan Harry paham mengapa Dumbledore begitu mengerti ketertarikannya pada cermin itu. Mereka berdua duduk diam dalam waktu yang lama, dan suara makhluk di belakang mereka sudah tidak mempengaruhi Harry lagi. Akhirnya Harry berkata, "Grindelwald berusaha menghentikan Voldemort yang memburu tongkat itu. Dia membohongi Voldemort, dia mengatakan bahwa dia tak pernah memilikinya." Dumbledore mengangguk sambil melihat ke pangkuannya, air mata masih mengalir di hidungnya yang bengkok. "Orang-orang bilang bahwa dia menunjukkan penyesalan di kemudian hari saat dia sendirian di selnya di Nurmengard. Kuharap itu benar. Aku sangat berharap dia merasa menyesal dan malu atas perbuatannya. Mungkin ketika dia membohongi Voldemort itu adalah salah satu cara ia menebus dosanya ... untuk mencegah Voldemort mengambil Hallow itu ..." "... atau dia berusaha mencegah Voldemort dari membongkar makammu?" kata Harry, dan Dumbledore menyeka matanya. Setelah beberapa saat Harry berkata, "Kau berusaha menggunakan Batu Kebangkitan khan." Dumbledore mengangguk. "Ketika aku menemukannya, bahwa selama ini benda itu terkubur di reruntuhan rumah keluarga Gaunts --- Hallow yang paling aku inginkan, walau dulu aku menginginkannya untuk alasan yang berbeda --- aku kehilangan akal sehatku, Harry. Aku lupa bahwa benda itu telah menjadi Horcrux dan tentu saja cincin itu mengandung kutukan. Aku memungutnya dan memakainya, dan beberapa saat aku membayangkan bahwa aku akan bertemu Ariana, Ibuku, dan Ayahku, kemudian akan ku katakan pada mereka betapa menyesalnya aku ... Aku sangat bodoh Harry. Setelah semua yang kulalui, aku tidak belajar apapun dari pengalaman itu. Aku memang tidak patut menyatukan Deathly Hallow, aku telah membuktinya dulu, dan sekarang bukti yang paling nyata." "Tapi mengapa?" kata Harry. "Apa salahnya jika kau ingin bertemu mereka lagi? Itu adalah hal yang wajar." "Mungkin satu orang dalam sejuta dapat menyatukan Hallow, Harry. Aku hanya cocok memiliki salah satunya yang paling biasa. aku hanya dapat memilki Tongkat Elder,dan bukan untuk menggunakannya sebagai alat pembunuh. Aku diijinkan memilkinya karena aku menjinakkannya dan akan menggunakannya untuk untuk menyelamatkan orang lain, bukan untuk keuntungan pribadi. Tapi Jubah itu aku dapatkan karena keingintahuanku, sehingga benda itu tak akan dapat berfungsi sebagaimana ia berfungsi bagimu, pemilik yang sesungguhnya. Batu itu akan aku gunakan untuk membawa mereka yang telah beristirahat dengan tenang ke dunia ini, tidak seperti dirimu yang memperolehnya karena sebuah pengorbanan diri. Kau adalah orang yang cocok memiliki semua Hallows itu." Dumbledore menepuk-nepuk tangan Harry, dan Harry melihat ke Dumbledore yang tersenyum; Dia Berpikir, Bisa-bisanya dia marah terhadap Dumbledore? "Mengapa kau membuat ini semua menjadi sangat sulit?” Senyum Dumbledore terlihat bergetar. "Aku mempercayakan Nona Granger untuk memperlambatmu, Harry. Aku takut jika ketergesa-gesaanmu akan mengusai hatimu yang mulia. Aku takut jika aku memberikannya begitu saja benda-benda yang menggoda itu padamu, kau akan memperoleh Hallows dengan cara yang sama denganku, karena alasan yang salah. Aku ingin benda-benda itu sampai ke tanganmu dengan cara yang aman. Kau adalah penakluk kematian yang sebenarnya, karena penakluk yang sebenarnya tidak akan lari dari kematian itu sendiri. Dia akan menerima bahwa dirinya harus mati, dan memahami bahwa ada banyak hal yang lebih buruk di dunia ini daripada mati.” "Dan apakah Voldemort pernah tahu mengenai Hallows?" "Kurasa tidak, karena dia tidak mengenali Batu Kebangkitan itu saat dia menjadikannya sebuah Horcrux. Tapi kalaupun jika dia tahu mengenai