The Soda Pop
HARRY
POTTER
BAB 8:KEMENANGAN SNAPE.. HARRY tak bisa menggerakkan satu otot pun. Dia tergeletak di bawah Jubah Gaib-nya, merasakan darah dari hidungnya mengalir, panas dan basah, di atas wajahnya, mendengarkan suara-suara dan langkah-langkah kaki di koridor. Dia langsung berpikir pasti akan ada orang yang mengecek kompartemen- kompartemen sebelum kereta berangkat lagi. Namun dia segera patah semangat menyadari bahwa, sekalipun ada yang melongok ke dalam kompartemen, orang itu tak akan melihat maupun mendengarnya. Harapan satu-satunya hanyalah ada orang yang akan masuk dan menginjaknya. Belum pernah Harry membenci Malfoy sebesar saat itu, ketika dia tergeletak seperti kura-kura yang terbalik tak berdaya, darah menetes amis ke dalam mulutnya 197 eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. MR. Collection's yang terbuka. Sungguh konyol membuat dirinya berada dalam situasi semacam ini... dan sekarang sisa langkah-langkah terakhir sudah semakin menjauh, semua orang sudah berjalan di sepanjang peron yang gelap di luar. Harry bisa mendengar seretan koper dan celoteh anak-anak. Ron dan Hermione akan menyangka dia sudah turun dari kereta tanpa menunggu mereka. Saat mereka tiba di Hogwarts dan duduk di tempat mereka di Aula Besar, mencari-cari di sepanjang meja Gryffindor beberapa kali dan akhirnya menyadari bahwa dia tidak ada, Harry tak diragukan lagi, sudah setengah perjalanan menuju London. Dia berusaha membuat suara, bahkan cuma dengkur, namun tak berhasil. Kemudian dia ingat bahwa beberapa penyihir, seperti Dumbledore, bisa melakukan mantra tanpa bicara, maka dia berusaha memanggil tongkat sihirnya yang telah telempar dari tangannya, dengan mengucapkan Accio tongkat! berulang-ulang dalam benaknya, namun tak terjadi apa-apa. Rasanya dia bisa mendengar gemerisik pepohonan yang mengelilingi danau, dan bunyi uhu burung hantu di kejauhan, namun tak ada tanda-tanda sedang diadakan pencarian, atau bahkan (dia merasa agak hina mengharapkan ini) suara-suara panik mempertanyakan ke mana perginya Harry Potter. Perasaan tak berdaya menjalarinya ketika dia membayangkan konvoi kereta yang ditarik oleh Thestral bergerak menuju sekolah dan gelak tawa yang terdengar dari kereta yang dinaiki Malfoy. Di dalam kereta itu tentu 198 Malfoy akan menceritakan serangannya terhadap Harry kepada teman-teman Slytherin-nya. Kereta menyentak, menyebabkan Harry berguling dan berbaring di sisi tubuhnya. Sekarang dia memandang bagian bawah tempat duduk yang berdebu alihalih langit-langit. Hogwarts Express sudah akan berangkat lagi dan tak seorang pun tahu dia masih di atasnya... Kemudian dia merasa Jubah Gaib-nya melayang dari atas tubuhnya dan suara di atasnya berkata, "Hai, Harry." Ada kilatan cahaya merah dan tubuh Harry bebas dari kebekuan. Dia bisa mendorong dirinya ke posisi duduk yang lebih bermartabat, buru-buru mengusap darah dari wajahnya yang lebam dengan punggung tangannya, dan mengangkat wajah memandang Tonks, yang memegangi Jubah Gaib yang baru ditariknya. "Kita sebaiknya turun, cepat-cepat," kata Tonks, ketika jendela-jendela kereta mulai suram terkena asap dan kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun. "Ayo, kita lompat." Harry bergegas mengikutinya ke koridor. Tonks membuka pintu kereta dan melompat ke peron, yang rasanya meluncur di bawah mereka sementara kereta semakin cepat. Harry