Disneyland 1972 Love the old s
HARRY
POTTER
HORACE SLUGHORN.. KENDATI beberapa hari belakangan ini kalau tidak sedang tidur dia melewatkan sepanjang waktu dengan berharap sepenuh hati Dumbledore betul-betul datang menjemputnya, Harry merasa canggung sekali ketika mereka berjalan berdua sepanjang Privet Drive. Dia belum pernah benar-benar mengobrol dengan kepala sekolahnya di luar Hogwarts; biasanya selalu ada meja di antara mereka. Ingatan akan pertemuan terakhir mereka berulang-ulang terlintas di benaknya juga, dan ini membuat Harry agak malu. Dia banyak berteriak dalam pertemuan itu, belum lagi berusaha keras menghancurkan beberapa milik Dumbledore yang paling berharga. Dumbledore, meskipun demikian, tampak sepenuhnya rileks. 79 eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. MR. Collection's "Tongkat siap, Harry," katanya ceria. "Tetapi bukankah saya dilarang menggunakan sihir di luar sekolah, Sir?" "Jika ada serangan," kata Dumbledore, "aku memberimu izin untuk menggunakan mantra kontra-kutukan atau penangkal-sihir yang terlintas di benakmu. Meskipun demikian, kurasa kau tak perlu khawatir diserang malam ini." "Kenapa tidak, Sir?" "Kau bersamaku," kata Dumbledore sederhana. "Di sini sudah cukup, Harry." Dumbledore berhenti mendadak di ujung Privet Drive. "Kau, tentunya, belum lulus ujian Apparition-mu, kan?" "Belum," kata Harry. "Kan harus sudah berusia tujuh belas tahun?" "Memang," kata Dumbledore. "Kalau begitu kau perlu berpegang pada lenganku erat-erat. Yang kiri, tolong—seperti yang telah kaulihat, lengan pemegang tongkatku agak rapuh sekarang ini." Harry memegang erat lengan yang disodorkan Dumbledore. "Bagus sekali," kata Dumbledore. "Nah, kita berangkat sekarang." Harry merasa lengan Dumbledore tertarik menjauh darinya dan mengencangkan pegangannya: berikutnya, tahu-tahu segalanya menjadi gelap, dia merasa ditekan keras dari segala jurusan; dia tak bisa bernapas, ada tali-tali besi membelit erat dadanya; bola 80 matanya didorong masuk lebih dalam ke dalam rongganya, dan kemudian— Harry menghirup dalam-dalam udara dingin malam hari beberapa kali dan membuka matanya yang berair. Rasanya seperti dia baru saja didorong melewati pipa karet yang sangat sempit. Baru beberapa detik kemudian dia menyadari bahwa Privet Drive telah lenyap. Dia dan Dumbledore sekarang berdiri di tempat yang tampaknya lapangan desa yang kosong, di tengahnya berdiri tugu peringatan perang yang sudah tua dan ada beberapa bangku. Pemahamannya menyusul perasaannya, Harry sadar dia baru saja ber-Apparate untuk pertama kalinya dalam hidupnya. "Kau tak apa-apa?" tanya Dumbledore, menunduk memandangnya cemas. "Perlu beberapa waktu sampai kau terbiasa dengan sensasinya." "Saya baik-baik saja," kata Harry, menggosok telinganya, yang rasanya meninggalkan Privet Drive dengan enggan. "Tetapi saya rasa saya lebih suka naik sapu." Dumbledore tersenyum, menarik mantel bepergiannya sedikit lebih rapat di bagian leher, dan berkata, "Ke sini." Dia berjalan dengan gesit, melewati losmen kosong dan beberapa rumah. Menurut jam di gereja di dekat situ, saat itu hampir tengah malam. "Katakan padaku, Harry," kata Dumbledore. "Bekas lukamu... apakah belakangan ini sakit?" Tanpa sadar Harry mengangat tangan ke dahinya dan menggosok bekas luka berbentuk sambaran petir. "Tidak," katanya, "dan saya bertanya-tanya soal itu. 81 Saya pikir bekas luka itu akan sakit terus sekarang setelah Voldemort menjadi sangat kuat lagi." Dia mendongak mengerling Dumbledore dan melihat wajahnya diliputi ekspresi puas. "Aku justru menduga sebaliknya," kata Dumbledore. "Lord Voldemort akhirnya menyadari adanya akses ke pikiran dan perasaannya yang selama ini kaunikmati. Rupanya sekarang dia menggunakan Occlumency terhadapmu." "Saya tidak mengeluh," kata Harry, yang sama sekali tidak merasa kehilangan mimpi-mimpi buruk ataupun kilasan-kflasan mengejutkan ke dalam pikiran Voldemort. Mereka membelok, melewati boks telepon dan halte bus. Harry mengerling Dumbledore lagi. "Profesor?" "Harry?" "Er—di mana kita ini?" "Ini, Harry, adalah desa Budleigh Babberton yang indah." "Dan apa yang kita lakukan di sini?" "Ah, ya, tentu saja, aku belum memberitahumu," kata Dumbledore. "Nah, aku tak tahu sudah berapa kali aku mengatakan ini dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kita, sekali lagi, kekurangan satu guru. Kita berada di sini untuk membujuk rekan kerja lamaku untuk meninggalkan masa pensiunnya dan kembali ke Hogwarts." "Bagaimana saya bisa membantu soal itu, Sir?" "Oh, kurasa kita akan menemukan kegunaanmu," kata Dumbledore tak jelas. "Belok kiri, Harry." 