Hallows, Harry. Aku ragu dia akan tertarik kecuali mungkin tertarik pada Tongkat itu. Dia pasti akan berpikir bahwa dia tidak memerlukan Jubah, dan untuk batu itu, siapa yang akan dia bawa kembali dari kematian? Dia takut akan kematian. Dia tidak mengerti cinta." "Tapi kau sudah memperkirakan bahwa dia akan mengejar tongkat itu?” "Aku sudah menduganya bahwa dia akan mencarinya sejak tongkatmu mengalahkan tongkatnya di pemakaman Little Hangleton waktu itu. Pada awalnya dia takut kalau kemampuanmu telah mengalahkannya. Namun setelah dia menculik Ollivander, dia baru tahu bahwa tongkat kalian mempunyai inti kembar. Menurutnya dia menemukan jawabannya. Namun ternyata tongkat pinjamannya tak dapat berbuat banyak melawanmu! Jadi daripada mencari jawaban atas kualitas apa yang ada dalam dirimu dan kemampuan yang tidak dia miliki, dia lebih senang mencari sebuah tongkat yang menurut orang-orang akan mengalahakan tongkat lainnya. Baginya, Tongkat Elder telah menjadi sebuah obsesi sebanding dengan obsesinya terhadap dirimu. Dia berpikir bahwa Tongkat Elder akan menutupi kelemahannya dan membuatnya tak terkalahkan. Oh, Severus yang malang..." "Jika kau telah merencanakan kematianmu dengan Snape, berarti kau berencana agar dia yang mengambil Tongkat Elder, begitu khan?" "Kuakui memang itu rencanaku," kata Dumbledore, "tapi rencana itu tidak berjalan sebagaimana yang aku maksud, khan?" "Tidak," kata Harry. "Sepertinya rencana itu tidak berhasil." Makhluk di belakang mereka bergetar dan berteriak, dan Harry dan Dumbledore duduk dalam diam untuk waktu yang lama. Harry mulai menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya, kesadaran ini datang secara perlahan seperti salju yang turun ke bumi. "Aku harus kembali ya?" "Itu terserah padamu." "Aku bisa memilih?" "Oh, tentu saja," Dumbledore tersenyum padanya. "Kita di King's Cross katamu? Menurutku jika kau memutuskan untuk tidak kembali, kau akan dapat ... katakanlah ... naik ke atas kereta." "Dan kemana kereta itu akan membawaku?" "Membawamu pergi," kata Dumbledore singkat. Mereka terdiam lagi. "Voldemort telah mendapatkan Tongkat Elder." "Memang benar. Voldemort mendapatkan Tongkat Elder." "Tapi kau ingin aku kembali?" "Menurutku," kata Dumbledore, "Jika kau memutuskan untuk kembali, ada kemungkinan dia akan kalah untuk selamanya. Aku tak dapat menjanjikannya. Tapi aku tahu ini, Harry, bahwa kau tidak akan takut lagi untuk kembali ke sini, dia lebih takut tentu saja." Harry melirik lagi ke arah makhluk itu yang sedang bergetar dan semakin tersedak di bawah bayang-bayang kursi di kejauhan. "Jangan mengkasihani mereka yang mati, Harry. Kasihanilah mereka yang hidup, dan di atas itu semua, kasihanilah mereka yang hidup tanpa cinta. Dengan kembali ke dunia, kau mungkin dapat mengurangi jumlah jiwa yang akan menjadi korban, sehingga tidak ada lagi keluarga yang terpecah belah. Jika menurutmu itu semua merupakan tujuan yang patut diperjuangkan, maka kita harus berpisah di sini." Harry mengangguk dan menarik nafas. Meninggalkan tempat ini akan sama beratnya dengan saat dia memasuki hutan itu, tempat ini hangat dan terasa damai, dan dia tahu bahwa dia akan kembali kepada rasa sakit dan rasa takut akan kehilangan. Dia berdiri, dan Dumbledore juga berdiri, dan mereka saling memandang untuk waktu yang lama. "Katakan padaku," kata Harry, "Apakah ini semua nyata? Atau ini semua hanya terjadi di kepalaku?" Dumbledore memandang ke arahnya dan berkata dengan suara yang terasa keras di telinga Harry meskipun kabut putih itu mulai turun lagi, dan mulai menghalangi pandangan. "Tentu saja ini semua terjadi di kepalamu, Harry, tapi ini bukan berarti tidak nyata, khan?"

The Soda Pop