mengikutinya, terhuyung sedikit ketika mendarat, kemudian menegakkan diri, dan masih sempat melihat kereta uap yang merah berkilat itu meluncur, membelok di sudut, dan menghilang dari pandangan. Angin malam yang dingin terasa nyaman bagi hidungnya yang berdenyut. Tonks mengamatinya. Harry 199 merasa marah dan malu ditemukan dalam posisi yang begitu konyol. Tanpa bicara, Tonks mengulurkan Jubah Gaib-nya. "Siapa yang melakukannya?" "Draco Malfoy," kata Harry getir. "Terima kasih atas... yah..." "Kembali," kata Tonks, tanpa tersenyum. Yang bisa terlihat Harry dalam gelap, Tonks masih berambut sama kusam dan wajahnya sama merananya seperti ketika Harry bertemu dengannya di The Burrow. "Aku bisa membetulkan hidungmu kalau kau berdiri diam." Harry tidak begitu suka ide ini. Dia bermaksud mendatangi Madam Pomfrey, matron rumah sakit, yang Mantra Penyembuh-nya sedikit lebih dia percayai, namun rasanya tidak sopan mengatakan ini, maka dia berdiri diam dan memejamkan mata. "Episkey," kata Tonks. Hidung Harry terasa sangat panas, kemudian sangat dingin. Harry mengangkat tangannya dan meraba hidungnya dengan hati-hati sekali. Kelihatannya sudah betul. "Terima kasih banyak!" "Sebaiknya kaupakai lagi Jubah-mu, dan kita bisa berjalan ke sekolah," kata Tonks, masih tanpa senyum. Sementara Harry mengerudungkan Jubah-nya ke tubuhnya, Tonks melambaikan tongkat sihirnya. Sesosok makhluk besar berkaki-empat muncul dari tongkat itu dan melesat ke dalam kegelapan. "Apakah itu Patronus?" tanya Harry, yang pernah melihat Dumbledore mengirim pesan dengan cara seperti itu. 200 "Ya, aku mengirim kabar ke sekolah bahwa aku sudah menemukanmu, kalau tidak mereka akan cemas. Ayo, lebih baik kita jangan membuang-buang waktu." Mereka beranjak ke jalan yang menuju sekolah. "Bagaimana kau menemukanku?" "Kuperhatikan kau tidak turun dari kereta dan aku tahu kau membawa Jubah-mu. Kupikir kau mungkin bersembunyi karena alasan tertentu. Ketika kulihat gorden kompartemen itu tertutup, kupikir sebaiknya aku mengeceknya. "Tapi apa yang kaulakukan di sini sebetulnya?" Harry bertanya. "Aku ditempatkan di Hogsmeade sekarang, untuk memberi perlindungan ekstra bagi sekolah," kata Tonks. "Hanya kau yang ditempatkan di sini, atau—?" "Tidak, Proudfoot, Savage, dan Dawlish juga di sini." "Dawlish, Auror yang diserang Dumbledore tahun lata?" "Betul." Mereka berjalan dengan susah payah sepanjang jalan yang gelap dan kosong, mengikuti jejak kereta. Harry mengerling Tonks dari bawah Jubah-nya. Tahun lalu Tonks sangat ingin tahu (sampai kadang-kadang agak menyebalkan); dia mudah tertawa, dia bergurau. Sekarang Tonks tampak lebih tua dan jauh lebih serius dan punya niat. Apakah ini dampak atas apa yang terjadi di Kementerian? Harry membayangkan dengan tak nyaman bahwa Hermione pasti akan menyarankan 201 dia mengatakan sesuatu yang menghibur tentang Sirius kepada Tonks, bahwa kejadian itu sama sekali bukan salahnya, namun Harry tak sanggup melakukannya. Dia sama sekali tak menyalahkan Tonks atas kematian Sirius; bukan salah Tonks ataupun orang lain (Harry sendiri lebih pantas disalahkan), tetapi dia tak suka bicara tentang Sirius kalau bisa menghindarinya. Maka mereka berjalan menembus dinginnya malam dalam kesunyian, mantel panjang Tonks berkeresek di tanah di belakang mereka. Selalu ke sana naik kereta, Harry tak pernah menyadari betapa jauhnya Hogwarts