82 Mereka berjalan sepanjang jalan kecil curam yang diapit deretan rumah. Semua jendelanya gelap. Rasa dingin aneh yang telah menyelimuti Privet Drive selama dua minggu, juga terasa di sini. Teringat Dementor, Harry menoleh ke belakang dan menggenggam tongkat sihir dalam sakunya untuk menenteramkan hati. "Profesor, kenapa kita tidak langsung saja ber- Apparate di dalam rumah rekan kerja lama Anda?" "Karena itu sama tidak sopannya seperti kita menendang pintu depannya," kata Dumbledore. "Kesopanan menuntut kita memberi kesempatan kepada sesama penyihir untuk menolak kedatangan kita. Lagi pula, sebagian besar tempat tinggal para penyihir dilindungi dengan sihir untuk menghalangi Apparition yang tak diinginkan. Di Hogwarts, misalnya saja—" "—siapa pun tak bisa ber-Apparate di mana pun di dalam bangunan maupun halamannya," kata Harry cepat. "Hermione Granger yang memberitahu saya." "Dan dia benar sekali. Kita belok kiri lagi." Lonceng gereja di belakang mereka berdentang menyatakan tengah malam. Harry bertanya-tanya dalam hati kenapa Dumbledore tidak menganggap tidak sopan mengunjungi kawan lamanya larut malam begini, namun sekarang setelah obrolan dibuka, ada pertanyaan- pertanyaan lain yang lebih mendesak. "Sir, saya melihat di Daily Prophet Fudge telah dipecat..." "Betul," kata Dumbledore, sekarang berbelok ke jalan kecil yang curam. "Dia digantikan, kau pasti juga sudah melihat, oleh Rufus Scrimgeour, yang tadinya Kepala Kantor Auror." 83 "Apakah dia... menurut Anda dia cakap?" tanya Harry. "Pertanyaan menarik," kata Dumbledore. "Dia mampu, jelas. Orang yang lebih tegas dan kuat daripada Cornelius." "Ya, tapi maksud saya—" "Aku tahu apa maksudmu. Rufus orang yang biasa bertindak dan, telah berpengalaman melawan penyihir hitam hampir sepanjang masa kerjanya, dia tidak memandang enteng Lord Voldemort." Harry menunggu, namun Dumbledore tidak mengatakan apa-apa soal perselisihan pendapatnya dengan Scrimgeour yang dilaporkan Daily Prophet, dan dia tak punya nyali untuk memperpanjang soal ini, maka dia mengganti topik. "Dan... Sir... saya membaca tentang Madam Bones." "Ya," kata Dumbledore pelan. "Kehilangan yang sangat disayangkan. Dia penyihir hebat. Di depan situ, kukira—ouch." Dia telah menunjuk dengan tangannya yang terluka. "Profesor, kenapa tangan—?" "Aku tak punya waktu untuk menjelaskannya sekarang," kata Dumbledore. "Kisahnya seru sekali, harus ada waktu khusus." Dia tersenyum kepada Harry, yang mengerti bahwa dia tidak dimarahi, dan bahwa dia diizinkan untuk terus mengajukan pertanyaan. "Sir—saya menerima selebaran Kementerian Sihir yang diantar burung hantu, tentang langkah-langkah keamanan yang harus kita semua lakukan terhadap Pelahap Maut..." 84 "Ya, aku juga menerima selebaran itu," kata Dumbledore, masih tersenyum. "Apa menurutmu petunjuk itu berguna?" "Tidak begitu." "Menurutku juga tidak. Kau tidak menanyaiku, misalnya, rasa apakah selai favoritku, untuk mengecek apakah aku benar-benar Profesor Dumbledore, dan bukan penyamar." "Saya tidak..." Harry bingung, tak tahu apakah dia sedang ditegur atau tidak. "Untuk keperluan di masa yang akan datang, Harry, selai favoritku raspberry... meskipun tentunya, seandainya aku Pelahap Maut, aku pasti sudah melakukan riset tentang selai kesukaanku sebelum menyamar menjadi diriku." "Er... betul," kata Harry. "Di selebaran itu disebutsebut tentang Inferi. Apakah Inferi itu? Selebaran itu tidak menjelaskan." "Inferi itu mayat," kata Dumbledore tenang. "Kalau hanya satu sebutannya Inferius, kalau banyak Inferi. Tubuh-tubuh orang meninggal yang telah disihir untuk melakukan perintah-perintah penyihir hitam. Meskipun demikian, Inferi sudah lama sekali tidak terlihat, sejak Voldemort kehilangan kekuasaannya... dia membunuh cukup banyak orang untuk membuat pasukan Inferi, tentu saja. Ini tempatnya, Harry, di sini..." Mereka mendekati sebuah rumah kecil dari batu dengan halaman tersendiri. Harry terlalu sibuk mencerna informasi mengerikan tentang Inferi sampai tak memperhatikan hal lain, namun ketika mereka tiba di 85 pintu pagar, Dumbledore mendadak berhenti dan Harry menabraknya. "Astaga. Astaga, astaga, astaga." Harry mengikuti pandangannya melewati jalan setapak yang terawat dan hatinya mencelos. Pintu depan menggantung pada engselnya. Dumbledore memandang ke kanan-kiri jalan. Jalan itu tampak kosong. "Keluarkan tongkat dan ikuti aku, Harry," katanya pelan. Dia membuka pintu pagar dan melangkah gesit dalam diam di jalan setapak, Harry di belakangnya, kemudian mendorong pintu depan dengan sangat pelan, tongkat sihirnya terangkat dan dalam posisi siap. "Lumos." Ujung tongkat sihir Dumbledore menyala, menyinari ruang depan yang sempit. Di sebelah kiri ada pintu lain yang terbuka. Mengangkat tongkat sihirnya yang menyala tinggi-tinggi, Dumbledore berjalan ke dalam ruang duduk, diikuti oleh