dari Stasiun Hogsmeade. Lega sekali dia akhirnya melihat pilar tinggi di kanan-kiri gerbang, yang pada masing-masing puncaknya bertengger babi hutan liar bersayap. Harry kedinginan, lapar, dan sudah ingin meninggalkan Tonks baru yang muram ini. Namun ketika dia mengulurkan tangan untuk membuka gerbang, ternyata gerbang dirantai. "Alohomora!" katanya mantap, seraya mengacungkan tongkat sihirnya ke gembok, namun tak terjadi apaapa. "Mantra itu tidak bisa digunakan untuk ini," kata Tonks. "Dumbledore sendiri yang memantrainya." Harry memandang ke sekitarnya. "Aku bisa memanjat tembok," dia mengusulkan. "Tidak bisa," kata Tonks datar. "Semua tembok dipasangi Mantra Penolak Gangguan. Keamanan ditingkatkan seratus kali lipat musim panas ini." "Yah, kalau begitu," kata Harry, mulai merasa jengkel pada Tonks yang tidak membantu sama sekali, 202 "kurasa aku harus tidur di sini dan menunggu pagi datang." "Ada yang datang menjemputmu," kata Tonks. "Lihat." Ada lentera terayun di kaki kastil di kejauhan. Saking senangnya melihat lentera itu, Harry merasa dia bahkan bisa menanggung kritik serak Filch dan omelannya tentang bagaimana kedisiplinannya soal waktu akan membaik kalau secara teratur dia dikenai siksaan-ibu jari. Ketika cahaya kuning yang berpendar itu berjarak kira-kira tiga meter dari mereka, dan Harry sudah melepas Jubah Gaib-nya supaya dia bisa terlihat, barulah dia mengenali, dengan kebencian yang langsung menjalari tubuhnya, hidung bengkok mencuat dan rambut hitam panjang berminyak Severus Snape. "Wah, wah, wah," cemooh Snape, sembari mencabut tongkat sihir dan mengetuk gembok, sehingga rantainya meluncur mundur dan gerbang berderit membuka. "Baik sekali kau mau muncul, Potter, meskipun jelas sekali kau sudah memutuskan bahwa memakai jubah seragam sekolah akan mengurangi kekerenanmu." "Saya tak bisa berganti pakaian, koper saya tak—" Harry mau menjelaskan, namun Snape memotongnya. "Tak perlu menunggu, Nymphadora. Potter cukup— ah—aman di tanganku." "Pesanku kumaksudkan untuk diterima Hagrid," kata Tonks, mengernyit. "Hagrid terlambat datang untuk pesta awal tahun 203 ajaran, sama seperti Potter ini, jadi aku yang menerimanya. Dan kebetulan," kata Snape, mundur supaya Harry bisa lewat, "aku tertarik melihat Patronus barumu." Snape menutup gerbang dengan dentang keras di depan hidung Tonks dan mengetuk rantainya dengan tongkat sihirnya lagi, sehingga rantai itu meluncur, kembali ke tempatnya semula. "Menurutku Patronus lamamu lebih bagus," kata Snape, kebencian dalam suaranya kentara sekali. "Yang baru ini kelihatannya lemah." Selagi Snape berbalik mengayunkan lenteranya, Harry melihat, sekilas, kekagetan dan kemarahan di wajah Tonks. Kemudian dia hilang ditelan kegelapan. "Selamat malam," Harry menoleh dan berteriak, ketika dia memulai perjalanannya menuju kastil dengan Snape. "Terima kasih atas... segalanya." "Sampai ketemu lagi, Harry." Snape tidak bicara selama kira-kira satu menit. Harry merasa seakan tubuhnya memancarkan gelombang kebencian yang sangat kuat sehingga tidak masuk akal rasanya Snape tidak merasakannya membakar tubuhnya. Harry sudah membenci Snape sejak pertemuan pertama mereka, namun Snape telah membuat dirinya untuk selamanya tak mungkin dimaafkan Harry karena sikapnya terhadap Sirius. Apa pun yang dikatakan Dumbledore, Harry punya banyak waktu untuk merenungkannya selama musim