Harry. Kehancuran total menyambut mereka. Sebuah jam besar terserak hancur di kaki mereka, kacanya retak, pendulumnya tergeletak sedikit lebih jauh, seperti pedang yang terjatuh. Sebuah piano terguling miring, tutsnya bertebaran di lantai. Serpihan kandelar yang terjatuh berkilauan di dekatnya. Bantal-bantal kursi bergeletakan, kempis, bulu-bulu angsanya keluar dari robekannya; pecahan-pecahan gelas dan porselen bertebaran di mana-mana. Dumbledore mengangkat tongkat sihirnya lebih tinggi lagi, sehingga cahayanya 86 menerangi dinding, yang kertas dindingnya bebercakbercak sesuatu berwarna merah darah dan lengket. Tarikan napas pendek Harry membuat Dumbledore memandang berkeliling. "Tidak indah, ya," katanya berat. "Ya, sesuatu yang mengerikan telah terjadi di sini." Dumbledore bergerak dengan hati-hati ke tengah ruangan, mengawasi kehancuran di kakinya. Harry mengikutinya, memandang berkeliling, setengah-takut akan apa yang mungkin dilihatnya di belakang piano yang terguling atau sofa yang terbalik, namun tak tampak ada tubuh. "Mungkin tadi ada perkelahian dan—dan mereka menyeret tubuhnya, Profesor?" Harry mengeluarkan pendapat, berusaha tak membayangkan seberapa parahnya luka orang itu sampai bisa meninggalkan bercak-bercak sebanyak itu di ketinggian separo dinding. "Kurasa tidak," kata Dumbledore pelan, mengintip ke belakang kursi berlengan yang bantalannya tebal sekali, yang terguling miring. "Maksud Anda dia—?" "Masih ada di sekitar sini? Ya." Dan tanpa disangka-sangka Dumbledore menyambar, menusukkan ujung tongkat sihirnya, ke bantalan tempat duduk kursi berlengan, yang menjerit, "Ouch!" "Selamat malam, Horace," kata Dumbledore, meluruskan diri lagi. Mulut Harry ternganga. Di tempat yang sedetik sebelumnya tergeletak kursi berlengan, sekarang berjongkok seorang pria tua luar biasa gemuk yang se- 87 dang mengusap-usap bagian bawah perutnya dan matanya yang berair menyipit memandang Dumbledore dengan kesakitan. "Tak perlu menusukkan tongkat sekeras itu," katanya pedas, seraya berusaha bangun. "Sakit, tahu." Cahaya tongkat sihir berkilau menyinari kepalanya yang botak, matanya yang menonjol, kumis besarnya yang keperakan dan besar seperti kumis beruang laut, dan kancing-kancing yang digosok berkilat pada jaket beludru merah tua yang dipakainya di atas celana piama sutra berwarna ungu muda. Puncak kepalanya hanya mencapai dagu Dumbledore. "Apa yang membuat ketahuan?" gerutunya seraya terhuyung bangun, masih mengusap-usap bagian bawah perutnya. Dia tampak sama sekali tak malu, padahal baru saja ketahuan menyamar jadi kursi berlengan. "Kawanku Horace," kata Dumbledore, tampak geli, "jika para Pelahap Maut betul-betul datang, Tanda Kegelapan akan dipasang di atas rumah." Si penyihir menepukkan tangan gemuk ke dahinya yang lebar. "Tanda Kegelapan," gumamnya. "Aku tahu ada yang kurang... ah, sudahlah. Toh tak akan sempat. Aku baru saja menyelesaikan sentuhan akhir pada kain pelapis ketika kalian masuk." Dia menghela napas panjang yang membuat ujungujung kumisnya bergetar. "Kau mau kubantu membereskannya?" tanya Dumbledore sopan. "Silakan," kata yang lain. 88 Mereka berdiri beradu punggung, si penyihir jangkung kurus dan si penyihir pendek gemuk, dan menggerakkan tongkat sihir mereka dalam gerakan sapuan yang identik. Perabot-perabot kembali ke tempatnya semula; hiasan-hiasan utuh kembali di udara; bulu-bulu meluncur masuk ke dalam bantal kursi masing-masing; buku-buku robek memperbaiki diri seraya mendarat di raknya; lampu minyak melayang ke meja-meja kecil dan menyala lagi; onggokan serpihan pigura perak terbang berkilauan ke seberang ruangan dan mendarat, utuh dan mulus, di atas sebuah meja; robekan, belahan, dan lubang-lubang di mana-mana menutup kembali; dan dinding-dinding membersihkan diri sendiri. "Jenis darah apa itu?" tanya Dumbledore keras mengatasi dentang lonceng jam besar yang baru saja utuh dan berdiri tegak di lantai. "Di dinding? Naga," teriak si penyihir yang bernama Horace, ketika, dengan bunyi kertak dan dentang memekakkan telinga, kandelar menyekrup diri kembali ke langit-langit. Paling akhir terdengar bunyi plang dari piano, kemudian sunyi. "Ya, naga," ulang si penyihir. "Botol terakhir, mana harga-harga sekarang sedang meroket. Tapi masih bisa digunakan lagi." Dia berjalan ke arah sebuah botol kristal kecil di atas bufet dan mengangkatnya menghadap lampu, memeriksa cairan kental di dalamnya. "Hem. Agak berdebu." 89 Diletakkannya kembali botol itu di atas bufet dan dia menghela napas. Saat itulah pandangannya jatuh ke Harry. "Oho," katanya, matanya yang besar dan bundar melayang ke dahi Harry dan bekas lukanya yang berbentuk sambaran petir. "Oho!" "Ini," kata Dumbledore, maju untuk memperkenalkan, "Harry Potter. Harry, ini teman lama dan mantan rekan guruku, Horace Slughorn." Slughorn menoleh ke Dumbledore, ekspresinya paham. "Jadi, begitulah kaupikir kau akan membujukku ya? Nah, jawabannya tidak, Albus." Dia melewati Harry, wajahnya sengaja dipalingkannya dengan sikap seperti orang yang berusaha menahan godaan. "Kurasa paling tidak kita bisa minum?" tanya Dumbledore. "Demi masa lalu?" Slughorn ragu-ragu. "Baiklah, segelas saja," katanya kurang sopan. Dumbledore tersenyum kepada Harry dan memberinya isyarat agar duduk di kursi yang tidak berbeda dari yang baru saja jadi samaran Slughorn, yang berdiri tepat di sebelah perapian yang baru menyala lagi dan lampu minyak yang bersinar terang. Harry duduk dengan kesan kuat bahwa Dumbledore, entah kenapa, ingin membuatnya kelihatan sejelas mungkin. Tentu saja ketika Slughorn, yang tadinya sibuk menyiapkan karaf anggur dan gelas-gelas, berbalik menghadap ruangan lagi, matanya langsung menatap Harry. "Humph," katanya, cepat-cepat berpaling seakan ta- 90 kut matanya terluka. "Ini—" Dia memberikan minuman kepada Dumbledore, yang telah duduk tanpa dipersilakan, menyorongkan nampan ke Harry, dan kemudian duduk di sofa yang baru diperbaiki dengan diam dan wajah tak puas. Kakinya pendek sekali sehingga tidak menyentuh lantai. "Jadi, bagaimana keadaanmu selama ini, Horace?" Dumbledore bertanya. "Tak begitu baik," kata Slughorn segera. "Dada lemah. Sesak napas. Rematik juga. Tak bisa lagi bergerak seperti dulu. Yah, mau apa lagi. Usia tua. Kelelahan." "Tapi kau pasti bergerak cukup cepat untuk menyiapkan sambutan begitu rupa untuk kami dalam waktu sesingkat itu," kata Dumbledore. "Kau paling hanya punya waktu tak lebih dari tiga menit?" Slughorn berkata, setengah-jengkel, setengah-bangga, "Dua menit. Tidak dengar Mantra Penolak Gangguanku berbunyi, aku sedang mandi. "Tetap saja," dia menambahkan tegas, tampaknya sudah menguasai diri lagi, "faktanya aku sudah tua, Albus. Laki-laki tua dan lelah yang berhak menikmati hidup tenang dan beberapa barang yang memberi kenikmatan badaniah." Dia memiliki semua itu, pikir Harry, memandang berkeliling ruangan. Memang sesak dan banyak barangnya, tapi tak bisa dikatakan tidak nyaman; ada kursi-kursi empuk dan bangku tumpuan kaki, minuman dan buku-buku, berkotak-kotak cokelat dan bantal-bantal empuk. Jika Harry tak tahu siapa yang tinggal di sana, dia akan menerka penghuni rumah itu seorang wanita tua kaya yang cerewet. "Kau belum setua aku, Horace," kata Dumbledore. 91 "Mungkin kau sendiri perlu memikirkan soal pensiun," timpal Slughorn terus terang. Matanya yang pucat dan seperti gooseberry telah melihat tangan Dumbledore yang terluka. "Reaksi tidak secepat dulu, rupanya." "Kau benar," kata Dumbledore tenang, menggoyang lengan jubahnya ke belakang, memperlihatkan ujung jari-jarinya yang hitam terbakar. Pemandangan itu membuat bulu tengkuk Harry meremang. "Aku jelas bergerak lebih lambat daripada dulu. Tetapi sebaliknya..." Dia mengangkat bahu dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seakan mau berkata bahwa usia tua ada keuntungannya, dan Harry melihat sebentuk cincin pada tangannya yang sehat, yang belum pernah dilihatnya dipakai Dumbledore. Cincin itu besar, buatannya kurang halus, kelihatannya dari emas, dengan hiasan batu berat hitam yang telah retak di tengahnya. Mata Slughorn selama beberapa saat menatap cincin itu juga, dan Harry melihat kernyit kecil sejenak menghiasi dahinya yang lebar. "Jadi, segala langkah pengamanan terhadap pengganggu, Horace... apakah semua itu untuk Pelahap Maut, atau untukku?" tanya Dumbledore. "Apa yang diinginkan Pelahap Maut dari orang tua yang tak berdaya seperti aku?" tuntut Slughorn. "Kubayangkan mereka akan menginginkan kau menggunakan bakatmu yang banyak untuk kekerasan, siksaan, dan pembunuhan," kata Dumbledore. "Apakah kau mau mengatakan mereka belum datang untuk merekrutmu?" 92 Slughorn menatap jengkel Dumbledore sesaat, kemudian bergumam, "Aku tak memberi mereka kesempatan. Aku pindah-pindah terus selama setahun ini. Tak pernah tinggal di suatu tempat lebih dari seminggu. Pindah dari rumah Muggle yang satu ke rumah Muggle yang lain—pemilik rumah ini sedang berlibur di Kepulauan Canary. Menyenangkan sekali, aku akan menyesal meninggalkannya. Cukup gampang kalau kau tahu bagaimana menggunakan Mantra Pembeku pada alarm tanda bahaya absurd yang mereka gunakan alih-alih Teropong-Curiga dan memastikan para tetangga tidak melihatmu memasukkan piano." "Banyak akal," kata Dumbledore. "Tapi kedengarannya agak melelahkan bagi orang tua tak berdaya yang mendambakan kehidupan tenang. Nah, seandainya kau kembali ke Hogwarts—" "Kalau kau akan bilang hidupku akan lebih tenang di sekolah yang banyak masalahnya itu, jangan buangbuang tenaga, Albus! Aku boleh saja dalam persembunyian, tetapi desas-desus aneh telah kudengar sejak Dolores Umbridge pergi! Jika begitu caramu memperlakukan para guru sekarang ini—" "Profesor Umbridge mendapat masalah dengan kawanan centaurus kita," kata Dumbledore. "Kurasa kau, Horace, tak akan masuk ke dalam Hutan dan menyebut sekelompok centaurus yang marah 'keturunancampuran kotor'." "Itukah yang dilakukannya?" kata Slughorn. "Perempuan idiot. Aku tak pernah suka padanya." Harry tertawa tertahan dan baik Dumbledore maupun Slughorn menoleh menatapnya. 