panas, dan dia menyimpulkan bahwa sindiran-sindiran Snape kepada Sirius tentang Sirius yang tetap aman bersembunyi sementara anggota Orde Phoenix yang lain 204 memerangi Voldemort, barangkali menjadi pemicu utama Sirius bergegas ke Kementerian pada malam dia meninggal itu. Harry berpegang teguh pada gagasan ini, karena pendapat ini membuatnya bisa menyalahkan Snape, yang membuatnya merasa puas, dan juga karena dia tahu kalau ada yang tidak menyesal Sirius meninggal, orang yang sekarang berjalan di sebelahnya dalam kegelapan inilah orangnya. "Potong lima puluh angka dari Gryffindor karena telat, kurasa," kata Snape. "Dan, sebentar kupikirkan, potongan tambahan dua puluh karena berpakaian Muggle. Tahukah kau, rasanya belum ada asrama yang dikurangi angkanya seawal ini dalam tahun ajaran—kita bahkan belum makan puding. Kau memecahkan rekor, Potter." Kemarahan dan kebencian yang bergolak di dalam diri Harry berkobar hebat, namun bagi Harry lebih baik dia tidak bisa bergerak terkirim ke London daripada memberitahu Snape kenapa dia terlambat. "Kurasa kau mau muncul secara hebat, ya?" Snape melanjutkan. "Dan tanpa adanya mobil terbang, kau memutuskan muncul di Aula Besar ketika acara makan sudah setengah jalan bisa menghasilkan efek dramatis." Masih saja Harry diam, kendati rasanya dadanya sudah hampir meledak. Dia tahu Snape menjemputnya untuk ini, untuk mendapatkan waktu beberapa menit ketika dia bisa memaki dan menyiksa Harry tanpa ada yang mendengarkan. Mereka akhirnya tiba di undakan kastil dan ketika pintu depan yang besar dan terbuat dari kayu ek 205 mengayun membuka ke Aula Depan yang luas berlantai batu, serbuan celoteh dan tawa dan denting piring dan gelas menyambut mereka dari pintu-pintu yang terbuka menuju ke Aula Besar. Harry membatin, apakah dia bisa diam-diam memakai Jubah Gaib-nya lagi, sehingga bisa tiba di tempat duduknya di meja panjang Gryffindor (yang sayangnya terletak paling jauh dari Aula Depan) tanpa dilihat orang. Seakan bisa membaca pikiran Harry, Snape berkata, "Dilarang pakai Jubah. Masuk saja berjalan biasa supaya semua orang bisa melihatmu, kan itu yang kauinginkan, aku yakin." Harry langsung berputar dan berjalan memasuki pintu yang terbuka; apa saja asal bisa kabur dari Snape. Aula Besar, dengan empat meja panjang asrama dan meja guru di ujung ruangan, seperti biasa didekorasi dengan lilin-lilin menyala yang membuat piringpiring di bawahnya berkilau gemerlap. Namun semuanya hanya seperti bayangan cahaya yang kabur bagi Harry, yang berjalan cepat sekali sehingga dia sudah melewati meja Hufflepuff sebelum anak-anak mulai memandangnya, dan ketika mereka berdiri agar bisa melihatnya lebih jelas, Harry sudah melihat Ron dan Hermione, bergegas melewati bangku-bangku menuju mereka dan menyelinap duduk di antara mereka. "Dari mana kau—astaga, kauapakan mukamu?" kata Ron, terbelalak menatapnya bersama anak-anak lain yang ada di dekatnya. "Kenapa memangnya?" kata Harry, menyambar sendok dan menyipitkan mata mengawasi bayangannya yang terdistorsi. 