93 "Maaf," kata Harry buru-buru. "Hanya saja—saya juga tidak menyukainya." Dumbledore bangkit agak mendadak. "Kau sudah mau pergi?" tanya Slughorn segera, penuh harap. "Belum, aku minta izin menggunakan kamar mandimu," kata Dumbledore. "Oh," kata Slughorn, tampak jelas kecewa. "Pintu kedua di sebelah kiri di aula itu." Dumbledore menyeberangi ruangan. Begitu pintu tertutup di belakangnya, suasana jadi sunyi. Selewat beberapa saat Slughorn bangkit berdiri, namun tampak tak yakin mau melakukan apa. Dia melirik Harry secara sembunyi-sembunyi, kemudian berjalan ke perapian dan berdiri membelakanginya, menghangatkan bagian belakang tubuhnya yang lebar. "Jangan dikira aku tak tahu kenapa dia mengajakmu," katanya mendadak. Harry hanya menatap Slughorn. Mata Slughorn yang berair melewati bekas luka Harry, kali ini memandang sisa wajahnya. "Kau mirip sekali ayahmu." "Yah, banyak yang bilang begitu," kata Harry. "Kecuali matamu. Matamu seperti—" "Mata ibu saya, yeah." Harry sudah mendengarnya kelewat sering sampai dia bosan. "Humph. Ya. Sebagai guru kita tidak boleh punya favorit, tentu saja, tapi dia salah satu murid favoritku. Ibumu," Slughorn menambahkan, menjawab pandangtanya Harry. "Lily Evans. Salah satu yang terpintar yang pernah kuajar. Periang, kau tahu. Gadis yang 94 sangat menarik. Berkali-kali kukatakan kepadanya, dia seharusnya di asramaku. Jawaban yang kudapat biasanya sangat kurang ajar." "Yang mana asrama Anda?" "Aku Kepala Asrama Slytherin," kata Slughorn. "Oh, sudahlah," dia meneruskan buru-buru, melihat ekspresi di wajah Harry dan menggoyangkan jari gemukpendek ke arahnya, "jangan menyalahkanku karena itu! Kau Gryffindor seperti dia, kukira? Ya, biasanya menurun dalam keluarga. Tapi tidak selalu. Pernah dengar tentang Sirius Black? Pastilah—beberapa tahun belakangan ini dia muncul di koran-koran—meninggal beberapa minggu lalu—" Rasanya ada tangan tak kelihatan membetot isi perut Harry dan mencengkeramnya kuat-kuat. "Nah, dia sobat ayahmu di sekolah. Seluruh keluarga Black masuk asramaku, tapi Sirius masuk Gryffindor! Sayang—dia anak berbakat. Aku mendapatkan Regulus, adiknya, ketika dia masuk Hogwarts, tapi aku akan lebih senang mendapatkan keduanya." Dia kedengaran seperti kolektor antusias yang kalah dalam lelang. Tampak tenggelam dalam kenangan, dia memandang dinding di seberangnya, bergerakgerak di tempat untuk memastikan seluruh punggungnya kebagian panas yang merata. "Ibumu kelahiran-Muggle, memang. Aku tak percaya ketika baru tahu. Kukira dia berdarah-murni, dia pintar sekali." "Salah seorang sahabat saya kelahiran-Muggle," kata Harry, "dan dia yang paling pintar dalam angkatan kami." 95 "Aneh ya, hal seperti itu kadang-kadang terjadi," kata Slughorn. "Tidak aneh," kata Harry dingin. Slughorn memandangnya keheranan. "Pasti kau mengira aku berprasangka!" katanya. "Tidak, tidak, tidak! Bukankah sudah kukatakan ibumu salah satu muridku yang paling kufavoriti? Dan ada Dirk Cresswell di tahun sesudah ibumu—sekarang Kepala Kantor Hubungan Goblin—dia juga kelahiran- Muggle, murid yang sangat berbakat, dan masih memberiku informasi orang dalam tentang apa yang terjadi di Gringotts!" Dia melompat-lompat sedikit, tersenyum berpuas diri, dan menunjuk ke banyak pigura foto berkilat di atas lemari hias, masing-masing isinya bergerak-gerak. "Semua mantan murid, semua ditandatangani. Kaulihat itu, Barnabas Cuffe, editor Daily Prophet, dia selalu tertarik mendengar komentarku tentang berita yang ditampilkan. Dan Ambrosius Flume, pemilik Honeydukes—selalu kirim sekeranjang permen setiap ulang tahunku, hanya karena aku yang memperkenalkannya kepada Ciceron Harkiss, yang memberinya pekerjaannya yang pertama! Dan di belakang itu— kau bisa melihatnya kalau kau menjulurkan lehermu— perempuan itu Gwenog Jones, kapten Holyhead Harpies tentu... orang heran mendengar aku saling panggil nama depan dengan para Harpies, dan mendapat tiket gratis kapan saja aku menginginkannya!" Pikiran ini tampak membuatnya sangat senang. "Dan semua orang ini tahu di mana menemukan Anda, untuk mengirimi Anda macam-macam?" tanya 96 Harry, yang mau tak mau bertanya-tanya dalam hati kenapa para Pelahap Maut belum berhasil melacak Slughorn jika sekeranjang permen, tiket Quidditch, dan para tamu yang mendambakan nasihat dan pendapatnya bisa menemukannya. Senyum menghilang dari wajah Slughorn secepat darah menghilang dari dindingnya. "Tentu saja tidak," katanya, menunduk menatap Harry. "Aku sudah putus hubungan dengan semua orang selama setahun." Harry mendapat kesan kata-kata itu mengejutkan Slughorn sendiri; dia tampak terguncang sesaat. Kemudian dia mengangkat bahu. "Apa boleh buat... penyihir bijaksana harus berhatihati dalam situasi seperti ini. Gampang saja Dumbledore bicara, tapi menjadi guru di Hogwarts sekarang ini sama saja dengan menyatakan secara terbuka bahwa aku berpihak kepada Orde Phoenix! Dan walaupun aku yakin mereka sangat mengagumkan dan pemberani dan segalanya yang baik-baik, secara pribadi aku tidak suka akan tingginya tingkat kematiannya." "Anda tidak harus bergabung dengan Orde untuk mengajar di Hogwarts," kata Harry, yang tak bisa mencegah nada mencemooh dalam suaranya. Sulit bersimpati dengan kehidupan nyaman Slughorn jika dia teringat Sirius, meringkuk dalam gua, dan hidup dengan makan tikus. "Sebagian besar guru bukan anggota Orde dan tak seorang pun dari mereka terbunuh— yah, kecuali kalau Anda memperhitungkan Quirrell, dan dia layak menerima kematiannya mengingat dia bekerjasama dengan Voldemort." 97 Harry yakin Slughorn termasuk penyihir yang tak tahan mendengar nama Voldemort disebut, dan dia tidak dikecewakan. Slughorn bergidik dan menguak memprotes, yang diabaikan Harry. "Saya kira staf Hogwarts lebih aman daripada kebanyakan orang lain karena Dumbledore adalah kepala sekolahnya; bukankah beliau satu-satunya yang ditakuti Voldemort?" Harry melanjutkan. Slughorn menatap kosong selama beberapa saat; tampaknya dia memikirkan kata-kata Harry. "Ya, memang benar bahwa Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut tidak pernah mencari perkara dengan Dumbledore," gumamnya enggan. "Dan kurasa orang tak bisa membantah bahwa karena aku tidak bergabung menjadi Pelahap Maut, Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut tak bisa menganggapku teman... Dalam hal ini, aku mungkin lebih aman kalau sedikit lebih dekat dengan Albus... Aku tak bisa berpurapura bahwa kematian Amelia Bones tidak membuatku terguncang... kalau dia, dengan kontak-kontak dan perlindungan dari Kementerian..." Dumbledore kembali memasuki ruangan dan Slughorn terlonjak, seakan dia lupa Dumbledore ada di rumah itu. "Oh, kau, Albus," katanya. "Kau lama sekali. Sakit perut?" "Tidak, aku cuma membaca majalah-majalah Muggle," kata Dumbledore. "Aku suka sekali motifmotif rajutan. Nah, Harry, kita telah menyalahgunakan keramahan Horace cukup lama; kurasa sudah waktunya kita pulang." 98 Sama sekali tak segan mematuhi ajakan ini, Harry langsung melompat berdiri. Slughorn tampak terkejut. "Kalian mau pulang?" "Ya, betul. Kurasa aku tahu kalau aku kalah." "Kalah...?" Slughorn tampak gelisah. Dia memutar-mutar ibu jari tangannya yang gemuk dan resah ketika Dumbledore mengancingkan mantel bepergiannya dan Harry menarik ritsleting jaketnya. "Yah, sayang kau tidak menginginkan pekerjaan itu, Horace," kata Dumbledore, mengangkat tangannya yang tak terluka memberi salut selamat tinggal. "Hogwarts akan senang sekali melihatmu kembali. Walaupun tingkat keamanan Hogwarts sangat diperketat, kau selalu boleh datang berkunjung, kalau kau mau." "Ya... kau... baik sekali..." "Selamat tinggal, kalau begitu." "Bye," kata Harry. Mereka baru tiba di pintu depan ketika terdengar teriakan dari belakang mereka. "Baik, baik, aku mau!" Dumbledore menoleh dan melihat Slughorn berdiri menahan napas di pintu ruang duduk. "Kau bersedia meninggalkan pensiunmu?" "Ya, ya," kata Slughorn tak sabar. "Aku pasti sinting, tapi ya." "Bagus sekali," kata Dumbledore berseri-seri. "Kalau begitu, Horace, kita akan bertemu lagi pada tanggal satu September." "Ya, kita pasti bertemu lagi," gerutu Slughorn. 99 Ketika mereka sedang berada di jalan setapak, suara Slughorn mengejar mereka. "Aku minta kenaikan gaji, Dumbledore!" Dumbledore tertawa kecil. Pintu pagar menutup di belakang mereka dan mereka menuruni bukit menembus kabut gelap yang melayang-layang. "Bagus sekali, Harry," kata Dumbledore. "Saya tidak melakukan apa-apa," kata Harry keheranan. "Oh ya, kau melakukan sesuatu. Kau menunjukkan kepada Horace betapa banyak keuntungan yang diperolehnya dengan kembali ke Hogwarts. Kau menyukainya?" "Er..." Harry tak yakin apakah dia menyukai Slughorn atau tidak. Menurutnya Slughorn cukup menyenangkan, tapi dia tampaknya juga sok dan, kendatipun mengatakan sebaliknya, kelewat heran bahwa orang kelahiran-Muggle bisa jadi penyihir hebat. "Horace," kata