206 "Kau berlumuran darah!" kata Hermione. "Sini—" Hermione mengangkat tongkat sihirnya, berkata, "Tergeo!" dan menyedot darah kering di wajah Harry. "Trims," kata Harry, meraba wajahnya yang sekarang bersih. "Bagaimana kelihatannya hidungku?" "Normal," kata Hermione cemas. "Kenapa tidak? Harry, apa yang terjadi? Kami dari tadi ngeri!" "Nanti saja kuberitahu kalian," kata Harry pendek. Dia sadar sekali bahwa Ginny, Neville, Dean, dan Seamus mendengarkan; bahkan Nick si Kepala-Nyaris- Putus, hantu Gryffindor, telah melayang di atas bangku-bangku untuk mencuri dengar. "Tapi—" "Tidak sekarang, Hermione," kata Harry, dengan suara memperingatkan. Dia sangat berharap mereka semua mengasumsikan dia terlibat sesuatu yang heroik, lebih baik kalau melibatkan beberapa Pelahap Maut dan Dementor. Tentu saja Malfoy akan menyebarkan cerita ini seluas mungkin, tetapi selalu ada kemungkinan cerita itu tidak sampai ke banyak telinga Gryffindor. Melewati Ron, dia menjangkau dua kaki ayam dan segenggam kentang goreng, namun sebelum dia berhasil mengambilnya, makanan itu lenyap, digantikan oleh puding dan kue-kue. "Kau ketinggalan acara Seleksi," kata Hermione, ketika Ron menyambar sepotong besar kue cokelat. "Topi mengatakan sesuatu yang menarik?" tanya Harry, mencomot sepotong tar karamel. "Kurang-lebih sama, sebetulnya... menasihati kita 207 semua untuk bersatu menghadapi musuh kita, kau tahu." "Dumbledore menyebut-nyebut Voldemort?" "Belum, tapi dia selalu menyampaikan pidato seriusnya setelah acara makan, kan? Tak lama lagi sekarang." "Snape bilang Hagrid terlambat datang ke pesta—" "Kau sudah bertemu Snape? Bagaimana bisa?" kata Ron di sela-sela kegiatannya menyuap kue. "Kebetulan saja bertemu," kata Harry menghindar. "Hagrid cuma terlambat beberapa menit," kata Hermione. "Lihat, dia melambai kepadamu, Harry." Harry mendongak memandang meja guru dan nyengir kepada Hagrid, yang memang sedang melambai kepadanya. Hagrid tak pernah berhasil bersikap berwibawa seperti Profesor McGonagall, Kepala Asrama Gryffindor, yang puncak kepalanya mencapai pertengahan antara siku dan bahu Hagrid. Profesor McGonagall duduk di sebelah Hagrid dan tampak tidak menyetujui sambutan antusias ini. Harry heran melihat guru Ramalan, Profesor Trelawney, duduk di sisi lain Hagrid. Profesor Trelawney jarang sekali meninggalkan kamar-menaranya dan Harry belum pernah melihatnya dalam pesta awal tahun ajaran. Penampilannya sama eksentriknya seperti biasanya, dengan manik-manik berkelap-kelip dan syal-syal panjang, matanya diperbesar ke ukuran luar biasa oleh kacamatanya. Harry yang selama ini menganggap omongan Profesor Trelawney omong kosong belaka, menjadi shock pada akhir tahun ajaran lalu karena ternyata Profesor Trelawney-lah yang membuat ra- 208 malan yang menyebabkan Lord Voldemort membunuh orangtua Harry dan menyerang Harry sendiri. Mengetahui hal ini membuat Harry semakin segan bergaul dengan Profesor Trelawney, namun untungnya tahun ini dia tidak akan ikut pelajaran Ramalan lagi. Mata Profesor Trelawney yang besar seperti lampu mercu suar berputar ke arah Harry; Harry buru-buru menoleh memandang meja Slytherin. Draco Malfoy sedang memeragakan tulang hidung yang patah, disambut gelak tawa dan tepuk tangan. Harry menunduk memandang kue karamelnya, dibakar kemarahan lagi. Dia rela memberikan apa saja asal bisa berkelahi dengan Malfoy satu lawan satu... "Jadi, apa yang diinginkan Profesor Slughorn?" tanya Hermione. "Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Kementerian," kata Harry. "Dia dan semua orang lain yang ada di sini," dengus Hermione. "Orang-orang menginterogasi kami soal itu di kereta, iya kan, Ron?" "Yeah," kata Ron. "Semua ingin tahu apakah kau benar-benar Sang Terpilih—" "Ada banyak pembicaraan soal topik itu bahkan di antara para hantu," sela Nick si Kepala-Nyaris-Putus, mencondongkan kepalanya yang nyaris terlepas ke arah Harry, sehingga kepala itu bergoyang mengerikan pada rimpel di sekeliling lehernya. "Aku dianggap ahli-Potter; semua hantu tahu kita bersahabat. Tapi aku sudah memberitahu komunitas hantu aku tidak akan menggerecokimu mencari informasi. 'Harry Potter tahu dia bisa memercayaiku sepenuhnya,' begitu kata- 209 ku kepada mereka. 'Lebih baik aku mati daripada mengkhianati kepercayaannya.'" "Yeee, itu mah sama saja bohong, kau kan sudah mati," ledek Ron. "Sekali lagi kau menunjukkan kepekaanmu ibarat kapak tumpul," kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus dengan nada terhina, dan dia naik ke udara dan melayang kembali ke ujung meja Gryffindor, tepat ketika Dumbledore bangkit dari kursinya di meja guru. Celoteh dan tawa di sekeliling meja-meja hampir serentak menghilang. "Selamat menikmati malam yang indah ini!" katanya, tersenyum lebar, lengannya terentang lebar, seolah memeluk seluruh ruangan. "Tangannya kenapa?" celetuk Hermione kaget. Hermione bukan satu-satunya yang memperhatikan tangan kanan Dumbledore tampak menghitam dan mati seperti pada malam dia datang menjemput Harry dari rumah keluarga Dursley. Bisik-bisik melanda seluruh ruangan. Dumbledore, menginterpretasinya dengan tepat, hanya tersenyum dan menggoyang lengan bajunya yang berwarna ungu dan keemasan untuk menutupi lukanya. "Tak ada yang perlu dicemaskan," katanya ringan. "Nah... kepada murid-murid baru, selamat datang; kepada murid-murid lama, selamat datang kembali! Satu tahun penuh pendidikan sihir menanti kalian..." "Tangannya sudah seperti itu waktu aku bertemu dengannya musim panas lalu," Harry berbisik kepada Hermione. "Kupikir dia sekarang sudah menyembuh- 210 kannya... atau Madam Pomfrey yang menyembuhkannya." "Kelihatannya tangannya mati," kata Hermione, wajahnya seperti orang mual. "Tapi ada luka-luka yang tak bisa disembuhkan... kutukan-kutukan lama... dan ada juga racun yang tak ada penangkalnya..." "...dan Mr Filch, penjaga sekolah, memintaku untuk menyampaikan, ada larangan bagi barang lelucon apa pun yang dibeli di toko yang bernama Sihir Sakti Weasley. "Mereka yang berminat bermain untuk tim Quidditch asramanya, silakan mendaftar pada Kepala Asrama masing-masing seperti biasanya. Kami juga mencari komentator Quidditch baru; para peminat juga silakan mendaftar ke Kepala Asrama kalian. "Kami gembira menyambut anggota baru dalam staf guru tahun ini. Profesor Slughorn," Slughorn berdiri, kepalanya yang botak berkilat dalam cahaya lilin, perut besarnya yang tertutup rompi membentuk bayangan di meja di bawahnya, "adalah rekan kerja lamaku yang telah setuju mengajar Ramuan lagi." "Ramuan?" "Ramuan?" Kata itu bergaung di seluruh ruangan ketika anakanak bertanya-tanya sendiri apakah yang mereka dengar benar. "Ramuan?" kata Ron dan Hermione berbarengan, menoleh memandang Harry. "Tapi kau bilang—" "Profesor Snape, sementara itu," kata Dumbledore, mengeraskan suaranya sehingga mengatasi dengung 211 gumam, "akan mengambil alih posisi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam." "Tidak!" kata Harry, keras sekali sehingga banyak kepala menoleh ke arahnya. Harry tidak peduli; dia memandang meja guru, berang. Bagaimana mungkin Snape diberi tugas mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam setelah selama ini ditolak? Bukankah sudah diketahui secara luas selama bertahun-tahun bahwa Dumbledore tidak memercayainya untuk mengajar mata pelajaran ini? "Tapi, Harry, kau bilang Slughorn akan mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam!" kata Hermione. "Kusangka begitu!" kata Harry, memeras otak untuk mengingat kapan Dumbledore memberitahukan ini kepadanya, tetapi sekarang jika dipikir-pikir lagi, dia tak bisa mengingat Dumbledore pernah memberitahunya mata pelajaran apa yang akan diajarkan Slughorn. Snape, yang duduk di sebelah kanan Dumbledore, tidak berdiri mendengar namanya disebut. Dia hanya mengangkat tangan sekadarnya untuk menanggapi aplaus dari meja Slytherin, namun Harry bisa melihat ekspresi kemenangan di wajah yang amat dibencinya. "Yah, ada satu hal bagus," katanya liar. "Snape akan pergi akhir tahun ajaran ini." "Apa maksudmu?" tanya Ron. "Jabatan itu terkutuk. Tak ada yang bertahan lebih dari setahun.... Quirrell malah mati. Aku pribadi mengharapkan ada kematian lagi." "Harry!" seru Hermione, shock dan mencela. "Dia mungkin cuma balik mengajar Ramuan pada 212 akhir tahun ajaran," kata Ron masuk akal. "Si Slughorn itu mungkin tak mau mengajar jangka-panjang. Moody tak mau." Dumbledore berdeham. Bukan hanya Harry, Ron, dan Hermione yang bicara; seluruh Aula langsung berdengung dengan pembicaraan mendengar kabar bahwa Snape akhirnya berhasil mendapatkan jabatan yang telah lama didambakannya. Tampak tak menyadari sensasi berita yang baru saja disampaikannya, Dumbledore tidak berkata apa-apa lagi soal penunjukan guru, melainkan menunggu beberapa detik untuk memastikan suasana sudah hening total sebelum dia melanjutkan. "Nah, seperti semua anak di Aula ini tahu, Lord Voldemort dan para pengikutnya sekali lagi bebas dan semakin kuat." Keheningan rasanya menjadi tegang dan genting ketika Dumbledore bicara. Harry mengerling Malfoy. Malfoy tidak sedang memandang Dumbledore, melainkan membuat garpunya melayang di udara dengan tongkat sihirnya, seolah menurutnya kata-kata Kepala Sekolah tak layak mendapat perhatiannya. "Aku tak dapat menekankan dengan cukup kuat betapa bahayanya situasi saat ini, dan kita semua di Hogwarts harus berusaha sekuat kita untuk memastikan kita aman. Kubu pertahanan sihir kastil ini telah diperkuat selama musim panas, kita dilindungi dengan cara-cara baru yang lebih kuat, tetapi kita masih berjaga dengan amat hati-hati supaya jangan sampai terjadi kecerobohan dari pihak murid atau anggota staf guru. Maka aku menganjurkan agar kalian me- 213 matuhi peraturan keamanan yang diberlakukan guruguru kalian, betapapun menjengkelkannya itu bagi kalian—terutama peraturan yang melarang kalian di luar tempat tidur selewat jam yang ditentukan. Aku memohon dengan sangat, seandainya kalian melihat sesuatu yang aneh atau mencurigakan di dalam ataupun di luar kastil, segeralah laporkan pada anggota staf guru. Aku berharap, dalam bersikap, kalian selalu mempertimbangkan keselamatan kalian sendiri dan juga keselamatan yang lain." Mata biru Dumbledore menyapu murid-muridnya sebelum dia tersenyum sekali lagi. "Tetapi sekarang, tempat tidur kalian sudah menunggu, sehangat dan senyaman yang kalian harapkan, dan aku tahu prioritas utama kalian adalah beristirahat supaya siap menerima pelajaran esok pagi. Karena itu, mari kita