Dumbledore, membebaskan Harry dari tugas menyebutkan semua itu, "senang hidup nyaman. Dia juga senang berada bersama para penyihir terkenal, sukses, dan berkuasa. Dia menikmati perasaan bahwa dia memengaruhi orang-orang ini. Dia sendiri tak pernah ingin duduk di tahta; dia memilih duduk di kursi belakang—lebih banyak ruang untuk melebarkan sayap, soalnya. Dia dulu selalu punya murid favorit di Hogwarts, kadang karena ambisi atau otak mereka, kadang karena pesona atau bakat mereka, dan dia punya kecakapan luar biasa untuk memilih mereka yang nantinya akan menonjol 100 dalam berbagai bidang mereka. Horace membentuk semacam klub bagi para murid favoritnya, dengan dia sendiri di pusatnya, saling memperkenalkan mereka, menjalin kontak berguna di antara para anggotanya, dan selalu menuai keuntungan sebagai imbalannya, entah sekotak gratis permen nanas favoritnya atau kesempatan untuk merekomendasikan anggota yunior berikutnya ke Kantor Hubungan Goblin." Di benak Harry mendadak tergambar jelas seekor labah-labah besar gemuk, merajut jaring di sekitarnya, menarik benang di sana-sini untuk menarik lalat gemuk dan segar sedikit lebih dekat. "Semua ini kuceritakan kepadamu," Dumbledore melanjutkan, "bukan agar kau tidak menyukai Horace—atau, seperti sepantasnya kita sekarang memanggilnya, Profesor Slughorn—tetapi untuk membuatmu waspada. Tak diragukan lagi dia akan berusaha mengoleksimu, Harry. Kau akan menjadi permata koleksinya: Anak yang Bertahan Hidup... atau, seperti panggilan mereka untukmu sekarang, Sang Terpilih." Mendengar kata-kata ini, rasa dingin yang tak ada hubungannya dengan kabut di sekitar mereka, menjalari Harry. Dia jadi ingat kata-kata yang didengarnya beberapa minggu yang lalu, kata-kata yang punya makna khusus dan mengerikan baginya. Yang satu tak bisa hidup sementara yang lain bertahan... Dumbledore telah berhenti berjalan, di depan gereja yang tadi mereka lewati. "Di sini cukup, Harry. Silakan pegang lenganku." Kali ini Harry sudah siap ber-Apparate, namun 101 tetap saja merasa tak nyaman. Ketika tekanan menghilang dan dia sudah bisa bernapas lagi, dia berdiri di sebuah jalan pedesaan di sebelah Dumbledore dan memandang ke siluet miring bangunan favoritnya nomor dua di dunia: The Burrow. Kendati perasaan takut baru saja melandanya, semangatnya mau tak mau bangkit melihat rumah itu. Ron ada di situ... dan juga Mrs Weasley, yang bisa memasak lebih lezat daripada siapa pun yang dikenalnya... "Kalau kau tak keberatan, Harry," kata Dumbledore, ketika mereka melewati pintu pagar, "aku mau bicara denganmu sebelum kita berpisah. Berdua saja. Mungkin di dalam situ?" Dumbledore menunjuk bangunan batu tak terpelihara yang sebetulnya kakus di luar rumah, tapi kini digunakan keluarga Weasley untuk menyimpan sapu mereka. Agak bingung, Harry mengikuti Dumbledore melewati pintunya yang berderit, masuk ke dalam ruangan yang sedikit lebih kecil dari ukuran lemari rata-rata. Dumbledore menyalakan ujung tongkat sihirnya, sehingga menyala seperti obor, dan menunduk tersenyum kepada Harry. "Kuharap kau mau memaafkan aku menyebutnyebut ini, Harry, tapi aku senang dan sedikit bangga melihat betapa baiknya kau menanggulangi segala yang telah terjadi di Kementerian. Izinkan aku mengatakan bahwa kurasa Sirius akan bangga terhadapmu. Harry menelan ludah; suaranya tampaknya telah meninggalkannya. Dia merasa tak akan tahan membicarakan Sirius. Tadi hatinya pedih sekali mendengar 102 Paman Vernon berkata, "Walinya mati?"; lebih pedih lagi mendengar nama Sirius disebut sambil lalu oleh Slughorn. "Sungguh kejam," kata Dumbledore pelan, "bahwa kau dan Sirius hanya bisa bersama dalam waktu amat singkat. Akhir brutal bagi apa yang seharusnya menjadi hubungan yang lama dan bahagia." Harry mengangguk, matanya sengaja menatap labahlabah yang sekarang merayap naik di topi Dumbledore. Bisa dilihatnya bahwa Dumbledore mengerti, dia bahkan mungkin menduga bahwa sampai suratnya tiba Harry telah melewatkan hampir sepanjang waktunya di rumah keluarga Dursley dengan berbaring di tempat tidur, menolak makan, dan memandang hampa jendela berkabut, dipenuhi kekosongan dingin yang diasosiasikannya dengan Dementor. "Berat sekali," kata Harry akhirnya, dengan suara pelan, "menyadari bahwa dia tak akan menulis kepada saya lagi." Matanya mendadak panas dan dia mengedip. Dia merasa bodoh mengakuinya, namun fakta bahwa dia punya seseorang di luar Hogwarts yang peduli apa yang terjadi atasnya, hampir seperti orangtua, adalah salah satu hal terbaik dengan ditemukannya walinya... dan sekarang pos burung hantu tidak akan pernah membawakannya kenyamanan itu lagi... "Sirius bagimu mewakili banyak hal yang tak pernah kaumiliki sebelumnya," kata Dumbledore lembut. "Wajar