saling mengucapkan selamat tidur. Pip pip!" Dengan bunyi derit yang memekakkan telinga seperti biasa, bangku-bangku didorong ke belakang dan beratus-ratus anak mulai meninggalkan Aula Besar, menuju ke asrama. Harry, yang sama sekali tak ingin pergi bersamaan dengan anak-anak yang terpesona memandangnya, ataupun berada cukup dekat Malfoy untuk memberinya kesempatan menceritakan kembali kisah penginjakan-hidung, sengaja berlama-lama, berpura- pura mengikat kembali tali sepatunya, membiarkan sebagian besar anak-anak Gryffindor mendahuluinya. Hermione sudah melesat lebih dulu untuk melaksanakan tugasnya sebagai prefek, menuntun anakanak kelas satu, namun Ron tinggal bersama Harry. 214 "Apa sebetulnya yang terjadi pada hidungmu?" dia bertanya, begitu mereka berada paling belakang dari kerumunan anak yang berdesakan keluar dari Aula, dan di luar jangkauan pendengaran orang lain. Harry memberitahunya. Bahwa Ron tidak tertawa, itu menunjukkan betapa eratnya persahabatan mereka. "Aku melihat Malfoy memeragakan sesuatu yang ada hubungannya dengan hidung," kata Ron sebal. "Yeah, biar saja," kata Harry getir. "Dengar apa yang dia katakan sebelum dia tahu aku di sana..." Harry mengharapkan Ron terkejut mendengar sesumbar Malfoy. Harry menganggap Ron sangat keras kepala, karena ternyata dia tidak terkesan. "Sudahlah, Harry, dia kan cuma mau sok aksi di depan Parkinson... tugas macam apa yang akan diberikan Kau-Tahu-Siapa kepadanya?" "Bagaimana kau bisa tahu Voldemort tidak memerlukan orang di Hogwarts? Ini bukan untuk pertama kali—" "Jangan sebut-sebut nama itu lagi, Harry," kata suara mencela di belakang mereka. Harry menoleh dan melihat Hagrid menggelengkan kepala. "Dumbledore menggunakan nama itu," kata Harry keras kepala. "Yeah, begitulah Dumbledore, kan?" kata Hagrid misterius. "Jadi, kenapa kau terlambat, Harry? Aku khawatir." "Terhalang di kereta," kata Harry. "Kenapa kau terlambat?" "Aku sama Grawp," kata Hagrid riang. "Lupa waktu. Dia punya rumah baru di gunung sekarang, Dumble- 215 dore yang atur—gua besar yang nyaman. Dia jauh lebih bahagia daripada waktu di Hutan. Kami ngobrol seru." "Sungguh?" kata Harry, berusaha tidak memandang mata Ron. Terakhir kalinya dia bertemu adik Hagrid lain-ayah, raksasa galak dengan bakat mencabut pepohonan sampai ke akar-akarnya, kosa katanya hanya terdiri atas lima kata, dua di antaranya tak bisa diucapkannya dengan benar. "Oh yeah, dia sudah betul-betul maju," kata Hagrid bangga. "Kalian akan heran. Aku sedang pertimbangkan mau latih dia jadi asistenku." Ron mendengus keras, namun berhasil menyamarkannya menjadi bersin hebat. Mereka sekarang berdiri di sebelah pintu depan dari kayu ek. "Sampai ketemu kalian besok pagi, pelajaran pertama habis makan siang. Datanglah lebih awal supaya kau bisa menyapa Buck—maksudku Witherwings!" Mengangkat tangan dengan ceria sebagai lambaian perpisahan, Hagrid keluar dari pintu depan masuk ke dalam kegelapan. Harry dan Ron saling pandang. Harry bisa melihat bahwa Ron sedang merasa tertohok, sama seperti dirinya. "Kau tidak mengambil Pemeliharaan Satwa Gaib, kan?" Ron menggeleng. "Dan kau juga tidak, kan?" Harry juga menggeleng. "Dan Hermione," kata Ron," dia juga tidak, kan?" 216 Harry menggeleng lagi. Apa yang akan dikatakan Hagrid saat dia menyadari tiga murid favoritnya tidak mengambil mata pelajarannya, Harry tak ingin memikirkannya. 217