kalau kehilangan dia menjadi pukulan sangat berat bagimu..." "Tapi ketika saya di rumah keluarga Dursley," Harry 103 menyela, suaranya semakin kuat, "saya menyadari saya tak bisa mengurung diri, kalau tidak—saya bisa hancur. Sirius pasti tak menghendaki itu terjadi, kan? Lagi pula, hidup ini singkat... lihat saja Madam Bones, lihat Emmeline Vance... berikutnya bisa saja saya, kan? Tapi kalau memang saya," katanya mantap, sekarang menatap mata biru Dumbledore yang berkilau dalam cahaya tongkat, "saya akan memastikan membawa sebanyak mungkin Pelahap Maut, dan Voldemort juga kalau saya bisa." "Diucapkan seperti anak ibu dan ayahmu dan anak asuh sejati Sirius!" kata Dumbledore, sambil memberi belaian bangga di punggung Harry. "Aku angkat topi untukmu—atau akan, kalau aku tidak takut menghujanimu dengan labah-labah. "Dan sekarang, Harry, topik yang masih sangat berhubungan... kukira kau membaca Daily Prophet dua minggu belakangan ini?" "Ya," kata Harry, dan jantungnya berdebar lebih keras. "Kalau begitu kau tentu telah melihat bahwa tak ada sedikit pun kebocoran, apalagi banjir, informasi sehubungan dengan petualanganmu di Ruang Ramalan?" "Ya," kata Harry lagi. "Dan sekarang semua tahu bahwa saya—" "Tidak, mereka tidak tahu," sela Dumbledore. "Hanya ada dua orang di seluruh dunia ini yang tahu keseluruhan isi ramalan tentang kau dan Lord Voldemort, dan keduanya berdiri dalam kamar-sapu yang bau dan penuh labah-labah ini. Namun, memang 104 betul banyak yang telah menebak, dengan benar, bahwa Voldemort mengirim para Pelahap Mautnya untuk mencuri ramalan, dan bahwa ramalan itu ada hubungannya denganmu. "Nah, kurasa aku benar kalau kukatakan kau belum memberitahu siapa pun yang kaukenal bahwa kau tahu apa yang dikatakan ramalan itu?" "Belum," kata Harry. "Keputusan yang bijaksana, secara keseluruhan," kata Dumbledore. "Meskipun menurutku kau harusnya lebih santai terhadap sahabatmu, Mr Ronald Weasley dan Miss Hermione Granger. Ya," dia melanjutkan ketika Harry tampak terkejut, "kurasa mereka berhak tahu. Kau tidak adil terhadap mereka jika mereka tidak diberitahu hal yang sepenting ini." "Saya tak ingin—" "—membuat mereka cemas atau takut?" ujar Dumbledore, mengawasi Harry dari atas kacamata bulanseparonya. "Atau mungkin, mengakui bahwa kau sendiri cemas dan takut? Kau membutuhkan sahabatsahabatmu, Harry. Seperti yang dengan benar kaukatakan, Sirius tidak akan menginginkan kau menutup dirimu." Harry diam saja, namun Dumbledore tampaknya tidak mengharapkan jawaban. Dia melanjutkan, "Sekarang topik yang berbeda, walaupun masih ada hubungannya. Aku berharap kau belajar privat denganku tahun ini." "Privat—dengan Anda?" Harry yang sedang asyik berpikir sampai kaget. 105 "Ya, kurasa sudah waktunya aku turun tangan lebih banyak dalam pendidikanmu." "Apa yang akan Anda ajarkan kepada saya, Sir?" "Oh, sedikit ini, sedikit itu," kata Dumbledore ringan. Harry menunggu penuh harap, namun Dumbledore tidak menguraikannya, maka dia menanyakan hal lain yang agak mengganggunya. "Jika saya belajar dengan Anda, saya tak perlu belajar Occlumency dengan Snape, kan?" "Profesor Snape, Harry—dan tidak, kau tidak akan belajar Occlumency lagi." "Bagus," kata Harry lega, "karena pelajaran itu—" Dia berhenti, berhati-hati tidak mengatakan apa yang sebetulnya dipikirkannya. "Kurasa kata 'gagal total' cocok di sini," kata Dumbledore, mengangguk. Harry tertawa. "Itu berarti saya tidak akan banyak bertemu Profesor Snape mulai sekarang," katanya, "karena dia tidak mengizinkan saya melanjutkan pelajaran Ramuan, kecuali saya mendapat nilai 'Outstanding' dalam OWL, yang saya rasa tidak." "Jangan menghitung anak ayam sebelum telurnya menetas," kata Dumbledore serius. "Ngomongngomong soal OWL, nilai kalian akan keluar siang nanti. Ada dua hal lagi, Harry, sebelum kita berpisah." "Yang pertama, aku ingin mulai sekarang kau selalu membawa Jubah Gaib-mu. Bahkan di dalam Hogwarts. Untuk berjaga-jaga, kau mengerti?" Harry mengangguk. 106 "Dan terakhir, selama kau tinggal di sini, The Burrow dilengkapi pengamanan paling tinggi yang bisa diberikan Kementerian. Tindakan ini menyebabkan beberapa ketidaknyamanan bagi Arthur dan Molly—semua pos mereka, misalnya, diperiksa di Kementerian, sebelum diteruskan. Mereka sama sekali tidak keberatan, karena yang terpenting bagi mereka adalah keselamatanmu. Maka, sungguh kelewatan jika kau membalasnya dengan mempertaruhkan lehermu selama kau tinggal bersama mereka." "Saya mengerti," kata Harry buru-buru. "Baiklah kalau begitu," kata Dumbledore, mendorong terbuka pintu kamar-sapu dan melangkah ke halaman. "Aku melihat lampu di dapur. Jangan biarkan Molly kehilangan kesempatan lebih lama lagi untuk menyesali betapa kurusnya kau." 107